“Kucing Hitam”, short story by Edgar Allan Poe

Dari narasi terliar namun sederhana yang hendak kukisahkan ini, aku sama sekali tidak berharap atau meyakini apapun. Aku pasti gila bila mengharapkan sesuatu, karena jelas-jelas seluruh akal sehatku telah menolak bukti-bukti yang ada. Aku masih waras – dan yang pasti, aku tidak sedang bermimpi. Aku paham, kematian akan menjemputku esok, untuk itu aku akan melepaskan seluruh beban jiwaku hari ini. Keinginan terbesarku adalah hidup di atas bumi ini secara sederhana, tanpa beban dan tanpa keluhan; hanya menjalani rangkaian peristiwa kehidupan yang biasa-biasa saja. Keinginanku ini telah banyak mendatangkan kengerian tersendiri bagiku – menyiksaku, menghancurkanku. Namun aku tak ingin menceritakannya di sini. Bagiku, semua itu adalah kisah horor dalam kehidupanku – meskipun bagi sebagian orang mungkin kisahku tak sebanding dengan kisah-kisah begaya baroque yang hebat.

Beberapa pendapat intelektual mungkin akan mematahkan kisah fantasiku ini di beberapa bagian – pendapat-pendapat intelektual yang lebih tenang, lebih logis, dan jauh lebih menjemukan dari apa yang akan kukemukakan. Meskipun demikian, aku akan menanggapinya dengan biasa saja, karena semuanya tak lebih dari rangkaian sebab dan akibat alami yang sederhana.

Sejak kecil, aku telah dikenal karena sifatku yang lemah-lembut dan memiliki jiwa kemanusiaan yang tinggi. Kelembutan hatiku begitu jelas terpancar sehingga seringkali menjadi bahan lelucon bagi kawan-kawanku. Aku sangat menyukai hewan, dan kedua orang tuaku pun memanjakanku dengan mengizinkanku memelihara berbagai jenis hewan peliharaan. Bersama mereka aku banyak menghabiskan sebagian besar waktuku, dan tak pernah kurasakan kebahagiaan yang jauh lebih besar dibandingkan saat-saat aku memberi makan dan bercengkerama dengan mereka. Karakter aneh ini bertambah kuat seiring dengan pertumbuhanku, dan begitu aku beranjak remaja, aku semakin menegaskan bahwa ini merupakan salah satu sumber kesenanganku yang utama. Bagi mereka yang telah merasakan cinta-kasih dari seekor anjing yang setia dan cerdas, maka penjelasanku mengenai apa yang kurasakan mungkin dapat dipahami dengan mudah oleh mereka. Ada sesuatu yang terasa dari cinta-kasih yang begitu tulus dan penuh pengorbanan dari hewan itu, yang hanya dapat dirasakan secara langsung oleh mereka yang telah seringkali mengalami pahit-manisnya jalinan persahabatan dengan sesama manusia biasa.

Aku menikah di usia muda, dan betapa senangnya saat kudapati bahwa istriku pun memiliki sifat yang sama. Ia tak pernah mengeluh atau menolak keinginanku untuk memelihara hewan peliharaan. Kami memelihara burung, ikan emas, seekor anjing yang manis, beberapa ekor kelinci, seekor kera kecil, dan seekor kucing.

Kucing yang kami miliki ini berukuran sangat besar dan sangat cantik, seluruh tubuhnya berwarna hitam, dan ia luar biasa cerdas. Berbicara mengenai kecerdasan si kucing, istriku, yang sesungguhnya tidak mempercayai hal-hal supranatural, namun terkadang ia pun mengaitkan kecerdasan hewan tersebut dengan pendapat kuno, yaitu bahwa seluruh kucing berwarna hitam merupakan penjelmaan penyihir. Aku paham bahwa pendapatnya tersebut tidaklah serius ia kemukakan – dan alasan kuceritakan hal ini, hanya karena kebetulan saja terlintas di benakku.

Pluto – nama kucing itu – adalah hewan peliharaan yang paling kusukai dan ia juga merupakan temanku bermain. Aku sendiri yang selalu memberinya makan, dan ia juga selalu mengikutiku kemana pun aku pergi di sekeliling rumah. Dan aku selalu mengalami kesulitan untuk mencegahnya mengikutiku ketika keluar rumah.

