TUGAS LAPORAN BACA OKULTISME

Mata Kuliah                : Okultisme

Buku                           : “ESSAYS IN OCCULTISM, SPIRITISM, AND DEMONOLOGY

Penulis                          : Dean W. R. Harris (Author of “Days and Nights in the Tropics”, “By Path and Trail,” Pioneers of the Cross in Canada,” etc.)

Penerbit                         : MCCLELLAND, GOODCHILD & STEWART, Limited PUBLISHERS TORONTO

Diterbitkan                    : Copyright, 1919, by Joseph Gummersbach. All rights reserved. Printed in U. S. A.

 

PENDAHULUAN:

Memahami okultisme dengan segala aspeknya adalah suatu hal yang penting bagi umat percaya. Bahkan suatu keharusan bagi para hamba Tuhan. Hal ini karena para hamba Tuhan dalam masa pelayanannya kelak akan sering menemui hal-hal yang berhubungan dengan okultisme. Sehingga kesiapan dalam menghadapinya sangat mutlak diperlukan. Kesiapan menghadapi orang-orang yang mempraktekkan okultisme hanya bisa dicapai dengan pertolongan Roh Kudus, Firman Tuhan serta secara pribadi terus belajar dan mengenali berbagai rupa dan jenis-jenis okultisme.

ALASAN PEMILIHAN BUKU:

Buku yang termasuk “kuno” ini adalah buku yang sangat menarik, karena banyak mengupas tentang beberapa aspek okultisme yang cukup sering ditemui dan juga aspek okultisme yang cukup jarang ditemui bahkan asing ditemui khususnya di negara kita. Hal inilah yang membuat buku ini cukup berharga untuk dibaca sebagai bahan pelajaran khususnya bagi yang sedang atau tertarik untuk mempelajari tentang okultisme. Buku yang terbilang cukup kuno ini sayangnya buku ini masih dalam bahasa Inggris sehingga untuk membacanya membutuhkan ketrampiln khusus berbahasa Inggris sekaligus membutuhkan waktu yang lebih lama untuk membaca dan memahaminya.

Hal yang juga menarik adalah pengambilan contoh hal-hal supranatural yang hanya terjadi dan dipercaya oleh tradisi Katholik dimana pengambilan contoh ini dan sekaligus dimasukkan dalam buku ini mencerminkan pendapat pribadi penulis buku yang sebenarnya memasukkan hal-hal supranatural itu termasuk gejala-gejala okultisme tetapi ternyata diterima secara umum oleh budaya Katholik. Penilaian tentu saja diserahkan kepada pembaca umat percaya.

Buku ini terdiri dari dua belas bab, Bab pertama berisi Pendahuluan. Selanjutnya secara berurutan Bab dua membahas tentang “The Sixth Sense” atau di sini lebih dikenal dengan Indra ke Enam. Bab ke tiga membahas “The Sense of Orientation” atau Rasa Orientasi, suatu hal yang cukup asing dan jarang didengar di Indonesia. Selanjutnya bab ke empat membahas “Wonders of Bilocation”, hal yang cukup asing dan jarang didengar di Indonesia. Kemudian bab ke lima membahas tentang “Bicorporety” suatu istilah yang juga jarang terdengar di Indonesia. Selanjutnya bab ke enam membahas tentang “Dual Personality” atau disini mungkin lebih popular yang disebut Kepribadian Ganda. Kemudian bab tujuh membahas tentang Spiritsme dan di tinjau dari aspek kuno dan modern. Selanjutnya bab delapan lebih merupakan lanjutan dari bab tujuh dimana dalam bab ini si penulis mencoba menjelaskan lebih lanjut tentang apa itu Spiritualisme. Bab Sembilan akan membahas tentang “Apparitions” atau fenomena Penampakan. Kemudian bab sepuluh membahas tentang “Demonical Possession” atau Kerasukan setan. Selanjutnya bab yang cukup menarik adalah bab sebelas dimana akan dibahas tentang apa itu “Mati”. Bab terakhir yang juga tidak kalah menariknya adalah penulis memaparkan “Roh-Roh dari Dunia Lain”.

METODE:

Dalam Laporan Baca ini akan mencoba menguraikan pokok pikiran penulis atau pengarang buku bab demi bab dan akan langsung diberi tanggapan. Tanggapan bisa berupa persetujuan, ketidaksetujuan, tambahan data dan sebagainya.

