“Taruhan”, short story by Anton Chekov

Saat itu malam musim gugur yang gelap. Seorang bankir tua berjalan mondar‑mandir di ruang kerjanya terkenang pesta yang diselenggarakannya pada musim gugur lima belas tahun silam. Banyak orang pandai yang hadir dan percakapan‑percakapan yang menarik di sana.

Di antara hal‑hal yang mereka perbincangkan adalah masalah hukuman mati. Para tamu, tidak sedikit di antaranya adalah para sarjana dan jurnalis, sebagian besar tidak setuju atas pelaksanaan hukuman terse­but. Mereka menganggap hal itu sebagai suatu bentuk hukuman yang sudah kuno, tidak cocok untuk negara kristen dan amoral. Seba­gian dari mereka berpendapat bahwa hukuman mati hendaknya diganti saja dengan hukuman penjara seumur hidup secara universal.

“Aku tak sependapat dengan kalian,” kata sang tuan rumah. “Aku sendiri belum pernah mengalami hukuman mati atau penjara seumur hidup, tapi bila kita boleh mengambil pertimbangan berdasarkan kenyataan yang sebenarnya, menurut pendapatku hukuman mati lebih bermoral dan lebih manusiawi daripada penjara. Eksekusi langsung membunuh, sedang penjara seumur hidup membunuh perlahan‑lahan. Siapakah algojo yang lebih manusiawi, orang yang membunuhmu dalam beberapa detik ataukah seseorang yang mencabut nyawamu selama bertahun‑tahun?” “Keduanya sama‑sama amoral,” ujar seorang tamu, “karena tujuan keduanya sama, mengambil kehidupan. Negara bukan Tuhan. Ia tak punya hak untuk mengambil apa yang tak dapat diberikannya kembali.”

Di antara mereka terdapat seorang pengacara muda yang berusia sekitar dua puluh lima tahun. Ketika dimintai pendapatn­ya, ia berkata:

“Hukuman mati dan penjara seumur hidup sama‑sama amoral, tapi kalau aku disuruh memilih di antara keduanya, aku pasti memilih yang kedua. Bagaimanapun juga, hidup lebih baik daripada tidak hidup sama sekali.”

Terjadilah perdebatan yang seru. Sang bankir yang saat itu masih muda dan temperamental tiba‑tiba naik pitam, ia menggebrak meja dan berteriak kepada pengacara muda tadi:

“Bohong! Aku berani bertaruh dua juta kau takkan betah ngendon di sel walau hanya untuk lima tahun saja!”

“Kalau kau serius,” sahut sang pengacara, “aku bertaruh akan ngendon bukan hanya selama lima, tapi lima belas tahun.”

“Lima belas tahun. Jadi!” seru sang bankir. “Tuan‑tuan, aku mempertaruhkan dua juta!”

“Setuju. Kau bertaruh dengan dua juta, aku dengan kebeba­sanku,” kata sang pengacara.

Maka taruhan edan‑edanan itu jadilah. Sang bankir yang saat itu memiliki banyak uang tak dapat mengendalikan dirinya. Selama makan malam ia berkata kepada sang pengacara dengan canda:

“Sadarlah sebelum terlalu terlambat, anak muda. Dua juta tak ada artinya bagiku, namun kau akan kehilangan tiga atau empat tahun terbaik dalam hidupmu. Kubilang tiga atau empat, karena kau takkan kuat ngendon  lebih lama lagi. Juga jangan lupa, hai orang malang, bahwa sukarela lebih berat daripada melaksanakan hukuman penjara sesungguhnya. Pikiran bahwa kau punya hak untuk membebas­kan dirimu kapan saja, akan mengacaukan seluruh kehidupanmu di dalam sel. Aku kasihan padamu.”

Dan kini sang bankir berjalan mondar‑mandir mengenang ini semua dan bertanya pada dirinya sendiri:

“Kenapa kulakukan taruhan ini? Apa manfaatnya? Si pengacara itu kehilangan lima belas tahun kehidupannya dan aku membuang dua juta. Apakah ini akan meyakinkan masyarakat bahwa hukuman mati lebih buruk atau lebih baik daripada penjara seumur hidup? Tidak, tidak! Semua ini kesia‑siaan belaka. Di pihakku itu semata‑mata akibat pikiran mendadak dari seorang yang kaya raya; sedang bagi si pengacara, semata‑mata karena kerakusan akan harta.”

Ia mengenang lebih jauh tentang apa yang terjadi setelah pesta malam itu. Diputuskan bahwa sang pengacara harus menjalani masa kurungannya di bawah pengawasan yang sangat ketat di sebuah paviliun yang terletak di kebun milik sang bankir. Juga telah disepakati bahwa selama masa itu ia akan kehilangan hak untuk melintasi ambang pintu, melihat kehidupan masyarakat, mendengar suara‑suara manusia, dan menerima surat serta koran. Ia diijinkan memiliki sebuah alat musik, membaca buku‑buku, menulis surat, minum anggur dan menghisap tembakau. Berdasar kesepakatan ia bisa berkomunikasi dengan dunia luar, namun hanya dengan keheningan, melalui sebuah jendela kecil yang khusus dibangun untuk itu.

Semua kesepakatan itu telah tertulis secara rinci, yang membuat masa kurungan itu amat sangat sunyi dan terasing, dan sang pengacara diwajibkan untuk tinggal tepat selama lima belas tahun mulai dari pukul dua belas pada tanggal 14 November 1870 sampai dengan pukul dua belas tanggal 14 November 1885. Sedikit saja ia melakukan pelanggaran atas syarat‑syarat tadi, melepaskan diri walau hanya kurang dua menit dari waktunya, membebaskan sang bankir untuk membayarnya dua juta.

Selama tahun pertamanya di penjara, sang pengacara, sepanjang kesimpulan yang dapat ditarik dari catatan‑catatan kecilnya, sangat menderita karena kesendirian dan kesepian. Siang malam dari kamarnya terdengar suara piano. Ia menolak anggur dan tembakau. “Anggur,” tulisnya, “membangkitkan keinginan‑keinginan yang merupakan musuh utama bagi seorang tahanan, lagi pula tak ada yang lebih membosankan daripada minum anggur yang baik sendirian, sedangkan tembakau mengotori udara di kamarnya.”

Selama tahun pertama itu sang pengacara mendapat kiriman buku‑buku tentang para tokoh, novel‑novel kisah percintaan yang rumit, cerita‑cerita kejahatan dan fantasi, komedi, dan sebagain­ya.

Pada tahun kedua tidak terdengar lagi suara piano dan sang pengacara hanya meminta sastra Yunani dan Romawi kuno. Dalam tahun kelima suara musik kembali terdengar dan sang tahanan meminta anggur. Orang‑orang yang mengawasinya mengatakan bahwa dalam waktu setahun itu ia hanya makan, minum dan berbaring saja di ranjangnya. Ia sering menguap dan bicara sendiri sambil marah‑marah. Ia tidak lagi membaca buku. Terkadang di malam hari ia duduk sambil menulis. Ia menulis dalam waktu lama kemudian merobek‑robek semuanya di pagi hari. Lebih dari sekali terdengar ia menangis.

Dalam pertengahan tahun keenam, sang tahanan mulai mempe­lajari bahasa‑bahasa, filsafat dan sejarah dengan penuh semangat. Ia menekuni bidang‑bidang ini dengan laparnya sehingga sang bankir bersusah payah mencari waktu untuk memenuhi kebutuhan buku‑bukunya. Dalam masa empat tahun telah sekitar enam ratus volume yang dibeli atas permintaannya.

Ketika gairah itu surut, sang bankir menerima surat berikut ini dari sang tahanan:

“Sipirku yang baik, kutulis baris‑baris ini dalam enam bahasa. Tunjukkanlah kepada para ahli. Biar mereka membacanya. Jika mereka tak menemukan satu kesalahanpun, kuminta kau memerintahkan orangmu melepas tembakan di kebun. Dengan keributan itu, aku akan tahu bahwa usahaku selama ini tidaklah sia‑sia. Para cendekiawan dari segala masa dan negeri berbicara dalam bahasa‑bahasa yang berbeda, namun dalam diri mereka semua menyala semangat yang sama. Oh, seandainya kau tahu betapa bahagianya aku kini karena telah mengerti bahasa‑bahasa mereka!”

Keinginan sang tahananpun terpenuhi. Dua tembakan dilepas di kebun atas perintah sang bankir.