Persahabatan kami berlangsung lama, tepatnya selama bertahun-tahun, bahkan ketika aku harus melewati masa-masa di mana temperamen dan karakterku mengalami perubahan radikal terburuk – (betapa malunya aku untuk mengakui ini). Hari demi hari, suasana hatiku berubah menjadi semakin tak menentu, aku menjadi orang yang semakin menyebalkan, dan semakin tidak peduli terhadap perasaan orang lain. Aku mulai berbicara dengan kata-kata kasar dan penuh amarah pada istriku, hingga akhirnya berlanjut dengan menyakitinya secara pribadi. Perubahan sifatku ini pun harus dirasakan pula oleh hewan-hewan peliharaanku. Aku tak hanya mengabaikan mereka, namun juga memperlakukan mereka dengan buruk. Namun, khusus bagi Pluto, aku berusaha menahan diri untuk tidak menyakitinya; sedangkan bagi para kelinci, kera, atau bahkan si anjing, aku sama sekali tidak menahan diriku untuk memperlakukan mereka dengan buruk, terutama bila tanpa sengaja mereka melintas atau berada di dekatku. Penyakitku ini kurasakan bertambah semakin parah – karena bagiku, penyakit adalah bagaikan Alkohol! – hingga pada akhirnya, Pluto, yang kini semakin tua dan semakin mengesalkan, harus pula merasakan dampak dari temperamen burukku.

Pada suatu malam, saat pulang dalam keadaan sangat mabuk, aku merasa bahwa kucing itu mengabaikan kedatanganku. Aku pun dengan geram langsung menangkapnya; perbuatan kasarku itu membuatnya takut, sehingga ia pun melukai tanganku dengan gigi-giginya. Amarahku semakin memuncak seketika, seolah iblis telah menguasaiku. Aku bukanlah diriku lagi. Jiwaku seperti melayang pergi meninggalkan ragaku; dan sebagai gantinya, sesuatu yang lebih buas, kasar serta menakutkan mengisi ragaku yang kosong itu. Tanganku meraih sebuah pisau-pena dari dalam saku mantelku, kubuka, sementara tanganku yang lain masih memegangi si kucing, kemudian pisau itu kutusukkan ke arah matanya dan mencongkel bola mata kucing malang itu! Aku memerah, aku terbakar, aku merasa jijik, saat melakukan perbuatan kejam tersebut.

Begitu pagi datang dan kesadaranku mulai pulih – aku jatuh tertidur setelah melalui malam yang melelahkan – aku merasakan perasaan yang bercampur-aduk, sebagian dari diriku merasa ketakutan, sebagian merasa amat menyesal, karena perasaan bersalah dari perbuatanku semalam; namun di sisi lain, aku pun merasa lemah dan bimbang, serta merasa bahwa jiwaku tetap tak tersentuh. Aku menenangkan hatiku dengan cara menenggelamkan diriku dengan minum-minum anggur, agar peristiwa itu cepat terlupakan.

Sementara itu, kesehatan si kucing perlahan mulai membaik. Matanya yang telah tercongkel sungguh menunjukkan pemandangan yang mengerikan, namun ia tampak tak lagi merasakan sakit. Kucing itu telah mampu menjalani kebiasaannya seperti semula, yaitu berjalan kesana-kemari keliling rumah, namun segera melarikan diri dengan penuh ketakutan begitu kudekati. Hatiku sedih dan merasakan kehilangan yang amat mendalam begitu menyaksikan peristiwa tersebut, menyadari bahwa makhluk yang dulu pernah begitu menyayangiku kini berbalik membenciku. Kondisi ini perlahan mendatangkan rasa kesal bagiku. Lalu pada akhirnya, seolah-olah hendak melengkapi keterpurukkan jiwaku, hadirlah sifat JAHAT yang kemudian mengisiku. Tak ada akal sehat yang menyertai sifat ini. Aku tak lebih yakin bahwa jiwa murniku masih hidup, dibandingkan dengan keyakinanku bahwa kejahatan merupakan bagian dari detak jantung manusia – yaitu, salah satu sifat atau sentimen dasar yang mewarnai dan menggambarkan karakter seorang manusia. Mengapa mereka yang telah berulang kali, mendapati dirinya melakukan perbuatan jahat atau bodoh, dengan alasan yang tak lain karena mereka paham bahwa perbuatan itu tak seharusnya dilakukan, masih terus melakukannya? Bukankah kita memiliki kecenderungan yang selalu dilakukan secara terus-menerus, dalam kemampuan penilaian kita yang terbaik, yaitu bahwa Hukum tercipta untuk dilanggar, semata-mata karena kita sesungguhnya memahami bahwa itulah yang seharusnya terjadi? Sifat jahat ini, seperti yang telah kukatakan, menjadi pelengkap akhir dari keterpurukkan jiwaku. Bagaikan penantian panjang dan hasrat mendalam dari jiwaku untuk menyakiti dirinya sendiri – menawarkan kekejaman bagi dirinya sendiri – melakukan perbuatan buruk demi keburukan itu sendiri – yang mendorongku untuk terus melanjutkannya dan melahap sendiri rasa sakit dari perbuatan kejamku pada hewan malang itu. Pada suatu pagi, dengan darahku yang dingin, aku melilitkan seutas tali di lehernya dan menggantungkannya di batang sebuah pohon; aku melakukannya dengan berderai air mata, dan kegetiran dari rasa sesal tersirat di dalam hatiku; aku menggantungnya karena kutahu ia pernah menyayangiku, dan karena karena ia tak memberiku alasan untuk menyakitinya; aku menggantungnya karena dengan perbuatan itu aku telah melakukan sebuah dosa – dosa besar yang balasannya akan diterima oleh jiwaku yang fana – jika hal itu memang mungkin terjadi – bahkan melampaui jangkauan pengampunan dari Tuhan, Sang Maha Pengampun dan Sang Maha Besar.