PEMBAHASAN:

BAB I – Pendahuluan

Penulis buku pada bagian pendahuluan ini mengemukakan berbagai pendapat para ahli tenang fenomena Spiritisme. Penulis berpendapat bahwa pada dasarnya sejauh sejarah berjalan, setiap saat, di semua negeri dan bangsa-bangsa manifestasi dunia roh  dan fenomena spiritisme yang terjadi pada masa kini hanyalah pengulangan dari yang berlangsung di masa pra-Kristen.

Penulis buku juga memaparkan adanya perbedaan pendapat terhadap okultisme yang ternyata banyak yang diterima dan dianggap lazim oleh budaya Katholik. Sehubungan dengan itu dalam tulisan di buku ini penulis juga banyak memberi contoh fenomena “okultisme” yang diterima iman Katholik sedangkan penilaiannya terserah pembacanya.

Penulis juga memaparkan pendapat dari peneliti Spiritme terkenal masa itu misalnya Profesor Crawford, dalam tulisannya, “The Reality of Psikis Fenomena,” percaya dia telah menunjukkan tidak hanya aktualitas dan kebenaran dari adanya fenomena ini, tetapi juga keberadaan cara yang sampai sekarang tidak diketahui manifestasi dari energi psikis atau roh. Conan Doyle, dalam bukunya, “The New Revelation”, menegaskan bahwa komunikasi roh ini menciptakan agama baru, “Wahyu Baru,” sebuah kelahiran kembali dari agama Kristen, sementara Emile Boirac memberitahu dalam “Psychology Future” bahwa fenomena ini meletakkan pondasi dari psikologi baru, berurusan dengan hal laten dalam sifat manusia.

Ketiga penulis terkenal ini percaya Spiritisme dan kemungkinan berkomunikasi dengan jiwa-jiwa orang mati. Profesor Crawford di pengantar singkat mengatakan bahwa ia “secara pribadi puas bahwa roh adalah jiwa-jiwa manusia yang telah lulus ke luar.”

Penulis buku berpendapat psikolog Kristen maupun non-Kristen yang belajar Spiritisme, menyatakan bahwa tidak ada bukti yang membuktikan bahwa roh-roh menanggapi panggilan manusia adalah jiwa-jiwa manusia dan yang pada satu waktu pernah hidup di bumi sebagai manusia. Mereka berpendapat bahwa fenomena dibuat dan dikendalikan oleh malaikat yang jatuh, roh-roh jahat,  mereka benar-benar manifestasi kekuatan kejam. Mereka juga berpendapat bahwa fenomena ini adalah manifestasi dari demoniac spirits dengan siapa gereja melarang semua orang yang mendengarkan suaranya untuk mengadakan hubungan.

Selanjutnya penulis memakai pendapat Dr. Raupert yang meminta untuk “Silakan memeriksa bukti-bukti. Kesampingkan teologi, Anda akan cepat menjadi yakin bahwa kecerdasan transendental pasti berusaha mewujudkan dirinya melalui fenomena ini, dan Anda juga akan menemukan bahwa kecerdasan ini adalah kekuatan yang sangat kuat jahatnya.”

Pengalaman berabad-abad gereja telah mengajarkan psikolog Kristen dan dokter yang mempelajari Spiritisme menyimpulkan Spiritisme membuat kerusakan pada pikiran orang-orang berkemauan lemah dan mempengaruhi orang-orang dan mendorong banyak orang untuk bunuh diri dan masuk rumah sakit jiwa.

Terlepas dari berbagai pendapat para ahli yang berusaha mengemukakan pendapat tentang spiritisme dalam bab pendahuluan ini menurut saya semua orang Kristen harus bersatu dalam mengecam kultus Spiritisme dan Manifestasi Spirit.