Selanjutnya, setelah tahun ke sepuluh, sang pengacara duduk tak bergeming di depan mejanya dan hanya membaca Kitab Perjanjian Baru. Sang bankir merasa heran bahwa seorang pria yang selama empat tahun telah menguasai enam ratus volume ilmu pengetahuan, akan menghabiskan hampir satu tahun hanya untuk membaca sebuah buku saja, yang mudah dipahami dan sama sekali tidak tebal. Perjanjian Baru itu kemudian digantikan dengan sejarah agama‑agama dan teologi.

Selama dua tahun terakhir dari masa kurungannya sang taha­nan dengan edan‑edanan membaca luar biasa banyak. Sekarang ia menekuni ilmu‑ilmu alam, kemudian melahap karya‑karya Byron dan Shake­speare. Ia mengirim catatan‑catatan kecil minta dikirimi dalam waktu yang bersamaan sebuah buku tentang kimia, sebuah textbook tentang kedokteran, sebuah novel, dan beberapa risalah filsafat atau teologi. Ia membacanya seakan‑akan sedang berenang di lautan di antara kepingan‑kepingan kapal pecah, dan dalam perjuangan menyelamatkan nyawanya ia mencengkeram keping‑keping itu satu per satu dengan bersemangat.

Sang bankir mengenang semua ini dan berpikir:

“Pukul dua belas besok ia memperoleh kebebasannya. Berdasar kesepakatan, aku nanti harus membayarnya dua juta. Kalau kubayar, tamatlah riwayatku. Aku bangkrut selamanya….”

Lima belas tahun silam uangnya berjuta‑juta, tapi sekarang ia bahkan takut bertanya kepada dirinya sendiri manakah yang lebih banyak dimilikinya, uang ataukah hutang. Berjudi di pasar modal, spekulasi yang beresiko, dan kesembronoan yang tidak dapat dihilangkannya bahkan sampai tuanya, perlahan‑lahan telah mengan­tar bisnisnya kepada kehancuran. Dan pengusaha yang dulu pembera­ni, penuh percaya diri dan angkuh itu kini telah berubah menjadi seorang bankir biasa yang gemetar setiap kali terjadi fluktuasi harga di pasar.

“Taruhan terkutuk itu,” bisik pria tua tadi sambil memegangi kepalanya dalam keputusasaan. “Kenapa orang itu tidak mati saja? Umurnya baru empat puluh tahun. Ia akan membawa pergi sampai recehan terakhirku serta mengakhiri semuanya; pernikahanku, hidupku yang enak ini, perjudian di bursa saham, dan aku akan kelihatan seperti seorang kere yang iri dan mendengar kata‑kata yang sama darinya setiap hari: ‘Aku berhutang budi padamu untuk kebahagiaan hidupku. Biarlah aku menolongmu.’ Tidak, itu terlalu banyak! Satu‑satunya cara melepaskan diri dari kebangkrutan dan aib adalah pria itu harus mati.”

Jam baru saja berdentang menunjukkan pukul tiga. Sang bankir menyimaknya. Di rumah itu semua orang sudah tidur, dan yang terdengar hanyalah bunyi pepohonan beku yang menderu‑deru di luar jendela. Dengan berusaha agar tidak menimbulkan suara, ia mengeluarkan kunci pintu yang tidak pernah dibuka selama lima belas tahun dari peti besinya kemudian mengantongi di mantelnya lalu keluar dari rumah. Di kebun suasananya gelap dan dingin. Saat itu sedang hujan. Ada kabut dan hembusan angin yang menderu‑deru, membuat pepohonan tidak bisa diam. Meskipun telah memaksakan matanya, sang bankir tetap tak dapat melihat tanah, patung‑patung putih, paviliun ataupun pepohonan di kebun itu. Ketika sedang mendekati paviliun, ia memang­gil‑manggil sang pengawas dua kali. Namun tak ada jawaban. Agaknya sang pengawas telah mencari perlindungan dari cuaca buruk dan kini sedang tertidur di dapur atau rumah kaca.

“Kalau aku punya keberanian untuk menjalankan niatku,” pikir laki‑laki tua itu, “kecurigaan pertama kali akan ditujukan kepada si pengawas.”

Di dalam kegelapan ia meraba‑raba mencari jalan dan pintu kemudian memasuki aula paviliun. Selanjutnya ia meneruskan lang­kahnya melewati sebuah celah sempit dan menyalakan sebatang korek api. Tak ada seorangpun di sana. Terlihat dipan tanpa seprei dan selimut serta sebuah kompor besi samar‑samar di sudut ruangan. Segel yang tertempel di pintu masuk kamar tahananpun masih utuh.

Ketika koreknya mati, pria tua itu, yang gemetaran karena gejolak di dalam dirinya, mengintip lewat jendela kecil. Di kamar tahanan terdapat sebatang lilin yang menyala remang‑remang. Sang tahanan duduk sendirian di depan meja. Hanya punggung, rambut dan kedua belah tangannya saja yang nampak. Buku‑buku yang terbuka berserakan di atas meja, kedua kursi, dan karpet di dekat meja.

Lima menit berlalu dan sang tahanan tak sekalipun menoleh. Lima belas tahun dalam kurungan telah mengajarkannya untuk duduk tak bergeming. Sang bankir mengetuk‑ngetuk jendela dengan jarin­ya, tapi sang tahanan tidak melakukan sebuah gerakanpun sebagai tanggapan. Lalu sang bankir dengan hati‑hati merobek segel pintu dan memasukkan kunci ke lubangnya. Lubang kunci yang berkarat mengeluarkan suara serak dan pintu pun berderit. Sang bankir mengharap segera mendengar seruan kaget dan bunyi langkah‑langkah. Tiga menit berlalu dan suasana tetap hening di dalam, sebagaimana sebelumnya. Iapun memutuskan untuk masuk.

Pria itu duduk di depan meja, tidak seperti manusia biasa. Nampak mirip tengkorak terbalut kulit yang berambut gondrong keriting seperti perempuan dan berewokan. Wajahnya kuning pucat karena tak pernah tersentuh sinar matahari, kedua belah pipinya kempot, punggungnya panjang dan kecil, dan tangannya yang dipakai untuk menopangkan kepalanya sangat kurus dan lemah sehingga menyedihkan sekali bagi yang melihatnya. Rambutnya sudah beruban, dan tak seorangpun yang melihat sekilas ke wajah tua yang peot itu akan percaya bahwa ia baru berusia empat puluh tahun. Di atas meja, di depan kepalanya yang tertunduk, tergeletak secarik kertas yang berisi tulisan tangan yang kecil‑kecil.

“Manusia malang,” batin sang bankir, “dia sedang tertidur dan barangkali sedang melihat uang jutaan dalam mimpinya. Aku tinggal mengangkat dan melempar benda setengah mati ini ke atas dipan, membekapnya sebentar dengan bantal, dan otopsi yang paling teliti sekalipun tak akan menemukan sebab kematian yang tidak wajar. Tapi, pertama‑tama, mari kita baca apa yang telah ditulisnya di sini”. Sang bankirpun mengambil kertas itu dan membacanya:

“Besok pukul dua belas tengah malam aku akan memperoleh kebebasanku dan hak untuk bergaul dengan masyarakat. Namun sebe­lum kutinggalkan ruangan ini dan melihat cahaya matahari, kupikir aku perlu menyampaikan beberapa patah kata kepadamu. Dengan nurani yang jernih dan Tuhan sebagai saksinya, kunyatakan kepada­mu bahwa aku memandang hina kebebasan, kehidupan, kesehatan, dan semua yang disebut oleh buku‑bukumu sebagai rahmat di dunia ini.”

“Selama lima belas tahun aku dengan rajin telah mempelajari kehidupan duniawi. Memang benar, aku tidak melihat dunia maupun orang‑orang, tapi dalam buku‑bukumu aku meminum anggur yang wangi, menyanyikan lagu‑lagu, berburu rusa dan babi hutan di rimba, mencintai wanita‑wanita….”

“Dan wanita‑wanita cantik, selembut awan, yang diciptakan oleh sihir kejeniusan para pujangga, mengunjungiku di malam hari dan membisikkan dongeng‑dongeng yang menakjubkan, membuat aku mabuk kepayang.”

