Gereja di Tengah Gejolak Kota-Kota

TUGAS INTERAKSI BUKU

Mata Kuliah                : Urban Ministry

Judul                           : “Gereja di Tengah Gejolak Kota-Kota” oleh Herlianto

Penerbit                     : YABINA

Sebelum masuk dalam refleksi dan rangkuman buku ini, penting sekali kita pahami dan sadari bahwa buku ini ditulis oleh penulis sebelum masa Reformasi. Buku ini ditulis dalam masa administrasi Presiden Soeharto, dalam masa Orde Baru, sehingga alam pikiran penulis sangat dipengaruhi oleh alam pemikiran Persatuan dan Kesatuan ala Soeharto. Pandangan-pandangan penulis mengenai berbagai hal termasuk pandangannya mengenai Islam bahkan pandangannya tentang Kekristenan sangat dipengaruhi suasana dan keadaan waktu itu. Setelah hampir 20 tahun setelah Reformasi, telah banyak hal terjadi di dunia ini termasuk di Republik ini. Suasana social politik, ekonomi, dunia berubah, termasuk suasana social politik bahkan keagamaan di Indonesia. Islam berubah, Kristen berubah, berkembang. Semua berubah. Dalam berbagai segi, buku ini masih bagus untuk dibaca karena ada beberapa bagian yang memang masih relevan, tetapi harap dicatat pula banyak sekali pandangan penulis yang sudah tidak sesuai lagi dengan pandangan dan kenyataan yang terjadi saat ini bahkan ketinggalan. Out of date! Bahkan dalam pembahasan selanjutnya, tampak sekali penulis membenci, apriori terhadap suatu model ibadah, gerakan atau denominasi Kristen sendiri bahkan ikut menyalahkan mereka atas berbgai kerusuhan yang langsung atau tidak lagsung menimpa orang-orang Kristen atau gereja-gereja. Sungguh suatu sikap yang kurang terpuji. Dalam pembahasan selanjutnya juga Nampak nyata bahwa penulis adalah Anti-Kharismatik dan hal-hal yang biasanya menyertainya. Menyalahkan hal-hal yang menyertai gerakan Kharismatik sebagai salah satu penyebab huru-hara dan kerusuhan SARA yang membuat orang Kristen dan gereja menderita. Oleh karena itu sangat perlu bagi pembaca untuk mengerti hal ini dan menyikapinya dengan kebijaksanaan. Oleh karena itu tidak heran jika pihak penerbit (YABINA) sudah tidak menerbitkan buku ini lagi dan digantikan dengan buku lain yang sejenis dengan judul “Pelayanan Perkotaan”.

Pada permulaan buku, penulis menceritakan ilustrasi bahwa setelah pasca PD II maka terjadi perpindahan penduduk secara besar-besaran dari desa ke kota. Hal ini disebabkan setelah PD II maka keadaan sudah aman dan situasi sudah tertib teratur, sehingga orang mulai giat menata hidup dan mencari kesejahteraan.

Hal yang sama juga terjadi di Negara berkembang. Kita tahu bahwa Negara berkembang kebanyakan lahir sesudah era PD II.  Negara-negara yang baru merdeka ini sangat giat membangun setelah lepas dari penjajahan dan ingin membangun negaranya sendiri sesuai keinginannya.

Ada perbedaan situasi besar antara Negara berkembang dengan Negara maju. Negara maju perekonomiannya sangat baik serta penduduknya relative sedikit. Sedang di Negara berkembang justru ledakan penduduknya tidak seimbang dengan kualitas dan kuantitas sarana dan prasarananya.

Selanjutnya penulis memberi gambaran kota-kota dalam Era Globalisasi. Era Globalisasi ternyata masalah kependudukan dan ledakan perkotaan tetap merupakan masalah yang besar yang sangat sulit diatasi. Memang masalah perkotaan merupakan topik hangat di akhir abad ini, bahkan dalam Kongres Metropolis Sedunia terakhir, dibahas 6 masalah pokok yang dihadapi kota-kota besar dunia yang cukup memusingkan para penata dan pengelola kota pada umumnya yaitu masalah-masalah berikut:

  1. Masalah Pertumbuhan Penduduk Perkotaan yang tidak terkendali
  2. Masalah Perumahan Rakyat dan Sarana Fisik dan Sosial yang makin tidak memadai
  3. Masalah Lingkungan Hidup dan Kesehatan yang makin merosot
  4. Masalah Lalu lintas dan Transportasi yang makin langka
  5. Masalah Organisasi dan Manajemen Perkotaan yang makin tidak mampu

Dampak positif dari pembangunan terutama di kota-kota besar adalah kota besar itu lambing dan symbol dari kemajuan Negara, tetapi dampak negatifnya juga ada bahkan harga yang dibayar juga mahal.

