Tema Kerukunan Umat Beragama Di Dalam Diskusi Pakar Agama

TUGAS INTERAKSI BUKU

Mata Kuliah                : Theologi Agama-Agama

Judul                           : Artikel “Tema Kerukunan Umat Beragama Di Dalam Diskusi Pakar Agama” oleh EG Singgih dari Buku “Agama Dalam Dialog”

 

Begitu selesai membaca seluruh artikel dengan judul “Tema Kerukunan Umat Beragama Di Dalam Diskusi Pakar Agama” oleh Pdt. Prof. Emanuel Gerrit Singgih, Ph.D. yang adalah Guru Besar dalam Ilmu Teologi pada Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), Yogyakarta yang terdapat dalam Buku “Agama Dalam Dialog” langsung mengetahui bahwa artikel ini lebih seperti laporan pandangan mata penulis yang menghadiri dua konferensi besar dan penting (menurut EG Singgih) tentang kerukunan umat beragama. Secara khusus artikel ini lebih banyak menyoroti hubungan antara Islam dan Kristen. Mengenai pendapat pribadi penulis yakni EG Singgih hanya sedikit saja dan terselip diantara tulisan artikel tersebut dan kita harus teliti membacanya untuk bisa menemukan pendapat dan pokok pikiran EG Singgih. Selanjutnya dalam interaksi buku ini hanya akan di bahas dan ditanggapi hal-hal yang penting dan menonjol saja. Mengenai hal-hal yang bersifat laporan pandangan mata tidak akan ditanggapi.

Pada bagian pengantar, EG Singgih memaparkan betapa pada periode tahun1996-1998 yang dianggap sebagai bukan tahun yang baik dalam konteks kerukunan umat beragama di Indonesia justru berhasil dilaksanakan dua konferensi penting untuk menggali akar-akar konflik diantara umat beragama khususnya Islam dan Kristen. Konferensi itu adalah “The International Conference on Muslim-Christian Relations: Past, Present and Future Dialog and Cooperations”, oleh Depag RI, Jakarta 7-9 Agustus 1997 dan “Kerukunan Umat Beragama dan Studi Agama-Agama di Perguruan Tinggi” oleh LPKUB.

Dalam konperensi yang pertama yaitu “The International Conference on Muslim-Christian Relations: Past, Present and Future Dialog and Cooperations”, EG Singgih menceritakan secara garis besar bagaimana konperensi itu berjalan, sesi demi sesi dimana tiap sesi mengusung tema tersendiri.

Sesi I membicarakan theological resources untuk saling memahami antara Islam dan Kristen. Dalam sesi ini ada hal penting dan menonjol yang patut dicatat dan ditanggapi yaitu muncul perdebatan apakah Allah dari agama Islam, Kristen dan Yahudi sama. Seorang pembicara, Ayoub mempunyai pikiran bahwa Allah ketiga agama adalah sama. Hal ini ditentang oleh sebagian besar peserta. EG Singgih sendiri mempunyai pendapat yang sama, yaitu bahwa Allah dari ketiga agama itu adalah pribadi yang sama.

Adalah sangat mengecewakan jika seorang Guru Besar mempunyai pendapat bahwa Allah yang disembah oleh orang-orang Islam dan Kristen adalah pribadi yang sama. Tidak perlu menjadi seorang sarjana teologi untuk bisa melihat bahwa Allah orang-orang Islam dan Kristen itu beda pribadi. Pesan oleh “Allah” orang Islam jelas berbeda dengan Allah orang Kristen melalui Jesus. Jawaban terhadap pertanyaan ini tergantung kepada apa yang dimaksud dengan ”Allah yang sama.”

Tidak dapat disangkal bahwa pandangan Islam dan Kekristenan terhadap Allah memiliki banyak kesamaan. Kedua-duanya memandang Allah sebagai yang Berdaulat, Maha Kuasa, Maha Tahu, Maha Hadir, Maha Suci, Maha Adil, Maha Benar. Baik Islam maupun kekristenan percaya Allah yang Esa; Pencipta segalanya. Dalam definisi ini, ya, benar, orang Kristen dan Islam menyembah Allah yang sama.

Pada saat yang sama, ada perbedaan-perbedaan yang hakiki antara Kristen dan Islam dalam pandangannya terhadap Allah. Walaupun kaum Muslimin memandang Allah sebagai Allah yang memiliki atribut kasih, pemurah dan penuh rahmat, Allah tidak mengungkapkan atribut-atribut ini sebagaimana di kekristenan.

Perbedaan paling menyolok dalam pandangan Islam dan Kristen mengenai Allah adalah mengenai inkarnasi.

Orang Kristen percaya bahwa Allah telah menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus. Orang Islam memandang konsep ini sebagai penghujatan terbesar. Orang Islam tidak pernah bisa menerima konsep pemikiran bahwa Allah pernah menjadi manusia dan mati demi menebus dosa-dosa dunia ini. Iman bahwa Allah Putera telah berinkarnasi dalam Pribadi Yesus Kristus sangat mendasar dalam iman kepercayaan Kristen kepada Allah. Allah Putera telah menjadi manusia sehingga Dia dapat berempati dengan manusia, dan yang lebih penting, Dia bisa menyediakan keselamatan, melalui penebusan dosa manusia di kayu salib. ”Apakah orang-orang Kristen dan Islam sama-sama memiliki pengertian yang benar mengenai siapakah Allah itu?” Jawabannya jelas adalah tidak.

Ada perbedaan-perbedaan yang sangat krusial antara konsep Kristen dan Islam mengenai Allah. Kekristenan percaya bahwa mereka memiliki pandangan yang benar terhadap Allah karena tidak mungkin akan ada keselamatan kecuali kalau dosa manusia sudah dibayar lunas atau ditebus.

Hanya Allah yang dapat membayar harga seperti itu. Hanya dengan menjadi manusia, Allah dapat mati untuk dosa kita dan melunasi hutang dosa kita (Roma 5:8; 2 Korintus 5:21).

Sesi II membicarakan dimensi relio-socio-political hubungan Islam-Kristen pada masa Medieval. Dalam sesi ini EG Singgih kurang setuju dengan pemaparan seorang pembicara yaitu Dr. T. Abdullah. Menurut EG Singgih, pandangan Dr. T Abdullah agak berat sebelah dan memaparkan sejarah hanya dari sudut pandang kepentingan Islam. Dalam konteks sejarah, hanya memaparkan hal-hal yang berasosiasi kepada agresivitas orang-orang Kristen ke wilayah lain pada masa lalu, tetapi tidak memaparkan agresifitas orang-orang Islam pada masa lalu. Menurut EG Singgih kupasan sejarah dari Dr. T. Abdullah mengabaikan segi politik.

Yang cukup menarik adalah istilah “medievalism” yang diangkat oleh Dr. T. Abdullah, yaitu usaha memberikan gambaran yang mengerdilkan terhadap satu sama lain akibat warisan gambaran turun temurun akibat situasi yang terjadi di Eropa pada abad pertengahan. Warisan gambaran ini menimpa orang-orang Islam di Indonesia, dimana menurut Dr. T. Abdullah banyak penulis yang mengaburkan Islam pada orang Jawa dan banyak menganggap orang Jawa sebagai Kejawen dan bukan Islam. EG Singgih tidak sependapat, dalam tulisannya “Contextualization and Interreligious Relationship in Java: Past and Present” berpendapat bahwa yang disangka Islam dan Kristen yang disinkretiskan itu sebenarnya Islam dan Kristen yang sudah dikontekstualisasikan (misalnya Kyai Sadrach).

Dalam meningkatkan relasi hubungan Islam-Kristen, senada dengan Dr. T. Abdullah harus menyingkirkan warisan “medievalism” EG Singgih juga menambahkan harus fokus pada Islam-Kristen yang kontekstual. Selain itu, semua orang sebaiknya mengikuti resep apa yang baik bagi manusia, yakin akan kebaikan yang dapat dan telah kita lakukan, tetapi tetap mau belajar dari satu sama lain mengenai apa yang baik dan bersama-sama menuju cita-cita universal mengenai apa yang baik bagi manusia. Selanjutnya, harus ada perubahan konsep “the other” serta reinterpretasi dakwah dan misi harus berkaitan langsung dgn pertanyaan siapakah sesamaku manusia.

Sesi III membicarakan economic, political, and cultural impacts of colonial period on Muslim-Christian relations serta human rights in Muslim-Christian perspectives. Selanjutnya, EG Singgih berpendapat bahwa meski akar permasalahan hubungan Islam-Kristen bisa digali dari masa lalu tetapi sebenarnya jenuh melarikan diri dari kesulitan bersama yang dihadapi pada masa kini dengan melemparkan kesalahan pada masa lalu padahal harus menyelesaikan masalah dengan analisa masa kini.

Selanjutnya EG Singgih sependapat dengan pendapat Dr. Bambang Sudibyo yang menjadi salah satu pemapar bahwa pemerataan kekayaan harus dipacu, pendidikan harus ditingkatkan serta demokrasi harus digalakkan di Indonesia. Ketiga hal ini membantu meredakan konflik, tetapi mengenai obat untuk agresifitas kedua agama EG Singgih mempunyai pendapat sendiri. Dr. B Sudibyo yang mengandaikan hubungan Islam-Kristen Indonesia seperti Malaysia tidak tepat. Faktor penduduk jelas berbeda. Selain itu Indonesia adalah Negara Pancasila yang tidak mengenal agama Negara sedangkan Malaysia mengenal agama Negara. Menyusun UU yang melindungi jemaat agama Negara meski EG Singgih tidak setuju tetapi dapat mengertinya, tetapi dalam Negara Pancasila yang menjamin kebebasan beragama dan telah meratifikasi Piagam Ham PBB adalah aneh. Obat agresifitas religious bukanlah UU tetapi perubahan pemahaman tentang siapakah “the others”.

Sesi IV membicarakan tentang hak asasi manusia. EG Singgih setuju dengan Ayoub yang berkeberatan dengan kebebasan individu yang terlalu besar dari dunia barat yang menekankan hak. EG Singgih berpendapat nada individualistik dalam Deklarasi HAM harus direvisi dan ditekankan dari konteks masing-masing dan perlindungan bagi yang terkena dampak, tetapi revisi tidak mengecilkan makna universal dari  deklarasi HAM.

Hasil dari pertemuan konferensi yang pertama, EG Singgih berpendapat bahwa pertama tetap yakin bahwa sikap paling baik yang dapat ditampilkan orang Kristen adalah sikap dialogis serta sikap ini tidak dimodifikasi oleh kerusuhan-kerusuhan anti Kristen. Kedua meski bertekad mempertahankan dialog dalam suasana kerukuna beragama, tapi bersikap realistis dan tidak memutlakkan idealismenya.

Sikap yang realistis dan menghentikan dan atau menunda sikap dialogis karena terpengaruh suasana menyeluruh, lalu membuat generalisasi yang menyeluruh ataupun sikap membuta tidak menyadari kerusuhan-kerusuhan anti Kristen dan bahkan menyalahkan gereja yang mengalami musibah adalah dua sikap yang tidak menolong keluar dari kebuntuan relasi Islam-Kristen. Jadi mempertahankan sikap dialogis dan sikap realistis dalam ketegangan yang kreatif adalah sikap yang tepat.

Dalam konperensi yang kedua “Kerukunan Umat Beragama dan Studi Agama-Agama di Perguruan Tinggi” oleh LPKUB, ketua LPKUB yaitu Dr. B. Daja memberikan makalah yang dikembangkan oleh Menteri Agama yang kagum bahwa di Perguruan Tinggi di barat banyak mendirikan pusat studi Agama dengan asumsi bahwa studi agama akan membawa saling pengertian dan dengan demikian akan membawa kerukunan beragama. Selanjutnya dalam konperensi ini banyak membahas mengenai metodologi perbandingan agama, bagaimana tepatnya. Banyak pembicara yang memberikan usulan dan pendapat. Ada yang berpendapat sebaiknya memakai istilah “Ilmu Pengenalan Agama” daripada “Perbandingan Agama” karena kesannya seperti membanding-bandingkan agama. Duta Wacana tidak menggunakan istilah perbandingan agama tetapi “Fenomologi Agama”.

Selanjutnya EG Singgih sepakat dengan Amin Abdulah yang memakai istilah “Ilmu Perbandingan Agama” jika berbicara system dan metode, tetapi jika yang dimaksud adalah hegemoni kultural era imperialism, yang jika dibandingkan dengan agama lain, agama Kristen lebih unggul, maka dia tidak setuju.

