TUGAS LAPORAN BACA PENANAMAN DAN PERTUMBUHAN GEREJA

Mata Kuliah                 : Penanaman dan Pertumbuhan Gereja

Buku                             : “THEOLOGI PERTUMBUHAN GEREJA”

Penulis                         : George W. Peters

Penerbit                        : Gandum Mas

 

PENDAHULUAN:

Pertumbuhan gereja adalah hal yang sangat penting bagi sebuah gereja. Para pemimpin gereja mengusahakan berbagai macam cara, baik lewat dibentuknya program – program ataupun strategi penginjilan untuk memultiplikasikan jemaatnya. Secara umum, kebanyakan yang menjadi pedoman mereka adalah nats Alkitab dalam Kisah Para Rasul 1:8 dan Matius 28:19. Dengan demikian memberitakan kebenaran Firman Tuhan dan menuntun orang – orang untuk bertobat adalah suatu amanat Agung dari Tuhan yang harus dilakukan oleh setiap orang percaya. Dengan melakukan cara – cara seperti penginjilan, mengadakan mujizat, dll adalah untuk memperkenalkan kuasa Tuhan dan kebaikan Tuhan sehingga orang yang tidak percaya menjadi percaya dan bahwa orang yang menjadi percaya tersebut akhirnya mencari sebuah gereja sebagai naungan untuk dirinya dapat bertumbuh dalam iman dan pengharapan kepada Tuhan Yesus sehingga keselamatan kekal itu diperolehnya.

ALASAN PEMILIHAN BUKU:

Buku Teologi pertumbuhan gereja adalah buku yang sangat baik untuk menyelami teologi pertumbuhan gereja. Mahasiswa teologi perlu diperlengkapi dengan teologi ini, agar dalam pelayanannya kelak sebagai gembala sidang sebuah gereja dapat mengarahkan, memandu dan membimbing gerejanya sesuai dengan teologi pertumbuhan gereja yang sehat. Buku ini sangat cocok dipakai sebagai panduan agar gereja lebih fokus sesuai panggilan gereja sebagai lembaga yang dibentuk langsung oleh Tuhan Yesus. Gereja yang menerapkan teologi pertumbuhan gereja yang sehat akan bertumbuh dalam kualitas dan juga dalam kuantitas. Buku terbitan Gandum Mas ini terdiri atas 3 bagian yaitu:

Bagian I. Dasar-dasar Teologis dari gereja

Bagian II. Prinsip-prinsip Alkitab tentang pertumbuhan Gereja.

Bagian III Empat Sokoguru Pertumbuhan Gereja.

Jumlah bab seluruh buku adalah 15 bab. Buku ini, sekali lagi,  sangat baik sebagai buku lanjutan untuk memahami pertumbuhan gereja.

METODE:

Dalam Laporan Baca ini akan mencoba menguraikan inti pokok pikiran penulis atau pengarang buku secara singkat bab demi bab dan akan langsung diberi tanggapan. Tanggapan bisa berupa persetujuan, ketidaksetujuan, tambahan data dan sebagainya.

Secara umum tidak banyak hal yang bisa ditambahkan atau dikritik mengenai buku ini karena buku karya George W. Peters ini sudah cukup lengkap dan bagus setelah kita membacanya.

PEMBAHASAN:

BAB I – Teologi Pertumbuhan Gereja- Sumber, Tema yang Menonjol dan Maknanya.

Pada bab satu ini sebetulnya belum masuk pada bagian pertama dari tiga bagian buku ini. Bab satu ini masih berupa pada bagian Pengantar buku. Meskipun masih berupa bagian pengantar, tetapi sudah terasa betapa buku ini terasa sangat berbobot dan berisi. Penulis buku memakai dasar Kisah Para Rasul 1:8 sebagai ayat sentral pertumbuhan gereja, “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-saksiKU di Yerusalem dan diseluruh Yudea”.

Lima kebenaran dasar terungkap dari tema utama teks ini yaitu:

(1) Roh kudus adalah utusan Allah,

(2) Rasul-rasul dari Yesus Kristus adalah utusan-utusan dari gereja Yesus Kristus,

(3) Bersaksi atau berkomunikasi secara lisan merupakan sarana utama,

(4) Yesus Kristus sendiri adalah isi dari pesan-pesan kristiani tersebut.

(5) Seluruh dunia yang dihuni manusia ini menjadi arena sepak terjang Allah dan proklamasi Injil.