Malam harinya, pada hari yang sama aku melakukan perbuatan kejam itu, tiba-tiba aku terbangun dari tidur karena suara desiran api. Tirai-tirai di sekeliling ranjangku terbakar oleh nyala api. Seluruh rumah pun terbakar. Aku, istriku, dan seorang pelayan kami mengalami kesulitan ketika menyelamatkan diri dari kobaran api yang menjilat-jilat. Semua hancur. Seluruh kekayaan duniawiku habis dilalap api, dan aku mendapati diriku terkalahkan dan putus asa.

Aku berada pada puncak lemahku untuk mencari rangkaian sebab dan akibat, di antara musibah dan kekejaman ini. Namun berusaha untuk merinci rantai fakta-fakta – dan bertekad agar tak satupun sambungan rantai itu tidak sempurna. Satu hari setelah peristiwa kebakaran itu, aku kembali mengunjungi puing-puing bekas kebakaran. Salah satu dinding di rumahku telah runtuh, tepatnya dinding sebuah kompartemen; ukurannya tidak terlalu tebal dan berdiri di sekitar bagian tengah rumah, serta berada di sisi lain kamar tidurku, berbatasan dengan bagian kepala ranjangku.  Bagian plester yang melapisinya, sanggup menahan kobaran api – sebuah fakta yang kuyakini ada karena beberapa saat sebelumnya dinding itu baru dilapisi lapisan plester tersebut. Di sekitar dinding ini, beberapa orang tengah berkumpul; mereka memeriksa dan mengamati setiap bagian dengan bersungguh-sungguh. Kata-kata “aneh!” “ajaib!” dan berbagai seruan lain serupa terlontar dari mulut-mulut mereka, dan membuat rasa penasaranku semakin membesar. Aku bergerak mendekat dan melihat, seperti sebuah ukiran timbul pada permukaan putih, dengan bentuk seekor kucing yang amat besar. Detail ukiran itu tampak sangat akurat dan luar biasa mengagumkan Ada seutas tali yang melilit leher kucing itu.

Ketika pertama kali aku melihat pemandangan ini, rasa penasaran dan perasaan takut yang kurasakan sangatlah kuat. Namun tiba-tiba sebuah ingatan sedikit membantuku. Aku masih ingat, kucing itu tergantung di sebuah pohon yang tumbuh di halaman, pohon itu berbatasan langsung dengan rumah. Begitu peristiwa kebakaran terjadi, halaman itu segera dipenuhi oleh orang-orang yang datang –  seseorang pasti telah memotong tali yang menggantung kucing itu dan melemparkannya, melalui jendela yang terbuka, ke dalam kamar tidurku. Hal ini mungkin dilakukan ketika melihatku sudah terbangun dari tidur. Reruntuhan dinding-dinding lainnya telah menekan jasad dari korban kekejamanku ke dalam cairan plester yang baru saja disapukan beberapa waktu lalu; campuran cairan kapur dan zat amonia dari jasad itu, ditambah dengan panasnya kobaran api, telah menciptakan suatu bentuk ukiran seperti yang kulihat tersebut.