Secara umum, EG Singgih berpendapat tujuan seminar belum tercapai sebab yang diinginkan dalam studi agama bukanlah situasi satu agama yang jadi criterion, melainkan ilmu agama yang menjadi criterion.

Kita juga harus mengakui warisan pemahaman supersesionisme seperti yang dipaparkan pembicara Dr. Komarudin Hidayat, ataupun kultural-hegemonis-imperialis yang dipaparkan Amin Abdulah juga kuat di kalangan Kristen terutama jaman sekarang ketika orang Kristen sering jadi sasaran kerusuhan.

EG Singgih berharap dari kedua pertemuan itu, para pakar dan teolog kedua agama akan sering berdialog, tukar pikiran, tidak hanya dalam konteks akademis tetapi warga masjid dan gereja dengan asumsi, warga religious berwawasan pluralis, tinggal bagaimana potensi ini diaktualisasikan.

 

 

 

Advertisements

Penginjilan Dalam Konteks Asia

TUGAS INTERAKSI BUKU

Mata Kuliah                 : Misi Kontekstual

Judul                            : Artikel “Penginjilan Dalam Konteks Asia” oleh W. Stanley Heath, Ph. D, D.D.

 

Dalam artikel ini, W. Stanley Heath, Ph.D, memaparkan masalah besar dalam penginjilan pada umumnya, secara khusus dalam konteks Asia dan lebih khusus lagi Indonesia. Ada pernyataannya yang sangat menarik yaitu pemberitaan Injil akan mandul jika mereka yang mendengar berita Injil tidak dapat meyakini kebenaran Alkitab sebagai Sabda-Allah. Keyakinan akan kebenaran Alkitab inipun harus bersifat tuntas dalam segala sektor kehidupan. Seharusnya, untuk dapat memahami Alkitab sebagai kebenaran Firman Tuhan harus lewat sudut pandang Alkitab sendiri. Tetapi hal ini tidak mungkin bisa, bahkan hamper mustahil, begitu pendapat Stanley Heath. Hal ini terjadi karena pengertian yang jelas tidak dapat disimpulkan berdasar penelitian terhadap dunia yang sudah kehilangan normalitasnya.

Ada dua masalah besar yang harus diperhatikan dalam penginjilan, yaitu masalah Kosmologi dan masalah Epistemologi.

Tentang masalah Kosmologi, atau sudut pandang, menurut Stanley Kosmologi ini topic yang maha penting yang sering terabaikan dalam penginjilan.

Masalah Kosmologi, Stanley melihatnya dari dua sudut yang harus disimak yaitu Sudut Kepercayaan dan Pengkomunikasian.

Pertama yaitu Sudut Kepercayaan:

Stanley Heath mengamati bahwa hampir semua orang yang terlibat dalam penginjilan memanfaatkan pola penginjilan yang dirintis di dunia Barat. Meski memberi hasil, Stanley berpendapat bahwa hal ini mungkin terjadi karena secara umum pendidikan orang Asia sudah beralin ke pola pendidikan Barat. Stanley mengajak untuk merenungkan lagi apakah hal ini akan selalu memberi hasil yang baik dan maksimal terutama jika diterapkan pada tempat yang berbeda. Bahkan selanjutnya Stanley mengingatkan agar kegembiraan akan hasil yang telah dicapai tidak mengaburkan penglihatan kita akan golongan-golongan lain yang mungkin saja memerlukan pendekatan dengan cara lain. Stanley kemudian memberi contoh pola penginjilan di Barat dan di Asia memiliki Kosmologi yang sangat berbeda.

Kedua yaitu Pengkomunikasian Injil:

Stanley dengan tepat menyatakan bahwa tidak ada jalan pengkomunikasian Injil kecuali melalui sarana bahasa. Tetapi dalam hal inipun akan timbul masalah juga karena bahasa yang kita pergunakan belum tentu sama dengan bahasa mereka, bahasa disini meliputi semua aspek bahkan termasuk bahasa isyarat non-lisan.

Selanjutnya Stanley dalam menunjukkan arti penting bahasa dalam mengatasi kendala perbedaan bahasa mengajukan beberapa contoh kata kunci. Kata kunci yang dipaparkannya yaitu: Selamat, Dosa, dan Yesus. Stanley kemudia menguraikan secara singkat betapa makna ketiga kata itu bisa berbeda-beda tergantung dari kebangsaan dan wilayah area dimana kata itu diterapkan.

Stanley menekankan bahwa tidak cukup jika bahasa hanya jelas bagi kita sendiri, dalam penginjilan harus ada kesamaan makna diantara kedua pihak, pemberita Injil dan pihak penerima berita Injil. Stanley sangat meragukan efektifitas dan keberhasilan pemberita Injil pada masyarakat nir-Kristen jika si pemberita Injil tidak memahami pengkomunikasian Injil terhadap kosmologi masyarakat setempat dimana Injil akan diberitakan.

Selanjutnya tentang masalah Epistemologi, yaitu ilmu pembenaran; pembenaran Injil dan pembenaran sumber Injil. Dengan menarik, Stanley memaparkan bahwa banyak orang pandai, cerdik cendekia mengalami kebutaan rohani, kebal terhadap berita Injil, hal ini terjadi bukan karena tidak tahu tetapi terhambat oleh suatu system berpikir yang dibiasakan selama bertahun-tahun. Secara umum, orang-orang ini sudah biasa menerima kosmologi “ilmiah” yang berbeda dengan Kosmologi Alkitab yang sangat berbeda sifatnya bahkan mungkin bertentangan, akibatnya Alkitab ditolak dan dicurigai kebenarannya.

Beberapa pakar misiologi membagi tiga jalur peyakinan secara khas, yaitu Barat dengan ciri pengajatran yang masuk akal, yang kedua India dengan ciri terpesona dengan pengalaman gaib dan ketiga China dengan ciri melihat kebahagian sebagai bukti kebenaran. Ketiga hal itu bisa membawa orang pada Yesus tetapi menurut Stanley hanya corak Barat saja yang harus dipakai karena metode yang lain menurut Stanley kurang komunikatif, serta corak yang lain banyak kelemahan dan mudah dipatahkan.

Sebagai penutup, Stanley mengusulkan agar seluruh lembaga penginjilan menambahkan satu bab atau bagian yang penting dalam laporan mereka yaitu mengenai kemajuan dalam tugas mengIndonesiakan pola pelayanan yang dilakukan. Hal ini penting mengingat menurut pengamatan Stanley lembaga-lembaga cenderung melestarikan penatalaksanaan masa lampau tanpa mempertimbangkan konteks bahwa dunia selalu berubah.

 

 

 

Apologetika Bagi Kemuliaan Allah

TUGAS LAPORAN BACA APOLOGETIKA

Mata Kuliah                : Apologetika

Buku                           : Apologetika Bagi Kemuliaan Allah, John M. Frame

Penerbit                       : Momentum

 

Dalam Bab I yang berjudul Apologetika: Dasar-dasar, John M. Frame mengawali dengan memberikan definisi dan dasar bagi pengantarnya terhadap disiplin apologetika.  Menurut Frame apologetika adalah “ilmu yang mengajarkan orang Kristen bagaimana memberi pertanggungan jawab bagi pengharapannya.”  Ia membagi apologetika menjadi pembelaan, pembuktian, dan penyerangan, di mana masing-masing merupakan satu kesatuan yang dipandang menurut perspektif yang berbeda.  Pembagian ini juga menjadi subtema besar dalam pengulasannya kemudian. Frame berargumen bahwa prasuposisi yang netral merupakan sebuah kemustahilan; karena itu seorang apologis Kristen wajib memegang prasuposisi Kristen baik dalam stan yang diambilnya ataupun argumentasi yang diberikan.  Proposisi ini bukanlah sesuatu yang tidak adil ataupun memutus dialog antara orang percaya dan tidak percaya, demikian klaimnya. Yang menarik, menurut Frame, apologetika juga merupakan bagian dari penginjilan, hanya saja penekanan yang diberikan berbeda.  Prinsip sola scriptura yang menjadi prasuposisinya tidak meniadakan kepentingan wahyu umum dalam argumentasi, malahan menggunakan bukti-bukti merupakan “pelaksanaan” dari prinsip tersebut.  Terakhir, ia memberikan beberapa “bahaya” dari melakukan apologetika, yakni kecenderungan untuk melenceng dari ortodoksi ataupun menjadi sombong.

Dalam Bab II yang berjudul Berita yang Dibawa oleh Apologis, Frame memajukan kekristenan sebagai suatu filsafat dan kabar baik.  Maksudnya sebagai filsafat adalah bahwa kekristenan memiliki cara pandang terhadap dunia secara menyeluruh.  Dengan kata lain, kekristenan juga berbicara mengenai metafisika, epistemologi, dan nilai-nilai seperti yang ditawarkan oleh pandangan-pandangan dunia lainnya.  Metafisika Kristen menganut bahwa Allah adalah pribadi yang absolut, perbedaan antara Pencipta dan ciptaan, kedaulatan Allah, dan tritunggal.  Uraian berikutnya adalah pemaparan dari Alkitab dan penyerangan terhadap wawasan dunia lain yang bertentangan dengan kekristenan.  Yang menarik, Ia ingin menyatakan bahwa semua bidat dan agama-agama dunia sebenarnya sedikit banyak merupakan penyimpangan dari asumsi wawasan dunia Kristen yang benar ini.  Kritiknya adalah, apabila wawasan dunia lain tidak meninggalkan “otonomi” pemikiran mereka dan kembali pulang kepada wawasan dunia Kristen, maka mereka tidak akan sanggup membangun sebuah wawasan dunia yang konsisten dan koheren. Frame mengusung bahwa kekristenan bukan sekadar filsafat yang harus dipertahankan dan diajukan kebenarannya, namun sebuah solusi bagi permasalahan dunia ini.  Kekristenan menawarkan keselamatan.  Seorang apologis Kristen, menurut Frame, tidak boleh melupakan aspek penting dari kekristenan ini sehingga lupa menyampaikannya dalam bentangan argumen pembuktian, pembelaan, dan penyerangan yang sedang diupayakannya.  Kekristenan tidak hanya unik dan masuk akal, tetapi juga menyelamatkan.

Selanjutnya dalam Bab III yaitu Apologetika Sebagai Pembuktian: Beberapa Pertimbangan Metodologis, berbicara mengenai bukti-bukti yang ada bagi kekristenan dan metodologi penggunaannya.  Frame percaya bahwa kekristenan memiliki bukti yang kuat dan kokoh, namun tidak selalu persuasif bagi mereka yang mendengarkannya.  Karena itulah ia mengusung bahwa setiap apologis harus mempertimbangkan “variabel pribadi” dari orang yang ingin mereka berikan pertanggungan jawab.  Berikutnya Frame mengupas argumentasi transendental dari Van Til untuk meletakkannya sejajar dengan argumentasi bagi kekristenan tradisional.  Bagian penting ini adalah upaya Frame untuk menjembatani perdebatan tajam mengenai metodologi apologetika kontemporer. Frame menyimpulkan bahwa prasuposisionalisme merupakan masalah sikap hati, apabila didefinisikan seperti yang dilakukannya dalam buku ini.  Perbedaan apologetika tradisional dan prasuposisional tidaklah harus setajam yang nampak.

Dalam Bab IV yang berjudul Apologetika Sebagai Pembuktian: Eksistensi Allah, bagian ini merupakan demonstrasi Frame dari argumen-argumen tradisional mengenai keberadaan Allah dari perspektif prasuposisionalisme.  Ia menyatakan bahwa tidak ada satu argumentasi tradisional yang dapat berdiri sendiri untuk membuktikan keberadaan Allah.  Ia lebih condong untuk menumpuk argumentasi yang ada dengan sebuah prasuposisi Kristen, sehingga argumen-argumen tersebut terkumpul menjadi susunan balok rancang bangun wawasan dunia Kristen.  Frame memulai dengan mendefinisikan secara tepat mengenai agnostisisme, sehingga jalannya argumen yang ia sampaikan dapat mendarat dengan aman di kawasan pemikiran ateisme.  Segera setelah itu ia memaparkan argumen-argumen tradisional tersebut sambil memperlihatkan keterkaitan satu argumen dengan argumen yang lainnya.  Akhirnya, ia menyimpulkan bahwa argumen-argumen yang ada bermanfaat sejauh mereka dikaitkan dengan argumen-argumen lainnya dan prasuposisi Kristen.