Selanjutnya penulis buku dalam bab selanjutnya memaparkan tentang kemelut perkotaan. Penulis memulai dengan memaparkan butir permasalahan menurut Louis Wirth dalam bukunya “Urbanism as a Way of Life”. Ada lima butir yang disebutkan penulis tetapi penulis memakai butir ke lima sebagai jembatan untuk masuk ke topic selanjutnya. Butir ke lima itu adalah “Di kota-kota besar akan makin berkurang nilai manusia sebagai pribadi, manusia kota kehilangan identitas, merasa terasing dan terjerat dalam tingkah laku massa yang sering bersifat irasional.

Kemudian penulis memaparkan berbagai dampak dari pertumbuhan dan ledakan penduduk di kota besar, antara lain: Kemerosotan Kualitas Lingkungan, Polusi dan Kemacetan, Masalah Banjir dan Kebakaran.

Masalah Kesenjangan Ekonomi yang berupa kemiskinan dan pengangguran dibahas tersendiri oleh penulis. Selanjutnya penulis membahas berbagai penyebab kejahatan dan kekerasan dalam hubungannya dengaan ledakan penduduk di kota besar.

Pada bab selanjutnya penulis secara panjang lebar menuliskan bahwa pelbagai kendala dan permasalahan yang ada yang telah dituliskannya ternyata bagaikan   “BOM WAKTU” yang setiap saat bisa meledak. Bom waktu yang bisa meledak setiap waktu bila ada pemicunya dapat dirumuskan antara lain:

1. Barisan Sakit Hati

Pertumbuhan yang terjadi di kota besar membuat adanya orang/kelompok yang tergusur, tersingkir ataupun dieksploitasi.Dari Barisan Sakit Hati, kita juga diajak penulis untuk melihat kelompok orang atau kelompok masyarakat yang “menyebabkan’ Barisan Sakit Hati, yaitu:

Orang Kaya, Pengusaha, Pejabat, PNS

2. Primodialisme SARA

Suatu fenomena menarik terjadi dimana di tengah pertumbuhan kota yang metropolitan ternyata justru subur pula tumbuh berkembang kelompok-kelompok masyarakat yang sangat primordialis. Masayarakat kesukuan sangat banyak, bahkan kelompok sepakbola-pun bisa berkembang menjadi kelompok primodialisme.

Selanjutnya dalam bab lima dan enam, penulis memaparkan dengan panjang lebar meski tidak secara detil sekitar 20 contoh kasus huru-hara yang terjadi di Indonesia dari berbagai daerah serta dari berbagai latar belakang penyebabnya. Mulai dari huru-hara dan kerusuhan berlatar belakang karena masalah perburuhan, politik, kesukuan hinga yang berlatar belakang agama.

Selanjutnya justru paling menarik adalah pembahasan bab tujuh, dimana pada bab ini penulis memberi judul “Sebuah Introspeksi”. Dengan sangat bijak, penulis mengajak umat Kristen sebagai orang yang terkena getah dari berbagai kerusuhan dan huru-hara untuk bersikap berpikir dingin serta tidak gegabah menyimpulkan dan harus bijak menilai situasi.

Dalam bab ini penulis mengutip ucapan ketua PGGI yang dalam keprihatinan medalam mengucapkan kata-kata bahwa “umat Kristen merasa terancam”, kemudian penulis memakai logika bahwa seolah-olah umat Islam menghambat umat Kristen dilanjutkan dengan pertanyaan apakah tepat menggeneralisasi umat Islam.

Secara konyol, penulis mengatakan bahwa banyak orang Kristen baik secara pribadi maupun organisasi menyuarakan dan memprotes atas segala kerusuhan yang menimpa gereja-gereja sebagai orang-orang yang menjual kesatuan demi memperoleh simpati. Saya piker pendapat penulis ini tidak benar dan mengecilkan korban dari pihak gereja dan sesame orang Kristen sendiri.

Kemudian, penulis juga menyatakan bahwa adalah tidak bisa menyalahkan Islam sebagai keseluruhan karena umat Islam yang 90% berbuat sejahat itu kepada umat Kristen yang hanya 10% maka umat Kristen tidak akan bertahan dan banyak orang Kristen yang bersahabat dengan orang Islam daripada dengan orang Kristen sendiri. Dalam hal ini, penulis lupa bahwa umat Islam di Indonesia kebanyakan adalah umat Islam yang sudah terdegradasi oleh Pancasila, Sekularisme, Pluralisme, Sinkretisme dan semacamnya. Penulis secara dangkal tidak melihat bahwa Islam di Indonesia sudah bukan Islam murni dan sejati lagi. Memang benar, dari semua masalah yang dipaparkan oleh penulis tidak semua berlatar belakang agama, banyak yang berlatar belakang politik, ekonomi, suku dan sebagainya tetapi adalah benar juga bahwa ada banyak kasus kerusuhan yang benar-benar berlatar belakang kebencian agama.

