TUGAS LAPORAN BACA APOLOGETIKA

Mata Kuliah                : Apologetika

Buku                           : Apologetika Bagi Kemuliaan Allah, John M. Frame

Penerbit                       : Momentum

 

Dalam Bab I yang berjudul Apologetika: Dasar-dasar, John M. Frame mengawali dengan memberikan definisi dan dasar bagi pengantarnya terhadap disiplin apologetika.  Menurut Frame apologetika adalah “ilmu yang mengajarkan orang Kristen bagaimana memberi pertanggungan jawab bagi pengharapannya.”  Ia membagi apologetika menjadi pembelaan, pembuktian, dan penyerangan, di mana masing-masing merupakan satu kesatuan yang dipandang menurut perspektif yang berbeda.  Pembagian ini juga menjadi subtema besar dalam pengulasannya kemudian. Frame berargumen bahwa prasuposisi yang netral merupakan sebuah kemustahilan; karena itu seorang apologis Kristen wajib memegang prasuposisi Kristen baik dalam stan yang diambilnya ataupun argumentasi yang diberikan.  Proposisi ini bukanlah sesuatu yang tidak adil ataupun memutus dialog antara orang percaya dan tidak percaya, demikian klaimnya. Yang menarik, menurut Frame, apologetika juga merupakan bagian dari penginjilan, hanya saja penekanan yang diberikan berbeda.  Prinsip sola scriptura yang menjadi prasuposisinya tidak meniadakan kepentingan wahyu umum dalam argumentasi, malahan menggunakan bukti-bukti merupakan “pelaksanaan” dari prinsip tersebut.  Terakhir, ia memberikan beberapa “bahaya” dari melakukan apologetika, yakni kecenderungan untuk melenceng dari ortodoksi ataupun menjadi sombong.

Dalam Bab II yang berjudul Berita yang Dibawa oleh Apologis, Frame memajukan kekristenan sebagai suatu filsafat dan kabar baik.  Maksudnya sebagai filsafat adalah bahwa kekristenan memiliki cara pandang terhadap dunia secara menyeluruh.  Dengan kata lain, kekristenan juga berbicara mengenai metafisika, epistemologi, dan nilai-nilai seperti yang ditawarkan oleh pandangan-pandangan dunia lainnya.  Metafisika Kristen menganut bahwa Allah adalah pribadi yang absolut, perbedaan antara Pencipta dan ciptaan, kedaulatan Allah, dan tritunggal.  Uraian berikutnya adalah pemaparan dari Alkitab dan penyerangan terhadap wawasan dunia lain yang bertentangan dengan kekristenan.  Yang menarik, Ia ingin menyatakan bahwa semua bidat dan agama-agama dunia sebenarnya sedikit banyak merupakan penyimpangan dari asumsi wawasan dunia Kristen yang benar ini.  Kritiknya adalah, apabila wawasan dunia lain tidak meninggalkan “otonomi” pemikiran mereka dan kembali pulang kepada wawasan dunia Kristen, maka mereka tidak akan sanggup membangun sebuah wawasan dunia yang konsisten dan koheren. Frame mengusung bahwa kekristenan bukan sekadar filsafat yang harus dipertahankan dan diajukan kebenarannya, namun sebuah solusi bagi permasalahan dunia ini.  Kekristenan menawarkan keselamatan.  Seorang apologis Kristen, menurut Frame, tidak boleh melupakan aspek penting dari kekristenan ini sehingga lupa menyampaikannya dalam bentangan argumen pembuktian, pembelaan, dan penyerangan yang sedang diupayakannya.  Kekristenan tidak hanya unik dan masuk akal, tetapi juga menyelamatkan.

