Theologi Penggembalaan

TUGAS INTERAKSI BUKU

Mata Kuliah              : Pastoral Theology

Judul                           : “Theology Penggembalaan” oleh Peter Wongso

Penerbit                     : Literatur SAAT

“Apabila motif seseorang untuk menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan adalah sebagai suatu kompensasi, demi memuaskan keinginan menjadi pemimpin yang tidak diperoleh dalam dunia sekuler dan mengimbangi perasaan bersalah dalam hati nurani, akibatnya ialah dirinya dijadikan sebagai pusat dari tujuannya.”

 

Membaca dan merefleksi buku ini sangat menyenangkan, bukan hanya karena buku ini ditulis oleh seorang Peter Wongso, tetapi buku ini sudah menjadi semacam karya “klasik” yang wajib dipunyai dan dibaca oleh segenap orang yang terjun dalam dunia pelayanan, baik yang professional, part timer ataupun dunia akademisi.
Buku ini ditulis dengan bahasa dan gaya yang sederhana, bersahaja, membuatnya mudah dimengerti bahkan ketika kita membacanya sambil jalan-jalan atau sedang mengadakan perjalanan di atas kendaraan yang kita tumpangi. Inilah salah satu keunikan buku ini. Design ukuran buku yang kecil serta tipis juga membuatnya mudah di bawa kemana-mana.
Salah satu hal yang mungkin perlu dicatat sedikit sebelum kita masuk dalam isi buku ini adalah design cover buku ini sangat buruk. Buruk sekali. Design cover terkesan seadanya, sederhana dan sama sekali tidak menunjukkan adanya suatu kreatifitas. Sama sekali tidak cocok dibandingkan dengan isi dan kualitas buku ini yang termasuk karya klasik.
Yang menarik dari buku ini adalah bagian demi bagian memakai kata “Pasal” untuk menggantikan kata “Bab” yang lebih lazim digunakan dalam penulisan suatu buku. Kita tidak tahu apa alasan penulis baik alasan tehnis maupun alasan filosofis mengapa memakai istilah “Pasal” dan bukan dengan kata “Bab”, tetapi apapun itu hendaknya bukanlah menjadi semacam halangan dan gangguan bagi kita untuk mempelajari buku ini, serta itu semua tidak mengurangi kualitas buku ini.
Pada pasal satu, penulis mengisinya dengan sebuah “Pendahuluan”, pada bagian ini penulis menjelaskan dan mengenalkan bahwa Theologi Penggembalaan adalah termasuk Theologia Praktis dimana secara garis besar ruang lingkup pembahasannya adalah seputar bagaimana menggembalakan gereja dan bagaimana mengajar orang Kristen, dan oleh karena inilah maka Theologi Penggembalaan disebut juga Ilmu Kepemimpinan Penggembalaan.
Selain menyebutkan Yesus sendiri sebagai contoh, kemudian Rasul Paulus, dalam Pasal ini, secara menarik penulis memaparkan ringkasan pengajaran ke dua belas rasul untuk gereja-gereja di Syiria yang oleh gereja abad ke dua di jadikan petunjuk, prinsip dan pola penggembalaan. Berkas yang ada disalin tahun 1656 dan ditemukan di Konstantinopel dan diterbitkan tahun 1883.
Selanjutnya pasal ini ditutup dengan sebuah statement yang kuat bahwa penulis berpendapat bahwa pola dan prinsip penggembalaan yang dilakukan berbagai gereja dan berbagai denominasi dari jaman-ke jaman ternyata hampir sama, tetapi pada abad ke 20 ini mempunyai perbedaan yaitu menitikberatkan pada Ilmu Jiwa.