Selanjutnya dalam Bab V yang berjudul Apologetika Sebagai Pembuktian: Membuktikan Injil, Frame melanjutkan dengan memberikan pembuktian bagi Injil, atau lebih tepatnya keseluruhan Alkitab.  Frame berangkat dari doktrin Alkitab adalah firman Allah yang mengimplikasikan setiap pernyataan Alkitab adalah ucapan Allah yang jelas dan berotoritas.  Titik tolak Frame adalah Allah berpribadi absolut tersebut menyatakan kehendak-Nya secara jelas kepada umat-Nya, supaya umat-Nya mampu untuk memahami dan melakukan kehendak-Nya.  Tempat penyataan Allah tersebut juga tidak diharapkan “kabur atau diperdebatkan di antara umat Allah.”  Tempat tersebut adalah Alkitab yang adalah firman Allah.  Frame menekankan bahwa bukan hanya kita harus percaya kepada Kristus, namun juga percaya kepada Alkitab.  Berikutnya ia menguraikan pandangan-pandangan yang bertentangan dengan klaim yang dibuatnya.  Ia membahas kritikisme Alkitab yang bersumber dari prasuposisi yang tidak Alkitabiah, lalu merangkai argumentasi positifnya mengenai nubuat dan mukjizat Alkitab.  Kesimpulannya sama dengan asumsinya, hanya saja lingkaran prasuposisi tersebut telah diperluas dengan argumen-argumen lainnya.  Bukti yang ada sudah jelas dari firman Allah, namun mereka yang sanggup mempercayainya hanyalah yang hati dan pikirannya dicelikkan oleh Roh Kudus.

Dalam Bab VI & VII yang berjudul Apologetika Sebagai Pembelaan: Problem Kejahatan, I & II, Frame dengan menegaskan bahwa problem kejahatan tidak akan memiliki jawaban yang sempurna pada masa sekarang ini.  Memang jawaban terhadap permasalahan ini tetap penting, yakni untuk memastikan bahwa kita tidak sedang menyembah Allah yang salah, namun Allah yang benar yang sesuai dengan ajaran Alkitab.  Tetapi, menurut Frame, banyak jawaban yang diberikan orang Kristen untuk permasalahan ini tidak cukup menjawab, malahan dapat menimbulkan anggapan yang salah.  Frame mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan jawaban yang ada selama ini, beserta dengan kritik pribadinya untuk setiap pandangan pada bab VI.  Dari bunga rampai jawaban yang ada ia menemukan bahwa argumen ad hominem merupakan jawaban yang Alkitabiah, meskipun belum memenuhi kriteria sebuah jawaban yang cukup.

Dalam Bab VII Frame menekankan berulang-ulang bahwa Allah tidak pernah berhutang kepada kita sebuah penjelasan komplit untuk tindakan-tindakan-Nya, termasuk masalah kejahatan.  Keraguan dan kebingungan mengenai masalah kejahatan bukanlah dosa, namun ketika seseorang mulai berbalik dan menuduh Allah, maka itu bisa dikatakan sebagai dosa pemberontakan.  Penjelasan yang dapat diberikan Frame dari Alkitab adalah bahwa Allah berkuasa atas sejarah dan kejahatan bukanlah finalitas dari sejarah dunia ini.  Memang jawaban ini tidak menyelesaikan permasalahan seperti genosida dan kelaparan, namun Alkitab menawarkan sebuah kisah bahwa semua kejahatan yang sulit diterima tersebut akan diselesaikan oleh Allah dengan hikmat-Nya yang luar biasa.  Tawaran pastoral Allah kepada mereka yang menderita adalah untuk taat dan percaya kepada kedaulatan Allah.  Frame melanjutkan dengan menyatakan bahwa kejahatan selalu memiliki tujuan kebaikan yang lebih besar, yakni tujuan Allah itu sendiri.  Jawaban-jawaban yang ditawarkan selama ini terlalu humanistis dan tidak Alkitabiah, menurut Frame, sebab mereka tidak mengasumsikan bahwa tujuan dunia ini diciptakan dan berlangsung adalah untuk menunjukkan kemuliaan Allah.  Akhirnya, Frame menggariskan perubahan hati sebagai langkah yang Tuhan berikan untuk menuju sebuah teodise.

Dalam Bab VIII yang Apologetika Sebagai Serangan: Kritik Terhadap Ketidakpercayaan, Apakah yang akan diusung oleh orang yang tidak percaya apabila mereka tidak memegang kekristenan?  Bagi Frame mereka hanya memiliki dua opsi, yakni ateisme dan pemberhalaan.  Kedua-duanya adalah bentuk dari otonomi dan penolakan wahyu Allah dan Frame berupaya membantah kedua alternatif.  Dua alternatif ini dijabarkan menjadi tiga model yakni relativisme ateis, rasionalisme pemberhalaan, dan pemberhalaan ateistis.  Setelah selesai menjabarkan ketiganya, Frame menutup dengan pertanyaan-pertanyaan kritis yang perlu diajukan ketika menemukan orang-orang yang menganut ketiga macam ketidakpercayaan ini.

Dalam Bab IX—Berbicara Dengan Orang Yang Tidak Dikenal; Lampiran A & B

Bagian ini lebih merupakan pengaplikasian apa yang sudah dibahas di sepanjang buku ini.  Secara umum tidak ada yang perlu dirangkum dari bab ini.

Apendiks yang diberikan berupaya untuk menjawab kritik terhadap prasuposisionalisme, secara khusus melalui buku Classical Apologetics dari John Gerstner, R.C. Sproul, dan Arthur Lindsley.  Selain evaluasi buku ini ada respons dari Jay Adams, namun tidak terlalu signifikan secara keseluruhan.  Secara umum problem yang diusung oleh apologetika Ligonier (begitu Frame menyebut mereka) sudah dijawab pada bab III, tetapi bagian ini lebih komprehensif dalam pembahasan sumber-sumber dari Van Til.  Frame akhirnya menemukan bahwa apologetika Ligonier dan Van Tillian memiliki kedekatan yang sangat.  Sayangnya, menurut Frame, Ligonier harus bersikap tidak konsisten dalam menggunakan metode mereka, sementara Van Til tidak.  Perbedaan ini didasari oleh bagaimana seseorang mengaplikasikan konsep otonomi dalam membangun argumentasi apologetika.  Masalah lainnya adalah mengenai kekonsistenan metode yang satu dengan yang lainnya dengan asumsi-asumsi Calvinistik yang dibawa oleh kedua metode yang mengaku berdasar dari iman reformed ini.

 

ESSAYS IN OCCULTISM, SPIRITISM, AND DEMONOLOGY

TUGAS LAPORAN BACA OKULTISME

Mata Kuliah                : Okultisme

Buku                           : “ESSAYS IN OCCULTISM, SPIRITISM, AND DEMONOLOGY

Penulis                          : Dean W. R. Harris (Author of “Days and Nights in the Tropics”, “By Path and Trail,” Pioneers of the Cross in Canada,” etc.)

Penerbit                         : MCCLELLAND, GOODCHILD & STEWART, Limited PUBLISHERS TORONTO

Diterbitkan                    : Copyright, 1919, by Joseph Gummersbach. All rights reserved. Printed in U. S. A.

 

PENDAHULUAN:

Memahami okultisme dengan segala aspeknya adalah suatu hal yang penting bagi umat percaya. Bahkan suatu keharusan bagi para hamba Tuhan. Hal ini karena para hamba Tuhan dalam masa pelayanannya kelak akan sering menemui hal-hal yang berhubungan dengan okultisme. Sehingga kesiapan dalam menghadapinya sangat mutlak diperlukan. Kesiapan menghadapi orang-orang yang mempraktekkan okultisme hanya bisa dicapai dengan pertolongan Roh Kudus, Firman Tuhan serta secara pribadi terus belajar dan mengenali berbagai rupa dan jenis-jenis okultisme.

ALASAN PEMILIHAN BUKU:

Buku yang termasuk “kuno” ini adalah buku yang sangat menarik, karena banyak mengupas tentang beberapa aspek okultisme yang cukup sering ditemui dan juga aspek okultisme yang cukup jarang ditemui bahkan asing ditemui khususnya di negara kita. Hal inilah yang membuat buku ini cukup berharga untuk dibaca sebagai bahan pelajaran khususnya bagi yang sedang atau tertarik untuk mempelajari tentang okultisme. Buku yang terbilang cukup kuno ini sayangnya buku ini masih dalam bahasa Inggris sehingga untuk membacanya membutuhkan ketrampiln khusus berbahasa Inggris sekaligus membutuhkan waktu yang lebih lama untuk membaca dan memahaminya.

Hal yang juga menarik adalah pengambilan contoh hal-hal supranatural yang hanya terjadi dan dipercaya oleh tradisi Katholik dimana pengambilan contoh ini dan sekaligus dimasukkan dalam buku ini mencerminkan pendapat pribadi penulis buku yang sebenarnya memasukkan hal-hal supranatural itu termasuk gejala-gejala okultisme tetapi ternyata diterima secara umum oleh budaya Katholik. Penilaian tentu saja diserahkan kepada pembaca umat percaya.

Buku ini terdiri dari dua belas bab, Bab pertama berisi Pendahuluan. Selanjutnya secara berurutan Bab dua membahas tentang “The Sixth Sense” atau di sini lebih dikenal dengan Indra ke Enam. Bab ke tiga membahas “The Sense of Orientation” atau Rasa Orientasi, suatu hal yang cukup asing dan jarang didengar di Indonesia. Selanjutnya bab ke empat membahas “Wonders of Bilocation”, hal yang cukup asing dan jarang didengar di Indonesia. Kemudian bab ke lima membahas tentang “Bicorporety” suatu istilah yang juga jarang terdengar di Indonesia. Selanjutnya bab ke enam membahas tentang “Dual Personality” atau disini mungkin lebih popular yang disebut Kepribadian Ganda. Kemudian bab tujuh membahas tentang Spiritsme dan di tinjau dari aspek kuno dan modern. Selanjutnya bab delapan lebih merupakan lanjutan dari bab tujuh dimana dalam bab ini si penulis mencoba menjelaskan lebih lanjut tentang apa itu Spiritualisme. Bab Sembilan akan membahas tentang “Apparitions” atau fenomena Penampakan. Kemudian bab sepuluh membahas tentang “Demonical Possession” atau Kerasukan setan. Selanjutnya bab yang cukup menarik adalah bab sebelas dimana akan dibahas tentang apa itu “Mati”. Bab terakhir yang juga tidak kalah menariknya adalah penulis memaparkan “Roh-Roh dari Dunia Lain”.

METODE:

Dalam Laporan Baca ini akan mencoba menguraikan pokok pikiran penulis atau pengarang buku bab demi bab dan akan langsung diberi tanggapan. Tanggapan bisa berupa persetujuan, ketidaksetujuan, tambahan data dan sebagainya.

PEMBAHASAN:

BAB I – Pendahuluan

Penulis buku pada bagian pendahuluan ini mengemukakan berbagai pendapat para ahli tenang fenomena Spiritisme. Penulis berpendapat bahwa pada dasarnya sejauh sejarah berjalan, setiap saat, di semua negeri dan bangsa-bangsa manifestasi dunia roh  dan fenomena spiritisme yang terjadi pada masa kini hanyalah pengulangan dari yang berlangsung di masa pra-Kristen.

Penulis buku juga memaparkan adanya perbedaan pendapat terhadap okultisme yang ternyata banyak yang diterima dan dianggap lazim oleh budaya Katholik. Sehubungan dengan itu dalam tulisan di buku ini penulis juga banyak memberi contoh fenomena “okultisme” yang diterima iman Katholik sedangkan penilaiannya terserah pembacanya.

Penulis juga memaparkan pendapat dari peneliti Spiritme terkenal masa itu misalnya Profesor Crawford, dalam tulisannya, “The Reality of Psikis Fenomena,” percaya dia telah menunjukkan tidak hanya aktualitas dan kebenaran dari adanya fenomena ini, tetapi juga keberadaan cara yang sampai sekarang tidak diketahui manifestasi dari energi psikis atau roh. Conan Doyle, dalam bukunya, “The New Revelation”, menegaskan bahwa komunikasi roh ini menciptakan agama baru, “Wahyu Baru,” sebuah kelahiran kembali dari agama Kristen, sementara Emile Boirac memberitahu dalam “Psychology Future” bahwa fenomena ini meletakkan pondasi dari psikologi baru, berurusan dengan hal laten dalam sifat manusia.

Ketiga penulis terkenal ini percaya Spiritisme dan kemungkinan berkomunikasi dengan jiwa-jiwa orang mati. Profesor Crawford di pengantar singkat mengatakan bahwa ia “secara pribadi puas bahwa roh adalah jiwa-jiwa manusia yang telah lulus ke luar.”