Selanjutnya dalam Bab III yaitu Apologetika Sebagai Pembuktian: Beberapa Pertimbangan Metodologis, berbicara mengenai bukti-bukti yang ada bagi kekristenan dan metodologi penggunaannya.  Frame percaya bahwa kekristenan memiliki bukti yang kuat dan kokoh, namun tidak selalu persuasif bagi mereka yang mendengarkannya.  Karena itulah ia mengusung bahwa setiap apologis harus mempertimbangkan “variabel pribadi” dari orang yang ingin mereka berikan pertanggungan jawab.  Berikutnya Frame mengupas argumentasi transendental dari Van Til untuk meletakkannya sejajar dengan argumentasi bagi kekristenan tradisional.  Bagian penting ini adalah upaya Frame untuk menjembatani perdebatan tajam mengenai metodologi apologetika kontemporer. Frame menyimpulkan bahwa prasuposisionalisme merupakan masalah sikap hati, apabila didefinisikan seperti yang dilakukannya dalam buku ini.  Perbedaan apologetika tradisional dan prasuposisional tidaklah harus setajam yang nampak.

Dalam Bab IV yang berjudul Apologetika Sebagai Pembuktian: Eksistensi Allah, bagian ini merupakan demonstrasi Frame dari argumen-argumen tradisional mengenai keberadaan Allah dari perspektif prasuposisionalisme.  Ia menyatakan bahwa tidak ada satu argumentasi tradisional yang dapat berdiri sendiri untuk membuktikan keberadaan Allah.  Ia lebih condong untuk menumpuk argumentasi yang ada dengan sebuah prasuposisi Kristen, sehingga argumen-argumen tersebut terkumpul menjadi susunan balok rancang bangun wawasan dunia Kristen.  Frame memulai dengan mendefinisikan secara tepat mengenai agnostisisme, sehingga jalannya argumen yang ia sampaikan dapat mendarat dengan aman di kawasan pemikiran ateisme.  Segera setelah itu ia memaparkan argumen-argumen tradisional tersebut sambil memperlihatkan keterkaitan satu argumen dengan argumen yang lainnya.  Akhirnya, ia menyimpulkan bahwa argumen-argumen yang ada bermanfaat sejauh mereka dikaitkan dengan argumen-argumen lainnya dan prasuposisi Kristen.

Selanjutnya dalam Bab V yang berjudul Apologetika Sebagai Pembuktian: Membuktikan Injil, Frame melanjutkan dengan memberikan pembuktian bagi Injil, atau lebih tepatnya keseluruhan Alkitab.  Frame berangkat dari doktrin Alkitab adalah firman Allah yang mengimplikasikan setiap pernyataan Alkitab adalah ucapan Allah yang jelas dan berotoritas.  Titik tolak Frame adalah Allah berpribadi absolut tersebut menyatakan kehendak-Nya secara jelas kepada umat-Nya, supaya umat-Nya mampu untuk memahami dan melakukan kehendak-Nya.  Tempat penyataan Allah tersebut juga tidak diharapkan “kabur atau diperdebatkan di antara umat Allah.”  Tempat tersebut adalah Alkitab yang adalah firman Allah.  Frame menekankan bahwa bukan hanya kita harus percaya kepada Kristus, namun juga percaya kepada Alkitab.  Berikutnya ia menguraikan pandangan-pandangan yang bertentangan dengan klaim yang dibuatnya.  Ia membahas kritikisme Alkitab yang bersumber dari prasuposisi yang tidak Alkitabiah, lalu merangkai argumentasi positifnya mengenai nubuat dan mukjizat Alkitab.  Kesimpulannya sama dengan asumsinya, hanya saja lingkaran prasuposisi tersebut telah diperluas dengan argumen-argumen lainnya.  Bukti yang ada sudah jelas dari firman Allah, namun mereka yang sanggup mempercayainya hanyalah yang hati dan pikirannya dicelikkan oleh Roh Kudus.

Dalam Bab VI & VII yang berjudul Apologetika Sebagai Pembelaan: Problem Kejahatan, I & II, Frame dengan menegaskan bahwa problem kejahatan tidak akan memiliki jawaban yang sempurna pada masa sekarang ini.  Memang jawaban terhadap permasalahan ini tetap penting, yakni untuk memastikan bahwa kita tidak sedang menyembah Allah yang salah, namun Allah yang benar yang sesuai dengan ajaran Alkitab.  Tetapi, menurut Frame, banyak jawaban yang diberikan orang Kristen untuk permasalahan ini tidak cukup menjawab, malahan dapat menimbulkan anggapan yang salah.  Frame mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan jawaban yang ada selama ini, beserta dengan kritik pribadinya untuk setiap pandangan pada bab VI.  Dari bunga rampai jawaban yang ada ia menemukan bahwa argumen ad hominem merupakan jawaban yang Alkitabiah, meskipun belum memenuhi kriteria sebuah jawaban yang cukup.