“Dalam buku‑bukumu aku mendaki puncak Elbruz dan Mont Blanc dan dari sana menyaksikan bagaimana matahari terbit di pagi hari, dan ketika senjanya menutupi langit, samudera, dan punggung pegunungan dengan warna lembayung keemasan. Dari sana kulihat betapa di atasku kilat berkilauan membelah awan, kulihat hutan‑hutan yang hijau, ladang‑ladang, sungai‑sungai, danau‑danau, kota‑kota, kudengar nyanyian sirene dan permainan pipa‑pipa Pan, kusentuh sayap iblis‑iblis cantik yang terbang mendatangiku untuk berbicara tentang Tuhan…. Dalam buku‑bukumu kuterjunkan diriku ke dalam jurang tanpa dasar, membuat berbagai keajaiban, membakar kota‑kota sampai rata dengan tanah, mengajarkan agama‑agama baru, menaklukkan seluruh negara….”

“Buku‑bukumu memberiku kebijaksanaan. Semua pemikiran manu­sia yang tak jemu‑jemunya diciptakan selama berabad‑abad telah terkumpul di dalam otakku yang kecil. Aku tahu bahwa aku lebih pandai darimu dalam segala hal.”

“Dan aku memandang hina buku‑bukumu, memandang hina semua rahmat duniawi dan kebijakan. Semua itu hampa, lemah, dan khayali bagai bayang‑bayang. Sekalipun engkau hebat, bijaksana, dan tampan, kelak kematian akan menghapuskanmu dari muka bumi seperti tikus di bawah tanah. Dan keturunan, sejarah serta monumen kejeniusanmu akan menjadi ampas beku yang habis terbakar bersama bola bumi ini.”

“Engkau sinting, dan menyusuri jalan yang salah. Engkau menukar kesejatian dengan kepalsuan dan kecantikan dengan keburukan. Kau akan heran bila pohon apel dan jeruk menghasilkan kodok dan kadal, bukannya buah. Dan jika bunga‑bunga mawar mengeluarkan bau keringat kuda. Demikian pula aku heran padamu yang telah menukar sorga dengan dunia. Aku tak ingin memahamimu.”

“Kutunjukkan padamu kejijikanku atas cara hidupmu, kutolak dua juta itu yang pernah kuimpikan sebagai sorga, dan yang kini kuanggap hina. Aku cabut hakku atasnya, aku akan keluar dari sini lima menit sebelum waktunya, dengan demikian akan batallah perse­tujuan itu.”

Setelah membacanya, sang bankir meletakkan kembali kertas tersebut di atas meja, dikecupnya kepala orang asing itu, dan iapun mulai menangis. Ia keluar dari paviliun itu. Tak pernah sebelumnya, bahkan juga setelah mengalami kerugian besar di bursa saham, ia merasa begitu jijik kepada dirinya sendiri seperti sekarang ini. Setelah tiba di rumah, ia membaringkan tubuhnya di atas dipan, tapi gejolak batin dan air mata menahannya untuk tidur selama beberapa saat.

Pada paginya sang pengawas yang malang mendatanginya dengan berlari‑lari dan melaporkan bahwa mereka telah melihat pria yang tinggal di paviliun itu memanjat jendela dan turun ke kebun. Ia telah pergi ke pintu gerbang dan menghilang. Sang bankir segera pergi bersama para pembantunya ke paviliun tadi dan mendapatkan tahanannya telah melepaskan diri. Untuk menghindari desas‑desus yang tak diinginkan ia mengambil surat yang berisi pernyataan penolakan itu dari atas meja dan setelah kembali ke rumah menyim­pannya di peti besinya.

Sumber :

http://sastradunia.wordpress.com/2011/05/20/taruhan-cerpen-anton-chekov/

Advertisements

“Ninochka”, short story by Anton Chekhov

PINTU terbuka perlahan dan Pavel Sergeyevich Vikhlyenev, sahabat lamaku, muncul dari balik pintu. Meski masih muda ia penyakitan, terlihat tua, ditambah perawakannya yang berbahu tegap, kurus kering dengan hidung panjangnya. Benar-benar sosok yang tidak menarik! Namun, di sisi lain ia memiliki wajah yang ramah, lembut, juga tegas. Setiap kau memandang wajahnya kau akan berkeinginan untuk meraba dengan jari-jarimu, merasakan dengan sungguh-sungguh kehangatan yang dimilikinya. Seperti umumnya kutu buku, temanku dikenal sebagai orang yang pendiam, kalem, dan pemalu. Ditambah lagi saat ini wajahnya terlihat agak pucat dan sangat gelisah tak seperti biasanya.

“Ada apa denganmu, teman?” tanyaku sambil melirik wajahnya yang pucat dan bibirnya yang gemetar. “Kau sedang sakit atau ada masalah lagi dengan istrimu? Kau tak terlihat seperti biasanya!”

Dengan sedikit ragu Vikhlyenev mendehem dan dengan sikap putus asa ia mulai bercerita, “Ya, dengan Ninochka lagi. Aku sangat gelisah, tak bisa tidur semalaman, dan seperti yang kau lihat aku bagaikan mayat hidup. Kurang ajar, orang-orang bisa saja tak terganggu dengan masalah ini. Mereka menganggap enteng rasa sakit, kehilangan seseorang, dan terluka. Namun, hal sepele ini bisa membuatku kecewa dan tertekan.”

“Tetapi, ada apa?”
“Sebenarnya hal yang sepele. Drama dalam sebuah keluarga. Namun, akan kuceritakan semuanya kalau kau berkenan untuk mendengarkannya. Kemarin Ninochka tak pergi keluar seperti biasanya. Ia merencanakan untuk menghabiskan sore bersamaku dengan tinggal di rumah. Tentu saja aku sangat bahagia. Dia selalu keluar untuk menjumpai seseorang, dan sejak itu aku selalu berada di rumah sendirian setiap malam. Kau bisa bayangkan betapa…yah…gembiranya aku saat itu. Namun, kau belum menikah. Jadi, kau belum bisa merasakan betapa hangat dan menyenangkan ketika kau pulang bekerja dan menemukan…ah istrimu sedang menunggu di rumah!”

Temanku, Vikhlyenev, memaparkan kehidupan pernikahan yang menyenangkan. Lalu ia menyeka keringat di dahinya dan kembali bercerita.

“Ninochka mengira akan menyenangkan menghabiskan malam bersamaku. Ya, kau tahu bukan, bahwa aku adalah orang yang sangat membosankan dan jauh dari cerdas. Takkan menyenangkan untuk jalan bersamaku. Aku selalu bersama dengan kertas-kertas kerja dan asap rokok. Aku bahkan tak pernah bermain keluar, berdansa, atau berkelakar. Dan kau pasti tahu benar bahwa Ninochka adalah orang yang menyenangkan. Juga masih sangat berjiwa muda. Bukankah begitu?

Ya, ah aku mulai menunjukkan hal-hal kecil, foto-foto serta hal lainnya. Aku juga menceritakan beberapa cerita…dan tiba-tiba aku teringat surat-surat yang aku simpan lama di mejaku. Beberapa surat tersebut isinya sangat lucu. Waktu aku masih sekolah aku punya teman yang pandai menulis surat. Jika kau membacanya maka perutmu pasti sakit karena tertawa terbahak-bahak! Kuambil surat itu dari dalam meja dan mulai membaca satu per satu untuk Ninochka. Pertama, kedua, ketiga, dan semuanya berantakan. Hanya karena satu surat di mana ia membaca kalimat “salam manis dari Katya”. Istriku yang cemburu itu kalimat-kalimatnya seperti pisau yang tajam dan Ninochka seperti Othello dalam pakaian wanita!

Pertanyaan-pertanyaan yang tak menyenangkan memenuhi kepalaku: siapa Katya, bagaimana dan mengapa, kucoba terangkan pada Ninochka bahwa dia adalah masa laluku, cinta pertama pada masa mudaku, sangat mustahil melekat di ingatanku karena tak ada yang penting untuk diingat. Setiap orang di masa mudanya memiliki seorang “Katya”. Itu kataku mencoba menjelaskan pada Ninochka dan sangat mustahil jika seseorang tak memilikinya. Namun, Ninochka sama sekali tak mau mendengarkan. Ia membayangkan yang tidak-tidak! Dan mulai menangis dengan histeris.

’Kau sangat jahat!’ ia menjerit, ’Kau menyembunyikan masa lalumu padaku! Mungkin saja kau juga memiliki seseorang seperti Katya saat ini dan kau menyembunyikannya padaku!’ Aku coba dan terus mencoba meyakinkan padanya, namun ia sama sekali tak mendengar. Logika laki-laki memang tak akan berguna untuk seorang wanita. Akhirnya aku berlutut memohon maaf. Aku membungkuk dan kau tahu yang dia lakukan? Ia pergi ke kamar dan membiarkanku di sofa ruang kerja. Pagi itu ia sinis padaku, tak mau melihatku dan bicara seakan aku ini orang asing. Dia mengancam akan pulang ke rumah ibunya dan aku yakin dia akan melakukannya. Aku tahu dia!”

