Karya-Karya Anton Chekhov

Tanpa sadar aku tumbuh remaja ditemani karya-karya sastrawan besar. Kesenangan membaca segala macam bacaan waktu itu membuatku banyak membaca karya sastra, termasuk karya sastra dan novel besar meski tanpa menyadarinya. Salah satu karya sastra yang sering kubaca dan senang kubaca itu cerpen atau short story. Cerpen itu selalu menyenangkan untuk dibaca, pendek dan banyak meninggalkan perenungan setelah selesai membacanya. Selain karya sastra Anton Checkov, Guy de Maupassant , Edgar Allan Poe, Leo Tolstoy juga aku suka, dan masih banyak lagi termasuk karya-karya Agatha Cristie. Tanpa kusadari para sastrawan ini membantu membentuk sudut cara pandangku melihat dan menyikapi kehidupan. Seandainya aku tumbuh remaja pada masa sekarang atau jaman ini pasti tidak sempat membaca karya-karya itu karena seperti kebanyakan orang jaman sekarang yang lebih banyak menghabiskan waktunya dengan smartphone. Kupikir aku cukup beruntung……

Karya-karya Anton Checkov

Cerita pendek
Banyak karya-karya yang lebih awal Anton Checkov menulis dengan nama samaran “Antosha Chekhonte”.
“Intrigues” (1879-1884) – sembilan cerita
“Late-Blooming Flowers” (1882)
“The Death of a Government Clerk” (1883) (difilmkan di Indonesia oleh Syuman Djaya dengan judul “Si Mamad”)
“The Swedish Match” (1883)
“Lights” (1883-1888)
“Oysters” (1884)
“Perpetuum Mobile” (1884)
“A Living Chronology” (1885)
“Motley Stories” (Pëstrye Rasskazy) (1886)
“Excellent People” (1886)
“Misery” (1886)
“The Princess” (1886)
“The Scholmaster” (1886)
“A Work of Art” (1886)
“Hydrophobia” (1886-1901)
“At Home” (1887)
“The Beggar” (1887)
“The Doctor” (1887)
“Enemies” (1887)
“The Examining Magistrate” (1887)
“Happiness” (1887)
“The Kiss” (1887)
“On Easter Eve” (1887)
“Typhus” (1887)
“Volodya” (1887)
“The Steppe” (1888) – memperoleh Penghargaan Pushkin
“An Attack of Nerves” (1888)
“An Awkward Business” (1888)
“The Beauties” (1888)
“The Swan Song” (1888)
“Sleepy” (1888)
“The Name-Day Party” (1888)
“A Boring Story” (1889)
“Gusev” (1890)
“The Horse Stealers” (1890)
“The Duel” (1891)
“Peasant Wives” (1891)
“Ward No 6” (1892)
“In Exile” (1892)
“The Grasshopper” (1892)
“Neighbours” (1892)
“Terror” (1892)
“My Wife” (1892)
“The Butterfly” (1892)
“The Two Volodyas” (1893)
“An Anonymous Story” (1893)
“The Black Monk” (1894)
“The Head Gardener’s Story” (1894)
“Rothschild’s Fiddle” (1894)
“The Student” (1894)
“The Teacher of Literature” (1894)
“A Woman’s Kingdom” (1894)
“Three Years” (1895)
“Ariadne” (1895)
“Murder” (1895)
“The House with an Attic” (1896)
“My Life” (1896)
“Peasants” (1897)
“In the Cart” (1897)
“The Man in a Case”, “Gooseberries”, “About Love” – the ‘Little Trilogy’ (1898)
“Ionych” (1898)
“A Doctor’s Visit” (1898)
“The New Villa” (1898)
“On Official Business” (1898)
“The Darling” (1899)
“The Lady with the Dog” (1899)
“At Christmas” (1899)
“In the Ravine” (1900)
“The Bishop” (1902)
“The Bet” (1889)
“Betrothed” (A Marriageable Girl) (1903)
“Agafya”
“The Pipe”
“The Lottery Ticket”
“Verochka”

Novel
“The Shooting Party” (1884-1885)