Selanjutnya penulis buku memaparkan Tujuh Dimensi Pertumbuhan Gereja adalah: (1) ibadah kepada Allah

(2) Pelayanan di tengah-tengah persekutuan

(3) konseptualisasi Alkitab

(4) penginjilan kepada kelompok masyarakat

(5) mengakomodadi tuntutuan (kebutuhan) lingkungan

(6) memperkenalkan gaya hidup kristiani

(7) proklamasi injil ke seluruh dunia.

Pada bab ini penulis buku juga memaparkan berbagai jenis pertumbuhan gereja.

Jenis-jenis pertumbuhan:

(1) pertumbuhan bersifat kuantitatif

(2) pertumbuhan bersifat kualitatif.

Penulis buku juga memaparkan suatu Perilaku pertumbuhan, yaitu:

(1) Pertumbuhan biologis

(2) pertumbuhan yang spontan

(3) pertumbuhan yang terencana

(4) pertumbuhan melalui krisis-krisis khusus.

Selanjutnya penulis buku memberi Pengertian pertumbuhan gereja adalah:

(1) konsep pertumbuhan. Pertumbuhan bukanlah sesuatu yang tidak sesuai dengan realitas ilahi

(2) Fakta mengenai pertumbuhan dalam Kisah Para Rasul. Bagi banyak orang, pertumbuhan gereja nyaris sinonim dengan pertambahan secara numerik (peningkatan jumlah).

(3) pertumbuhan sebagai kemungkinan ilusi.

Secara menarik penulis buku berpendapat bahwa pertumbuhan kuantitatif bisa menyesatkan. Hal ini masuk akal karena gereja yang hanya bertumbuh secara jumlah jemaat tetapi secara kualitas iman jemaat tidak bertumbuh adalah sangat berbahaya.

 

BAB II – Gereja menurut Perspektif Teologis

Bab dua ini yang membahas gereja menurut perspektif teologis inilah kita akan mulai di bawa masuk pada bagian pertama dari buku ini yang membahas tentang Dasar-Dasar Teologis Dari Gereja.

Penulis buku mengungkpkan bahwa Firman Allah menyatakan bahwa segala sesuatu dari Dia, dan melalui Dia, dan oleh Dia dan bahwa akhirnya Allah adalah segalanya (Roma 11:36; I Kor 15:28). Hal ini membawa pada (1) Teosentrisitas dan humanitas. Manusia adalah ciptaan Allah, dibentuk menurut gambar Allah dan untuk maksud Allah, dan dengan kekekalaan serta hal-hal kekal terukir dalam keberadaan mereka. (2) Arti penting konsep tentang Allah. Dia ada sebelum semua ada, mengatasi semua, ada dalam semua, dan tetap sama dari kekal sampai kekal. (3) Teosentrisitas dan penyembahan berhala. Teosentrisitas adalah sifat yang alkitabiah serta menghargai Allah. Karena itu, sebuah gereja yang ingin berkembang (bertumbuh), atau ingin memenuhi ketentuan-ketentuan Alkitab, atau memenuhi tuntutan dan kebutuhan paling dalam dari umat manusia, maka ia harus bersifat teosentris dalam pesan, dalam penekanan, dalam perspektif dan dalam sasarannya. Kristo-sentriritas dalam Perjanjian Baru.”Allah ada dalam Kristus”, ini adalah rahasia penting dari PB. Bahwa Allah “menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia”, dan yang “mendamaikan dunia dengan Diri-Nya (I Tim 3;16; II Kor 5:18-21) adalah kabar baik bagi seluruh umat manusia. PB adalah potret agung dari Tuhan Yesus Kristus. Selanjutnya penulis buku menyinggung Pneumatologi atau ajaran tentang Roh Kudus dalam PB. Kita sekarang hidup dalam jaman Roh kudus dan bahwa Dia adalah Parakletos (Penolong) dari Allah di zaman ini. Penulis buku berpendapat bahwa  secara umum, Roh Kudus telah diabaikan atau diangap tidak rasional, misterius, membingungkan, impersonal. Akibatnya gereja mengalami kehampaan. Selanjutnya penulis buku juga membahas tentang Teokrasi dalam PB. Ada hal-hal spesifik yang jelas berasal dari Alkitab (1) bahwa kerajaan itu akan segera dinyatakan (2) bahwa kerajaan tersebut mempunyai ciri yang rumit yang sulit didefinisikan (3) bahwa muncul ciri khas dari kerajaan itu sepanjang zaman yang berlaku universal dan bersifat kualitatif. Pokok selanjutnya yang penulis buku paparkan adalah tentang Ajaran tentang gereja atau eklesiologi dalam PB. Lembaga yang dibentuk Allah adalah (1) keluarga (2) pemerintah (3) bangsa Israel (4) Gereja. Saat ini merupakan zaman dimana berdirinya gereja pertumbuhan, ekspansi, dan pelipatgandaan jmulah gereja telah menjadi obsesi para penginjil, zaman dimana sosiologi dan antropologi menjadi lebih dominan dalam misiologi ketimbang Alkitab dan teologi, juga ketika teknologi dan metodologi lebih dikenal ketimbang gerakan ilahi Roh Kudus. Penulis buku juga sedikit memaparkan tentang Ajaran tentang Alam semesta atau Kosmologi dalam PB. Konsep dunia mengandung tiga pengertian, bisa berarti umat manusia, alam semesta atau seluruh ciptaan, berbagai system licik yang telah dikembangkan manusia dibawah pengaruh Iblis.

