Makan siang sudah selesai. Sang perut sudah merasakan kenikmatan alakadarnya, sang mulut menguap-nguap, dan sang mata mulai memincing akibat kantuk yang manis. Sang suami merokok cerutu, menggeliat, lalu menggolekkan badan di balai-balai. Sang istri duduk di dekat bagian atas kepala, bersenandung…Keduanya merasa bahagia.

“Coba kau cerita…,” kata sang suami menguap.

“Cerita apa? Mm… O, ya! Kau sudah dengar belum? Sofie Okurkova kawin dengan si itu….siapa namanya…dengan Von Tramb! Betul-betul skandal!”

“Apanya yang skandal?”

“Tramb itu kan bangsat? Bajingan macam begitu…manusia tak tahu malu macam begitu! Tak kenal prinsip sama sekali! Orang cacat jiwa! Ia tadinya pengawas tanah graaf, tetapi kemudian main sikat; sekarang kerja di kereta api, dan di situ jadi koruptor. Saudara perempuan sendiri dirampoknya….Singkat kata: bajingan dan pencuri. Kawin dengan orang seperti itu?! Hidup dengannya?! Mengherankan! Gadis yang begitu berakhlak dan…nah, itulah! Kalau aku, tak bakalan aku kawin dengan orang macam itu! Biarpun ia seorang miliarder! Biarpun ia tampan entah seperti apa, aku ludahi barangkali dia! Membayangkan punya suami bajingan saja aku tak bisa!”

Sang istri melompat dari balai-balai, lalu berjalan mondar-mandir di dalam kamar itu dengan marah, dengan muka merah. Matanya menyala karena marah…Tampak sekali hatinya tulus dalam hal itu.

“Tramb itu makhluk keparat. Seribu kali bodoh dan keji perempuan yang mau kawin dengan tuan-tuan seperti itu!”

“Begitu…Jadi kau tentu tak bakalan kawin dengan dia…Ya…tetapi bagaimana kalau, misalnya, sekarang kau tahu bahwa aku juga..bajingan?…Apa yang akan kau lakukan?”

“Aku? Aku tinggalkan kamu! Satu detik pun aku tak akan tinggal denganmu! Aku hanya dapat mencintai orang yang jujur! Begitu aku tahu kamu korupsi, biarpun seperseratus dari yang dilakuakn oleh Tramb itu, aku…kontan bilang adieu.”

“Begitu…Hm…Betul-betul engkau ini..Aku sungguh tak tahu..He-he-he..Ah, engkau berbohong, tetapi bisa saja mukamu tak memerah!”

“Belum pernah aku berbohong! Cobalah kamu bikin hal yang keji, nanti akan kamu lihat!”

“Buat apa aku mencoba? Kau tahu sendiri…Aku tidak lebih bersih dari Von Tramb-mu itu..! Tramb itu dapat dibandingkan dengan ujung jariku saja. Engkau melotot? Itu mengherankan. (Diam sebentar). Berapa gajiku?”

“Tiga ribu setahun.”

“Lalu berapa harga kalung yang kubeli untukmu seminggu yang lalu? Dua ribu.. betul, kan? Gaun kemarin lima ratus..Bungalo dua ribu…He-he-he..kemarin papamu merengek minta dariku seribu…”

“Tetapi pemasukan sampingan itu, Pierre….”

“Kuda-kuda itu..Dokter keluarga..Rekening modiste. Tiga hari engkau kalah main seratus..”

Sang suami bangkit sedikit, menyangga kepala dengan kedua tinjunya, lalu membacakan satu surat tuduhan. Kemudian ia mendekati meja tulis dan menujukkan kepada istrinya beberapa bukti bendawi…

“Sekarang engkau lihat sendiri, Von Tramb-mu itu cuma tokoh kecil, sekedar pencopet dibandingkan aku…Adieu! Pergi sana, dan jangan mengritik lagi!”

Saya sampai di sini saja. barangkali pembaca akan bertanya:

“Apakah sang istri meninggalkan suaminya?”

Ya, ia pergi..ke kamar lain.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s