Pasal selanjutnya, yaitu pasal dua, penulis nampak berusaha memaparkan arti penting seorang Gembala mengerti secara persis tugas panggilannya. Mengerti tugas panggilannya dan bukan sekedar ikut-ikutan menjadi hamba Tuhan. Penulis kemudian menuliskan beberapa hal, atau lebih tepatnya ciri-ciri dari seorang Hamba Tuhan yang betul-betul mengerti panggilannya.
Ciri-cirinya antara lain:
1. Tujuan hidupnya luhur dan sesuai kehendak Tuhan. Apakah yang dimaksudkan tujuan hidupnya luhur dan sesuai kehendak Tuhan? Hamba Tuhan itu harus selalu meninggikan Yesus dan selalu rindu menyelamatkan jiwa-jiwa.
2. Selalu hanya bersandar akan anugerah Allah untuk mengatasi segala kesulitan hidup.
3. Menaati semua perintah Tuhan serta jelas memahami kehendak Tuhan.
4. Mengandalkan Doa sebagai dalam segala hal. Hal ini jelas membuthkan latihan yang tekun dalam hal berdoa.
5. Giat belajar firman Tuhan.
6. Menganggap jiwa-jiwa yang tersesat sebagai suatu yang penting sehingga akan gigih memberitakan Injil Kehidupan.
7. Mempunyai “self confidence” yang tinggi serta berharap ada hasilnya.
8. Harus mendapat urapan Roh Kudus. Hal ini sangat penting karena Roh Kudus memberi hikmat.
Pasal ini ditutup dengan pernyataan yang sangat bagus dan saya sangat setuju, penulis mengutip pernyataan dari Oswald Smith yang berkata:
“Kesaksian dari seseorang yang telah diurapi Roh Kudus, mengalahkan naskah khotbah dari seribu orang.”
Hendaknya hidup kita benar-benar menjadi sebuah kesaksian yang benar dan baik.
Pasal tiga, penulis menjelaskan kedudukan Pendeta dari sudut pandang alkitabiah (lengkap dengan ayat-ayatnya) dan dari sudut pandang Ilmu Jiwa. Pada pasal ini, penulis membahas cara mengetahui kedudukan pendeta dari :
1. Panggilannya
Dari panggilannya, kita bisa tahu bahwa mereka itu sebagai Rasul, Nabi, Guru, Imam, Tua-tua, Bishop, Diaken, Orang Saleh/Reverend, Elder.
2. Arti panggilan Pendeta
Arti pendeta antara lain sebagai Penunggu, Mengetahui isi hati, Pemimpin, Penyembuh, Pemelihara/pemberi makan rohani, Hakim, Orang yang berkorban. Seorang pendeta atau hamba Tuhan harus mengerti ketujuh arti ini serta melaksanakan dengan penuh kesungguhan.
3. Analisis kedudukan Pendeta berdasar Ilmu Jiwa
Ini cukup menarik karena benar-benar bersifat praktis dibandingkan konsep teologis.
a. Eksekutif
Pendeta sebagai pemimpin, dia bertanggungjawab atas banyak hal, saya sangat setuju dengan hal ini, saya menganalogikan dengan seorang eksekutif atau seorang manager atau direktur perusahaan yang punya tanggung jawab besar, demikian hendaknya seorang pendeta/gembala di gereja.
b. Planner/Perencana
Pendeta harus punta rencana yang jauh terhadap gerejanya, punya visi jauh ke depan, punya pengetahuan dan kaya pekerjaan, serta senantiasa mengasah otak dan berdoa.
c. Wakil
Pendeta adalah wakil dan jurubicara gereja bagi dunia lauar dan masayarakat.
d. Ahli
Punya pengetahuan yang cukup mengenai seluk beluk gereja.
e. Berjiwa pemimpin
f. Bisa memberi pengarahan dan hukuman
g. Teladan
h. Ayah
i. Penanggung dosa.