“Oh, bukan cerita yang menyenangkan.”
“Wanita memang tak bisa dimengerti, ya. Ninochka masih muda, masih hijau, dan sensitif. Tak bisa dikejutkan oleh sesuatu yang meskipun sangat sederhana. Begitu sulitkah memaafkan meski aku telah sangat memohon, aku telah berlutut padanya, bahkan aku menangis!”

“Ya, ya, wanita memang sebuah teka-teki yang sangat sulit!”
“Teman, kau punya pengaruh besar bagi Ninochka. Dia sangat menghormatimu. Dia memandangmu sebagai orang yang berwibawa. Tolong, temuilah dia! Gunakan pengaruhmu untuk mengatakan bahwa apa yang dipikirkannya itu salah. Aku sangat menderita. Jika ini terus saja berlangsung aku tak tahu harus berbuat apa lagi. Tolonglah!”

“Tapi, apakah ini tepat?”
“Mengapa tidak? Kau dan dia berteman sejak kecil. Dia percaya padamu. Sebagai teman, tolonglah aku!”

Tangisan dan permohonan Vikhlyenev menyentuh hatiku. Dengan segera aku berpakaian dan menemui istrinya. Kutemui Ninochka di tempat favoritnya: duduk di sofa dengan kaki menyilang, mengedipkan matanya yang indah dan sedang tidak melakukan apa-apa. Ketika aku datang ia segera meloncat dan berlari padaku. Memperhatikan sekeliling, menutup pintu, dan dengan gembira memeluk leherku. (Pembaca, tentu saja ini tidak salah ketik. Dalam setahun ini, aku telah berhubungan intim dengan istri Vikhleyenev).

“Pikiran jahat apa yang ada dalam pikiranmu sekarang?” tanyaku sembari mendudukkan Ninochka di dekatku.
“Apa maksudmu?”

“Lagi-lagi kau menyiksa suamimu. Ia datang padaku dan menceritakan semuanya.”
“Oh… rupanya dia menemukan orang untuk mengadu!”

“Apa yang sebenarnya terjadi?”
“Ah, tidak begitu penting. Aku sedang bosan semalam dan merasa kesal karena tak tahu harus pergi ke mana. Karena rasa jengkel aku mulai meracau tentang ’Katya’. Aku mulai menangis karena rasa bosan, jadi bagaimana aku bisa menjelaskan kepadanya?”

“Tapi, kau tahu sayang. Itu sangat jahat dan tidak manusiawi. Dia sangat takut dan terganggu dengan ulahmu.”
“Ah, itu hal yang sepele. Dia sangat suka ketika aku berpura-pura cemburu, tak ada yang lebih bagus selain berakting cemburu. Tapi, sudahlah! Lupakan saja. Aku tidak suka kita membicarakan hal ini, aku sudah menyerah. Kau mau minum teh?”

“Tapi sayang, berhentilah menyiksa dia. Kau tahu bukankah dia terlihat sangat menyedihkan. Dia menceritakan semuanya padaku, bahwa dia benar-benar jatuh cinta padamu dan itu sangat tidak mengenakkan. Kontrol dirimu! Tunjukkan kasih sayangmu. Satu kalimat omong kosong akan membuatnya sangat bahagia.”

Ninochka cemberut dan merengut, namun beberapa saat ketika Vikhleyenev datang dengan keraguan yang tergambar jelas di mukanya, Ninochka tersenyum dan menunjukkan kasih sayang padanya.

“Kau datang di saat yang tepat, waktunya minum teh,” ujar Ninochka pada suaminya, “Pintar sekali kamu sayang. Tak pernah datang terlambat. Kau mau dengan jeruk atau susu?”

Vikhleyenev yang tak mengira akan disambut seperti itu, perlahan-lahan mendekati istrinya. Mencium tangan Ninochka dengan hangat serta merangkulku. Pelukan yang aneh dan sangat cepat, membuat aku dan Ninochka menjadi malu.

“Berkatilah sang pencipta kedamaian!” teriak sang suami yang bahagia. “Kau telah membuat ia mau mengerti. Mengapa? Karena kau memang laki-laki sejati. Bisa bergaul dengan banyak orang dan kau tahu titik kelemahan wanita. Hahaha…aku bodoh sekali! Ketika hanya satu kata yang diperlukan, aku menggunakan sepuluh kata. Ketika hanya harus mencium tangan istriku, aku melakukan hal lain. Hahaha…”

Setelah minum teh Vikhlyenev memintaku untuk ke kamar kerjanya. Menahanku berbicara dan dengan suara lirih ia berucap, “Aku tak tahu bagaimana berterima kasih padamu, teman. Aku sangat menderita dan tersiksa. Namun, kini aku luar biasa bahagia, dan ini bukan pertama kalinya kau menolongku dari masalah yang mengerikan. Teman, kumohon jangan menolak jika aku ingin memberimu…ini! Lokomotif mini yang kubuat sendiri, aku mendapatkan penghargaan atas penemuan ini. Ambillah sebagai rasa terima kasihku, juga sebagai tanda pertemanan kita. Terimalah demi aku!”

Dengan berbagai cara aku menolak pemberian tersebut, namun Vikhlyenev terus-menerus memaksaku. Mau tidak mau aku harus menerima hadiah yang sangat berharga itu.

Hari, minggu, bulan pun berlalu. Cepat atau lambat keburukan akan tersingkap dan diketahui olehnya. Ketika tanpa sengaja Vikhlyenev tahu akan semua kebenaran tentang aku dan istrinya ia sangat terkejut, pucat, terduduk di sofa dengan pandangan kosong ke langit-langit tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ekspresi sakit hati diungkapkannya dengan bahasa tubuh. Ia berpindah dari satu sofa ke sofa lain dengan perasaan yang sangat menderita sekali. Gerak-geriknya dipengaruhi oleh kesedihan.

Seminggu kemudian, setelah menenangkan pikiran karena berita yang amat mengejutkan tersebut, Vikhlyenev datang menemuiku. Kami berdua saling menghindar dan jengah. Aku mencoba berceloteh tentang kebebasan cinta, egoisme hubungan perkawinan, dan takdir yang tak bisa dielakkan.

“Bukan itu yang ingin kubicarakan,” katanya memotong, “Tentang hal itu aku sangat mengerti. Membicarakan perasaan siapa pun tak bisa disalahkan. Yang aku khawatirkan adalah hal lain. Hal yang sebenarnya tak berarti. Kau tahu sendiri, aku sama sekali tak mengerti tentang hidup, di mana kehidupan yang sebenarnya, dan kebiasaan masyarakat yang harus diperhatikan, misalnya. Aku orang yang benar-benar belum berpengalaman. Jadi, tolonglah teman! Katakan padaku apa yang harus dilakukan Ninochka sekarang? Tinggal bersamaku atau dia harus pindah bersamamu?”

Dengan kepala dingin kami membicarakan hal tersebut dan akhirnya kami menemukan jalan tengah. Ninochka tetap tinggal bersama suaminya, dan aku bisa menemuinya kapan pun. Karenanya, ia memakai kamar yang ada di pojok yang dulunya adalah gudang. Kamar itu agak gelap dan lembab, pintu kamarnya berhubungan langsung dengan dapur. Namun, pada akhirnya Vikhlyenev menembak dirinya sendiri tanpa menyusahkan orang lain. ***
1885

(Dari Anton Chekhov Selected Stories, The New American Library of World Literature, Second Printing, August 1963)

“Munafik”, short story by Anton Chekov

JANGAN percaya kepada Yudas-Yudas, bunglon¬-bunglon! Di zaman kita ini orang lebih mudah kehilangan kepercayaan daripada sarung tangan tua; dan saya sudah kehilangan kepercayaan itu!

Malam. Saya naik trem kuda. Sebagai pejabat tinggi, tidak sepatutnya saya naik trem kuda, tetapi kali itu saya mengenakan mantel bulu besar, dan saya dapat menyembunyikan diri di balik kerah mantel dari bulu marten itu. Dan lagi, naik trem kuda lebih mahal, bukan?