 

BAB II – THE SIXTH SENSE / Indera Keenam

Pada bab dua yang membahas tentang Indra Keenam, penulis buku mencoba menjelaskan Indera Keenam dengan perbandingan logika tentang Indera Keenam dengan hal-hal yang alami dan natur. Misalnya hewan anjing yang punya naluri begitu sensitif yang bisa mendengar, merasakan, atau mencium dari jarak yang jauh. Ikan Cyprinodon yang buta di sungai bawah tanah yang gelap di gua Mammoth di Kentucky tapi setelah ditangkap dan tinggal di akuarium lalu dua generasi selanjutnya akan mendapatkan kembali penglihatannya dan tidak buta lagi. Penulis berpendapat bahwa penglihatan yang hilang karena tidak digunakan dan akhirnya pulih karena memang diperlukan dan digunakan. Juga misalnya makhluk Proteus, semacam kadal yang mempunya insang sekaligus paru-paru, karena lingkungan hidupnya mengharuskan kadal itu kadang memakai paru-paru kadang memakai insang. Juga berbagai jenis ungags atau burung yang sama sekali tidak bisa terbang, tidak bisa terbang karena mereka tidak pernah menggunakannya. Kemampuan yang tidak pernah digunakan membuat lemah, misalnya burung onta, bebek logger dari Venezuela dan sebagainya.

Selanjutnya penulis memaparkan fenomena yang lebih ajaib lagi misalnya tulisan Von Humboldt, dalam volume ketiga nya “Voyage aux Regions Equinoxiales du Nouveau Continent”, mengatakan ia melihat, dan bisa diverifikasi seorang pria di desa India Parana, Columbia, S. A., menyusui bayi tiga bulan.  Juga dalam sebuah surat yang ditulis oleh St. Francis Xavier pada bulan Oktober, 1547, kepada anggota nya Masyarakat di Roma, ia menyatakan: “Dalam Pulau ini dari Amboyna (Malay Archipelago) saya telah melihat apa tidak ada yang akan percaya. Aku melihat seekor kambing jantan mengisap untuk anak-anaknya dengan susu sendiri. Dia punya satu payudara, yang memberikan setiap hari susu sebanyak satu baskom. Saya melihat dengan mata saya sendiri, karena aku tidak akan percaya tanpa melihat itu. Hal ini terjadi karena manusia laki-laki maupun kambing jantan berhasil mengembangkan kemampuan untuk menyusuinya. Di hampir semua mamalia, laki-laki memiliki rudimentary mammae (puting). Eudimentary atau organ dalam beberapa laki-laki masih mempertahankan potensi mereka. Hal ini sesekali terjadi dengan payudara dan mammae hewan jantan yang berkembang dengan baik dan mengeluarkan susu, seperti dalam contoh dicatat oleh Von Humboldt dan St.Francis Xavier.

Peulis berpendapat karena sudah tidak diragukan lagi bahwa pada hewan organ-organ tertentu telah berhenti berkembang karena  tidak digunakan, mungkin ada pada hewan dan manusia kekuatan spiritual, psikis, atau atavistik laten karena tidak digunakan atau di bawah diubah oleh kondisi hidup, hampir menghilang? Kita tahu bahwa rasa takut atau rasa waspada dan hati-hati kebanyakan menghilang pada hewan domestik dan bahwa semua indra fisik mereka telah menjadi tidak normal.

Penulis mengajak pembaca mengakui dan mengatakan, bahwa alam memiliki masih banyak rahasia tersembunyi dari kita.

Secara umum berdasar apa yang dipaparkan oleh penulis buku ada benarnya, bahwa barangkali ada kekuatan spiritual, psikis atau yang disebut juga Indera keenam yang dimiliki utamanya manusia yang akhirnya punah, hilang dan musnah karena tidak pernah digunakan sehubungan kondisi hidup. Tetapi sebagai umat Kristen seharusnya yang dimaksud dengan Indera Keenam hanyalah suatu pimpinan Roh Kudus dan hanya Roh Kudus. Diantara banyak tugas dan peranan Roh Kudus, maka tugas dan peranan Roh Kudus dalam konteks bab dua ini adalah Roh Kudus tinggal dalam diri orang percaya dan menjadi penolong-penghibur mereka selama-lamanya (Yoh. 14:16-17). Dengan kata lain menurut saya “Sixth Sense” yang dimiliki oleh orang Kristen haruslah bersumber dari Allah yaitu Roh Kudus sendiri serta bertugas untuk memimpin orang percaya ke dalam seluruh Kebenaran serta bersaksi tentang Kristus dan memuliakan-Nya.

 

BAB III – THE SENSE OF ORIENTATION

Pada bab ini penulis buku memulainya dengan memaparkan berbagi percobaan yang dilakukan oleh para ahli misalnya Profesor Fabre seorang naturalis Perancis yang mengadakan percobaan dengan lebah yang dibawa jauh ke pusat kota dan ternyata lebah-lebah yang telah ditandai itu bisa pulang kembali ke kandangnya yang semua.