Penulis buku berpendapat psikolog Kristen maupun non-Kristen yang belajar Spiritisme, menyatakan bahwa tidak ada bukti yang membuktikan bahwa roh-roh menanggapi panggilan manusia adalah jiwa-jiwa manusia dan yang pada satu waktu pernah hidup di bumi sebagai manusia. Mereka berpendapat bahwa fenomena dibuat dan dikendalikan oleh malaikat yang jatuh, roh-roh jahat,  mereka benar-benar manifestasi kekuatan kejam. Mereka juga berpendapat bahwa fenomena ini adalah manifestasi dari demoniac spirits dengan siapa gereja melarang semua orang yang mendengarkan suaranya untuk mengadakan hubungan.

Selanjutnya penulis memakai pendapat Dr. Raupert yang meminta untuk “Silakan memeriksa bukti-bukti. Kesampingkan teologi, Anda akan cepat menjadi yakin bahwa kecerdasan transendental pasti berusaha mewujudkan dirinya melalui fenomena ini, dan Anda juga akan menemukan bahwa kecerdasan ini adalah kekuatan yang sangat kuat jahatnya.”

Pengalaman berabad-abad gereja telah mengajarkan psikolog Kristen dan dokter yang mempelajari Spiritisme menyimpulkan Spiritisme membuat kerusakan pada pikiran orang-orang berkemauan lemah dan mempengaruhi orang-orang dan mendorong banyak orang untuk bunuh diri dan masuk rumah sakit jiwa.

Terlepas dari berbagai pendapat para ahli yang berusaha mengemukakan pendapat tentang spiritisme dalam bab pendahuluan ini menurut saya semua orang Kristen harus bersatu dalam mengecam kultus Spiritisme dan Manifestasi Spirit.

 

BAB II – THE SIXTH SENSE / Indera Keenam

Pada bab dua yang membahas tentang Indra Keenam, penulis buku mencoba menjelaskan Indera Keenam dengan perbandingan logika tentang Indera Keenam dengan hal-hal yang alami dan natur. Misalnya hewan anjing yang punya naluri begitu sensitif yang bisa mendengar, merasakan, atau mencium dari jarak yang jauh. Ikan Cyprinodon yang buta di sungai bawah tanah yang gelap di gua Mammoth di Kentucky tapi setelah ditangkap dan tinggal di akuarium lalu dua generasi selanjutnya akan mendapatkan kembali penglihatannya dan tidak buta lagi. Penulis berpendapat bahwa penglihatan yang hilang karena tidak digunakan dan akhirnya pulih karena memang diperlukan dan digunakan. Juga misalnya makhluk Proteus, semacam kadal yang mempunya insang sekaligus paru-paru, karena lingkungan hidupnya mengharuskan kadal itu kadang memakai paru-paru kadang memakai insang. Juga berbagai jenis ungags atau burung yang sama sekali tidak bisa terbang, tidak bisa terbang karena mereka tidak pernah menggunakannya. Kemampuan yang tidak pernah digunakan membuat lemah, misalnya burung onta, bebek logger dari Venezuela dan sebagainya.

Selanjutnya penulis memaparkan fenomena yang lebih ajaib lagi misalnya tulisan Von Humboldt, dalam volume ketiga nya “Voyage aux Regions Equinoxiales du Nouveau Continent”, mengatakan ia melihat, dan bisa diverifikasi seorang pria di desa India Parana, Columbia, S. A., menyusui bayi tiga bulan.  Juga dalam sebuah surat yang ditulis oleh St. Francis Xavier pada bulan Oktober, 1547, kepada anggota nya Masyarakat di Roma, ia menyatakan: “Dalam Pulau ini dari Amboyna (Malay Archipelago) saya telah melihat apa tidak ada yang akan percaya. Aku melihat seekor kambing jantan mengisap untuk anak-anaknya dengan susu sendiri. Dia punya satu payudara, yang memberikan setiap hari susu sebanyak satu baskom. Saya melihat dengan mata saya sendiri, karena aku tidak akan percaya tanpa melihat itu. Hal ini terjadi karena manusia laki-laki maupun kambing jantan berhasil mengembangkan kemampuan untuk menyusuinya. Di hampir semua mamalia, laki-laki memiliki rudimentary mammae (puting). Eudimentary atau organ dalam beberapa laki-laki masih mempertahankan potensi mereka. Hal ini sesekali terjadi dengan payudara dan mammae hewan jantan yang berkembang dengan baik dan mengeluarkan susu, seperti dalam contoh dicatat oleh Von Humboldt dan St.Francis Xavier.

Peulis berpendapat karena sudah tidak diragukan lagi bahwa pada hewan organ-organ tertentu telah berhenti berkembang karena  tidak digunakan, mungkin ada pada hewan dan manusia kekuatan spiritual, psikis, atau atavistik laten karena tidak digunakan atau di bawah diubah oleh kondisi hidup, hampir menghilang? Kita tahu bahwa rasa takut atau rasa waspada dan hati-hati kebanyakan menghilang pada hewan domestik dan bahwa semua indra fisik mereka telah menjadi tidak normal.

Penulis mengajak pembaca mengakui dan mengatakan, bahwa alam memiliki masih banyak rahasia tersembunyi dari kita.

Secara umum berdasar apa yang dipaparkan oleh penulis buku ada benarnya, bahwa barangkali ada kekuatan spiritual, psikis atau yang disebut juga Indera keenam yang dimiliki utamanya manusia yang akhirnya punah, hilang dan musnah karena tidak pernah digunakan sehubungan kondisi hidup. Tetapi sebagai umat Kristen seharusnya yang dimaksud dengan Indera Keenam hanyalah suatu pimpinan Roh Kudus dan hanya Roh Kudus. Diantara banyak tugas dan peranan Roh Kudus, maka tugas dan peranan Roh Kudus dalam konteks bab dua ini adalah Roh Kudus tinggal dalam diri orang percaya dan menjadi penolong-penghibur mereka selama-lamanya (Yoh. 14:16-17). Dengan kata lain menurut saya “Sixth Sense” yang dimiliki oleh orang Kristen haruslah bersumber dari Allah yaitu Roh Kudus sendiri serta bertugas untuk memimpin orang percaya ke dalam seluruh Kebenaran serta bersaksi tentang Kristus dan memuliakan-Nya.

 

BAB III – THE SENSE OF ORIENTATION

Pada bab ini penulis buku memulainya dengan memaparkan berbagi percobaan yang dilakukan oleh para ahli misalnya Profesor Fabre seorang naturalis Perancis yang mengadakan percobaan dengan lebah yang dibawa jauh ke pusat kota dan ternyata lebah-lebah yang telah ditandai itu bisa pulang kembali ke kandangnya yang semua.

Selanjutnya penulis buku juga memaparkan berbagai hewan yang bisa merasakan perubahan cuaca, datangnya badai ataupun akan datangnya musim dingin yang parah.

Selama bulan September dan Oktober, tupai, kesturi-tikus, dan hewan pengerat lainnya menyimpan untuk sendiri cukup makanan untuk panjang atau pendek musim dingin. Bagaimana tupai bisa tahu, karena ia memasuki musim gugur pertama, ketika musim dingin akan ditetapkan, dan tidak adanya pengalaman, bagaimana apakah dia merasakan durasi, kelembutan atau keparahan musim dingin dan mengukur kuantitas

makanan ia harus membawa ke sarangnya? Berdasar pemikiran ini penulis berpendapat kekuatan peramalan cuaca tampaknya menjadi bagian dari indra keenam atau clairvoyance. Penulis juga berpendapat bahwa orientasi adalah kekuatan “penglihatan kedua,” yang memungkinkan individu-individu tertentu untuk melihat apa yang terjadi di tempat yang jauh. Ada seperti koneksi intim antara clairvoyance, penglihatan kedua, dan orientasi yang menjadi sulit untuk menarik garis pemisahan.

Clairvoyant, penglihatan kedua ataupun rasa orientasi bagi umat Kristen jelas harus dari Roh Kudus dengan tujuan jelas yaitu bersaksi tentang Kristus, memimpin orang pada seluruh kebenaran, menggerakkan orang percaya untuk melayani Tuhan dan memberitakan Injil.

 

BAB IV – WONDERS OF BILOCATION

Pada bab ini penulis membahas tentang fenomena kehadiran ganda. Kehadiran seseorang pada saat yang bersamaan yang bisa hadir pada dua tempat yang berbeda bahkan pada tempat yang sangat jauh. Penulis memberi contoh kehidupan Suci Francis Xavier dan Alfonsus Liguori yang konon dipercaya pernah mengalaminya. Berada pada dua tempat yang berbeda pada saat yang sama.

Berdasar berbagai contoh kejadian yang tercatat yang dialami oleh orang-rang suci, penulis buku berpendapat bahwa itu semua adalah suatu mukjizat, keajaiban dan hanya bekerja dengan tujuan untuk kebaikan. Arti dari bilocation menurut master teologi asketis, adalah bahwa penampakan, yang terlihat untuk satu atau banyak individu, seseorang diketahui hidup ratusan mil jauh dari mana penampakan muncul, adalah bahwa dari malaikat baik atau jahat yang mengasumsikan tubuh seperti kepada yang orang yang hidup dan pakaian yang sama dengan yang dipakai oleh orang tersebut.

Bilokasi, kemudian, mungkin berarti sama, tubuh ternyata menempati dua ruang; atau mungkin berarti dua badan identik sama, yaitu disebut bi-sifat jasmaniah; atau, lagi, tubuh yang sama, seperti dalam kasus Nabi Yehezkiel dan Habacuc.

Secara umum fenomena penampakan atau seseorang bisa saja terjadi, dan sebagai orang Kristen harus mengakui kebesaran dan kemahakuasaan Tuhan Maha Pencipta. Tetapi itu semua harus dengan tujuan yang kudus dan hanya untuk kemuliaan Allah. Kitab Suci atau Alkitab sendiri banyak mencata kehadiran Malaikat yang dating berbentuk manusia.

 

BAB V – BICOBPOREITY

Dalam bab ke lima ini penulis buku berpendapat bahwa Fenomena bilocation, bicorporeity dan transportasi udara atau terbang dapat diklasifikasikan memiliki afinitas intim atau hubungan satu sama lain.

Selanjutnya penulis buku memberi contoh tentang fenomena Rita dari Cascia Gorres yang mengalami transportasi penerbangan udara dari Rita dari Cascia, yang menikmati hak istimewa yang melewati pintu ditutup. “Wanita suci ini menginginkan, setelah kematian suaminya, untuk menjadi Augustinian biarawati, ditolak. Dia kemudian mengajukan banding kepada Allah dalam doa, dan sementara dia berdoa, diangkut melalui udara, dibawa ke sebuah biara dan disimpan di tengah-tengah biarawati dari biara. Semua takjub ketika biarawati tampil, karena mereka tahu

semua pintu masuk ke gedung itu tertutup. Ketika dia membuat dikenal siapa dia, bagaimana dia telah diangkut, dan keinginannya untuk mendedikasikan dirinya untuk melayani Tuhan dalam doa dan adorasi.

Contoh lain adalah bahwa Santo Petrus Rogala yang terlihat oleh banyak orang, selama tiga jam di udara, dan dikelilingi cahaya bulat seperti halo bercahaya kemuliaan, yang membuat orang-orang yang menangis karena mengira tubuhnya berada di dalam api.

Secara umum umat Protestan tidak mengenal dengan cerita dan tradisi ini, mengingat ini hanya dipercaya dan tercatat dalam budaya dan tradisi Katholik. Kita tidak tahu tujuan dan latar belakang peristiwa tersebut, jika memang benar-benar terjadi. Tetapi kejadian atau peristiwa itu tujuannya apa, apakah memuliakan Allah atau tidak, itulah yang perlu direnungkan.

 

BAB VI  – DUAL PERSONALITY

Pada bab ini, penulis buku membahas dan memaparkan contoh-contoh dari dual personality yang menurut saya pada dasarnya lebih mirip bilokasi, atau adanya seseorang yang terlihat berada pada dua tempat yang berbeda. Penulis buku memberi contoh pada apa yang terjadi dengan Bapa Alfonsus de Liguori dimana suatu ketika terlihat berada disamping tempat tidur Paus, mendampingi Paus yang sedang sakit dan hampir meninggal sementara pada saat yang sama terlihat sedang berdoa dan ektase di sebuah distrik yang terpencil di Italia. Selanjutnya penulis buku juga memberikan contoh kisah bapa Francis dalam “Vie de Saint Frangois Xavier,”

oleh Pere Bouhours (Avignon, 1817, Vol. II) dimana dalam kisah itu bapa Francis dikisahlan bisa terlihat di dua tempat dalam kisah karamnya kapal misionaris dari Jepang ke India pada tahun 1551.