 

BAB III – Gereja adalah Jemaat Allah.

Pada bab ini penulis buku memaparkan secara teologis bahwa gereja adalah jemaat Allah. Gereja Yesus Kristus adalah buatan Allah (Efesus 2:10). Dari perspektif sejarah penyelamatan (Heigeschichte) dan teologi tentang gereja, gereja Yesus Kristus lahir pada Pentakosta. Penulis buku berpendapat bahwa terdapat hubungan yang fungsional dan kualitatif antara Israel dengan gereja adalah sulit dibantah. Keduanya sama-sama berada dalam kerajaan Allah dan menjadi bagian darinya. Pentakosta adalah hari kelahiran gereja Yesus Kristus sebagai umat Allah yang unik, berbeda dan terpisah, permulaan dari rumah tangga Allah baru.

Selanjutnya penulis buku membahas tentang Gereja dan kekristenan. Sebagian besar kekristenan, antara gandum dan lalang bercampur, antara yang benar dan yang palsu, yang memberi pengakuan dan yang kerasukan sukar dibedakan, agama dan budaya, spiritualitas dan psikologi, teologi dan filsafat, gereja dan komunitas begitu membingungkan, sehingga tidak dapat dipisahkan. Penulis buku selanjutnya membahas topic yang juga menjadi judul dari bab ini yaitu Gereja adalah jemaat Allah. Alkitab mengandung begitu banyak kesaksian tentang fakta bahwa gereja adalah jemaat Allah. Gereja bukan sesuatu lembaga atau organisasi buatan manusia. Gereja pada hakikatnya adalah organisme yang dilahirkan oleh Roh Allah pada hari Pentakosta (Kis 2). Yang menetapkan agenda bagi gereja bukan dunia, melainkan Alkitab. Adalah kedaulatan tertinggi dan kasih karunia Allah untuk menetapkan keanggotaan, ciri, misi, maksud, kemajuan, dan tujuan Gereja. Inilah hukum tertinggi dari pertumbuhan gereja: bahwa ia bergantung kepada Tuhan. Dengan penuh kedaulatan Dia menyatakan: “Aku akan mendirikan jemaat-ku” (Mat 16:18).

Pada bagian akhir, penulis buku membahas tentang Gereja lokal. Ciri-ciri sebuah gereja lokal yang alkitabiah adalah: Gereja adalah perhimpunan orang-orang percaya yang sudah dibaptis. Gereja adalah sebuah badan yang tetap beranggotakan orang-orang percaya. Gereja adalah suatu persaudaraan beranggotakan orang orang percaya. Gereja adalah sebuah persekutuan orang-orang percaya yang menerapkan disiplin. Gereja adalah persekutuan orang-orang percaya yang memberikan kesaksian. Gereja adalah suatu persekutuan orang orang percaya yang beribadah. Dengan berbagai penjelasan tentang gereja lokal penulis buku menutup bab ini.

 

BAB IV Pertumbuhan gereja adalah pekerjaan Allah.