Selanjutnya penulis buku juga memaparkan berbagai hewan yang bisa merasakan perubahan cuaca, datangnya badai ataupun akan datangnya musim dingin yang parah.

Selama bulan September dan Oktober, tupai, kesturi-tikus, dan hewan pengerat lainnya menyimpan untuk sendiri cukup makanan untuk panjang atau pendek musim dingin. Bagaimana tupai bisa tahu, karena ia memasuki musim gugur pertama, ketika musim dingin akan ditetapkan, dan tidak adanya pengalaman, bagaimana apakah dia merasakan durasi, kelembutan atau keparahan musim dingin dan mengukur kuantitas

makanan ia harus membawa ke sarangnya? Berdasar pemikiran ini penulis berpendapat kekuatan peramalan cuaca tampaknya menjadi bagian dari indra keenam atau clairvoyance. Penulis juga berpendapat bahwa orientasi adalah kekuatan “penglihatan kedua,” yang memungkinkan individu-individu tertentu untuk melihat apa yang terjadi di tempat yang jauh. Ada seperti koneksi intim antara clairvoyance, penglihatan kedua, dan orientasi yang menjadi sulit untuk menarik garis pemisahan.

Clairvoyant, penglihatan kedua ataupun rasa orientasi bagi umat Kristen jelas harus dari Roh Kudus dengan tujuan jelas yaitu bersaksi tentang Kristus, memimpin orang pada seluruh kebenaran, menggerakkan orang percaya untuk melayani Tuhan dan memberitakan Injil.

 

BAB IV – WONDERS OF BILOCATION

Pada bab ini penulis membahas tentang fenomena kehadiran ganda. Kehadiran seseorang pada saat yang bersamaan yang bisa hadir pada dua tempat yang berbeda bahkan pada tempat yang sangat jauh. Penulis memberi contoh kehidupan Suci Francis Xavier dan Alfonsus Liguori yang konon dipercaya pernah mengalaminya. Berada pada dua tempat yang berbeda pada saat yang sama.

Berdasar berbagai contoh kejadian yang tercatat yang dialami oleh orang-rang suci, penulis buku berpendapat bahwa itu semua adalah suatu mukjizat, keajaiban dan hanya bekerja dengan tujuan untuk kebaikan. Arti dari bilocation menurut master teologi asketis, adalah bahwa penampakan, yang terlihat untuk satu atau banyak individu, seseorang diketahui hidup ratusan mil jauh dari mana penampakan muncul, adalah bahwa dari malaikat baik atau jahat yang mengasumsikan tubuh seperti kepada yang orang yang hidup dan pakaian yang sama dengan yang dipakai oleh orang tersebut.

Bilokasi, kemudian, mungkin berarti sama, tubuh ternyata menempati dua ruang; atau mungkin berarti dua badan identik sama, yaitu disebut bi-sifat jasmaniah; atau, lagi, tubuh yang sama, seperti dalam kasus Nabi Yehezkiel dan Habacuc.

Secara umum fenomena penampakan atau seseorang bisa saja terjadi, dan sebagai orang Kristen harus mengakui kebesaran dan kemahakuasaan Tuhan Maha Pencipta. Tetapi itu semua harus dengan tujuan yang kudus dan hanya untuk kemuliaan Allah. Kitab Suci atau Alkitab sendiri banyak mencata kehadiran Malaikat yang dating berbentuk manusia.

 

BAB V – BICOBPOREITY

Dalam bab ke lima ini penulis buku berpendapat bahwa Fenomena bilocation, bicorporeity dan transportasi udara atau terbang dapat diklasifikasikan memiliki afinitas intim atau hubungan satu sama lain.

Selanjutnya penulis buku memberi contoh tentang fenomena Rita dari Cascia Gorres yang mengalami transportasi penerbangan udara dari Rita dari Cascia, yang menikmati hak istimewa yang melewati pintu ditutup. “Wanita suci ini menginginkan, setelah kematian suaminya, untuk menjadi Augustinian biarawati, ditolak. Dia kemudian mengajukan banding kepada Allah dalam doa, dan sementara dia berdoa, diangkut melalui udara, dibawa ke sebuah biara dan disimpan di tengah-tengah biarawati dari biara. Semua takjub ketika biarawati tampil, karena mereka tahu

semua pintu masuk ke gedung itu tertutup. Ketika dia membuat dikenal siapa dia, bagaimana dia telah diangkut, dan keinginannya untuk mendedikasikan dirinya untuk melayani Tuhan dalam doa dan adorasi.