Drama
“That Worthless Fellow Platonov” (Platonov yang Tidak Berguna) (l.k.1881) – satu babak
“On the Harmful Effects of Tobacco” (Bahaya Racun Tembakau) (1886, 1902)
“Ivanov” (1887) – empat babak
“The Bear” (1888) – (Orang Kasar) komedi satu babak
“The Proposal” atau A Marriage Proposal (Pinangan) (l.k.1888-1889) – satu babak
“The Wedding” (1889) (Pesta Perkawinan) – satu babak
“The Wood Demon” (Hantu Kayu) (1889) – komedi empat babak
“The Seagull” (Burung Camar) (1896)
“Uncle Vanya” (Paman Vanya) (1899-1900) – berdasarkan The Wood Demon
“Three Sisters” (Tiga Saudari) (1901)
“The Cherry Orchard” (Kebun Ceri) (1904)

Tema Kerukunan Umat Beragama Di Dalam Diskusi Pakar Agama

TUGAS INTERAKSI BUKU

Mata Kuliah                : Theologi Agama-Agama

Judul                           : Artikel “Tema Kerukunan Umat Beragama Di Dalam Diskusi Pakar Agama” oleh EG Singgih dari Buku “Agama Dalam Dialog”

 

Begitu selesai membaca seluruh artikel dengan judul “Tema Kerukunan Umat Beragama Di Dalam Diskusi Pakar Agama” oleh Pdt. Prof. Emanuel Gerrit Singgih, Ph.D. yang adalah Guru Besar dalam Ilmu Teologi pada Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), Yogyakarta yang terdapat dalam Buku “Agama Dalam Dialog” langsung mengetahui bahwa artikel ini lebih seperti laporan pandangan mata penulis yang menghadiri dua konferensi besar dan penting (menurut EG Singgih) tentang kerukunan umat beragama. Secara khusus artikel ini lebih banyak menyoroti hubungan antara Islam dan Kristen. Mengenai pendapat pribadi penulis yakni EG Singgih hanya sedikit saja dan terselip diantara tulisan artikel tersebut dan kita harus teliti membacanya untuk bisa menemukan pendapat dan pokok pikiran EG Singgih. Selanjutnya dalam interaksi buku ini hanya akan di bahas dan ditanggapi hal-hal yang penting dan menonjol saja. Mengenai hal-hal yang bersifat laporan pandangan mata tidak akan ditanggapi.

Pada bagian pengantar, EG Singgih memaparkan betapa pada periode tahun1996-1998 yang dianggap sebagai bukan tahun yang baik dalam konteks kerukunan umat beragama di Indonesia justru berhasil dilaksanakan dua konferensi penting untuk menggali akar-akar konflik diantara umat beragama khususnya Islam dan Kristen. Konferensi itu adalah “The International Conference on Muslim-Christian Relations: Past, Present and Future Dialog and Cooperations”, oleh Depag RI, Jakarta 7-9 Agustus 1997 dan “Kerukunan Umat Beragama dan Studi Agama-Agama di Perguruan Tinggi” oleh LPKUB.

Dalam konperensi yang pertama yaitu “The International Conference on Muslim-Christian Relations: Past, Present and Future Dialog and Cooperations”, EG Singgih menceritakan secara garis besar bagaimana konperensi itu berjalan, sesi demi sesi dimana tiap sesi mengusung tema tersendiri.

Sesi I membicarakan theological resources untuk saling memahami antara Islam dan Kristen. Dalam sesi ini ada hal penting dan menonjol yang patut dicatat dan ditanggapi yaitu muncul perdebatan apakah Allah dari agama Islam, Kristen dan Yahudi sama. Seorang pembicara, Ayoub mempunyai pikiran bahwa Allah ketiga agama adalah sama. Hal ini ditentang oleh sebagian besar peserta. EG Singgih sendiri mempunyai pendapat yang sama, yaitu bahwa Allah dari ketiga agama itu adalah pribadi yang sama.