Pada bab terakhir dari bagian pertama ini penulis buku berusaha menjelaskan bahwa pertumbuhan gereja itu adalah pekerjaan Allah sendiri. Hal ini tidak lepas masih dalam konsep teologis pertumbuhan gereja. Penulis buku mengambil ayat dari Kej 3:15 dikenal menurut pengertian Heilgeschichte (sejarah penyelamatan) sebagai protevangelium (pemberitaan yang pertama) tentang usaha penyelamatan mulia oleh Allah, secara objektif dikerjakan oleh Kristus Yesus dan secara subjektif diwujudkan oleh tindakan mulia dari Roh Kudus. Kemudian penulis buku mengemukakan Empat unsur yang dikemukakan secara jelas dalam rencana mulia pada Mat 16:18 yaitu: Dasar dari gereja. Yesus Kristus sendiri, batu karang itu, adalah dasar dari batu penjuru utama. Pendiri gereja: Yesus Kristus sendiri adalah pendirinya. Ketahanan gereja. Gereja akan bertahan dan menang. Pekerjaan Allah Trinitas dalam pertumbuhan Gereja. Pengaturan penyelamatan dalam Trinitas bisa diringkaskan sebagai berikut: Trinitas menyusun rencana penyelamatan, Bapa yang menjanjikannya, Anak yang mendapatkan janji itu, dan Roh Kudus yang melaksanakannya. Parakletos (Penolong) adalah sebutan resmi Roh Kudus mengingat

pekerjaan-pekerjaan-Nya sejak Pentakosta. Roh Kudus dan Potensi yang tinggi. Roh Kudus bukan hanya mengantar ke dalam zaman penginjilan. Ia juga secara menakjubkan menciptakan atmosfir (suasana) bagi penginjilan-penginjilan di mana gereja bisa bekerja. Penulis buku juga memaparkan Pekerjaan mulia Roh Kudus: 1. Penciptaan potensi tinggi. 2. Kejadian-kejadian sejarah dan potensi yang besar.

Selanjutnya sampai pada pembahasan Roh Kudus dan Heilsgeschichte. Teologi dan filsafat masa kini (kontemporer) mengaku bahwa seluruh sejarah adalah sama dan hanya terdapat satu sejarah. Seluruh sejarah dibagi menjadi Heilsgeschichte dan sejarah umum. Heilsgeschichte, menurut pengertian Alkitab dimulai sejak panggilan terhadap Abraham, dilanjutkan diseluruh sejarah Israel pada zaman perjanjian Lama, dan diteruskan di dalam dan melalui gereja Yesus Kristus. Israel adalah alat untuk menjaga monoteisme etikal di dunia ini. Israel memberi sumbangan sebuah kitab suci

kepada dunia, yaitu Alkitab yang menjadi sumber bagi gagasan-gagasan moral paling tinggi untuk semua aspek dan hubungan dalam kehidupan ini.

Selanjutnya penulis buku mengemukakan bahwa Gereja itu sendiri bukan tujuan: gereja harus menjadi jembatan antara Allah dan dunia. Pertumbuhan gereja yang mempunyai tujuan supaya gereja bisa menjadi garam dan terang dunia (Mat 5:13-16). Hanya dengan demikian gereja benar benar menjadi bagian dari aliran Heilsgeschichte. Roh Kudus dan sejarah dunia. Alkitab memperhadapkan kita dengan faktafakta bukan teori-teori dan filsafat.

 

BAB V – Pertumbuhan Gereja dan Alat Allah yang Terutama.

Selanjutnya kita memasuki bagian dua dari buku ini yang bertema Prinsip-Prinsip Alkitabiah mengenai Pertumbuhan Gereja. Bagian dua buku ini dimulai dari bab lima. Pertama penulis buku membahas mengenai peranan Roh Kudus dalam pertumbuhan gereja yang diuraikan dalam hubungan tiga alat yaitu berita dari Allah, hamba Allah, dan Gereja Allah. Roh Kudus dan berita dari Allah. Ada hubungan realistis-mistis antara Firman Allah yang ditulis dengan tindakan-tindakan Roh Kudus. Roh Kudus dan Hamba Allah. Perjanjian Baru jelas menyiratkan bahwa Roh Kudus mempunyai hubungan khusus dengan hamba Allah. Roh Kudus dan gereja Allah. PB juga mengajarkan bahwa Roh Kudus secara khusus terkait dengan gereja Allah yaitu bait-Nya, kediaman-nya melalui mana Dia bekerja.

 

BAB VI – Pertumbuhan Gereja Dan Berita Dari Allah

Pada bab ini menguraikan tentang pertumbuhan gereja dan berita dari Allah. Penulis buku menjelaskan Firman memiliki kekayaan dan bersifat instruktif atau mengajar. Firman adalah seperti sebuah palu yang menghancurkan bukit batu menjadi berkeping-keping; ia adalah pedang Roh yang menusuk dan memisahkan, meremukkan, memilah-milah, menilai dan menghukum. Alkitab adalah berita dari Allah untuk memenuhi kebutuhan rohani. Berita dari Allah: Berorientasi dan berasal dari Allah. Berakar pada Firman, berkisar mengenai Kristus. Menimbulkan keyakinan. Membangkitkan kesadaran akan kekekalan.