Contoh lain adalah bahwa Santo Petrus Rogala yang terlihat oleh banyak orang, selama tiga jam di udara, dan dikelilingi cahaya bulat seperti halo bercahaya kemuliaan, yang membuat orang-orang yang menangis karena mengira tubuhnya berada di dalam api.

Secara umum umat Protestan tidak mengenal dengan cerita dan tradisi ini, mengingat ini hanya dipercaya dan tercatat dalam budaya dan tradisi Katholik. Kita tidak tahu tujuan dan latar belakang peristiwa tersebut, jika memang benar-benar terjadi. Tetapi kejadian atau peristiwa itu tujuannya apa, apakah memuliakan Allah atau tidak, itulah yang perlu direnungkan.

 

BAB VI  – DUAL PERSONALITY

Pada bab ini, penulis buku membahas dan memaparkan contoh-contoh dari dual personality yang menurut saya pada dasarnya lebih mirip bilokasi, atau adanya seseorang yang terlihat berada pada dua tempat yang berbeda. Penulis buku memberi contoh pada apa yang terjadi dengan Bapa Alfonsus de Liguori dimana suatu ketika terlihat berada disamping tempat tidur Paus, mendampingi Paus yang sedang sakit dan hampir meninggal sementara pada saat yang sama terlihat sedang berdoa dan ektase di sebuah distrik yang terpencil di Italia. Selanjutnya penulis buku juga memberikan contoh kisah bapa Francis dalam “Vie de Saint Frangois Xavier,”

oleh Pere Bouhours (Avignon, 1817, Vol. II) dimana dalam kisah itu bapa Francis dikisahlan bisa terlihat di dua tempat dalam kisah karamnya kapal misionaris dari Jepang ke India pada tahun 1551.

Setuju dengan penulis buku sehubungan dengan Setanisme yang memakai kedok yang paling memikat dan paling menggoda adalah baik jika kita semua memiliki waktu, sarana, dan kesempatan untuk bisa mempelajari secara mendalam tentang manifestasi-manifestasi aneh dari ilmu-ilmu gaib.

 

BAB VII – SPIRITISM, ANCIENT AND MODERN

Pada bab ini penulis buku memaparkan secara singkat selayang pandang tentang berbagai bentuk spiritisme dari jaman ke jaman dan dari berbagai tempat. Berbagai fenomena spiritisme misalnya Penampakan roh, Clairvoyance atau Iluminasi Penglihatan Mental, Fenomena Mekanik seperti Produksi Cahaya, Panas dan Suara, Transportasi Udara, Oracleism atau pengungkapan masa depan, meja angkat, Levitation, Suspensi fungsi vital, Akselerasi Respirasi dan Sirkulasi darah, Clairaudience, penulisan otomatis, berbicara bahasa yang tidak dikenal dan asing, membentuk wajah manusia, anggota badan manusia, atau seluruh tubuh, perubahan berat badan, dan semua fenomena lain Spiritisme modern yang sudah dikenal pada jaman Chaldean dan Mesir dalam waktu jaman Firaun.

Penulis berpendapat bahwa manifestasi roh dan fenomena aneh dunia roh yang terjadi sekarang juga sama terjadi di masa lampau dengan kata lain fenomena yang terjadi tidak khas zaman kita.

 

BAB VIII – SPIRITISME APAKAH ITU?

Pad bab ini penulis buku membuka bab ini dengan suatu persoalan menarik. Penulis buku memaparkan bahwa seseorang bernama Dr. Campbell, menyatakan bahwa ia telah membaca dengan mendalam percakapan seseorang bernama Sir Oliver Lodge dengan anaknya yang telah mati dan bahwa ia kagum dan bingung. Mengapa ia telah “kagum dan bingung? Apakah Saul tidak melihat dan berkomunikasi dengan nabi yang telah mati yaitu Samuel, atau dengan roh menyerupai dia? Bukankah Alkitab, penuh dengan contoh-contoh orang yang berkomunikasi dengan roh-roh orang mati. Penulis buku berpendapat pengalaman Sir Oliver Lodge adalah bukan hal baru. Berkomunikasi dengan orang mati adalah pengalaman sehari-hari ribuan orang yang tinggal di Eropa, Asia, dan Amerika, dan kultus atau praktis hampir sebaya dengan usia umat manusia. Selanjutnya penulis buku mencoba menerangkan bahwa Spiritisme, atau praktek necromancy, seperti di zaman Musa, adalah bukti dekadensi moral an telah tumbuh menjadi sebuah sekte dengan istilh-istilah “Telopsis,” “telepati,” teloteropathy, “Kekuatan magnetic binatang”,  “telekensis”, dan banyak kata halus lainnya diciptakan oleh Psychical Researcher.