Waktu itu sudah larut dan dingin, tetapi gerbong trem penuh sesak. Tidak seorang pun yang mengenali saya. Kerah bulu marten itu membuat saya incognito. Begitulah saya bepergian, mengantuk, dan melihat¬-lihat orang-orang di sekitar.

“Ah, bukan, itu bukan dia!” pikir saya, waktu terlihat oleh saya seorang lelaki bertubuh kecil, me¬ngenakan mantel dari bulu kelinci. “Itu bukan dia! Bukan, bukan dia! Ah, dia!”

Saya berpikir, dan saya percaya sekaligus tidak percaya kepada mata sendiri…..
Orang yang mengenakan mantel bulu kelinci itu mirip sekali dengan Ivan Kapitonich, seorang di antara pegawai kantor saya…. Ivan Kapitonich adalah makh¬luk kecil yang murung dan berhidung pesek, yang hidupnya hanya untuk memungut saputangan yang terjatuh dan mengucapkan selamat hari raya. Ia masih muda, tetapi punggungnya bongkok seperti busur, lututnya bengkok, tangannya kotor dan terlekat pada tepi bajunya…. Mukanya seperti terhimpit pintu atau terhantam gombal basah. Muka itu asam mengibakan. Melihatnya orang jadi hendak menyanyikan lagu “Oskolki” (Serpihan), lalu merintih. Jika melihat saya, ia gemetar, pucat, dan merah-padam, seolah saya ingin menelan atau menyembelihnya, sedangkan ka¬lau saya marahi, ia menggigil, dan seluruh anggota tubuhnya menggeletar.

Tidak ada orang yang lebih hina, lebih pendiam, dan lebih tidak berharga daripada dia. Bahkan saya tidak mengenal binatang yang lebih cinta damai daripada dia.

Lelaki kecil bermantel bulu kelinci itu betul-betul mengingatkan saya kepada Ivan Kapitonich: betul¬betul dia! Cuma, lelaki kecil itu tidak sebongkok Ivan Kapitonich, tidak begitu murung, gayanya bebas, dan yang paling menjengkelkan, ia bicara politik dengan orang di dekatnya. Seluruh gerbong mendengarkannya.

“Gambetta mati!” katanya sambil memutar badan dan mengayunkan tangannya. Ini menguntungkan Bismarck. Gambetta memang punya otak sendiri. Ia berperang melawan orang Jerman, dan punya andil!. Ivan Matveich! la memang orang jenius! la orang Prancis, tetapi jiwanya Rusia. Orang berbakat.”

“Gombal kamu!”

Ketika kondektur mendatanginya dengan mem¬bawa karcis, pembicaraan tentang Bismarck itu dihentikannya.
“Kenapa gerbong ini begini gelap?” kecamnya ke¬pada kondektur. “Apakah tak ada lilin? Betul-betul tak ada ketertiban. Siapa yang mesti mengajar kalian? Kalau di luar negeri, sudah kena kalian! Bukan masya¬rakat untuk kalian, tetapi kalian untuk masyarakat! Setan! Tidak mengerti saya, bagaimana penglihatan para pemimpin!”
Sebentar kemudian ia meminta kami bergeser.
“Geser sedikit! Kalian yang saya ajak bicara ini! Kasih tempat pada perempuan! Sopanlah sedikit! Kondektur! Coba ke sini, Kondektur! Kalian kan ambil uang? Mesti kasih tempat! Ini licik namanya!”
“Di sini dilarang merokok!” teriak kondektur ke¬padanya.
“Siapa yang melarang? Siapa yang punya hak? Ini pelanggaran kebebasan! Saya tidak akan membiarkan siapapun melanggar kebebasan saya! Saya orang be¬bas!”
“Makhluk macam apa kamu ini!”
Saya pandang moncongnya, betul-betul tak per¬caya saya pada mata sendiri. Tidak, itu bukan dia! Tak mungkin! Yang itu tak kenal kata-kata seperti “kebe¬basan” dan “Gambetta”.
“Apa boleh buat, memang baik peraturan itu!” katanya sambil membuang rokoknya. “Bolehlah hidup dengan Tuan-tuan ini! Mereka gila bentuk, gila huruf!
Orang-orang formalis, orang-orang Philistine! Suka mencekik!”
Saya tak tahan lagi, dan tertawa terbahak-bahak. Mendengar tawa saya, sekilas ia menoleh kepada saya, dan gemetarlah suaranya. Ia mengenali tawa saya, dan tentunya mengenali juga mantel bulu saya. Sekejap itu juga punggungnya melengkung, wajahnya mengasam, suaranya padam, kedua tangannya turun ke tepi baju¬nya, dan lututnya membengkok. Berubah dalam se-kejap mata!
Saya tak sangsi lagi… itulah Ivan Kapitonich, pega¬wai kantor saya. Ia pun duduk, menyembunyikan hidungnya yang kecil di balik mantel bulu kelincinya.

Kini saya tatap mukanya.
“Apa betul orang yang murung dan pesek ini bisa mengucapkan kata-kata seperti ‘orang Philistine’ dan ‘kebebasan’? Ha? Apa betul? Ya, betul. Ini sukar di¬percaya, tetapi benar. Gombal kamu!”
Cobalah, apa sesudah itu saya bisa mempercayai bunglon-bunglon yang memperlihatkan tubuhnya yang mengibakan itu!
Saya sungguh-sungguh tidak bisa lagi. Cukuplah, saya tidak bisa dibohongi lagi!

“Kegembiraan”, short story by Anton Chekov

Sudah jam 12 Malam

Mitya Kuldarov, dengan wajah gembira namun rambut kusut, masuk ke dalam flat orang tuanya, dan buru-buru berlari melalui semua kamar. Orang tuanya sudah besiap-siap untuk tidur. Saudara perempuannya sudah berada di atas tempat tidur, menyelesaikan halaman terakhir novel. Saudara laki-laki satu sekolah nya sudah tidur.

“Darimana kau datang?” teriak orang tuanya dengan takjub. “Apa yang terjadi?”

“Duh, nggak usah tanya! Aku tidak pernah mengharapkannya; tidak, saya tidak pernah mengharapkannya! Ini…ini betul-betul luar biasa!

Mitya tertawa dan menghempaskan diri ke lengan kursi, dirinya penuh kebahagiaan hingga tidak bisa berdiri di atas kakinya.

“Ini luar biasa! Kalian tidak bisa membayangkan! Lihat!”

Adik perempuannya melompat dari tempat tidur dan, melemparkan selimut dan menghampirinya. Adik-adik lainnya terbangun.

“Ada apa sih? Kau terlihat tidak seperti dirimu sendiri!”

“Itu karena aku sangat senang, Ma! Apakah kau tahu, sekarang semua orang Rusia tahu tentang saya! Semua orang Rusia! Sebelumnya hanya kau yang tahu seorang petugas administrasi yang bernama Dmitry Kuldarov, tapi sekarang semua orang Rusia sudah mengetahuinya! Ibu! Oh, Tuhan! ”

Mitya melompat, berlari keluar masuk ke semua kamar, dan kemudian duduk lagi.

“Kenapa, apa yang terjadi? Beritahu kami detilnya!”

“Itulah kalian hidup seperti binatang buas, tidak pernah membaca koran dan tidak memperhatikan apa yang dipublikasikan, padahal ada begitu banyak hal-hal penting di dalam koran. Jika ada sesuatu yang terjadi semua orang bisa tahu dalam seketika, tidak ada yang disembunyikan! Alangkah bahagianya aku! Oh, Tuhan! Kau tahu harusnya orang merayakan orang-orang yang namanya dipublikasikan di koran, dan sekarang mereka telah membuatku terkenal! ”

“Apa maksudmu? Dimana?”