Dengan segala kerendahan hati kita harus belajar membedakan antara Firman Allah

sebagaimana tertulis dalam Alkitab dengan berita Allah sebagaimana diberitakan dan

diterima secara pribadi. Firman Allah adalah kenyataan objektif, dibukukan dalam Alkitab, sebagai Kitab Suci yang tidak mungkin keliru. Firman tersebut sampai kepada kita melalui penyataan dari Allah, dan oleh ilham dari Roh Kudus dalam bentuk tulisan untuk diajarkan.

Pentakosta juga merupakan kenyataan sejarah. Roh Kudus turun dari sorga- pribadi/oknum; pada hari Pentakosta orang Yahudi, lima puluh hari sesudah Paskah- waktu; di Yerusalem – ruang; mengubah rasul-rasul dan orang-orang yang bersama mereka menjadi saksi-saksi yang tidak takut – tindakan-tindakan. Dalam agama Kristen, Allah terlihat bekerja dalam dan melalui sejarah. SM-M menjadi garis yang memisahkan signifikansi sejarah. Allah masuk ke dalam sejarah, mengubah arahnya, dan memakainya untuk melaksanakan maksud-nya dan tujuan akhir yang diinginkan-Nya. Oleh karena itu, kekristenan harus dibedakan dari filsafat, ideologi, mitologi, dan tradisi. Berita khusus dalam penginjilan yaitu (1) Dalam kekristenan, Allah adalah inisiator penting dan yang berbelas kasihan (2) Allah adalah aktor penting dan pemurah, sejarah adalah pentas yang memperlihatkan tindakan-tindakan-Nya dan keselamatan adalah tujuan dari tindakantindakan-Nya (3) Puncak tindakan Allah dalam Kristus Yesus adalah penggenapan PL. (4) Dalam Yesus Kristus Allah, menawarkan keselamatan secara cuma-cuma kepada manusia (5) mengabaikan atau menolak keselamatan yang mulia dari Allah dalam Kristus Yesus, mempunyai konsekuensi-konsekuensi yang serius, baik sekarang maupun untuk selamalamanya.

Kemudian penulis buku membahas mengenai pokok-pokok Penyampaian berita Injil. Ada tujuh prinsip untuk penginjilan yang efektif. (1) komunikasi harus dapat dipahami secara konseptual. (2) Secara formal komunikasi harus memikat. (3) Komunikasi perlu secara psikologis diadaptasikan. (4) Komunikasi perlu memiliki relevansi budaya. (5) Komunikasi harus relevan dari segi keagamaan. (6) Komunikasi mempunyai otoritas ilahi. (7) Komunikasi harus dilakukan dengan keyakinan dari Roh kudus.

 

BAB VII – Pertumbuhan Gereja dan Hamba Allah.

Pada bab terakhir dari bagian ke dua buku ini penulis buku mengawali dengan pendapat tentang Roh Kudus yang juga disatukan dengan hamba Allah. Dia tinggal dan memakai semua orang percaya. Dia juga memilih orang-orang spesifik untuk satu tujuan khusus dalam kerajaan Allah. Rasul-rasul Yesus Kristus mempunyai ciri “memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik”. Para Rasul adalah orang-orang yang telah dipanggil oleh Kristus dan terikat kepada Dia. Para Rasul adalah orang-orang yang mau menjalani hidup kemuridan tanpa berharap mendapatkan keuntungan materi atau keuntungan pribadi. Hanya sebuah janji yang dicatat sebagai telah menguatkan murid-murid “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia (Mat 4:18-22). Sebenarnya Kristus bukan menghadapkan mereka dengan keuntungan-keuntungan bersifat materi, sebaliknya, Dia berbicara mengenai penyangkalan diri, memikul salib, kesukaran-kesukaran, penderitaan penderitaan, penganiayaan, dibenci dan mati demi nama-Nya. Para Rasul adalah orang-orang yang dimuridkan oleh guru merka. Murid-murid dituntut menjadi duta-duta yang benar dari Tuhan, mereka bukan hanya untuk memberitakan berita-Nya, melainkan juga mewujudkan prinsip-prinsip-Nya dan mencerminkan sifat-sifat-Nya. Mereka harus menjadi abdi Allah, pembawa berita dari Injil yang mulia. Para Rasul adalah orang-orang yang hidup dan berjalan dalam Roh. Para Rasul adalah orang-orang yang telah