Setuju dengan penulis buku sehubungan dengan Setanisme yang memakai kedok yang paling memikat dan paling menggoda adalah baik jika kita semua memiliki waktu, sarana, dan kesempatan untuk bisa mempelajari secara mendalam tentang manifestasi-manifestasi aneh dari ilmu-ilmu gaib.

 

BAB VII – SPIRITISM, ANCIENT AND MODERN

Pada bab ini penulis buku memaparkan secara singkat selayang pandang tentang berbagai bentuk spiritisme dari jaman ke jaman dan dari berbagai tempat. Berbagai fenomena spiritisme misalnya Penampakan roh, Clairvoyance atau Iluminasi Penglihatan Mental, Fenomena Mekanik seperti Produksi Cahaya, Panas dan Suara, Transportasi Udara, Oracleism atau pengungkapan masa depan, meja angkat, Levitation, Suspensi fungsi vital, Akselerasi Respirasi dan Sirkulasi darah, Clairaudience, penulisan otomatis, berbicara bahasa yang tidak dikenal dan asing, membentuk wajah manusia, anggota badan manusia, atau seluruh tubuh, perubahan berat badan, dan semua fenomena lain Spiritisme modern yang sudah dikenal pada jaman Chaldean dan Mesir dalam waktu jaman Firaun.

Penulis berpendapat bahwa manifestasi roh dan fenomena aneh dunia roh yang terjadi sekarang juga sama terjadi di masa lampau dengan kata lain fenomena yang terjadi tidak khas zaman kita.

 

BAB VIII – SPIRITISME APAKAH ITU?

Pad bab ini penulis buku membuka bab ini dengan suatu persoalan menarik. Penulis buku memaparkan bahwa seseorang bernama Dr. Campbell, menyatakan bahwa ia telah membaca dengan mendalam percakapan seseorang bernama Sir Oliver Lodge dengan anaknya yang telah mati dan bahwa ia kagum dan bingung. Mengapa ia telah “kagum dan bingung? Apakah Saul tidak melihat dan berkomunikasi dengan nabi yang telah mati yaitu Samuel, atau dengan roh menyerupai dia? Bukankah Alkitab, penuh dengan contoh-contoh orang yang berkomunikasi dengan roh-roh orang mati. Penulis buku berpendapat pengalaman Sir Oliver Lodge adalah bukan hal baru. Berkomunikasi dengan orang mati adalah pengalaman sehari-hari ribuan orang yang tinggal di Eropa, Asia, dan Amerika, dan kultus atau praktis hampir sebaya dengan usia umat manusia. Selanjutnya penulis buku mencoba menerangkan bahwa Spiritisme, atau praktek necromancy, seperti di zaman Musa, adalah bukti dekadensi moral an telah tumbuh menjadi sebuah sekte dengan istilh-istilah “Telopsis,” “telepati,” teloteropathy, “Kekuatan magnetic binatang”,  “telekensis”, dan banyak kata halus lainnya diciptakan oleh Psychical Researcher.

Penulis buku juga berpendapat bahwa Spiritisme merupakan pengembangan dari paganisme, sebuah hasil dari kekafiran di setiap jaman dan ditemukan dengan bentuk menyedihkan dari pemujaan setan di antara negara-negara yang paling dalam tenggelam dalam penyembahan berhala.

 

BAB IX – APPARITIONS

Pada bab ini penulis buku memulai dengan kisah Eobart Bruce seorang dari keturunan bangsawan Skotlandia pada suatu pelayaran perjalanan bisnisnya pada tahun 1828 pada usianya yang ke 30. Suatu ketika di dalam kabin Bruce mengira bahwa dia sedang bercakap-cakap dengan kapten kapal tetapi kapten kapal tidak menjawabnya sehingga akhirna dia menyadari bahwa itu adalah orang asing yang bukan awak kapal. Segera sesudah terjadi kehebohan ternyata setelah diselidiki ternyata di dalam kabin tidak ada seorangpun di dalam kabin.

Sebenarnya ini adalah semacam fenomena penampakan.

 

BAB X – DEMONIACAL POSSESSION

Pada bab ini penulis buku memaparkan bahwa Setan bisa mengontrol dan mempengaruhi perbuatan orang sehingga bisa berbuat kejam, biadab, brutal luar biasa. Selanjutnya penulis buku memberikan data dan kesaksian semasa Revolusi Perancis, dimana individu jatuh di bawah pengaruh yg merusak dari makhluk-makhluk jahat, massa manusia telah didorong oleh mereka untuk perbuatan tindakan mengerikan. Kebrutalan dan kekejaman diluar sifat manusia. Pemikir yang mendalam, Orestes A. Brownson, yakin bahwa dintar massa rakyat itu juga ada setan dan mempengaruhi. Dia menyatakan bahwa banyak dari mereka yang berpartisipasi dalam perbuatan mengerikan dari kebiadaban setelah mengakui bahwa mereka tidak bisa melakukan apa yang mereka lakukan tanpa bantuan, bahwa ada kehendak lain dari mereka sendiri dan mengkontrol mereka, berputar mereka dan melempar mereka, sebagai angin pada daun, dan memaksa mereka untuk taat. Selanjutnya juga penulis buku juga memberikan contoh kasus “Pembantaian Gunung Meadows”, ketika, pada 20 September 1857, seratus tiga puluh emigrant laki-laki, perempuan, dan anak-anak dalam perjalanan mereka melalui Utah ke Pantai Pasifik, dibantai oleh seorang pria bernama John D. Lee. Penulis selanjutnya mengajukan pertanyaan bagaimana mungkin manusia yang diciptakan segambar dan serupa dengan Allah, manusia beradab, bahkan rajin ke gereja bisa melakukan kebiadaban dan kekejian luar biasa seperti itu. Kemudian penulis buku mengutip dari M. Ratisbonne yang mengatakan bahwa: “Ada banyak orang jahat, baik laki-laki dan perempuan di tengah-tengah kita yang kerasukan dengan roh jahat dan, seperti Magdalena, tidak menyadari hal itu.”

Setuju dengan inti pendapat penulis buku bahwa roh jahat yang berbahaya adalah roh yang merasuki manusia dan membuat kita melakukan hal-hal kejam dan menyakiti sesama manusia.

Sebagai tambahan dan bahan masukan untuk melengkapi bab ini dalam buku ini, saya tambahkan beberapa kasus pembunuhan yang dilatarbelakangi oleh kerasukan roh jahat yang cukup menggemparkan:

  1. Dikenal sebagai “Demon Pembunuhan Trial” kasus Anne Cheyenne Johnson adalah kasus pengadilan pertama yang diketahui Amerika Serikat dimana pembela berusaha membuktikan bahwa terdakwa tidak bersalah dikarenakan tidak adanya barang bukti. Pada tahun 1981, Anne Cheyenne Johnson membunuh tuan tanah Alan Bono di Connecticut,AS.  Pengacara Johnson mengatakan dia menunjukkan perilaku yang aneh dengan sebelumnya berkonsultasi dengan ahli tentang iblis. Ed dan Lorraine mengatakan bahwa Johnson telah diejek dan diganggu oleh siapa selama hidupnya. Mereka juga menegaskan perbuatannya bukan atas kemauannya tetapi akibat kerasukan setan. Pada akhirnya kerasukan setan bukanlah sebagai pembelaan  yang sah terhadap pembunuhan tingkat pertama. Johnson dinyatakan bersalah dan diberikan hukuman penjara selam lima tahun.
  2. Pada tahun 1976 penduduk di New York City, Amerika Serikat diteror oleh seorang pembunuh berantai yang dikenal sebagai “anak sam” atau “44 caliber killer”. Polisi merasa bingung untuk mengungkap si pembunuh karena tidak ada jejak di TKP yang diketahui ada enam orang yang tewas dan tujuh lainnya luka parah. Ketika akhirnya si pembunuh berhasil ditangkap, Ia terindefikasi bernama David Berkowitz mengaku ia melakukan pembunuhan itu karena ia diperintahkan untuk membunuh setan. Berkowitz juga mengatakan bahwa anjing tetangganya telah dirasuki setan dan ian diperintahkan untuk melakukan pembunuhan. Pada akhirnya David Berkowitz dijatuhi hukuman seumur hidup dan pada pertengahan tahun 90-an ia mengaku bahwa ia pernah mengikuti aliran setan dan telah mendalangi sebagai ritual.
  3. Michael Taylor dan istrinya Christine yang tinggal di kota kecil Ossett, Inggris telah bergabung dengan kelompok keagamaan yang dipimpin oleh Marie Robinson. Pada saat pertemuan ditahun 1974, Christine Taylor dituduh suaminya telah berselingkuh dengan Marie Robinson. Mereka menolak tuduhan Taylor sehingga Taylor mengumpat dengan kata-kata kotor terhadap kedua orang tersebut. Setelah berbulan-bulan seperti orang gila, Michael Taylor akhirnya berkonsultasi pada seorang pendeta untuk melakukan pengusiran setan. Setelah diadakan doa-doa selam lebih dari 24 jam para imam mengatakan bahwa telah dikeluarkan lebih dari 40 setan dalam tubuh Micahel Taylor. Imam itu juga berpesan bahwa setan jahat juga akan tetap aktif dalam jiwanya. Begitu Taylor tiba dirumah, ia secara brutal membunuh istri dan anjing mereka. Kemudian dia berjalan keluar rumah sambil berlumuran darah. Pada persidangan dia dibebaskan dengan alasan dia tidak waras

 

BAB XI – WHAT OF THE DEAD?

Pada bab ini pertama penulis buku memaparkan kisah-kisah pemanggilan arwah orang mati dan Spiritsme misalnya lewat papan Ouija, papan kayu, medium dan sebagainya. Selanjutnya secara menarik penulis buku mengungkapkan pertanyaan yang cukup menantang yaitu apakah pantas secara moral dan etika seseorang mengganggu orang lain yang sudah beristirahat secara tenang di alam baka.

Saya setuju dengan pendapat penulis buku yang berpendapat bahwa pada umunya yang biasanya diajak komunikasi dalam Spiritsme dan pemanggilan arwah orang mati bukanlah roh orang yang dipanggil tetapi adalah roh-roh lain yang menyamar sebagai roh orang mati yang dipanggil tersebut yang pada suatu waktu pernah hidup di dunia. Sesuai pengajaran Alkitab baik dalam Perjanjian Lama maupun baru, roh-roh orang yang dulu pernah hidup di dunia dan sudah mati tidak akan menanggapi panggilan manusia sebab mereka berada di tangan Allah.

Tetapi jika pendapat ini diterima sebagai penghakiman dan finalitas, bagaimana kita menjelaskan kehadiran Musa dan Elia di Transfigurasi di Gunung Tabor? Untuk hal ini tanpa dalih apapun Musa dan Elias benar-benar hadir. Augustine ragu-ragu untuk menjawab pertanyaan tentang kemungkinan jiwa yang berpisah kembali ke bumi. Dia menulis: “Beberapa orang mati dapat dibawa kembali antara kehidupan; tidak dengan alasan bahwa tindakan tersebut dilakukan dengan kebajikan alam mereka sendiri, untuk itu hanya dapat terjadi dengan persetujuan dan pengaruh kekuasaan ilahi; tapi, ketika hal ini terjadi, adalah positif orang mati dan nyata, atau itu bahwa mereka diwakili oleh roh, berpakaian mereka dan menyerupai mereka? Ini adalah apa yang saya bisa tidak menentukan / (De Cur pro Mortuis, Chap. XV).

Menurut saya, dapatkah kasus penampakan Musa dan Elia (Luk.9:30-31) dijadikan rumus bahwa semua orang mati bisa menampakan diri dan berhubungan dengan orang hidup? Tentu tidak. Kasus ini adalah kasus khusus dimana para patriach yang berada dalam kuasa Allah diutus Allah menyampaikan pesan kepada Yesus untuk menggenapi rencana Tuhan. Tidak ada bukti bahwa Musa dan Elia bercakap-cakap dengan para murid Yesus atau bahwa peristiwa demikian akan berulang!