Dalam Bab VII Frame menekankan berulang-ulang bahwa Allah tidak pernah berhutang kepada kita sebuah penjelasan komplit untuk tindakan-tindakan-Nya, termasuk masalah kejahatan.  Keraguan dan kebingungan mengenai masalah kejahatan bukanlah dosa, namun ketika seseorang mulai berbalik dan menuduh Allah, maka itu bisa dikatakan sebagai dosa pemberontakan.  Penjelasan yang dapat diberikan Frame dari Alkitab adalah bahwa Allah berkuasa atas sejarah dan kejahatan bukanlah finalitas dari sejarah dunia ini.  Memang jawaban ini tidak menyelesaikan permasalahan seperti genosida dan kelaparan, namun Alkitab menawarkan sebuah kisah bahwa semua kejahatan yang sulit diterima tersebut akan diselesaikan oleh Allah dengan hikmat-Nya yang luar biasa.  Tawaran pastoral Allah kepada mereka yang menderita adalah untuk taat dan percaya kepada kedaulatan Allah.  Frame melanjutkan dengan menyatakan bahwa kejahatan selalu memiliki tujuan kebaikan yang lebih besar, yakni tujuan Allah itu sendiri.  Jawaban-jawaban yang ditawarkan selama ini terlalu humanistis dan tidak Alkitabiah, menurut Frame, sebab mereka tidak mengasumsikan bahwa tujuan dunia ini diciptakan dan berlangsung adalah untuk menunjukkan kemuliaan Allah.  Akhirnya, Frame menggariskan perubahan hati sebagai langkah yang Tuhan berikan untuk menuju sebuah teodise.

Dalam Bab VIII yang Apologetika Sebagai Serangan: Kritik Terhadap Ketidakpercayaan, Apakah yang akan diusung oleh orang yang tidak percaya apabila mereka tidak memegang kekristenan?  Bagi Frame mereka hanya memiliki dua opsi, yakni ateisme dan pemberhalaan.  Kedua-duanya adalah bentuk dari otonomi dan penolakan wahyu Allah dan Frame berupaya membantah kedua alternatif.  Dua alternatif ini dijabarkan menjadi tiga model yakni relativisme ateis, rasionalisme pemberhalaan, dan pemberhalaan ateistis.  Setelah selesai menjabarkan ketiganya, Frame menutup dengan pertanyaan-pertanyaan kritis yang perlu diajukan ketika menemukan orang-orang yang menganut ketiga macam ketidakpercayaan ini.

Dalam Bab IX—Berbicara Dengan Orang Yang Tidak Dikenal; Lampiran A & B

Bagian ini lebih merupakan pengaplikasian apa yang sudah dibahas di sepanjang buku ini.  Secara umum tidak ada yang perlu dirangkum dari bab ini.

Apendiks yang diberikan berupaya untuk menjawab kritik terhadap prasuposisionalisme, secara khusus melalui buku Classical Apologetics dari John Gerstner, R.C. Sproul, dan Arthur Lindsley.  Selain evaluasi buku ini ada respons dari Jay Adams, namun tidak terlalu signifikan secara keseluruhan.  Secara umum problem yang diusung oleh apologetika Ligonier (begitu Frame menyebut mereka) sudah dijawab pada bab III, tetapi bagian ini lebih komprehensif dalam pembahasan sumber-sumber dari Van Til.  Frame akhirnya menemukan bahwa apologetika Ligonier dan Van Tillian memiliki kedekatan yang sangat.  Sayangnya, menurut Frame, Ligonier harus bersikap tidak konsisten dalam menggunakan metode mereka, sementara Van Til tidak.  Perbedaan ini didasari oleh bagaimana seseorang mengaplikasikan konsep otonomi dalam membangun argumentasi apologetika.  Masalah lainnya adalah mengenai kekonsistenan metode yang satu dengan yang lainnya dengan asumsi-asumsi Calvinistik yang dibawa oleh kedua metode yang mengaku berdasar dari iman reformed ini.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s