menetapkan prioritas mereka secara benar. Para Rasul adalah orang orang yang telah

mempelajari manfaat dari pelayanan-pelayanan tim. Para Rasul adalah orang-orang yang memiliki satu berita yang mengobarkan hati mereka. Para Rasul adalah orang-orang yang menyampaikan berita mereka memakai hikmat.pengetahuan praktis dan pengertian yang diterangi Roh Kudus. Para Rasul adalah orang-orang yang mau menderita dan berkorban dengan sukacita. Para Rasul adalah orang-orang dengan konsep yang alkitabiah, kesejarahan, dan bersifat pribadi mengenai Allah.

Demikianlah dengan sedikit panjang lebar penulis buku menerangkan hubungan antara hamba Tuhan, para Rasul dengan Roh Kudus.

 

BAB VIII – Empat Soko Guru Diperkenalkan

Bab delapan ini adalah bab pembuka dari bagian ketiga atau bagian terakhir buku ini yang membahas tentang empat soko guru pertumbuhan gereja.

Penulis buku berpendapat bahwa pertumbuhan gereja tidak terjadi begitu saja, pasti ada penyebabnya. Kristus sudah menyatakan dan alam maut tidak mampu melawannya. Kitab Kisah Para Rasul dapat dijadikan garis besar untuk memperlihatkan gereja yang berkembang melalui pola. Selanjutnya penulis buku memaparkan dalam bab ini beberapa soko guru yaitu: Sokoguru satu: Persekutuan

(kesehatan) Gereja sebagai persekutuan bersifat kualitatif. Sokoguru dua: bentuk (Struktur) Gereja membentuk satu bangunan yang tepat dan dapat dilayani. Sokoguru Tiga (Fungsi) Masyarakat setempat melalui penginjilan yang agresif. Sokoguru Empat (Fokus) gereja mengarahkan pelayanannya pada penginjilan dunia yang agresif.

Keempat soko guru ini akan dibahas satu-satu dalam bab-bab berikutnya sepanjang bagian terakhir dari ketiga bab buku ini.

 

BAB IX – Sokoguru Kesatu – Kesehatan dari Gereja

Pada bab ini menjelaskan Sokoguru Kesatu- Kesehatan dari gereja. Penulis buku berpendapat bahwa Kesehatan dari gereja diukur oleh kualitas moral dan spiritualnya, bukan oleh satu metodologi aktivis atau satu teknologi pragmatis. Selanjutnya penulis buku memaparkan Ciri-ciri dari Gereja. 1. Sebuah gereja harus mengenal langsung dan mengalamai kehadiran dari Roh Kudus. 2. Sebuah gereja harus disatukan oleh satu iman yang sama. 3. Sebuah gereja harus menundukkan dirinya pada kepemimpinan yang telah ditetapkan Allah. 4. Sebuah gereja harus dibentuk menjadi suatu persekutuan yang utuh dan bisa berfungsi. 5. Sebuah gereja harus mendidik anggota-anggotanya dalam sekolah atau latihan kemudiran. 6. Sebuah gereja harus memberitakan satu pesan yang relevan dan didefisnisikan secara jelas. 7. Sebuah gereja harus tetap berdoa. 8. Sebuah gereja harus hidup dengan mukjizatmukjizat. 9. Sebuah gereja harus mau menderita dan berkorban dengan sukacita.

Gereja dari orang-orang percaya – suatu persekutuan – harus diikat oleh iman yang sama. Gereja harus menundukkan dirinya pada kepemimpinan yang ditetapkan Allah. Gereja harus dibentuk menjadi satu persekutuan yang utuh dan berfungsi. Operasi gereja bersifat persaudaraan, ia merupakan sebuah contoh masyarakat yang baru, sebuah komunitas baru yang sedang bergerak maju. Gereja merupakan sebuah persekutuan (komunitas) yang menyatu, berfungsi secara harmonis dan serasi. Penulis buku juga memaparkan Ciri-ciri dari gereja rasuli adalah pengajaran, bersekutu, berdoa, membagi-bagikan, memuji Tuhan, bertumbuh. Gereja harus membawa anggotanya kepada jalan kemuridan. Gereja harus memberitakan berita yang relevan dari penyataan ilahi yang didefinisikan secara jelas. Gereja harus terus berdoa. Gereja harus hidup di tengah-tengah mukjizat. Gereja harus mau dengan sukacita mendertia dan berkorban bagi Tuhannya dan bagi pemberitaan Injil.