Kasus ‘Musa dan Elia’ ini juga memberi beberapa petunjuk penting, bahwa (a) Roh Orang Mati akan berwajah sama dengan wajahnya ketika meninggal, jadi mustahil kalau bayi meninggal kemudian rohnya bisa belajar di surga dan jadi dewasa, sebab bila bisa tentu roh Musa dan Elia umurnya sudah ribuan tahun; (b) Dalam Perjanjian Lama roh orang mati sudah dipisahkan, para hamba Allah dan orang yang dibenarkan berada di pangkuan Abraham; (c) Karena Samuel adalah nabi yang hidup di antara Musa dan Elia, maka ia berada dibawah kuasa Allah sehingga tidak sulit kalau Tuhan menyuruhnya untuk menampakkan diri pada Saul dan mustahil dukun di Endor bisa memerintah roh yang sudah berada dipangkuan Abraham/Allah itu.

 

BAB XII – SPIRITS OF ANOTHER WORLD/ (Roh-roh dari dunia lain)

Sebagai bagian penutup buku, penulis buku berpendapat bahwa orang mati tidak dan tidak bisa menanggapi untuk panggilan media atau dari siapa pun. Selain itu selanjutnya penulis buku memaparkan siapa sebenarnya roh-roh yang selama ini dalam dunia spiritisme diajak berkomunikasi dengan memaparkan pendapat-pendapat para tokoh terkait. Mereka itu adalah setan dan roh-roh jahat yang sangat berbahaya. Misalnya St. Francis yang berpendapat “Mereka adalah, roh-roh jahat yang, karena dosa Adam, yang dalam komunikasi dengan manusia, pada satu waktu merayunya untuk berbuat kejahatan, bertindak untuk menyakiti jiwanya, dan bahwa sejarah membuktikan itu juga akan menyiksa tubuhnya, berbicara dan bertindak dengan organ-organ tubuhnya, seakan roh-roh jahat yang benar-benar masters atau tuannya.” Kemudian penulis buku juga mengutip pendapat St. Hilary, salah satu yang paling terbesar dan orang terpelajar abad nya, beliau berpendapat bahwa “Roh-roh jahat begitu banyak dan kuat, bahwa tanpa bantuan Tuhan dan malaikat-Nya yang kudus yang aman menjaga dan melindungi kelemahan kita, kita tidak bisa menahan konspirasi tipu daya mereka (roh-roh jahat) dan kebencian mereka”.

Setuju dengan penulis buku, sebagai contoh, pada tahun 1871, Komite dari London Dialektis Society, yang telah dibentuk untuk tujuan investigasi dan pelaporan atas banyak phenomena  membuat pernyataan tegas “Pendapat kami tentang fenomena ini adalah bahwa kecerdasan yang ada ke dalam komunikasi dengan kami, adalah dari malaikat yang jatuh. Ini adalah setan, penguasa udara. Kami percaya bahwa kita melakukan tindak pidana necromancy saat kita mengambil bagian dalam ini pemanggilan arwah spiritisme.”

Jadi pemanggilan arwah yang jelas bukan arwah orang mati yang datang tetapi adalah setan dan roh jahat yang menyamar sebagai orang-orang mati adalah sangat berbahaya.

 

 

Teologi Pertumbuhan Gereja

TUGAS LAPORAN BACA PENANAMAN DAN PERTUMBUHAN GEREJA

Mata Kuliah                 : Penanaman dan Pertumbuhan Gereja

Buku                             : “THEOLOGI PERTUMBUHAN GEREJA”

Penulis                         : George W. Peters

Penerbit                        : Gandum Mas

 

PENDAHULUAN:

Pertumbuhan gereja adalah hal yang sangat penting bagi sebuah gereja. Para pemimpin gereja mengusahakan berbagai macam cara, baik lewat dibentuknya program – program ataupun strategi penginjilan untuk memultiplikasikan jemaatnya. Secara umum, kebanyakan yang menjadi pedoman mereka adalah nats Alkitab dalam Kisah Para Rasul 1:8 dan Matius 28:19. Dengan demikian memberitakan kebenaran Firman Tuhan dan menuntun orang – orang untuk bertobat adalah suatu amanat Agung dari Tuhan yang harus dilakukan oleh setiap orang percaya. Dengan melakukan cara – cara seperti penginjilan, mengadakan mujizat, dll adalah untuk memperkenalkan kuasa Tuhan dan kebaikan Tuhan sehingga orang yang tidak percaya menjadi percaya dan bahwa orang yang menjadi percaya tersebut akhirnya mencari sebuah gereja sebagai naungan untuk dirinya dapat bertumbuh dalam iman dan pengharapan kepada Tuhan Yesus sehingga keselamatan kekal itu diperolehnya.

ALASAN PEMILIHAN BUKU:

Buku Teologi pertumbuhan gereja adalah buku yang sangat baik untuk menyelami teologi pertumbuhan gereja. Mahasiswa teologi perlu diperlengkapi dengan teologi ini, agar dalam pelayanannya kelak sebagai gembala sidang sebuah gereja dapat mengarahkan, memandu dan membimbing gerejanya sesuai dengan teologi pertumbuhan gereja yang sehat. Buku ini sangat cocok dipakai sebagai panduan agar gereja lebih fokus sesuai panggilan gereja sebagai lembaga yang dibentuk langsung oleh Tuhan Yesus. Gereja yang menerapkan teologi pertumbuhan gereja yang sehat akan bertumbuh dalam kualitas dan juga dalam kuantitas. Buku terbitan Gandum Mas ini terdiri atas 3 bagian yaitu:

Bagian I. Dasar-dasar Teologis dari gereja

Bagian II. Prinsip-prinsip Alkitab tentang pertumbuhan Gereja.

Bagian III Empat Sokoguru Pertumbuhan Gereja.

Jumlah bab seluruh buku adalah 15 bab. Buku ini, sekali lagi,  sangat baik sebagai buku lanjutan untuk memahami pertumbuhan gereja.

METODE:

Dalam Laporan Baca ini akan mencoba menguraikan inti pokok pikiran penulis atau pengarang buku secara singkat bab demi bab dan akan langsung diberi tanggapan. Tanggapan bisa berupa persetujuan, ketidaksetujuan, tambahan data dan sebagainya.

Secara umum tidak banyak hal yang bisa ditambahkan atau dikritik mengenai buku ini karena buku karya George W. Peters ini sudah cukup lengkap dan bagus setelah kita membacanya.

PEMBAHASAN:

BAB I – Teologi Pertumbuhan Gereja- Sumber, Tema yang Menonjol dan Maknanya.

Pada bab satu ini sebetulnya belum masuk pada bagian pertama dari tiga bagian buku ini. Bab satu ini masih berupa pada bagian Pengantar buku. Meskipun masih berupa bagian pengantar, tetapi sudah terasa betapa buku ini terasa sangat berbobot dan berisi. Penulis buku memakai dasar Kisah Para Rasul 1:8 sebagai ayat sentral pertumbuhan gereja, “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-saksiKU di Yerusalem dan diseluruh Yudea”.

Lima kebenaran dasar terungkap dari tema utama teks ini yaitu:

(1) Roh kudus adalah utusan Allah,

(2) Rasul-rasul dari Yesus Kristus adalah utusan-utusan dari gereja Yesus Kristus,

(3) Bersaksi atau berkomunikasi secara lisan merupakan sarana utama,

(4) Yesus Kristus sendiri adalah isi dari pesan-pesan kristiani tersebut.

(5) Seluruh dunia yang dihuni manusia ini menjadi arena sepak terjang Allah dan proklamasi Injil.

Selanjutnya penulis buku memaparkan Tujuh Dimensi Pertumbuhan Gereja adalah: (1) ibadah kepada Allah

(2) Pelayanan di tengah-tengah persekutuan

(3) konseptualisasi Alkitab

(4) penginjilan kepada kelompok masyarakat

(5) mengakomodadi tuntutuan (kebutuhan) lingkungan

(6) memperkenalkan gaya hidup kristiani

(7) proklamasi injil ke seluruh dunia.

Pada bab ini penulis buku juga memaparkan berbagai jenis pertumbuhan gereja.

Jenis-jenis pertumbuhan:

(1) pertumbuhan bersifat kuantitatif

(2) pertumbuhan bersifat kualitatif.

Penulis buku juga memaparkan suatu Perilaku pertumbuhan, yaitu:

(1) Pertumbuhan biologis

(2) pertumbuhan yang spontan

(3) pertumbuhan yang terencana

(4) pertumbuhan melalui krisis-krisis khusus.

Selanjutnya penulis buku memberi Pengertian pertumbuhan gereja adalah:

(1) konsep pertumbuhan. Pertumbuhan bukanlah sesuatu yang tidak sesuai dengan realitas ilahi

(2) Fakta mengenai pertumbuhan dalam Kisah Para Rasul. Bagi banyak orang, pertumbuhan gereja nyaris sinonim dengan pertambahan secara numerik (peningkatan jumlah).

(3) pertumbuhan sebagai kemungkinan ilusi.

Secara menarik penulis buku berpendapat bahwa pertumbuhan kuantitatif bisa menyesatkan. Hal ini masuk akal karena gereja yang hanya bertumbuh secara jumlah jemaat tetapi secara kualitas iman jemaat tidak bertumbuh adalah sangat berbahaya.

 

BAB II – Gereja menurut Perspektif Teologis

Bab dua ini yang membahas gereja menurut perspektif teologis inilah kita akan mulai di bawa masuk pada bagian pertama dari buku ini yang membahas tentang Dasar-Dasar Teologis Dari Gereja.

Penulis buku mengungkpkan bahwa Firman Allah menyatakan bahwa segala sesuatu dari Dia, dan melalui Dia, dan oleh Dia dan bahwa akhirnya Allah adalah segalanya (Roma 11:36; I Kor 15:28). Hal ini membawa pada (1) Teosentrisitas dan humanitas. Manusia adalah ciptaan Allah, dibentuk menurut gambar Allah dan untuk maksud Allah, dan dengan kekekalaan serta hal-hal kekal terukir dalam keberadaan mereka. (2) Arti penting konsep tentang Allah. Dia ada sebelum semua ada, mengatasi semua, ada dalam semua, dan tetap sama dari kekal sampai kekal. (3) Teosentrisitas dan penyembahan berhala. Teosentrisitas adalah sifat yang alkitabiah serta menghargai Allah. Karena itu, sebuah gereja yang ingin berkembang (bertumbuh), atau ingin memenuhi ketentuan-ketentuan Alkitab, atau memenuhi tuntutan dan kebutuhan paling dalam dari umat manusia, maka ia harus bersifat teosentris dalam pesan, dalam penekanan, dalam perspektif dan dalam sasarannya. Kristo-sentriritas dalam Perjanjian Baru.”Allah ada dalam Kristus”, ini adalah rahasia penting dari PB. Bahwa Allah “menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia”, dan yang “mendamaikan dunia dengan Diri-Nya (I Tim 3;16; II Kor 5:18-21) adalah kabar baik bagi seluruh umat manusia. PB adalah potret agung dari Tuhan Yesus Kristus. Selanjutnya penulis buku menyinggung Pneumatologi atau ajaran tentang Roh Kudus dalam PB. Kita sekarang hidup dalam jaman Roh kudus dan bahwa Dia adalah Parakletos (Penolong) dari Allah di zaman ini. Penulis buku berpendapat bahwa  secara umum, Roh Kudus telah diabaikan atau diangap tidak rasional, misterius, membingungkan, impersonal. Akibatnya gereja mengalami kehampaan. Selanjutnya penulis buku juga membahas tentang Teokrasi dalam PB. Ada hal-hal spesifik yang jelas berasal dari Alkitab (1) bahwa kerajaan itu akan segera dinyatakan (2) bahwa kerajaan tersebut mempunyai ciri yang rumit yang sulit didefinisikan (3) bahwa muncul ciri khas dari kerajaan itu sepanjang zaman yang berlaku universal dan bersifat kualitatif. Pokok selanjutnya yang penulis buku paparkan adalah tentang Ajaran tentang gereja atau eklesiologi dalam PB. Lembaga yang dibentuk Allah adalah (1) keluarga (2) pemerintah (3) bangsa Israel (4) Gereja. Saat ini merupakan zaman dimana berdirinya gereja pertumbuhan, ekspansi, dan pelipatgandaan jmulah gereja telah menjadi obsesi para penginjil, zaman dimana sosiologi dan antropologi menjadi lebih dominan dalam misiologi ketimbang Alkitab dan teologi, juga ketika teknologi dan metodologi lebih dikenal ketimbang gerakan ilahi Roh Kudus. Penulis buku juga sedikit memaparkan tentang Ajaran tentang Alam semesta atau Kosmologi dalam PB. Konsep dunia mengandung tiga pengertian, bisa berarti umat manusia, alam semesta atau seluruh ciptaan, berbagai system licik yang telah dikembangkan manusia dibawah pengaruh Iblis.

 

BAB III – Gereja adalah Jemaat Allah.