Meskipun aku mencoba berpikir dengan seluruh akal sehatku mengenai kejadian itu, namun fakta yang begitu detail tersebut tak sanggup kuhilangkan dari dalam benakku dan terus mengusik rasa penasaranku. Selama berbulan-bulan, fantasi tentang kucing itu terus menghantuiku; dan sepertinya, selama masa-masa tersebut, jiwa sentimenku yang separuh hilang kini telah kembali, meskipun aku tak sepenuhnya yakin, yaitu perasaan menyesal. Perasaan menyesal itu kurasakan cukup mendalam; aku menyesal bahwa hewan itu telah pergi dan penyesalan pun kurasakan ketika melihat ke sekelilingku, seolah-olah para hewan dari spesies yang sama, atau berpenampilan sama, yang tampak serupa dengan si kucing, kini terus menghantui dan tampak selalu berkeliaran di sekitarku.

Pada suatu malam, ketika aku duduk terdiam, masih dalam kondisi jiwaku yang buruk, mataku tiba-tiba terpaku pada sesosok obyek berwarna hitam. Sosok itu tengah berbaring di salah satu patung babi hutan berkuran besar berwarna seperti Gin atau seperti Rum, yang menjadi bagian utama dari seluruh perabotan di apartemen itu. Aku berusaha untuk menatap dengan teliti ke atas patung babi hutan itu selama beberapa menit, dan sesuatu yang membuatku terkejut adalah, aku tak menyadari keberadaan obyek itu sebelumnya. Aku memutuskan untuk bergerak mendekatinya, dan menyentuhnya dengan tanganku. Obyek itu adalah si kucing hitam – dengan ukuran yang sangat besar – ukurannya sebesar Pluto, dan setiap detail tubuhnya sangat serupa dengan Pluto. Seluruh bulu di tubuh Pluto sepenuhnya berwarna hitam, tak ada sehelaipun berwarna putih; namun kucing yang satu ini memiliki bagian bulu yang berwarna putih, meskipun tidak terlalu mencolok, bulu-bulu itu menutupi hampir seluruh bagian dadanya.

Ketika tanganku akan mendekat untuk menyentuhnya, ia tiba-tiba bangkit, dan mengeong nyaring, menggosokkan tubuhnya di tanganku, dan tampak senang dengan kehadiranku. Hewan seperti inilah yang selama aku cari. Seketika itu pula aku mendatangi sang pemilik apartemen dengan niat untuk membeli hewan itu; namun orang itu berkata bahwa ia bukanlah pemilik kucing tersebut – ia tak tahu-menahu tentang keberadaan kucing itu – ia bahkan belum pernah melihatnya sebelumnya.

Aku masih tetap membelai-belai kucing itu, dan ketika aku hendak beranjak pulang, ia menunjukkan sikap ingin turut serta bersamaku. Aku pun mengizinkannya untuk ikut; sesekali aku masih membelai dan mengusap-usap bulunya di sepanjang perjalanan kami. Begitu kami tiba di rumah, ia langsung membuat dirinya nyaman seolah-olah itu memang rumahnya, dan istriku pun langsung jatuh hati padanya.

Sedangkan bagi diriku sendiri, entah dari mana datangnya namun rasa benci itu segera muncul di dalam diriku. Ini merupakan kebalikan dari apa yang selama ini berupaya untuk kuhindari; namun aku sama sekali tak mengerti bagaimana atau mengapa perasaan ini muncul – rasa suka itu berubah menjadi rasa jijik dan rasa terganggu. Perlahan, rasa jijik dan rasa terganggu ini semakin tumbuh menjadi kebencian yang pahit. Aku berusaha untuk menghindari makhluk itu; ada rasa malu, dan kilasan kenangan mengenai perbuatan kejamku di masa lalu yang selalu menghantui, sehingga mencegahku untuk berupaya melukai makhluk itu secara fisik. Selama berminggu-minggu, aku sama sekali tak berusaha untuk memukulnya atau menciderainya; namun pada akhirnya, secara perlahan-lahan – sangat perlahan – aku melihatnya dengan rasa enggan yang tak terucapkan, dan selalu menghindari keberadaannya yang menjijikkan secara diam-diam, seolah-olah aku ingin menjauhkan diri dari wabah penyakit menular.