 

BAB X – Sokoguru Kedua – Bentuk dari Gereja

Pada bab ini penulis buku menjelaskan tentang bentuk dari gereja. Perjanjian Baru relatif tidak banyak berbicara mengenai struktur dan organisasi. Ia rupanya lebih banyak memuat soal-soal kualitas-kuantitas dan fungsi. Alkitab tidak menghindari organisasi. Struktur berperan melayani. Gereja mula-mula memberitakan berita yang baru, membentuk satu komunitas (persekutuan) yang baru, menciptakan satu tatanan baru, membuat jalan kepada pandangan hidup yang baru.

 

BAB XI – Sokoguru Ketiga – Fungsi dari Gereja

Pada bab ini penulis buku menguraikan tentang Sokoguru Ketiga – Fungsi dari Gereja. Penulis buku berpendapat bahwa Gereja harus mempertahankan keseimbangan yang tepat di antara tiga fungsi ini. Jangkauan ke arah atas dari gereja, bahwa Allah adalah Dia dan bahwa gereja Yesus Kristus adalah harta pusakaNya yang khas. Pelayanan ke dalam berupa persekutuan, pendidikan, peneguhan, pendisiplinan, dan pengorganisasian. Pelayanan ke luar menggambarkan hubungan dan berbagai tanggung jawab gereja kepada dunia. Misi dari gereja ke atas kepada Allah: ibadah, pemujaan, puji-pujian, syafaat. Misi ke dalam: persekutuan, pendidikan, peneguhan, pendisiplinan. Misi dari gereja ke luar: penginjilan, pelayanan, pengajaran, menegur.

 

BAB XII – Fungsi ke Dalam dari Gereja

Pada bab ke dua belas ini penulis rupanya tidak melanjutkan dengan membahas soko guru ke empat tetapi memilih untuk mengisi dengan pembahasan fungsi gereja ke dalam, sebagai isi pembahasan bab sebelas. Rupanya penulis buku berpendapat bahwa fungsi ke dalam dan keluar dri gereja cukup penting sehingga harus dibahas dalam satu bab tersendiri. Penulis buku menjelaskan “Fungsi ke dalam dari gereja” yang terdiri dari Prinsp-prinsip pembangunan yang mendasar berupa: 1. Prinsip pelayanan yang seimbang, pengajaran kesaksian dan penginjilan. 2. Prinsip keseimbangan kualitas-kuantitas. 3. Prinsip keseimbangan pertambahan pelipatgandaan. 4. Prinsip keseimbangan pemusatan-pelipatgandaan. 5. Prinsip penginjilan yang seimbang luas cakupan dan intensitas. 6. Prinsip hubungan hubungan yang seimbang, kemandirian (otonomi) dan kerjasama. Sejarah mendukung fakta bahwa gereja-gereja yang mempunyai kerjasama, tali hubungan dan kedekatan, akan bertumbuh lebih cepat dan lebih sehat dibanding gereja-gereja yang mengisolasi diri.

 