Penulis buku juga berpendapat bahwa Spiritisme merupakan pengembangan dari paganisme, sebuah hasil dari kekafiran di setiap jaman dan ditemukan dengan bentuk menyedihkan dari pemujaan setan di antara negara-negara yang paling dalam tenggelam dalam penyembahan berhala.

 

BAB IX – APPARITIONS

Pada bab ini penulis buku memulai dengan kisah Eobart Bruce seorang dari keturunan bangsawan Skotlandia pada suatu pelayaran perjalanan bisnisnya pada tahun 1828 pada usianya yang ke 30. Suatu ketika di dalam kabin Bruce mengira bahwa dia sedang bercakap-cakap dengan kapten kapal tetapi kapten kapal tidak menjawabnya sehingga akhirna dia menyadari bahwa itu adalah orang asing yang bukan awak kapal. Segera sesudah terjadi kehebohan ternyata setelah diselidiki ternyata di dalam kabin tidak ada seorangpun di dalam kabin.

Sebenarnya ini adalah semacam fenomena penampakan.

 

BAB X – DEMONIACAL POSSESSION

Pada bab ini penulis buku memaparkan bahwa Setan bisa mengontrol dan mempengaruhi perbuatan orang sehingga bisa berbuat kejam, biadab, brutal luar biasa. Selanjutnya penulis buku memberikan data dan kesaksian semasa Revolusi Perancis, dimana individu jatuh di bawah pengaruh yg merusak dari makhluk-makhluk jahat, massa manusia telah didorong oleh mereka untuk perbuatan tindakan mengerikan. Kebrutalan dan kekejaman diluar sifat manusia. Pemikir yang mendalam, Orestes A. Brownson, yakin bahwa dintar massa rakyat itu juga ada setan dan mempengaruhi. Dia menyatakan bahwa banyak dari mereka yang berpartisipasi dalam perbuatan mengerikan dari kebiadaban setelah mengakui bahwa mereka tidak bisa melakukan apa yang mereka lakukan tanpa bantuan, bahwa ada kehendak lain dari mereka sendiri dan mengkontrol mereka, berputar mereka dan melempar mereka, sebagai angin pada daun, dan memaksa mereka untuk taat. Selanjutnya juga penulis buku juga memberikan contoh kasus “Pembantaian Gunung Meadows”, ketika, pada 20 September 1857, seratus tiga puluh emigrant laki-laki, perempuan, dan anak-anak dalam perjalanan mereka melalui Utah ke Pantai Pasifik, dibantai oleh seorang pria bernama John D. Lee. Penulis selanjutnya mengajukan pertanyaan bagaimana mungkin manusia yang diciptakan segambar dan serupa dengan Allah, manusia beradab, bahkan rajin ke gereja bisa melakukan kebiadaban dan kekejian luar biasa seperti itu. Kemudian penulis buku mengutip dari M. Ratisbonne yang mengatakan bahwa: “Ada banyak orang jahat, baik laki-laki dan perempuan di tengah-tengah kita yang kerasukan dengan roh jahat dan, seperti Magdalena, tidak menyadari hal itu.”

Setuju dengan inti pendapat penulis buku bahwa roh jahat yang berbahaya adalah roh yang merasuki manusia dan membuat kita melakukan hal-hal kejam dan menyakiti sesama manusia.