Pada bab ini penulis buku memaparkan secara teologis bahwa gereja adalah jemaat Allah. Gereja Yesus Kristus adalah buatan Allah (Efesus 2:10). Dari perspektif sejarah penyelamatan (Heigeschichte) dan teologi tentang gereja, gereja Yesus Kristus lahir pada Pentakosta. Penulis buku berpendapat bahwa terdapat hubungan yang fungsional dan kualitatif antara Israel dengan gereja adalah sulit dibantah. Keduanya sama-sama berada dalam kerajaan Allah dan menjadi bagian darinya. Pentakosta adalah hari kelahiran gereja Yesus Kristus sebagai umat Allah yang unik, berbeda dan terpisah, permulaan dari rumah tangga Allah baru.

Selanjutnya penulis buku membahas tentang Gereja dan kekristenan. Sebagian besar kekristenan, antara gandum dan lalang bercampur, antara yang benar dan yang palsu, yang memberi pengakuan dan yang kerasukan sukar dibedakan, agama dan budaya, spiritualitas dan psikologi, teologi dan filsafat, gereja dan komunitas begitu membingungkan, sehingga tidak dapat dipisahkan. Penulis buku selanjutnya membahas topic yang juga menjadi judul dari bab ini yaitu Gereja adalah jemaat Allah. Alkitab mengandung begitu banyak kesaksian tentang fakta bahwa gereja adalah jemaat Allah. Gereja bukan sesuatu lembaga atau organisasi buatan manusia. Gereja pada hakikatnya adalah organisme yang dilahirkan oleh Roh Allah pada hari Pentakosta (Kis 2). Yang menetapkan agenda bagi gereja bukan dunia, melainkan Alkitab. Adalah kedaulatan tertinggi dan kasih karunia Allah untuk menetapkan keanggotaan, ciri, misi, maksud, kemajuan, dan tujuan Gereja. Inilah hukum tertinggi dari pertumbuhan gereja: bahwa ia bergantung kepada Tuhan. Dengan penuh kedaulatan Dia menyatakan: “Aku akan mendirikan jemaat-ku” (Mat 16:18).

Pada bagian akhir, penulis buku membahas tentang Gereja lokal. Ciri-ciri sebuah gereja lokal yang alkitabiah adalah: Gereja adalah perhimpunan orang-orang percaya yang sudah dibaptis. Gereja adalah sebuah badan yang tetap beranggotakan orang-orang percaya. Gereja adalah suatu persaudaraan beranggotakan orang orang percaya. Gereja adalah sebuah persekutuan orang-orang percaya yang menerapkan disiplin. Gereja adalah persekutuan orang-orang percaya yang memberikan kesaksian. Gereja adalah suatu persekutuan orang orang percaya yang beribadah. Dengan berbagai penjelasan tentang gereja lokal penulis buku menutup bab ini.

 

BAB IV Pertumbuhan gereja adalah pekerjaan Allah.

Pada bab terakhir dari bagian pertama ini penulis buku berusaha menjelaskan bahwa pertumbuhan gereja itu adalah pekerjaan Allah sendiri. Hal ini tidak lepas masih dalam konsep teologis pertumbuhan gereja. Penulis buku mengambil ayat dari Kej 3:15 dikenal menurut pengertian Heilgeschichte (sejarah penyelamatan) sebagai protevangelium (pemberitaan yang pertama) tentang usaha penyelamatan mulia oleh Allah, secara objektif dikerjakan oleh Kristus Yesus dan secara subjektif diwujudkan oleh tindakan mulia dari Roh Kudus. Kemudian penulis buku mengemukakan Empat unsur yang dikemukakan secara jelas dalam rencana mulia pada Mat 16:18 yaitu: Dasar dari gereja. Yesus Kristus sendiri, batu karang itu, adalah dasar dari batu penjuru utama. Pendiri gereja: Yesus Kristus sendiri adalah pendirinya. Ketahanan gereja. Gereja akan bertahan dan menang. Pekerjaan Allah Trinitas dalam pertumbuhan Gereja. Pengaturan penyelamatan dalam Trinitas bisa diringkaskan sebagai berikut: Trinitas menyusun rencana penyelamatan, Bapa yang menjanjikannya, Anak yang mendapatkan janji itu, dan Roh Kudus yang melaksanakannya. Parakletos (Penolong) adalah sebutan resmi Roh Kudus mengingat

pekerjaan-pekerjaan-Nya sejak Pentakosta. Roh Kudus dan Potensi yang tinggi. Roh Kudus bukan hanya mengantar ke dalam zaman penginjilan. Ia juga secara menakjubkan menciptakan atmosfir (suasana) bagi penginjilan-penginjilan di mana gereja bisa bekerja. Penulis buku juga memaparkan Pekerjaan mulia Roh Kudus: 1. Penciptaan potensi tinggi. 2. Kejadian-kejadian sejarah dan potensi yang besar.

Selanjutnya sampai pada pembahasan Roh Kudus dan Heilsgeschichte. Teologi dan filsafat masa kini (kontemporer) mengaku bahwa seluruh sejarah adalah sama dan hanya terdapat satu sejarah. Seluruh sejarah dibagi menjadi Heilsgeschichte dan sejarah umum. Heilsgeschichte, menurut pengertian Alkitab dimulai sejak panggilan terhadap Abraham, dilanjutkan diseluruh sejarah Israel pada zaman perjanjian Lama, dan diteruskan di dalam dan melalui gereja Yesus Kristus. Israel adalah alat untuk menjaga monoteisme etikal di dunia ini. Israel memberi sumbangan sebuah kitab suci

kepada dunia, yaitu Alkitab yang menjadi sumber bagi gagasan-gagasan moral paling tinggi untuk semua aspek dan hubungan dalam kehidupan ini.

Selanjutnya penulis buku mengemukakan bahwa Gereja itu sendiri bukan tujuan: gereja harus menjadi jembatan antara Allah dan dunia. Pertumbuhan gereja yang mempunyai tujuan supaya gereja bisa menjadi garam dan terang dunia (Mat 5:13-16). Hanya dengan demikian gereja benar benar menjadi bagian dari aliran Heilsgeschichte. Roh Kudus dan sejarah dunia. Alkitab memperhadapkan kita dengan faktafakta bukan teori-teori dan filsafat.

 

BAB V – Pertumbuhan Gereja dan Alat Allah yang Terutama.

Selanjutnya kita memasuki bagian dua dari buku ini yang bertema Prinsip-Prinsip Alkitabiah mengenai Pertumbuhan Gereja. Bagian dua buku ini dimulai dari bab lima. Pertama penulis buku membahas mengenai peranan Roh Kudus dalam pertumbuhan gereja yang diuraikan dalam hubungan tiga alat yaitu berita dari Allah, hamba Allah, dan Gereja Allah. Roh Kudus dan berita dari Allah. Ada hubungan realistis-mistis antara Firman Allah yang ditulis dengan tindakan-tindakan Roh Kudus. Roh Kudus dan Hamba Allah. Perjanjian Baru jelas menyiratkan bahwa Roh Kudus mempunyai hubungan khusus dengan hamba Allah. Roh Kudus dan gereja Allah. PB juga mengajarkan bahwa Roh Kudus secara khusus terkait dengan gereja Allah yaitu bait-Nya, kediaman-nya melalui mana Dia bekerja.

 

BAB VI – Pertumbuhan Gereja Dan Berita Dari Allah

Pada bab ini menguraikan tentang pertumbuhan gereja dan berita dari Allah. Penulis buku menjelaskan Firman memiliki kekayaan dan bersifat instruktif atau mengajar. Firman adalah seperti sebuah palu yang menghancurkan bukit batu menjadi berkeping-keping; ia adalah pedang Roh yang menusuk dan memisahkan, meremukkan, memilah-milah, menilai dan menghukum. Alkitab adalah berita dari Allah untuk memenuhi kebutuhan rohani. Berita dari Allah: Berorientasi dan berasal dari Allah. Berakar pada Firman, berkisar mengenai Kristus. Menimbulkan keyakinan. Membangkitkan kesadaran akan kekekalan.

Dengan segala kerendahan hati kita harus belajar membedakan antara Firman Allah

sebagaimana tertulis dalam Alkitab dengan berita Allah sebagaimana diberitakan dan

diterima secara pribadi. Firman Allah adalah kenyataan objektif, dibukukan dalam Alkitab, sebagai Kitab Suci yang tidak mungkin keliru. Firman tersebut sampai kepada kita melalui penyataan dari Allah, dan oleh ilham dari Roh Kudus dalam bentuk tulisan untuk diajarkan.

Pentakosta juga merupakan kenyataan sejarah. Roh Kudus turun dari sorga- pribadi/oknum; pada hari Pentakosta orang Yahudi, lima puluh hari sesudah Paskah- waktu; di Yerusalem – ruang; mengubah rasul-rasul dan orang-orang yang bersama mereka menjadi saksi-saksi yang tidak takut – tindakan-tindakan. Dalam agama Kristen, Allah terlihat bekerja dalam dan melalui sejarah. SM-M menjadi garis yang memisahkan signifikansi sejarah. Allah masuk ke dalam sejarah, mengubah arahnya, dan memakainya untuk melaksanakan maksud-nya dan tujuan akhir yang diinginkan-Nya. Oleh karena itu, kekristenan harus dibedakan dari filsafat, ideologi, mitologi, dan tradisi. Berita khusus dalam penginjilan yaitu (1) Dalam kekristenan, Allah adalah inisiator penting dan yang berbelas kasihan (2) Allah adalah aktor penting dan pemurah, sejarah adalah pentas yang memperlihatkan tindakan-tindakan-Nya dan keselamatan adalah tujuan dari tindakantindakan-Nya (3) Puncak tindakan Allah dalam Kristus Yesus adalah penggenapan PL. (4) Dalam Yesus Kristus Allah, menawarkan keselamatan secara cuma-cuma kepada manusia (5) mengabaikan atau menolak keselamatan yang mulia dari Allah dalam Kristus Yesus, mempunyai konsekuensi-konsekuensi yang serius, baik sekarang maupun untuk selamalamanya.

Kemudian penulis buku membahas mengenai pokok-pokok Penyampaian berita Injil. Ada tujuh prinsip untuk penginjilan yang efektif. (1) komunikasi harus dapat dipahami secara konseptual. (2) Secara formal komunikasi harus memikat. (3) Komunikasi perlu secara psikologis diadaptasikan. (4) Komunikasi perlu memiliki relevansi budaya. (5) Komunikasi harus relevan dari segi keagamaan. (6) Komunikasi mempunyai otoritas ilahi. (7) Komunikasi harus dilakukan dengan keyakinan dari Roh kudus.

 

BAB VII – Pertumbuhan Gereja dan Hamba Allah.

Pada bab terakhir dari bagian ke dua buku ini penulis buku mengawali dengan pendapat tentang Roh Kudus yang juga disatukan dengan hamba Allah. Dia tinggal dan memakai semua orang percaya. Dia juga memilih orang-orang spesifik untuk satu tujuan khusus dalam kerajaan Allah. Rasul-rasul Yesus Kristus mempunyai ciri “memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik”. Para Rasul adalah orang-orang yang telah dipanggil oleh Kristus dan terikat kepada Dia. Para Rasul adalah orang-orang yang mau menjalani hidup kemuridan tanpa berharap mendapatkan keuntungan materi atau keuntungan pribadi. Hanya sebuah janji yang dicatat sebagai telah menguatkan murid-murid “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia (Mat 4:18-22). Sebenarnya Kristus bukan menghadapkan mereka dengan keuntungan-keuntungan bersifat materi, sebaliknya, Dia berbicara mengenai penyangkalan diri, memikul salib, kesukaran-kesukaran, penderitaan penderitaan, penganiayaan, dibenci dan mati demi nama-Nya. Para Rasul adalah orang-orang yang dimuridkan oleh guru merka. Murid-murid dituntut menjadi duta-duta yang benar dari Tuhan, mereka bukan hanya untuk memberitakan berita-Nya, melainkan juga mewujudkan prinsip-prinsip-Nya dan mencerminkan sifat-sifat-Nya. Mereka harus menjadi abdi Allah, pembawa berita dari Injil yang mulia. Para Rasul adalah orang-orang yang hidup dan berjalan dalam Roh. Para Rasul adalah orang-orang yang telah

menetapkan prioritas mereka secara benar. Para Rasul adalah orang orang yang telah

mempelajari manfaat dari pelayanan-pelayanan tim. Para Rasul adalah orang-orang yang memiliki satu berita yang mengobarkan hati mereka. Para Rasul adalah orang-orang yang menyampaikan berita mereka memakai hikmat.pengetahuan praktis dan pengertian yang diterangi Roh Kudus. Para Rasul adalah orang-orang yang mau menderita dan berkorban dengan sukacita. Para Rasul adalah orang-orang dengan konsep yang alkitabiah, kesejarahan, dan bersifat pribadi mengenai Allah.