Adalah sangat mengecewakan jika seorang Guru Besar mempunyai pendapat bahwa Allah yang disembah oleh orang-orang Islam dan Kristen adalah pribadi yang sama. Tidak perlu menjadi seorang sarjana teologi untuk bisa melihat bahwa Allah orang-orang Islam dan Kristen itu beda pribadi. Pesan oleh “Allah” orang Islam jelas berbeda dengan Allah orang Kristen melalui Jesus. Jawaban terhadap pertanyaan ini tergantung kepada apa yang dimaksud dengan ”Allah yang sama.”

Tidak dapat disangkal bahwa pandangan Islam dan Kekristenan terhadap Allah memiliki banyak kesamaan. Kedua-duanya memandang Allah sebagai yang Berdaulat, Maha Kuasa, Maha Tahu, Maha Hadir, Maha Suci, Maha Adil, Maha Benar. Baik Islam maupun kekristenan percaya Allah yang Esa; Pencipta segalanya. Dalam definisi ini, ya, benar, orang Kristen dan Islam menyembah Allah yang sama.

Pada saat yang sama, ada perbedaan-perbedaan yang hakiki antara Kristen dan Islam dalam pandangannya terhadap Allah. Walaupun kaum Muslimin memandang Allah sebagai Allah yang memiliki atribut kasih, pemurah dan penuh rahmat, Allah tidak mengungkapkan atribut-atribut ini sebagaimana di kekristenan.

Perbedaan paling menyolok dalam pandangan Islam dan Kristen mengenai Allah adalah mengenai inkarnasi.

Orang Kristen percaya bahwa Allah telah menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus. Orang Islam memandang konsep ini sebagai penghujatan terbesar. Orang Islam tidak pernah bisa menerima konsep pemikiran bahwa Allah pernah menjadi manusia dan mati demi menebus dosa-dosa dunia ini. Iman bahwa Allah Putera telah berinkarnasi dalam Pribadi Yesus Kristus sangat mendasar dalam iman kepercayaan Kristen kepada Allah. Allah Putera telah menjadi manusia sehingga Dia dapat berempati dengan manusia, dan yang lebih penting, Dia bisa menyediakan keselamatan, melalui penebusan dosa manusia di kayu salib. ”Apakah orang-orang Kristen dan Islam sama-sama memiliki pengertian yang benar mengenai siapakah Allah itu?” Jawabannya jelas adalah tidak.

Ada perbedaan-perbedaan yang sangat krusial antara konsep Kristen dan Islam mengenai Allah. Kekristenan percaya bahwa mereka memiliki pandangan yang benar terhadap Allah karena tidak mungkin akan ada keselamatan kecuali kalau dosa manusia sudah dibayar lunas atau ditebus.

Hanya Allah yang dapat membayar harga seperti itu. Hanya dengan menjadi manusia, Allah dapat mati untuk dosa kita dan melunasi hutang dosa kita (Roma 5:8; 2 Korintus 5:21).

Sesi II membicarakan dimensi relio-socio-political hubungan Islam-Kristen pada masa Medieval. Dalam sesi ini EG Singgih kurang setuju dengan pemaparan seorang pembicara yaitu Dr. T. Abdullah. Menurut EG Singgih, pandangan Dr. T Abdullah agak berat sebelah dan memaparkan sejarah hanya dari sudut pandang kepentingan Islam. Dalam konteks sejarah, hanya memaparkan hal-hal yang berasosiasi kepada agresivitas orang-orang Kristen ke wilayah lain pada masa lalu, tetapi tidak memaparkan agresifitas orang-orang Islam pada masa lalu. Menurut EG Singgih kupasan sejarah dari Dr. T. Abdullah mengabaikan segi politik.

Yang cukup menarik adalah istilah “medievalism” yang diangkat oleh Dr. T. Abdullah, yaitu usaha memberikan gambaran yang mengerdilkan terhadap satu sama lain akibat warisan gambaran turun temurun akibat situasi yang terjadi di Eropa pada abad pertengahan. Warisan gambaran ini menimpa orang-orang Islam di Indonesia, dimana menurut Dr. T. Abdullah banyak penulis yang mengaburkan Islam pada orang Jawa dan banyak menganggap orang Jawa sebagai Kejawen dan bukan Islam. EG Singgih tidak sependapat, dalam tulisannya “Contextualization and Interreligious Relationship in Java: Past and Present” berpendapat bahwa yang disangka Islam dan Kristen yang disinkretiskan itu sebenarnya Islam dan Kristen yang sudah dikontekstualisasikan (misalnya Kyai Sadrach).

