TUGAS INTERAKSI BUKU

Mata Kuliah                 : Misi Kontekstual

Judul                            : Artikel “Penginjilan Dalam Konteks Asia” oleh W. Stanley Heath, Ph. D, D.D.

 

Dalam artikel ini, W. Stanley Heath, Ph.D, memaparkan masalah besar dalam penginjilan pada umumnya, secara khusus dalam konteks Asia dan lebih khusus lagi Indonesia. Ada pernyataannya yang sangat menarik yaitu pemberitaan Injil akan mandul jika mereka yang mendengar berita Injil tidak dapat meyakini kebenaran Alkitab sebagai Sabda-Allah. Keyakinan akan kebenaran Alkitab inipun harus bersifat tuntas dalam segala sektor kehidupan. Seharusnya, untuk dapat memahami Alkitab sebagai kebenaran Firman Tuhan harus lewat sudut pandang Alkitab sendiri. Tetapi hal ini tidak mungkin bisa, bahkan hamper mustahil, begitu pendapat Stanley Heath. Hal ini terjadi karena pengertian yang jelas tidak dapat disimpulkan berdasar penelitian terhadap dunia yang sudah kehilangan normalitasnya.

Ada dua masalah besar yang harus diperhatikan dalam penginjilan, yaitu masalah Kosmologi dan masalah Epistemologi.

Tentang masalah Kosmologi, atau sudut pandang, menurut Stanley Kosmologi ini topic yang maha penting yang sering terabaikan dalam penginjilan.

Masalah Kosmologi, Stanley melihatnya dari dua sudut yang harus disimak yaitu Sudut Kepercayaan dan Pengkomunikasian.

Pertama yaitu Sudut Kepercayaan:

Stanley Heath mengamati bahwa hampir semua orang yang terlibat dalam penginjilan memanfaatkan pola penginjilan yang dirintis di dunia Barat. Meski memberi hasil, Stanley berpendapat bahwa hal ini mungkin terjadi karena secara umum pendidikan orang Asia sudah beralin ke pola pendidikan Barat. Stanley mengajak untuk merenungkan lagi apakah hal ini akan selalu memberi hasil yang baik dan maksimal terutama jika diterapkan pada tempat yang berbeda. Bahkan selanjutnya Stanley mengingatkan agar kegembiraan akan hasil yang telah dicapai tidak mengaburkan penglihatan kita akan golongan-golongan lain yang mungkin saja memerlukan pendekatan dengan cara lain. Stanley kemudian memberi contoh pola penginjilan di Barat dan di Asia memiliki Kosmologi yang sangat berbeda.

Kedua yaitu Pengkomunikasian Injil:

Stanley dengan tepat menyatakan bahwa tidak ada jalan pengkomunikasian Injil kecuali melalui sarana bahasa. Tetapi dalam hal inipun akan timbul masalah juga karena bahasa yang kita pergunakan belum tentu sama dengan bahasa mereka, bahasa disini meliputi semua aspek bahkan termasuk bahasa isyarat non-lisan.

Selanjutnya Stanley dalam menunjukkan arti penting bahasa dalam mengatasi kendala perbedaan bahasa mengajukan beberapa contoh kata kunci. Kata kunci yang dipaparkannya yaitu: Selamat, Dosa, dan Yesus. Stanley kemudia menguraikan secara singkat betapa makna ketiga kata itu bisa berbeda-beda tergantung dari kebangsaan dan wilayah area dimana kata itu diterapkan.

Stanley menekankan bahwa tidak cukup jika bahasa hanya jelas bagi kita sendiri, dalam penginjilan harus ada kesamaan makna diantara kedua pihak, pemberita Injil dan pihak penerima berita Injil. Stanley sangat meragukan efektifitas dan keberhasilan pemberita Injil pada masyarakat nir-Kristen jika si pemberita Injil tidak memahami pengkomunikasian Injil terhadap kosmologi masyarakat setempat dimana Injil akan diberitakan.

Selanjutnya tentang masalah Epistemologi, yaitu ilmu pembenaran; pembenaran Injil dan pembenaran sumber Injil. Dengan menarik, Stanley memaparkan bahwa banyak orang pandai, cerdik cendekia mengalami kebutaan rohani, kebal terhadap berita Injil, hal ini terjadi bukan karena tidak tahu tetapi terhambat oleh suatu system berpikir yang dibiasakan selama bertahun-tahun. Secara umum, orang-orang ini sudah biasa menerima kosmologi “ilmiah” yang berbeda dengan Kosmologi Alkitab yang sangat berbeda sifatnya bahkan mungkin bertentangan, akibatnya Alkitab ditolak dan dicurigai kebenarannya.

Beberapa pakar misiologi membagi tiga jalur peyakinan secara khas, yaitu Barat dengan ciri pengajatran yang masuk akal, yang kedua India dengan ciri terpesona dengan pengalaman gaib dan ketiga China dengan ciri melihat kebahagian sebagai bukti kebenaran. Ketiga hal itu bisa membawa orang pada Yesus tetapi menurut Stanley hanya corak Barat saja yang harus dipakai karena metode yang lain menurut Stanley kurang komunikatif, serta corak yang lain banyak kelemahan dan mudah dipatahkan.

Sebagai penutup, Stanley mengusulkan agar seluruh lembaga penginjilan menambahkan satu bab atau bagian yang penting dalam laporan mereka yaitu mengenai kemajuan dalam tugas mengIndonesiakan pola pelayanan yang dilakukan. Hal ini penting mengingat menurut pengamatan Stanley lembaga-lembaga cenderung melestarikan penatalaksanaan masa lampau tanpa mempertimbangkan konteks bahwa dunia selalu berubah.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s