Sebagai tambahan dan bahan masukan untuk melengkapi bab ini dalam buku ini, saya tambahkan beberapa kasus pembunuhan yang dilatarbelakangi oleh kerasukan roh jahat yang cukup menggemparkan:

  1. Dikenal sebagai “Demon Pembunuhan Trial” kasus Anne Cheyenne Johnson adalah kasus pengadilan pertama yang diketahui Amerika Serikat dimana pembela berusaha membuktikan bahwa terdakwa tidak bersalah dikarenakan tidak adanya barang bukti. Pada tahun 1981, Anne Cheyenne Johnson membunuh tuan tanah Alan Bono di Connecticut,AS.  Pengacara Johnson mengatakan dia menunjukkan perilaku yang aneh dengan sebelumnya berkonsultasi dengan ahli tentang iblis. Ed dan Lorraine mengatakan bahwa Johnson telah diejek dan diganggu oleh siapa selama hidupnya. Mereka juga menegaskan perbuatannya bukan atas kemauannya tetapi akibat kerasukan setan. Pada akhirnya kerasukan setan bukanlah sebagai pembelaan  yang sah terhadap pembunuhan tingkat pertama. Johnson dinyatakan bersalah dan diberikan hukuman penjara selam lima tahun.
  2. Pada tahun 1976 penduduk di New York City, Amerika Serikat diteror oleh seorang pembunuh berantai yang dikenal sebagai “anak sam” atau “44 caliber killer”. Polisi merasa bingung untuk mengungkap si pembunuh karena tidak ada jejak di TKP yang diketahui ada enam orang yang tewas dan tujuh lainnya luka parah. Ketika akhirnya si pembunuh berhasil ditangkap, Ia terindefikasi bernama David Berkowitz mengaku ia melakukan pembunuhan itu karena ia diperintahkan untuk membunuh setan. Berkowitz juga mengatakan bahwa anjing tetangganya telah dirasuki setan dan ian diperintahkan untuk melakukan pembunuhan. Pada akhirnya David Berkowitz dijatuhi hukuman seumur hidup dan pada pertengahan tahun 90-an ia mengaku bahwa ia pernah mengikuti aliran setan dan telah mendalangi sebagai ritual.
  3. Michael Taylor dan istrinya Christine yang tinggal di kota kecil Ossett, Inggris telah bergabung dengan kelompok keagamaan yang dipimpin oleh Marie Robinson. Pada saat pertemuan ditahun 1974, Christine Taylor dituduh suaminya telah berselingkuh dengan Marie Robinson. Mereka menolak tuduhan Taylor sehingga Taylor mengumpat dengan kata-kata kotor terhadap kedua orang tersebut. Setelah berbulan-bulan seperti orang gila, Michael Taylor akhirnya berkonsultasi pada seorang pendeta untuk melakukan pengusiran setan. Setelah diadakan doa-doa selam lebih dari 24 jam para imam mengatakan bahwa telah dikeluarkan lebih dari 40 setan dalam tubuh Micahel Taylor. Imam itu juga berpesan bahwa setan jahat juga akan tetap aktif dalam jiwanya. Begitu Taylor tiba dirumah, ia secara brutal membunuh istri dan anjing mereka. Kemudian dia berjalan keluar rumah sambil berlumuran darah. Pada persidangan dia dibebaskan dengan alasan dia tidak waras

 

BAB XI – WHAT OF THE DEAD?

Pada bab ini pertama penulis buku memaparkan kisah-kisah pemanggilan arwah orang mati dan Spiritsme misalnya lewat papan Ouija, papan kayu, medium dan sebagainya. Selanjutnya secara menarik penulis buku mengungkapkan pertanyaan yang cukup menantang yaitu apakah pantas secara moral dan etika seseorang mengganggu orang lain yang sudah beristirahat secara tenang di alam baka.

Saya setuju dengan pendapat penulis buku yang berpendapat bahwa pada umunya yang biasanya diajak komunikasi dalam Spiritsme dan pemanggilan arwah orang mati bukanlah roh orang yang dipanggil tetapi adalah roh-roh lain yang menyamar sebagai roh orang mati yang dipanggil tersebut yang pada suatu waktu pernah hidup di dunia. Sesuai pengajaran Alkitab baik dalam Perjanjian Lama maupun baru, roh-roh orang yang dulu pernah hidup di dunia dan sudah mati tidak akan menanggapi panggilan manusia sebab mereka berada di tangan Allah.