Dalam meningkatkan relasi hubungan Islam-Kristen, senada dengan Dr. T. Abdullah harus menyingkirkan warisan “medievalism” EG Singgih juga menambahkan harus fokus pada Islam-Kristen yang kontekstual. Selain itu, semua orang sebaiknya mengikuti resep apa yang baik bagi manusia, yakin akan kebaikan yang dapat dan telah kita lakukan, tetapi tetap mau belajar dari satu sama lain mengenai apa yang baik dan bersama-sama menuju cita-cita universal mengenai apa yang baik bagi manusia. Selanjutnya, harus ada perubahan konsep “the other” serta reinterpretasi dakwah dan misi harus berkaitan langsung dgn pertanyaan siapakah sesamaku manusia.

Sesi III membicarakan economic, political, and cultural impacts of colonial period on Muslim-Christian relations serta human rights in Muslim-Christian perspectives. Selanjutnya, EG Singgih berpendapat bahwa meski akar permasalahan hubungan Islam-Kristen bisa digali dari masa lalu tetapi sebenarnya jenuh melarikan diri dari kesulitan bersama yang dihadapi pada masa kini dengan melemparkan kesalahan pada masa lalu padahal harus menyelesaikan masalah dengan analisa masa kini.

Selanjutnya EG Singgih sependapat dengan pendapat Dr. Bambang Sudibyo yang menjadi salah satu pemapar bahwa pemerataan kekayaan harus dipacu, pendidikan harus ditingkatkan serta demokrasi harus digalakkan di Indonesia. Ketiga hal ini membantu meredakan konflik, tetapi mengenai obat untuk agresifitas kedua agama EG Singgih mempunyai pendapat sendiri. Dr. B Sudibyo yang mengandaikan hubungan Islam-Kristen Indonesia seperti Malaysia tidak tepat. Faktor penduduk jelas berbeda. Selain itu Indonesia adalah Negara Pancasila yang tidak mengenal agama Negara sedangkan Malaysia mengenal agama Negara. Menyusun UU yang melindungi jemaat agama Negara meski EG Singgih tidak setuju tetapi dapat mengertinya, tetapi dalam Negara Pancasila yang menjamin kebebasan beragama dan telah meratifikasi Piagam Ham PBB adalah aneh. Obat agresifitas religious bukanlah UU tetapi perubahan pemahaman tentang siapakah “the others”.

Sesi IV membicarakan tentang hak asasi manusia. EG Singgih setuju dengan Ayoub yang berkeberatan dengan kebebasan individu yang terlalu besar dari dunia barat yang menekankan hak. EG Singgih berpendapat nada individualistik dalam Deklarasi HAM harus direvisi dan ditekankan dari konteks masing-masing dan perlindungan bagi yang terkena dampak, tetapi revisi tidak mengecilkan makna universal dari  deklarasi HAM.

Hasil dari pertemuan konferensi yang pertama, EG Singgih berpendapat bahwa pertama tetap yakin bahwa sikap paling baik yang dapat ditampilkan orang Kristen adalah sikap dialogis serta sikap ini tidak dimodifikasi oleh kerusuhan-kerusuhan anti Kristen. Kedua meski bertekad mempertahankan dialog dalam suasana kerukuna beragama, tapi bersikap realistis dan tidak memutlakkan idealismenya.

Sikap yang realistis dan menghentikan dan atau menunda sikap dialogis karena terpengaruh suasana menyeluruh, lalu membuat generalisasi yang menyeluruh ataupun sikap membuta tidak menyadari kerusuhan-kerusuhan anti Kristen dan bahkan menyalahkan gereja yang mengalami musibah adalah dua sikap yang tidak menolong keluar dari kebuntuan relasi Islam-Kristen. Jadi mempertahankan sikap dialogis dan sikap realistis dalam ketegangan yang kreatif adalah sikap yang tepat.