Sang ayah berubah pucat. Sang ibu melirik gambar suci dan membuat tanda salib. Adik-adik kecil berlompatan dari tempat tidur sebagaimana kebiasaan mereka dan, masih mengenakan kaus malam yang pendek, mendekati kakak sulung mereka.
“Ya! Nama saya telah diterbitkan! Sekarang semua orang-orang Rusia tahu tentang saya! Simpan koran ini bu, ada kenangannya. Kadang-kadang suatu saat kita akan membacanya kembali! Lihat!”
Mitya menarik salinan koran dari sakunya, memberikannya kepada ayahnya, dan menunjuk dengan jarinya ke bagian yang ditandai dengan pensil biru.
“Bacalah!”
Sang ayah mengenakan kacamatanya.
“Ayo bacalah!”
Sang ibu melirik gambar suci dan membuat tanda salib. Papa yang berdehem dan mulai membaca: “… Pada pukul sebelas malam tanggal 29 Desember, petugas pendaftaran bernama Dmitry Kuldarov”
“Betul kan, betul kan! Lanjutkan!”
“… seorang petugas pendaftaran bernama Dmitry Kuldarov, keluar dari  dalam bar di gedung Kozihin di Little Bronnaia dalam kondisi mabuk…”
“Itu aku dan Semyon Petrovitch…. Ini semua dijelaskan secara persis! Lanjutkan! Dengarkan!”
“.. ‘dalam kondisi mabuk, ia terpeleset dan jatuh di bawah kuda dalam pengendali kereta luncur, milik seorang petani dari desa Durikino di distrik Yuhnovsky, bernama Ivan Drotov. Kuda yang ketakutan, melangkahi Kuldarov dan menyeret kereta luncur di atasnya, bersamaan dengan itu seorang pedagang Moskow dari serikat kedua bernama Stepan Lukov, orang yang berada di dalamnya, terseret di sepanjang jalan dan tertangkap oleh beberapa kuli rumah. Kuldarov, pada awalnya dalam kondisi tak sadarkan diri, dibawa ke kantor polisi dan diperiksa oleh dokter. Benturan yang dialaminya pada bagian belakang kepalanya… ”
“Masih setengah, ayah. Ayo! Baca sisanya!”
“… benturan yang dialami di bagian belakang kepalanya ternyata tidak serius. Kecelakaan itu telah dibuat laporannya. Bantuan medis telah diberikan kepada orang yang terluka….”

“Mereka mengatakan kepada saya untuk membasahi bagian belakang kepala saya dengan air dingin. Anda telah membaca sekarang? Ah! Jadi Anda lihat. Sekarang tersebar di seluruh Rusia! Berikan sini!”

Mitya merebut kertas, melipatnya dan memasukkannya ke dalam saku.

“Saya akan ke Makarovs dan menunjukkan kepada mereka…. Saya harus menunjukkan kepada Ivanitskys juga, Natasya Ivanovna, dan Anisim Vassilyitch…. Saya harus bergegas! Selamat tinggal!”

Mitya mengenakan topi dengan simpul pita, dengan penuh keriangan dan penuh kemenangan, berlari ke jalan.

“Pergi”, short story by Anton Chekov

Makan siang sudah selesai. Sang perut sudah merasakan kenikmatan alakadarnya, sang mulut menguap-nguap, dan sang mata mulai memincing akibat kantuk yang manis. Sang suami merokok cerutu, menggeliat, lalu menggolekkan badan di balai-balai. Sang istri duduk di dekat bagian atas kepala, bersenandung…Keduanya merasa bahagia.

“Coba kau cerita…,” kata sang suami menguap.

“Cerita apa? Mm… O, ya! Kau sudah dengar belum? Sofie Okurkova kawin dengan si itu….siapa namanya…dengan Von Tramb! Betul-betul skandal!”

“Apanya yang skandal?”

“Tramb itu kan bangsat? Bajingan macam begitu…manusia tak tahu malu macam begitu! Tak kenal prinsip sama sekali! Orang cacat jiwa! Ia tadinya pengawas tanah graaf, tetapi kemudian main sikat; sekarang kerja di kereta api, dan di situ jadi koruptor. Saudara perempuan sendiri dirampoknya….Singkat kata: bajingan dan pencuri. Kawin dengan orang seperti itu?! Hidup dengannya?! Mengherankan! Gadis yang begitu berakhlak dan…nah, itulah! Kalau aku, tak bakalan aku kawin dengan orang macam itu! Biarpun ia seorang miliarder! Biarpun ia tampan entah seperti apa, aku ludahi barangkali dia! Membayangkan punya suami bajingan saja aku tak bisa!”

Sang istri melompat dari balai-balai, lalu berjalan mondar-mandir di dalam kamar itu dengan marah, dengan muka merah. Matanya menyala karena marah…Tampak sekali hatinya tulus dalam hal itu.

“Tramb itu makhluk keparat. Seribu kali bodoh dan keji perempuan yang mau kawin dengan tuan-tuan seperti itu!”

“Begitu…Jadi kau tentu tak bakalan kawin dengan dia…Ya…tetapi bagaimana kalau, misalnya, sekarang kau tahu bahwa aku juga..bajingan?…Apa yang akan kau lakukan?”

“Aku? Aku tinggalkan kamu! Satu detik pun aku tak akan tinggal denganmu! Aku hanya dapat mencintai orang yang jujur! Begitu aku tahu kamu korupsi, biarpun seperseratus dari yang dilakuakn oleh Tramb itu, aku…kontan bilang adieu.”

“Begitu…Hm…Betul-betul engkau ini..Aku sungguh tak tahu..He-he-he..Ah, engkau berbohong, tetapi bisa saja mukamu tak memerah!”

“Belum pernah aku berbohong! Cobalah kamu bikin hal yang keji, nanti akan kamu lihat!”

“Buat apa aku mencoba? Kau tahu sendiri…Aku tidak lebih bersih dari Von Tramb-mu itu..! Tramb itu dapat dibandingkan dengan ujung jariku saja. Engkau melotot? Itu mengherankan. (Diam sebentar). Berapa gajiku?”

“Tiga ribu setahun.”

“Lalu berapa harga kalung yang kubeli untukmu seminggu yang lalu? Dua ribu.. betul, kan? Gaun kemarin lima ratus..Bungalo dua ribu…He-he-he..kemarin papamu merengek minta dariku seribu…”

“Tetapi pemasukan sampingan itu, Pierre….”

“Kuda-kuda itu..Dokter keluarga..Rekening modiste. Tiga hari engkau kalah main seratus..”

Sang suami bangkit sedikit, menyangga kepala dengan kedua tinjunya, lalu membacakan satu surat tuduhan. Kemudian ia mendekati meja tulis dan menujukkan kepada istrinya beberapa bukti bendawi…

“Sekarang engkau lihat sendiri, Von Tramb-mu itu cuma tokoh kecil, sekedar pencopet dibandingkan aku…Adieu! Pergi sana, dan jangan mengritik lagi!”

Saya sampai di sini saja. barangkali pembaca akan bertanya:

“Apakah sang istri meninggalkan suaminya?”

Ya, ia pergi..ke kamar lain.

“Sebuah Karya Seni”, short story by Anton Chekov

Sembari mengepit bungkusan ‘Stock Exchange Gasette’ Nomor 223 dengan hati-hati, Sasha Smirnov (seorang anak tunggal) bersungut-sungut memasuki kamar praktek dokter Koshelkov.

“Wah, kawan muda saya!” dokter itu menyambutnya.

“Apa kabar? Baik-baik saja kan?”

Sasha mengerjap-erjapkan matanya, meletakkan tangannya pada dada dan dengan suara bergetar penuh emosi ia berkata, “Ibu titip salam, Dok, dan saya disuruh menyampaikan rasa terima kasihnya… saya anak tunggal ibu dan dokter telah menyelamatkan nyawa saya –mengobati saya dari penyakit yang berbahaya… dan ibu dan saya sebenarnya tidak tahu bagaimana harus berterima kasih kepada dokter.”

“Sudahlah, Nak,” potong dokter itu, tersenyum gembira. “Siapa pun akan berbuat serupa dalam keadaan demikian.”

“Saya, tentu saja tak mampu membayar ongkos pengobatan dokter… dan kami merasa sangat tidak enak memikirkan hal itu, Dok. Tapi biar bagaimanapun, kami –ibu dan saya, yah, satu-satunya yang dimilikinya di dunia ini—sangat bermohon sudilah kiranya dokter menerima ini sebagai sekedar imbalan bagi budi baik dokter… barang ini, yang… ini sungguh patung perunggu yang amat berharga. Betul-betul sebuah karya seni yang indah.”

“Tidak, sungguh,” kata dokter itu mengernyitkan dahi. “Tak mungkin aku bisa menerimanya.”

“Ya, ya, dokter harus menerimanya,” Sasha bersungut-sungut sementara ia membuka bungkusan itu.

“Kalau dokter menolak, kami akan sangat terhina, ibu dan saya… ini sungguh barang yang indah… Sebuah patung perunggu antik… Barang ini kami miliki sejak ayah meninggal dan kami menyimpannya sebagai barang kenangan yang berharga… Ayah memang biasa membeli barang-barang antik dan menyimpannya sebagai barang koleksi seni. Sekarang inu dan saya sudah punya usaha lain….”