Hal buruk terjadi ketika penulis menyorot tentang Vertikalisme Ibadat sebagai penyebab ketidakpekaan dan ketidakpedulian umat Kristen terhadap orang di sekelilingnya yang masih tertinggal  di landasan padahal waktu itu sangat dicanangkan era “Tinggal Landas” . Menurut penulis, Vertikalisme Ibadat adalah ibadat yang bersifat vertical dan fundamentalis yang kuat menekankan emosional dan keselamatan jiwa sehingga hal-hal yang bersifat social dan lingkungan kurang diperhatikan. Pertanyaannya darimana penulis mendapatkan definisi ini? Apa ukurannya? Benarkah hal-hal mengenai kehidupan social dan lingkungan kurang diperhatikan? Apa buktinya? Apa kapasitas dan kompetensi penulis menilai masalah theology? Penulis sangat apriori dan tanpa disertai bukti yang konkrit.

Hal sangat buruk juga terjadi ketika penulis juga mengidentikkan Vertikalisme Ibadat sebagai ibadat Karismatik. Jelas ini adalah suatu pencampur adukkan ayng ngawur dan tidak disertai penelitian yang mendalam.

Hal buruk selanjutnya adalah penulis menganggap Theologi Kesuksesan yang mengajarkan kemakmuran dan kesuksesan sebagai factor pemicu juga kerusuhan berbau SARA yang dialami gereja dan umat Kristen. Hal ini jelas tidak bisa diterima dan terlihat lemah. Tanpa dasar yang jelas, penulis menegaskan bahwa ada tiga ciri menonjol gereja penganut Theologi Kemakmuran/Kesuksesan:

  1. Membangun Gereja Mega yang mewah dan mahal
  2. Ibadat Kristen yang meriah
  3. Kehidupan pribadi umat yang mewah.

Sekilas, pandangan penulis tampak benar, tetapi kenyataannya itu tidak selalu seperti itu. Penulis telah menggeneralisir. Kenyataan bahwa membangun gereja kecil saja sangat susah karena terganjal oleh SKB 3 Menteri. Ibadat Kristen yang meriah tidak identik dengan Theologi Kemakmuran. Kehidupan umat yang mewah juga tidak identic dengan Theologi Kemakmuran karena banyak umat gereja-gereja mainstream juga sangat doyan dan suka dengan kemewahan.

Kemudian penulis juga menganggap sikap Iman yang Demonstratif juga sebagai suatu hal penyebab langsung maupun tidak langsung suatu kerusuhan karena bisa menyinggung pihak lain. Bahkan ibadah (lagi-lagi) yang meriah dan hingar binger dianggap sebagai Iman yang demonstrative yang bisa menyinggung pihak lain. Hal ini sekilas Nampak benar tetapi tidak sesuai kenyataan. Iman yang demonstrative sangat berbeda dengan fanatisme sempit yang menyinggung pihak lain. Justru dimanapun, kapanpun kita harus mendemostrasikan iman kita kepada Yesus dengan penuh hikmat.

Selanjutnya penulis juga menyoroti perpecahan gereja dan pembentukan denominasi baru secara langsung ataupun tidak dianggap sebagai factor terjadinya kerusuhan dan pengrusakan gereja. Lagi-lagi penulis mengambil contoh dari gerakan Kharismatik.

Dalam bab terakhir penulis membahas bagaimana menurutnya Injil Sepenuhnya diberitakan dan dipraktekkan. Memulai bab ini penulis kembali sedikit menguraikan dari awal mengenai latar belakang kondisi dan masalah perkotaan. Kemudian penulis memberi contoh teladan Yesus, Para Rasul yang juga melayani terutama mempunyai hati untuk melayani orang-orang miskin papa. Dalam bab terakhir ini, penulis menyinggung beberapa hal yang penting yaitu:

Pelayanan Perkotaan

Pelayanan Perkotaan adalah pelaksanaan perintah Yesus seutuhnya seperti dalam Matius 28:19-20

1. Pelayanan Karitatif

Pelayanan yang sifatnya langsung sesuai kebutuhan saat itu. Contohnya: Yesus memberi makan lima ribu orang dalam Matius 14:13-21

2. Pelayanan Pengembangan

Pelayanan membangun dan memberdayakan orang sehingga orang bisa membangun dirinya sendiri. Contoh: Kis 3:6

3. Pelayanan Pembebasan

Merupakan kelanjutan dari Pelayanan Pengembangan, orang harus dibebaskan dari buta huruf, kemiskinan, ataupun dari perbudakan. Contoh Lukas 4:18-19

Selanjutnya penulis menutup uraian bukunya dengan kesimpulan dan saran. Cukup menarik ketika penulis dalam butir ketiga, penulis mengajak Gereja dan STT untuk mendirikan lembaga studi masalah kemasyarakatan. Hal ini sangat menarik karena sebetulnya tanpa mendirikan lembaga itupun gereja sudah sangat bersinggungan dengan kemasyarakatan secara luas. Lain dengan lembaga STT yang dirasa perlu mendirikan hal itu untuk mendapatkan kajian akademis yang bisa dipertanggungjawabkan dan kemudian utnuk bisa dipraktekkan di masyarakat secara langsung dan luas.

 

Advertisements