Dalam konperensi yang kedua “Kerukunan Umat Beragama dan Studi Agama-Agama di Perguruan Tinggi” oleh LPKUB, ketua LPKUB yaitu Dr. B. Daja memberikan makalah yang dikembangkan oleh Menteri Agama yang kagum bahwa di Perguruan Tinggi di barat banyak mendirikan pusat studi Agama dengan asumsi bahwa studi agama akan membawa saling pengertian dan dengan demikian akan membawa kerukunan beragama. Selanjutnya dalam konperensi ini banyak membahas mengenai metodologi perbandingan agama, bagaimana tepatnya. Banyak pembicara yang memberikan usulan dan pendapat. Ada yang berpendapat sebaiknya memakai istilah “Ilmu Pengenalan Agama” daripada “Perbandingan Agama” karena kesannya seperti membanding-bandingkan agama. Duta Wacana tidak menggunakan istilah perbandingan agama tetapi “Fenomologi Agama”.

Selanjutnya EG Singgih sepakat dengan Amin Abdulah yang memakai istilah “Ilmu Perbandingan Agama” jika berbicara system dan metode, tetapi jika yang dimaksud adalah hegemoni kultural era imperialism, yang jika dibandingkan dengan agama lain, agama Kristen lebih unggul, maka dia tidak setuju.

Secara umum, EG Singgih berpendapat tujuan seminar belum tercapai sebab yang diinginkan dalam studi agama bukanlah situasi satu agama yang jadi criterion, melainkan ilmu agama yang menjadi criterion.

Kita juga harus mengakui warisan pemahaman supersesionisme seperti yang dipaparkan pembicara Dr. Komarudin Hidayat, ataupun kultural-hegemonis-imperialis yang dipaparkan Amin Abdulah juga kuat di kalangan Kristen terutama jaman sekarang ketika orang Kristen sering jadi sasaran kerusuhan.

EG Singgih berharap dari kedua pertemuan itu, para pakar dan teolog kedua agama akan sering berdialog, tukar pikiran, tidak hanya dalam konteks akademis tetapi warga masjid dan gereja dengan asumsi, warga religious berwawasan pluralis, tinggal bagaimana potensi ini diaktualisasikan.

 

 

 

Penginjilan Dalam Konteks Asia

TUGAS INTERAKSI BUKU

Mata Kuliah                 : Misi Kontekstual

Judul                            : Artikel “Penginjilan Dalam Konteks Asia” oleh W. Stanley Heath, Ph. D, D.D.

 

Dalam artikel ini, W. Stanley Heath, Ph.D, memaparkan masalah besar dalam penginjilan pada umumnya, secara khusus dalam konteks Asia dan lebih khusus lagi Indonesia. Ada pernyataannya yang sangat menarik yaitu pemberitaan Injil akan mandul jika mereka yang mendengar berita Injil tidak dapat meyakini kebenaran Alkitab sebagai Sabda-Allah. Keyakinan akan kebenaran Alkitab inipun harus bersifat tuntas dalam segala sektor kehidupan. Seharusnya, untuk dapat memahami Alkitab sebagai kebenaran Firman Tuhan harus lewat sudut pandang Alkitab sendiri. Tetapi hal ini tidak mungkin bisa, bahkan hamper mustahil, begitu pendapat Stanley Heath. Hal ini terjadi karena pengertian yang jelas tidak dapat disimpulkan berdasar penelitian terhadap dunia yang sudah kehilangan normalitasnya.

Ada dua masalah besar yang harus diperhatikan dalam penginjilan, yaitu masalah Kosmologi dan masalah Epistemologi.

Tentang masalah Kosmologi, atau sudut pandang, menurut Stanley Kosmologi ini topic yang maha penting yang sering terabaikan dalam penginjilan.

Masalah Kosmologi, Stanley melihatnya dari dua sudut yang harus disimak yaitu Sudut Kepercayaan dan Pengkomunikasian.