Selesai membuka bungkusan itu Sasha dengan bangga menaruhnya di atas meja. Berbentuk tempat lilin yang indah mungil terbuat dari perunggu. Di atasnya terdapat dua patung perempuan dalam keadaan alami dan dalam sikap yang saya tak berani untuk melukiskannya. Kedua pigur itu tersenyum dengan lirikan mata yang merangsang. Pendek kata rupanya dimaksudkan bukan sekedar untuk menghias tempat lilin itu tetapi lebih lagi kedua patung itu bisa-bisa melompat dari tempatnya kemudian menjadikan kamar itu sebagai sebuah pemandangan yang menggoda pikiran untuk mengkhayalkan yang bukan-bukan. Para pembaca yang budiman mungkin saja akan dibuat merah mukanya oleh patung itu.

Setelah lama memperhatikan kehadiran tempat lilin berpatung dua gadis telanjang itu, dokter itu perlahan-lahan menggaruk-garuk bagian belakang telinganya, menelan air liur dan mendengus dengan kacau.

“Ya, memang betul-betul barang yang indah,” ia bergumam, “tapi, yah, bagaimana pula aku harus menyimpannya…? Bagaimana pun orang tak bisa sepenuhnya menganggapnya ini sebagai barang yang menerbitkan selera. Maksudku sesuatu yang telanjang, namun yang ini sih sudah benar-benar terlalu… hmmmm.”

“Apa maksud Dokter, terlalu?”

“Bicara mengenai barangnya sendiri, semua orang tak dapat menyangkal keindahannya. Tapi jika aku disuruh memajang barang semacam itu di atas meja, maka aku akan merasa seperti telah mengotori seluruh rumah.”

“Alangkah anehnya pandangan seni dokter!” ucap Sasha dengan suara terluka.

“Ini kan hasil inspirasi! Perhatikan seluruhnya begitu indah. Bukankah keindahannya memberikan rasa kagum dan nikmat yang tak terperikan kepada dokter? Dokter pasti akan lupa pada segala yang berharga lainnya begitu dokter menikmati keindahan tempat lilin yang begini mengagumkan… Nah, perhatikanlah sejenak, gaya dan ekspresinya!”

“Aku menghargai kebagusannya, kawanku,” kata dokter itu bertahan, “tapi kau lupa aku ini seorang kepala rumah tangga. Jadi pikirkanlah betapa anak-anakku yang masih kecil itu akan menanggapinya, pikirkanlah pula betapa reaksi para perempuan terhormat itu.”

“Benar, jika dokter memandangnya dari kacamata orang banyak,” kata Sasha. “Tentu saja karya seni yang sedemikian tinggi mutunya ini akan tampak tak ada artinya. Tapi dokter harus mengangkat selera seni dokter jauh di atas selera orang kebanyakan. Khususnya ibu dan saya pasti akan merasa sangat terhina apabila dokter menampiknya. Saya satu-satunya anak ibu –dokter telah menyelamatkan hidup saya. Kami menyerahkan kepada dokter milik kami satu-satunya yang paling berharga… dan satu-satunya penyesalan saya ialah bahwa kami tidak mempunyai sesuatu yang sepadan dengan kebajikan dokter….”

“Terima kasih, anakku sayang, aku sungguh amat berterima kasih… Sampaikanlah kepada ibumu salam terima kasihku, tapi coba tolong kau tempatkan dirimu sebagai aku –pikirkanlah anak-anakku yang bersliweran itu, pikirkanlah para perempuan terhormat itu. Oh, baiklah kalau begitu, taruh saja barang itu di sana! Kupikir aku tak akan bisa meyakinkanmu.”

“Tak perlu saya diyakinkan lagi,” sahut Sasha gembira. “Dokter harus meletakkan tempat lilin itu di sini, di dekat jambangan bunga. Tapi alangkah sayangnya barang ini tidak punya pasangannya! Sungguh sayang sekali! Saya permisi pulang saja, Dok, kalau begitu!”

Sesudah Sasha pulang, lama sekali dokter itu mengamati tempat lilin itu, menggaruk-garuk bagian belakang telinganya dan menimbang-nimbangnya.

“Sebuah karya seni yang luar biasa, tiada duanya,” pikirnya. “Dan memalukan untuk membiarkannya begitu saja… Tapi bagaimana mungkin aku memajangnya di sana… Hmmm, betul-betul sulit! Lalu akan kuberikan atau kutitipkan kepada siapa?”

Setelah lama menimbang-nimbang sang dokter itu pun teringat kepada seorang kawan kentalnya Uhov, seorang pengacara. Ia merasa berhutang budi atas pelayanannya yang professional.

“Ya, itulah jawabannya,” dokter itu memutuskan. “Sebagai sahabat adalah kurang hormat baginya menerima uang dariku. Tapi jika aku memberinya hadiah barang, itulah baru comme il fault. Ya, aku akan memberikan kepadanya karya seni yang istimewa ini. Bagaimanapun, ia seorang bujangan, hidupnya easy going.”

Tanpa pikir panjang lagi dokter itu kemudian mengenakan topi dan mantelnya, mengambil tempat lilin itu dan bergegas ke rumah Uhov.

“Bagaimana kabarmu, teman!” serunya, begitu ia sampai di rumah itu. “Aku datang untuk menemui Anda… Terima kasih untuk segala pertolongan yang telah kau berikan kepadaku selama ini…. Aku tahu kau tak suka uang sehingga kau harus setidaknya menerima hal ini di sini…. Lihat, sahabatku karya seni ini…. Hal yang luar biasa! “

Tatkala pengacara itu melihat benda kecil itu ia segera menerimanya dengan gembira.

“Oh, benar-benar luar biasa!” ia tertawa. “Bagaimana mereka bisa menciptakan karya seindah ini? Hebat luar biasa! Menggairahkan! Dari mana kau peroleh benda yang semahal permata ini?”

Setelah capai menyatakan kegembiraannya, pengacara itu tampak malu-malu menuju pintu dan berkata: “…….. Hanya saja tolong berbuat baik sedikit kepadaku dan bawalah benda ini kembali, tidak keberatan kan? Aku tak dapat menerimanya….”

“Kenapa?” ucap dokter itu bingung.

“Alasannya jelas banyak… Pikirkanlah ibuku yang sebentar lagi akan masuk ke sini, pikirkan juga klien-klienku… Dan bagaimana pula aku bisa melihat muka-muka merah padam pembantu-pembantuku?”

“Omong kosong Omong kosong! Jangan sekali-kali kau ngotot menolaknya!” kata dokter, itu seraya tangannya menolak ke arahnya. “Itu namanya kau kurang tahu adat! Ini sebuah karya seni hasil sebuah inspirasi. Lihat saja gerak garis-garisnya… ekspresinya… Jangan macam-macam lagi, kecuali kalau kau menghinaku?”

“Jika saja benda ini bisa dilumatkan atau berbentuk daun ara yang bisa dilipat….”

Akan tetapi dokter itu menolak dengan menggerak-gerakkan tangannya dengan cepat, sejurus kemudian dengan gesit menyelinap keluar dari apartemen itu dan terus pulang. Bersyukur sekali ia telah berhasil melepaskan barang itu dari tangannya….

Ketika temannya sudah pergi, sang pengacara mengamat-amati tempat lilin itu, merabanya, dan kemudian, seperti dokter itu, memeras otak tentang apa yang harus dilakukannya dengan batang itu.

“Suatu karya seni yang indah,” pikirnya, “dan menjadi sayang untuk membuangnya begitu saja. Tapi menyimpannya di sini amat tidak senonoh. Hal terbaik adalah menjadikannya barang hadiah untuk seseorang….. Aku tahu apa yang akan kulakukan! Aku akan bawa malam ini untuk Shashkin, si badut panggung. Komedian bajingan ini menyukai hal-hal seperti ini dan ia pasti menyukai barang semacam ini.”

Setelah itu ia pun berangkat melaksanakan maksudnya. Pada malam itu tempat lilin dibungkus dengan hati-hati, dan dihadiahkan kepada aktor badut Shashkin. Sepanjang malam, kamar rias itu dipenuhi hiruk-pikuk puji-pujian penuh antusiasme dan tawa bagaikan kuda meringkik. Ketika salah satu aktris mengetuk pintu dan minta permisi masuk, “Boleh saya masuk?” suara serak badut  itu terdengar sekaligus,”Tidak, tidak, sayangku, saya tidak berpakaian!”