BAB XIII – Fungsi ke Luar dari Gereja

Pada lanjutan pembahasan bab sebelumnya mengenai fungsi gereja, penulis buku menguraikan Fungsi keluar dari Gereja. Penulis buku berpendapat bahwa dalam pelayanan, penginjilan harus menjadi fokus dan sentral. Bagaimana gereja dapat melakukan perluasan dengan cara yang paling sehat? Pertumbuhan gereja terjadi menurut prinsip-prinsip yang pasti seperti dalam Kisah Para Rasul. Prinsip-prinsipnya adalah: 1. Sebuah gereja bertumbuh sampai ke tingkat di mana keadaannya berubah dari keadaan introver menjadi ekstrover. 2. Sebuah gereja bertumbuh sampai ke tingkat di mana berbagai penghalang yang tentu akan merintangi ekspansi Injil dapat diatasi. 3. Sebuah gereja bertumbuh maksimal, jika dengan giat menjalankan fungsinya dalam penginjilan yang intensif dan ekstensif. 4. Sebuah gereja bertumbuh maksimal, jika seluruhnya anggota dari badan itu dikerahkan dan diajar ikut melayani secara berkelanjutan, baik dalam hal berdoa, membagi-bagikan sesuatu, bersaksi, dan memberitakan Injil. 5. Sebuah gereja bertumbuh maksimal, jika ladang yang hendak ditaburi Injil sudah dipersiapkan secara baik melalui doa-doa. 6. Sebuah gereja bertumbuh paling bagus, jika penginjilan didukung oleh strategi yang dipimpin Roh Kudus dan struktur yang relevan yang dilandasi oleh prinsip-prinsip yang alkitabiah untuk menuntun gerakannya ke depan. 7. Sebuah gereja bertumbuh maksimal, jika pelayanannya secara tepat berkaitan dengan orang banyak. 8. Sebuah gereja bertumbuh maksimal melalui unit-unit masyarakat yang homogen. 9. Sebuah gereja bertumbuh maksimal melalui keputusan-keputusan yang diambil secara pribadi, maupun bersama dan melalui perubahan perubahan dalam berbagai budaya di lingkup keluarga, suku, komunitas, dan kelompok-kelompok yang terdiri dari orang banyak. 10. Sebuah gereja bertumbuh maksimal, jika gereja tersebut mengerahkan abdi-abdi Allah yang terbaik, paling berpengalaman, dan paling cakap untuk penginjilan dan perluasan gereja. 11. Sebuah gereja bertumbuh maksimal, melalui pelayanan-pelayanan tim yang dipandu oleh kepemimpinan yang kuat dan bijaksana. 12. Sebuah gereja bertumbuh maksimal, jika Injil diberitakan secara jelas, relevan serta persuasif, selanjutnya Yesus Kristus dihormati sebagai Tuhan dan Juruselamat, dan Roh Kudus diakui serta ditaati. 13. Sebuah gereja bertumbuh maksimal, jika orang-orang yang memiliki panggilan, persyaratan, iman dan doa yang ilahi mampu membimbing badan gereja untuk merasakan langsung realitas Allah di tengah umat-Nya serta menyaksikan Dia memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka.

 

BAB XIV – Sokoguru Keempat – Fokus dari Gereja

Pada bab ini penulis buku baru melanjutkan pembahasan dan menjelaskan tentang Sokoguru keempat- Fokus dari gereja. Apakah yang harus difokus oleh gereja? Pertama, seluruh pandangan terhadap dunia yang ada dalam Alkitab bersifat teosentris. Kedua, Tuhan mengekspresikan kehendak dan maksud-Nya melalui Amanat Agung, Allah berkehendak agar Injil diproklamasikan oleh utusan-utusan-Nya. Ketiga, kampanye penginjilan dari gereja mula-mula dilaksanakan di bawah petunjuk Roh Kudus. Keempat, Allah mempunyai rencana membentuk gereja dari semua bangsa. Mutlak penting bahwa gereja yang sungguh-sungguh ingin diterima oleh Tuhan dan ingin mengalami kepenuhan berkat-berkat-Nya maka gereja itu harus menjadi satu komunitas atau persekutuan yang berkualitas serta berkuantitas dan melihat jelas kepada dunia.

BAB XV – Ke Arah Teologi Pertumbuhan Gereja

Pada bab yang terakhir dari bagian terakhir buku ini penulis buku menguraikan tentang “Ke Arah Teologi Pertumbuhan Gereja”. Pertanyaan teologis maupun pertanyaan praktis serius di sekitar penginjilan-penginjilan dan soal pertumbuhan gereja: Apakah penginjilan-penginjilan pada dasarnya sedang membangun Kerajaan Allah dengan semua implikasi kemasyarakatan dan budayanya, ataukah penginjilan-penginjilan tersebut pada dasarnya merupakan satu pelayanan pembangunan gereja? Penulis buku yakin bahwa berita, hamba Tuhan, dan kualitas dari gereja yang melaksanakan penginjilan dan pertumbuhan gereja akan menjadi lebih sentral dibandingkan dengan metode-metode dan teknik-teknik. Kendati metode-metode adalah penting, namun mereka hanyalah alat penolong dan bukan pelaku langsung atau alat dari Roh Kudus. Roh Kudus ada dalam berita itu. Dia mengurapi pembawa berita, dan Dia bekerja di dalam dan melalui gereja. Karena itu, pertumbuhan gereja harus dilihat dari perspektif Alkitab dan perspektif teologis, serta harus tetap tunduk pada pemeriksaan yang alkitabiah. Allah berkehendak agar gereja bertumbuh. Dan janji-Nya ialah;” Aku akan mendirikan jemaat-Ku!”.

Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s