Tetapi jika pendapat ini diterima sebagai penghakiman dan finalitas, bagaimana kita menjelaskan kehadiran Musa dan Elia di Transfigurasi di Gunung Tabor? Untuk hal ini tanpa dalih apapun Musa dan Elias benar-benar hadir. Augustine ragu-ragu untuk menjawab pertanyaan tentang kemungkinan jiwa yang berpisah kembali ke bumi. Dia menulis: “Beberapa orang mati dapat dibawa kembali antara kehidupan; tidak dengan alasan bahwa tindakan tersebut dilakukan dengan kebajikan alam mereka sendiri, untuk itu hanya dapat terjadi dengan persetujuan dan pengaruh kekuasaan ilahi; tapi, ketika hal ini terjadi, adalah positif orang mati dan nyata, atau itu bahwa mereka diwakili oleh roh, berpakaian mereka dan menyerupai mereka? Ini adalah apa yang saya bisa tidak menentukan / (De Cur pro Mortuis, Chap. XV).

Menurut saya, dapatkah kasus penampakan Musa dan Elia (Luk.9:30-31) dijadikan rumus bahwa semua orang mati bisa menampakan diri dan berhubungan dengan orang hidup? Tentu tidak. Kasus ini adalah kasus khusus dimana para patriach yang berada dalam kuasa Allah diutus Allah menyampaikan pesan kepada Yesus untuk menggenapi rencana Tuhan. Tidak ada bukti bahwa Musa dan Elia bercakap-cakap dengan para murid Yesus atau bahwa peristiwa demikian akan berulang!

Kasus ‘Musa dan Elia’ ini juga memberi beberapa petunjuk penting, bahwa (a) Roh Orang Mati akan berwajah sama dengan wajahnya ketika meninggal, jadi mustahil kalau bayi meninggal kemudian rohnya bisa belajar di surga dan jadi dewasa, sebab bila bisa tentu roh Musa dan Elia umurnya sudah ribuan tahun; (b) Dalam Perjanjian Lama roh orang mati sudah dipisahkan, para hamba Allah dan orang yang dibenarkan berada di pangkuan Abraham; (c) Karena Samuel adalah nabi yang hidup di antara Musa dan Elia, maka ia berada dibawah kuasa Allah sehingga tidak sulit kalau Tuhan menyuruhnya untuk menampakkan diri pada Saul dan mustahil dukun di Endor bisa memerintah roh yang sudah berada dipangkuan Abraham/Allah itu.

 

BAB XII – SPIRITS OF ANOTHER WORLD/ (Roh-roh dari dunia lain)

Sebagai bagian penutup buku, penulis buku berpendapat bahwa orang mati tidak dan tidak bisa menanggapi untuk panggilan media atau dari siapa pun. Selain itu selanjutnya penulis buku memaparkan siapa sebenarnya roh-roh yang selama ini dalam dunia spiritisme diajak berkomunikasi dengan memaparkan pendapat-pendapat para tokoh terkait. Mereka itu adalah setan dan roh-roh jahat yang sangat berbahaya. Misalnya St. Francis yang berpendapat “Mereka adalah, roh-roh jahat yang, karena dosa Adam, yang dalam komunikasi dengan manusia, pada satu waktu merayunya untuk berbuat kejahatan, bertindak untuk menyakiti jiwanya, dan bahwa sejarah membuktikan itu juga akan menyiksa tubuhnya, berbicara dan bertindak dengan organ-organ tubuhnya, seakan roh-roh jahat yang benar-benar masters atau tuannya.” Kemudian penulis buku juga mengutip pendapat St. Hilary, salah satu yang paling terbesar dan orang terpelajar abad nya, beliau berpendapat bahwa “Roh-roh jahat begitu banyak dan kuat, bahwa tanpa bantuan Tuhan dan malaikat-Nya yang kudus yang aman menjaga dan melindungi kelemahan kita, kita tidak bisa menahan konspirasi tipu daya mereka (roh-roh jahat) dan kebencian mereka”.

Setuju dengan penulis buku, sebagai contoh, pada tahun 1871, Komite dari London Dialektis Society, yang telah dibentuk untuk tujuan investigasi dan pelaporan atas banyak phenomena  membuat pernyataan tegas “Pendapat kami tentang fenomena ini adalah bahwa kecerdasan yang ada ke dalam komunikasi dengan kami, adalah dari malaikat yang jatuh. Ini adalah setan, penguasa udara. Kami percaya bahwa kita melakukan tindak pidana necromancy saat kita mengambil bagian dalam ini pemanggilan arwah spiritisme.”

Jadi pemanggilan arwah yang jelas bukan arwah orang mati yang datang tetapi adalah setan dan roh jahat yang menyamar sebagai orang-orang mati adalah sangat berbahaya.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s