Setelah pertunjukan komedian mengangkat bahu dan kedua tangannya, kebingungan dan berkata, “Mau kuletakkan di mana benda cabul ini? Bagaimanapun aku kan tinggal di apartemen pribadi –pikirkanlah aktris-aktris yang berdatangan mengunjungiku nanti! Ini kan bukan potret yang bisa disimpan di dalam laci!”

“Anda lebih baik menjualnya, Tuan,” saran penata rambut yang yan membantunya melepaskan pakaian. “Ada seorang perempuan tua yang tinggal di sini yang suka membeli patung perunggu antik semacam ini. Hubungi saja Nyonya Smirnov… Semua orang tahu dia.”

Sang aktor mengikuti nasihatnya. . . . Dua hari kemudian dokter Koshelkov sedang duduk di ruang prakteknya, dan dengan jemari menempel di kening dan sedang mempelajari tentang asam empedu. Tiba-tiba pintu terbuka dan Sasha Smirnov tergopoh-gopoh masuk ke dalam ruangan. Dia tersenyum, matanya berbinar-binar, seluruh kehadirannya mengekspresikan kebahagiaan. Tangannya memegang sesuatu yang terbungkus kertas koran

“Dokter!” ia memulai, nafasnya terengah-engah, “Saya sangat gembira! Dokter tak akan percaya betapa dokter beruntung –kami kebetulan menemukan tempat lilin pasangan milik dokter… Ibu gemetar terharu menemukannya. Saya satu-satunya anak ibu, yang nyawanya telah diselamatkan oleh dokter.

Dan Sasha, dengan penuh rasa syukur meletakkan tempat lilin itu di muka sang dokter. Mulut dokter itu tersekat, ia mencoba untuk mengatakan sesuatu, namun tak sepatah kata pun terucap dari mulutnya. Ia tidak bisa bicara apa-apa lagi.

NB :

Cerita Pendek (cerpen) Sebuah Karya Seni, karya Anton Chekhov ini, terjemahan dari A Work of Art (1886). Termaktub dalam antologi cerpen Anton Chekhov: The Early Stories 1883-1888, dengan editor Patrick Miles dan Harvey Pitcher. Diterbitkan oleh Macmillan Publishing, New York, pada 1982.

“Si Gemuk dan Si Kurus”, short story by Anton Chekov

Dua orang sahabat lama – yang satu gemuk dan yang satunya lagi kurus – tak sengaja berpapasan di stasiun kereta Nikolaevsky*. Pria berbadan gemuk itu baru saja selesai makan malam di sana – bibirnya tampak berminyak di bawah sorotan lampu neon dan merah mengkilap seperti buah ceri. Tubuhnya menguarkan harum sherry (anggur untuk memasak) dan adonan kue.

Sementara itu, pria yang berbadan kurus baru saja keluar dari gerbong kereta dan tampak sibuk menenteng beberapa koper, buntelan dan kotak bingkisan. Tubuhnya menguarkan bau daging ham dan bubuk kopi. Di belakangnya ada seorang wanita yang juga kurus dan memiliki dagu panjang. Ini adalah istrinya. Selain itu, ada juga seorang bocah jangkung dengan kelopak mata yang agak turun. Ini adalah putranya.

“Porfiry,” teriak Si Gemuk saat melihat pria kurus itu. “Benarkah itu dirimu? Oh, sudah lama sekali aku tak melihatmu!”

“Ya ampun!” teriak Si Kurus dengan takjub. “Misha! Teman kecilku! Senang sekali berjumpa denganmu di sini!”

Kedua sahabat lama itu kemudian saling mencium pipi satu sama lain dengan mata berkaca-kaca. Keduanya sama-sama tak menyangka akan berjumpa lagi.

“Sahabatku!” seru Si Kurus setelah mencium pipi sahabat lamanya. “Sungguh sulit dipercaya! Ini kejutan yang luar biasa! Coba lihat aku! Bukankah aku masih setampan dulu? Sehebat dan seapik dulu? Wah, wah! Nah, apa kabarmu? Sudah kaya? Menikah? Aku sendiri sudah menikah, seperti yang kau lihat …. Ini istriku, Luise, nama gadisnya adalah Vantsenbach … dan agamanya dulu adalah Kristen Lutheran… Ini putraku, Nathaniel, sekarang duduk di kelas tiga. Ini teman Ayah sewaktu kecil, Nat. Kami dulu selalu bermain bersama di sekolah!”

Nathaniel berpikir sesaat, lalu melepas topinya.

“Ya, kami dulu satu sekolah!” lanjut Si Kurus. “Kau ingat dulu kami suka menggoda dan mengataimu ‘Herostratos’** gara-gara kau pernah membuat lubang di buku sekolah dengan bara rokok? Sementara aku diberi nama panggilan ‘Ephialtes’*** karena aku sering menguping? Ho-ho! … Hebat sekali kita dulu! Jangan malu-malu, Nat! Sini, lebih dekat… Nah, ini istriku, nama gadisnya adalah Vantsenbach… dan agamanya dulu adalah Kristen Lutheran****.”

Nathaniel berpikir lagi sesaat dan bersembunyi di balik tubuh ayahnya.

“Apa kabarmu sekarang?” tanya Si Gemuk, menatap penuh antusiasme ke arah sahabatnya. “Apakah kau sudah jadi anggota militer? Tingkat apa?”

“Benar sekali, kawan! Sudah dua tahun ini aku menjabat sebagai Kapten – dan aku juga sudah mendapatkan lencanaku. Gajinya kecil, tapi itu tidak penting! Istriku bekerja sebagai guru musik, dan sesekali aku masih sering memahat kotak rokok dari kayu untuk dijual. Ini produk berkelas! Aku menjualnya seharga satu rouble per kotak; dan kalau kau mau membeli sepuluh kotak atau lebih, aku akan memberikan diskon murah. Sejauh ini, keadaan kami lumayan sekali. Kau tahu, pertamanya aku ditempatkan di salah satu departemen Kementrian, tapi sekarang aku sudah dipindah-tugaskan ke kantor militer di kota ini … Jadi aku akan mulai bekerja di sini. Bagaimana denganmu? Kuperkirakan sekarang kau sudah jadi Mayor, ya?”

“Bukan, sahabatku,” ujar Si Gemuk. “Sekarang aku sudah naik jabatan jadi Letnan Jendral… aku punya dua bintang.”

Si Kurus mendadak pucat dan seluruh tubuhnya terasa kaku; namun dengan cepat ekspresinya berubah, menunjukkan seringai lebar dan dahi berkerut. Mata dan wajahnya bersinar. Namun tubuhnya gemetar, mengerut, membungkuk rendah, dan membuatnya terlihat jauh lebih kurus. Sementara semua bawaannya – koper, buntelan dan kotak bingkisan – seakan ikut menciut. Dagu istrinya yang panjang terlihat semakin panjang; dan dalam waktu singkat Nathaniel menegakkan tubuhnya, serta merapikan pakaiannya.

“Yang Mulia, saya… Ini adalah sebuah kehormatan! Betapa bangganya saya mendapati bahwa teman masa kecil saya kini telah menjadi orang terhormat!” – Si Kurus menyeringai lebar.

“Sudahlah, Porfiry!” ujar Si Gemuk dengan santai. “Kenapa tiba-tiba nadamu jadi aneh begitu? Kita sudah saling kenal sejak kecil. Jabatan kita tak ada urusannya dengan persahabatan kita selama ini!”

“Tapi, Pak – bagaimana mungkin…” Si Kurus terkekeh dengan gugup, tubuhnya tampak semakin mengerut. “Perhatian Yang Mulia terhadap kami seperti berkah dari surga. Yang Mulia, ini anak saya, Nathaniel. Dan ini istri saya, Luise, yang beragama Kristen Lutheran.”

Si Gemuk baru saja hendak mengajukan keberatannya terhadap perlakuan Si Kurus terhadapnya yang mendadak berubah; namun wajah sahabatnya tampak begitu bangga dengan rasa hormat yang luar biasa hingga membuat si pria gemuk muak. Akhirnya, dia mengambil langkah mundur, dan mengulurkan tangan ke arah si pria kurus.

Si Kurus menjabat tangan sahabatnya dengan erat, lalu membungkuk dalam-dalam, sambil tertawa konyol. Istrinya juga tampak bangga. Sementara Nathaniel mengetuk-ngetukkan kakinya di atas lantai dan menjatuhkan topinya. Itu adalah kejutan yang luar biasa untuk ketiganya.