Pada pasal selanjutnya, penulis memaparkan krisis/krisis atau bahaya yang dapat menggagalkan pendeta. Secara menarik, dan menurut saya ini sangat menarik, penulis secara mencolok langsung menganalogikan bahwa kegagalan pendeta hampir sama dengan kegagalan karyawan. Penulis secara mencolok memaparkan laporan Ketua Hubungan Masyarakat Chicago mengenai hal-hal yang menyebabkan kegagalan karyawan. Selain itu penulis juga memaparkan laporan penyebab kegagalan karyawan yang dilakukan oleh Universitas Emony jurusan perdagangan. Dari hasil itu Nampak bahwa penyebab kegagalan seorang pendeta ternyata hampir sama dengan penyebab kegagalan karyawan. Secara umum, penulis menyimpulkan bahwa penyebab terbesar kegagalan pendeta adalah: Kurangnya profesionalisme dalam semua aspek, congkak, dengki, mengasihani diri, masalah uang, kurang bisa menjaga pergaulan dengan lawan jenis,
Pada pasal selanjutnya yang terbilang cukup pendek, penulis memaparkan macam-macam tipe pemimpin gereja. Dengan menarik penulis memaparkan 4 model pembagian:
1. W. H. Cowley
Membagi pemimpin jadi dua: “Leadman” (yang cukup negative) dan tipe “Leader”.
2. F. C. Bartell
Membagi pemimpin jadi tiga: Mendapatkan kedudukan karena diwariskan, Pemimpin yang punya kemampuan mengatur anggota dan mempertahankan kedudukan serta terakhir pemimpin yang dapat mengatasi anggotanya dan mempertahankan kedudukannya.
3. Krech and Crutch Filld
Membagi pemimpin jadi tiga: Pemimpin yang menurut kehendak hatinya, Pemimpin dictator, Pemimpin demokratis,
4. R. Lippet IOWE, hasil riset di bidang anak-anak. Pada akhirnya pemimpin model demokratis lebih baik ditinjau dari kekuatan organisasi, pendidikan, dan etika Kristen.
Pasal ini ditutup dengan kesimpulan bahwa pimpinan demokratis lebih bagus ditinjau dari kekuatan organisasi, pendidikan dan etika Kristen.
Selanjutnya dalam pasal selanjutnya penulis mengemukakan dan menerangkan dengan panjang lebar, pengetahuan yang harus ada bagi seorang pemimpin. Salah satu syarat yang harus ada yaitu: mengenal diri sendiri. Penulis mengemukakan pendapat dari Dewar and Hudson mengenai pentingnya mengenal diri sendiri yang mana menurut mereka dengan mengenal diri sendiri membuat orang:
1. Jadi mengerti kekurangan diri dan segera memperbaikinya.
2. Mudah dapat bersimpati kepada orang lain
3. Dasar dari kerendahan hati dan kebajikan.
Selain mengenal diri sendiri, juga harus mengenal kebutuhan orang lain, dan mengenal kebutuhan pokok manusia. Selanjutnya penulis menerangkan berbagai jenis manusia menurut klasifikasi Hipokrates, Carl Jung dan Karen Honey.
Pada pasal tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, sebelas, penulis menerangkan hal-hal yang bersifat praktikal yang dilakukan oleh seorang gembala pada umumnya, lengkap dengan ayat-ayat yang bisa dipakai sebagai pegangan atau dasar pelayanan. Pertama penulis menerangkan gembala sebgai pemimpin administrasi, hal mana cukup wajar karena gereja pada hakekatnya adalah sebuah organisasi. Pendeta harus bisa dan jika memungkinkan juga harus piawai dalam hal-hal yang bersifat administrasi mengingat administrasi yang baik dan tertib sangat berguna bagi semua organisasi.
Selanjutnya penulis membahas panjang lebar tentang pendeta yang harus memimpin kebaktian, memimpin sakramen, melakukan kunjungan kepada jemaat dan menggembalakan anggotanya.
Cukup menarik bahwa di dalam buku ini penulis menyertakan sedikit berbagai penyakit psikologis dan pengobatannya secara agama. Memang tidak banyak, tetapi itu cukup membantu pembaca mengenali dan mengerti sedikit tentang penyakit jiwa dan hubungannya dengan agama berkenaan dengan tugas=tugas pastoral yang dilakukan oleh pendeta dan gembala.
Pada pasal selanjutnya penulis membahas dengan cukup mendasar tentang betapa seorang pemimpin dalam hal ini adalah seorang gembala atau pendeta akan banyak berkorban. Pengorbanan yang cukup berat karena menyangkut mental spiritual, suatu situasi yang melelahkan dan penuh tekanan, kesepian. Memerlukan kesiapan diri yang penuh untuk menjadi seorang pemimpin dan gembala.
Pada pasal selanjutnya penulis membahas tentang pelayanan kaum muda, meski tidak banyak dan kurang mendalam tetapi cukup bisa memberi gambaran betapa pentingnya pelayanan kaum muda dalam gereja mengingat kaum muda itu adalah masa depan gereja.
Pasal penutup buku ini berisi ayat-ayat yang dapat digunakan dalam perkunjungan. Situasi dan ayat yang diberikan cukup lengkap untuk berbagai situasi, mulai sakit penyakit, duka cita, hari Sabath hingga kemurtadan rohani. Sungguh-sungguh bisa dijadikan referensi atau pegangan.
Buku ini ditutup dengan sesuatu yang tidak jelas. Tidak jelas masuk dalam bab apa, bagian apa, serta terkesan hanya sekedar ditambahkan saja tanpa masuk ke dalam suatu pasal atau tanpa diberi keterangan sama sekali maksudnya. Hal yang tidak jelas itu adalah adanya tiga lembaran tambahan semacam formulir.Mungkin maksud penulis ingin memberi contoh, tetapi alangkah baiknya bila itu dimasukkan dalam salah satu pasal atau setidaknya diberi keterangan bahwa ini adalah lampiran atau contoh. Pertama atau angka romawi satu yaitu tentang Baptisan Jemaat dan Administrasi Atestasi, angka romawi dua adalah formulir keanggotaan jemaat dan romawi tiga adalah pembentukan kelomok tumbuh bersama.
Secara umum, buku ini sangat wajib dibaca bahkan oleh semua orang Kristen, tidak hanya praktisi atau aktivis gereja. Bagi kalangan jemaat umum yang awam dengan membaca buku ini selain akan merangsang minat untuk lebih aktif dalam kegiatan gereja, juga akan membangun suatu situasi yang sehat karena jemaat awam bisa mengerti dan mengkritisi apa dan bagaimana situasi gereja dimana mereka tumbuh. Mereka akan lebih mengerti hal-hal apa saja, kesulitan-kesulitan seperti apa yang dihadapi gembala mereka sehingga diharapkan mereka bisa lebih ikut mensuport, membantu dan menopang gembala mereka dengan lebih bijaksana.

Advertisements