Demikianlah dengan sedikit panjang lebar penulis buku menerangkan hubungan antara hamba Tuhan, para Rasul dengan Roh Kudus.

 

BAB VIII – Empat Soko Guru Diperkenalkan

Bab delapan ini adalah bab pembuka dari bagian ketiga atau bagian terakhir buku ini yang membahas tentang empat soko guru pertumbuhan gereja.

Penulis buku berpendapat bahwa pertumbuhan gereja tidak terjadi begitu saja, pasti ada penyebabnya. Kristus sudah menyatakan dan alam maut tidak mampu melawannya. Kitab Kisah Para Rasul dapat dijadikan garis besar untuk memperlihatkan gereja yang berkembang melalui pola. Selanjutnya penulis buku memaparkan dalam bab ini beberapa soko guru yaitu: Sokoguru satu: Persekutuan

(kesehatan) Gereja sebagai persekutuan bersifat kualitatif. Sokoguru dua: bentuk (Struktur) Gereja membentuk satu bangunan yang tepat dan dapat dilayani. Sokoguru Tiga (Fungsi) Masyarakat setempat melalui penginjilan yang agresif. Sokoguru Empat (Fokus) gereja mengarahkan pelayanannya pada penginjilan dunia yang agresif.

Keempat soko guru ini akan dibahas satu-satu dalam bab-bab berikutnya sepanjang bagian terakhir dari ketiga bab buku ini.

 

BAB IX – Sokoguru Kesatu – Kesehatan dari Gereja

Pada bab ini menjelaskan Sokoguru Kesatu- Kesehatan dari gereja. Penulis buku berpendapat bahwa Kesehatan dari gereja diukur oleh kualitas moral dan spiritualnya, bukan oleh satu metodologi aktivis atau satu teknologi pragmatis. Selanjutnya penulis buku memaparkan Ciri-ciri dari Gereja. 1. Sebuah gereja harus mengenal langsung dan mengalamai kehadiran dari Roh Kudus. 2. Sebuah gereja harus disatukan oleh satu iman yang sama. 3. Sebuah gereja harus menundukkan dirinya pada kepemimpinan yang telah ditetapkan Allah. 4. Sebuah gereja harus dibentuk menjadi suatu persekutuan yang utuh dan bisa berfungsi. 5. Sebuah gereja harus mendidik anggota-anggotanya dalam sekolah atau latihan kemudiran. 6. Sebuah gereja harus memberitakan satu pesan yang relevan dan didefisnisikan secara jelas. 7. Sebuah gereja harus tetap berdoa. 8. Sebuah gereja harus hidup dengan mukjizatmukjizat. 9. Sebuah gereja harus mau menderita dan berkorban dengan sukacita.

Gereja dari orang-orang percaya – suatu persekutuan – harus diikat oleh iman yang sama. Gereja harus menundukkan dirinya pada kepemimpinan yang ditetapkan Allah. Gereja harus dibentuk menjadi satu persekutuan yang utuh dan berfungsi. Operasi gereja bersifat persaudaraan, ia merupakan sebuah contoh masyarakat yang baru, sebuah komunitas baru yang sedang bergerak maju. Gereja merupakan sebuah persekutuan (komunitas) yang menyatu, berfungsi secara harmonis dan serasi. Penulis buku juga memaparkan Ciri-ciri dari gereja rasuli adalah pengajaran, bersekutu, berdoa, membagi-bagikan, memuji Tuhan, bertumbuh. Gereja harus membawa anggotanya kepada jalan kemuridan. Gereja harus memberitakan berita yang relevan dari penyataan ilahi yang didefinisikan secara jelas. Gereja harus terus berdoa. Gereja harus hidup di tengah-tengah mukjizat. Gereja harus mau dengan sukacita mendertia dan berkorban bagi Tuhannya dan bagi pemberitaan Injil.

 

BAB X – Sokoguru Kedua – Bentuk dari Gereja

Pada bab ini penulis buku menjelaskan tentang bentuk dari gereja. Perjanjian Baru relatif tidak banyak berbicara mengenai struktur dan organisasi. Ia rupanya lebih banyak memuat soal-soal kualitas-kuantitas dan fungsi. Alkitab tidak menghindari organisasi. Struktur berperan melayani. Gereja mula-mula memberitakan berita yang baru, membentuk satu komunitas (persekutuan) yang baru, menciptakan satu tatanan baru, membuat jalan kepada pandangan hidup yang baru.

 

BAB XI – Sokoguru Ketiga – Fungsi dari Gereja

Pada bab ini penulis buku menguraikan tentang Sokoguru Ketiga – Fungsi dari Gereja. Penulis buku berpendapat bahwa Gereja harus mempertahankan keseimbangan yang tepat di antara tiga fungsi ini. Jangkauan ke arah atas dari gereja, bahwa Allah adalah Dia dan bahwa gereja Yesus Kristus adalah harta pusakaNya yang khas. Pelayanan ke dalam berupa persekutuan, pendidikan, peneguhan, pendisiplinan, dan pengorganisasian. Pelayanan ke luar menggambarkan hubungan dan berbagai tanggung jawab gereja kepada dunia. Misi dari gereja ke atas kepada Allah: ibadah, pemujaan, puji-pujian, syafaat. Misi ke dalam: persekutuan, pendidikan, peneguhan, pendisiplinan. Misi dari gereja ke luar: penginjilan, pelayanan, pengajaran, menegur.

 

BAB XII – Fungsi ke Dalam dari Gereja

Pada bab ke dua belas ini penulis rupanya tidak melanjutkan dengan membahas soko guru ke empat tetapi memilih untuk mengisi dengan pembahasan fungsi gereja ke dalam, sebagai isi pembahasan bab sebelas. Rupanya penulis buku berpendapat bahwa fungsi ke dalam dan keluar dri gereja cukup penting sehingga harus dibahas dalam satu bab tersendiri. Penulis buku menjelaskan “Fungsi ke dalam dari gereja” yang terdiri dari Prinsp-prinsip pembangunan yang mendasar berupa: 1. Prinsip pelayanan yang seimbang, pengajaran kesaksian dan penginjilan. 2. Prinsip keseimbangan kualitas-kuantitas. 3. Prinsip keseimbangan pertambahan pelipatgandaan. 4. Prinsip keseimbangan pemusatan-pelipatgandaan. 5. Prinsip penginjilan yang seimbang luas cakupan dan intensitas. 6. Prinsip hubungan hubungan yang seimbang, kemandirian (otonomi) dan kerjasama. Sejarah mendukung fakta bahwa gereja-gereja yang mempunyai kerjasama, tali hubungan dan kedekatan, akan bertumbuh lebih cepat dan lebih sehat dibanding gereja-gereja yang mengisolasi diri.

 

BAB XIII – Fungsi ke Luar dari Gereja

Pada lanjutan pembahasan bab sebelumnya mengenai fungsi gereja, penulis buku menguraikan Fungsi keluar dari Gereja. Penulis buku berpendapat bahwa dalam pelayanan, penginjilan harus menjadi fokus dan sentral. Bagaimana gereja dapat melakukan perluasan dengan cara yang paling sehat? Pertumbuhan gereja terjadi menurut prinsip-prinsip yang pasti seperti dalam Kisah Para Rasul. Prinsip-prinsipnya adalah: 1. Sebuah gereja bertumbuh sampai ke tingkat di mana keadaannya berubah dari keadaan introver menjadi ekstrover. 2. Sebuah gereja bertumbuh sampai ke tingkat di mana berbagai penghalang yang tentu akan merintangi ekspansi Injil dapat diatasi. 3. Sebuah gereja bertumbuh maksimal, jika dengan giat menjalankan fungsinya dalam penginjilan yang intensif dan ekstensif. 4. Sebuah gereja bertumbuh maksimal, jika seluruhnya anggota dari badan itu dikerahkan dan diajar ikut melayani secara berkelanjutan, baik dalam hal berdoa, membagi-bagikan sesuatu, bersaksi, dan memberitakan Injil. 5. Sebuah gereja bertumbuh maksimal, jika ladang yang hendak ditaburi Injil sudah dipersiapkan secara baik melalui doa-doa. 6. Sebuah gereja bertumbuh paling bagus, jika penginjilan didukung oleh strategi yang dipimpin Roh Kudus dan struktur yang relevan yang dilandasi oleh prinsip-prinsip yang alkitabiah untuk menuntun gerakannya ke depan. 7. Sebuah gereja bertumbuh maksimal, jika pelayanannya secara tepat berkaitan dengan orang banyak. 8. Sebuah gereja bertumbuh maksimal melalui unit-unit masyarakat yang homogen. 9. Sebuah gereja bertumbuh maksimal melalui keputusan-keputusan yang diambil secara pribadi, maupun bersama dan melalui perubahan perubahan dalam berbagai budaya di lingkup keluarga, suku, komunitas, dan kelompok-kelompok yang terdiri dari orang banyak. 10. Sebuah gereja bertumbuh maksimal, jika gereja tersebut mengerahkan abdi-abdi Allah yang terbaik, paling berpengalaman, dan paling cakap untuk penginjilan dan perluasan gereja. 11. Sebuah gereja bertumbuh maksimal, melalui pelayanan-pelayanan tim yang dipandu oleh kepemimpinan yang kuat dan bijaksana. 12. Sebuah gereja bertumbuh maksimal, jika Injil diberitakan secara jelas, relevan serta persuasif, selanjutnya Yesus Kristus dihormati sebagai Tuhan dan Juruselamat, dan Roh Kudus diakui serta ditaati. 13. Sebuah gereja bertumbuh maksimal, jika orang-orang yang memiliki panggilan, persyaratan, iman dan doa yang ilahi mampu membimbing badan gereja untuk merasakan langsung realitas Allah di tengah umat-Nya serta menyaksikan Dia memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka.

 

BAB XIV – Sokoguru Keempat – Fokus dari Gereja

Pada bab ini penulis buku baru melanjutkan pembahasan dan menjelaskan tentang Sokoguru keempat- Fokus dari gereja. Apakah yang harus difokus oleh gereja? Pertama, seluruh pandangan terhadap dunia yang ada dalam Alkitab bersifat teosentris. Kedua, Tuhan mengekspresikan kehendak dan maksud-Nya melalui Amanat Agung, Allah berkehendak agar Injil diproklamasikan oleh utusan-utusan-Nya. Ketiga, kampanye penginjilan dari gereja mula-mula dilaksanakan di bawah petunjuk Roh Kudus. Keempat, Allah mempunyai rencana membentuk gereja dari semua bangsa. Mutlak penting bahwa gereja yang sungguh-sungguh ingin diterima oleh Tuhan dan ingin mengalami kepenuhan berkat-berkat-Nya maka gereja itu harus menjadi satu komunitas atau persekutuan yang berkualitas serta berkuantitas dan melihat jelas kepada dunia.

BAB XV – Ke Arah Teologi Pertumbuhan Gereja

Pada bab yang terakhir dari bagian terakhir buku ini penulis buku menguraikan tentang “Ke Arah Teologi Pertumbuhan Gereja”. Pertanyaan teologis maupun pertanyaan praktis serius di sekitar penginjilan-penginjilan dan soal pertumbuhan gereja: Apakah penginjilan-penginjilan pada dasarnya sedang membangun Kerajaan Allah dengan semua implikasi kemasyarakatan dan budayanya, ataukah penginjilan-penginjilan tersebut pada dasarnya merupakan satu pelayanan pembangunan gereja? Penulis buku yakin bahwa berita, hamba Tuhan, dan kualitas dari gereja yang melaksanakan penginjilan dan pertumbuhan gereja akan menjadi lebih sentral dibandingkan dengan metode-metode dan teknik-teknik. Kendati metode-metode adalah penting, namun mereka hanyalah alat penolong dan bukan pelaku langsung atau alat dari Roh Kudus. Roh Kudus ada dalam berita itu. Dia mengurapi pembawa berita, dan Dia bekerja di dalam dan melalui gereja. Karena itu, pertumbuhan gereja harus dilihat dari perspektif Alkitab dan perspektif teologis, serta harus tetap tunduk pada pemeriksaan yang alkitabiah. Allah berkehendak agar gereja bertumbuh. Dan janji-Nya ialah;” Aku akan mendirikan jemaat-Ku!”.

Amin.