Untuk semakin menegaskan kebencianku terhadap kucing itu, adalah penemuan yang baru kusadari pada keesokan paginya setelah malam sebelumnya kuambil kucing itu, yaitu, seperti Pluto, kucing itu juga kehilangan salah satu matanya. Namun kondisi kekurangannya tersebut malah membuatnya semakin dicintai oleh istriku, seperti yang telah kukatakan sebelumnya, ia adalah wanita yang memiliki jiwa kemanusiaan yang amat besar, yang dulu pernah pula kumiliki dan kujadikan sebagai sumber kesenanganku, namun kini sifat itu menjadi sangat menjijikan bagiku.

Keenggananku untuk berurusan dengan kucing itu semakin meningkat di dalam diriku. Hewan itu, dengan keras hati, terus mengikuti kemanapun kakiku melangkah, hal ini mungkin sedikit sulit untuk kujelaskan kepada pembaca secara rinci. Kapanpun ia berbaring, ia akan selalu merangkak ke bawah kursi yang kududuki, atau naik ke pangkuanku dan bermanja-manja dengan malas. Ketika aku beranjak berdiri, ia akan berjalan perlahan di antara kedua kakiku hingga hampir membuatku terjatuh, atau, menancapkan cakar-cakarnya dengan lembut pada pakaian yang kukenakan, kemudian bergerak ke atas hingga posisinya seperti bergantung pada dadaku. Pada saat-saat demikian, meskipun hatiku begitu kuat ingin menghancurkannya, namun aku masih sanggup untuk menahan diri; sebagian karena kenangan perbuatan kejiku di masa lalu masih terlintas di dalam benakku, namun alasan yang utama adalah – izinkan aku untuk mengakuinya kali ini saja – karena rasa takutku yang amat besar pada kucing itu.

Ketakutan yang kumiliki bukan karena melihat penampilan fisiknya yang menyeramkan – sedikit sulit bagiku untuk menjelaskan alasannya di sini. Aku malu untuk mengakui – ya, bahkan dengan jiwa jahatku yang besar ini, aku sangat malu mengakui – bahwa ketakutan dan kengerian yang ditimbulkan oleh hewan itu bagiku tampak seperti keseraman makhluk chimaera. Istriku telah beberapa kali mengingatkanku bahwa kucing itu memiliki bulu berwarna putih di bagian dadanya, sangat berbeda dengan kucing yang pernah kubinasakan sebelumnya. Pembaca mungkin masih ingat, bahwa bagian tubuhnya yang berbulu putih itu memang cukup lebar namun tidaklah terlalu terlihat mencolok; meskipun pada awalnya bagiku tidak terlihat mencolok – bahkan aku bersikeras untuk menganggapnya tidak terlihat sama sekali – tapi, semakin lama bagian itu menjadi bagian nyata dan memberikan perbedaan yang tegas. Keberadaan makhluk yang membuatku bergetar untuk menyebutkannya – dan untuk hal ini, melebihi segala hal lainya, aku merasa enggan dan amat ketakutan, dan ingin mengenyahkan diriku sendiri dari dekat monster itu – kini, seperti berubah menjadi sosok yang sangat menyeramkan, mengerikan yang bangkit dari TIANG GANTUNGAN! Kesengsaraan dan Kematian – oh, mesin pencabut nyawa dan penghukuman yang menyedihkan dan menakutkan.

Dan kini aku terpuruk di tengah-tengah keterpurukan sisi kemanusiaanku. Dan hewan itu – saudaranya yang telah kubinasakan sebelumnya – terus menghantuiku; ia membayang-bayangiku dengan kekuatan pengaruhnya yang bagaikan Dewa Tertinggi – oh! Aku tak tahan, sialan! kini, siang atau malam, aku tak lagi merasa tenang! Kucing yang sebelumnya tak pernah membiarkanku sendiri; dan kini, kucing yang berikutnya, selalu menghantuiku dengan mimpi-mimpi menyeramkan dan mendapati makhluk itu menghembuskan napas panasnya di wajahku, serta membebaniku dengan bobotnya yang berat – sungguh mimpi buruk yang tak sanggup kujauhkan dari diriku – ia terus merongrong hatiku, selamanya!