Pertama yaitu Sudut Kepercayaan:

Stanley Heath mengamati bahwa hampir semua orang yang terlibat dalam penginjilan memanfaatkan pola penginjilan yang dirintis di dunia Barat. Meski memberi hasil, Stanley berpendapat bahwa hal ini mungkin terjadi karena secara umum pendidikan orang Asia sudah beralin ke pola pendidikan Barat. Stanley mengajak untuk merenungkan lagi apakah hal ini akan selalu memberi hasil yang baik dan maksimal terutama jika diterapkan pada tempat yang berbeda. Bahkan selanjutnya Stanley mengingatkan agar kegembiraan akan hasil yang telah dicapai tidak mengaburkan penglihatan kita akan golongan-golongan lain yang mungkin saja memerlukan pendekatan dengan cara lain. Stanley kemudian memberi contoh pola penginjilan di Barat dan di Asia memiliki Kosmologi yang sangat berbeda.

Kedua yaitu Pengkomunikasian Injil:

Stanley dengan tepat menyatakan bahwa tidak ada jalan pengkomunikasian Injil kecuali melalui sarana bahasa. Tetapi dalam hal inipun akan timbul masalah juga karena bahasa yang kita pergunakan belum tentu sama dengan bahasa mereka, bahasa disini meliputi semua aspek bahkan termasuk bahasa isyarat non-lisan.

Selanjutnya Stanley dalam menunjukkan arti penting bahasa dalam mengatasi kendala perbedaan bahasa mengajukan beberapa contoh kata kunci. Kata kunci yang dipaparkannya yaitu: Selamat, Dosa, dan Yesus. Stanley kemudia menguraikan secara singkat betapa makna ketiga kata itu bisa berbeda-beda tergantung dari kebangsaan dan wilayah area dimana kata itu diterapkan.

Stanley menekankan bahwa tidak cukup jika bahasa hanya jelas bagi kita sendiri, dalam penginjilan harus ada kesamaan makna diantara kedua pihak, pemberita Injil dan pihak penerima berita Injil. Stanley sangat meragukan efektifitas dan keberhasilan pemberita Injil pada masyarakat nir-Kristen jika si pemberita Injil tidak memahami pengkomunikasian Injil terhadap kosmologi masyarakat setempat dimana Injil akan diberitakan.

Selanjutnya tentang masalah Epistemologi, yaitu ilmu pembenaran; pembenaran Injil dan pembenaran sumber Injil. Dengan menarik, Stanley memaparkan bahwa banyak orang pandai, cerdik cendekia mengalami kebutaan rohani, kebal terhadap berita Injil, hal ini terjadi bukan karena tidak tahu tetapi terhambat oleh suatu system berpikir yang dibiasakan selama bertahun-tahun. Secara umum, orang-orang ini sudah biasa menerima kosmologi “ilmiah” yang berbeda dengan Kosmologi Alkitab yang sangat berbeda sifatnya bahkan mungkin bertentangan, akibatnya Alkitab ditolak dan dicurigai kebenarannya.

Beberapa pakar misiologi membagi tiga jalur peyakinan secara khas, yaitu Barat dengan ciri pengajatran yang masuk akal, yang kedua India dengan ciri terpesona dengan pengalaman gaib dan ketiga China dengan ciri melihat kebahagian sebagai bukti kebenaran. Ketiga hal itu bisa membawa orang pada Yesus tetapi menurut Stanley hanya corak Barat saja yang harus dipakai karena metode yang lain menurut Stanley kurang komunikatif, serta corak yang lain banyak kelemahan dan mudah dipatahkan.

Sebagai penutup, Stanley mengusulkan agar seluruh lembaga penginjilan menambahkan satu bab atau bagian yang penting dalam laporan mereka yaitu mengenai kemajuan dalam tugas mengIndonesiakan pola pelayanan yang dilakukan. Hal ini penting mengingat menurut pengamatan Stanley lembaga-lembaga cenderung melestarikan penatalaksanaan masa lampau tanpa mempertimbangkan konteks bahwa dunia selalu berubah.