Di bawah tekanan siksaan yang tak kunjung berhenti ini, sisi lemahku sepertinya memilih untuk menyerah kalah. Namun, pikiran-pikiran jahat muncul dan menjadi sahabat baikku – pikiran terjahat dan tergelap. Ketidakstabilan hati dan jiwaku kini semakin parah menjadi kebencian pada semua hal dan semua orang; meledaknya amarahku yang muncul secara mendadak, sering dan tak terkendali itu telah membutakan hatiku, dan seperti sebelum-sebelumnya, istriku yang tak pernah mengeluh dan penyabar itu menjadi korban utama pelampiasan amarahku.

Pada suatu hari, istriku menemaniku untuk mengerjakan beberapa pekerjaan rumah tangga. Ia mengikutiku pergi ke gudang bawah tanah dari bangunan tua ini, tempat tinggal yang terpaksa harus kami huni karena tekanan kemiskinan yang harus kami alami. Kucing itu mengikutiku menuruni tangga yang curam, dan, ia hampir saja membuatku terjungkal jatuh, hingga mendorongku ke puncak amarahku. Secara spontan, aku mengangkat kapak, dan dengan gelap mata, segala rasa takutku terhadapnya seolah hilang. Kuayunkan senjata itu, dan hendak menghunjamkannya ke tubuh makhluk tersebut, dengan harapan bahwa ia akan segera binasa. Namun tangan istriku segera menahan perbuatanku. Merasa terhalang oleh intervensi tersebut, amarahku semakin menggila, aku menarik tanganku dari genggaman istriku dan menghunjamkan kapak tersebut pada kepalanya. Ia menghembuskan napas seketika itu pula, dan jatuh terkulai tanpa rintihan.

Pembunuhan keji itu baru saja terjadi, aku pun segera menyadarkan diriku sendiri; dengan segenap usaha aku berpikir untuk menyembunyikan jasad wanita itu. Aku tak mungkin membawanya pergi dari rumah, baik di siang maupun malam hari, tanpa risiko bahwa para tetangga mungkin saja melihat. Aku memutar otak, berbagai ide muncul di dalam benakku. Sesaat aku berpikir untuk memotong-motong jasad itu menjadi beberapa bagian kecil, dan menghilangkan jejak dengan cara membakar potongan-potongan tubuh tersebut. Sesaat kemudian, ide untuk menggali lubang di lantai gudang bawah tanah dan menguburnya di sana terlintas pula di dalam kepalaku. Lalu, berpikir untuk membuang jasad itu ke dalam sumur di halaman – atau, memasukkannya ke dalam kardus dan membungkusnya sedemikian rupa dan serapi mungkin hingga tampak seperti suatu produk pabrik, lalu memanggil kurir untuk membawanya pergi dari rumah. Namun, pada akhirnya aku menemukan ide yang kuanggap terbaik dibandingkan ide-ide lainnya. Aku memutuskan untuk menyembunyikannya di dinding gudang bawah tanah – seperti yang katanya biasa dilakukan oleh para biarawan pada zaman pertengahan, di mana mereka menguburkan para korbannya di dalam dinding.

Aku rasa, inilah salah satu fungsi gudang bawah tanah. Dinding-dinding di dalam ruangan ini dibangun secara longgar, dan diberi sapuan lapisan plester seadanya, yang masih terasa basah karena kelembapan di dalam ruangan ini sangat tinggi sehingga sulit bagi lapisan tersebut untuk kering. Selain itu, pada salah satu dindingnya terdapat bagian yang menjorok ke depan, seperti tempat cerobong asap dan perapian, namun bagian itu pun telah diisi dengan material sehingga menjadi selaras dengan bagian ruangan lainnya. Aku sangat yakin bahwa tempat itu cocok bagiku untuk menyembunyikan jasad tersebut; aku hanya perlu mengeluarkan material yang mengisi rongga itu, lalu memasukkan jasadnya, dan mengisinya kembali dengan material sehingga tetap terlihat sama seperti semula.

Aku merasa yakin dengan perincian dan perhitungan rencanaku ini. Dengan bantuan linggis, dengan mudah aku dapat merobohkan batu-batu bata yang tersusun, dan dengan hati-hati aku kemudian menyandarkan jasad itu ke dinding di belakangnya. Aku mengalami sedikit kesulitan ketika harus menyusun ulang batu-batu bata tersebut ke tempatnya semula. Telah kusiapkan mortar, pasir dan serat, dengan segala perhitungan yang tepat, selain itu, aku pun telah menyiapkan cairan plester yang serupa dengan cairan semula; kusapukan cairan plester tersebut dengan sangat hati-hati di atas dinding bata yang baru kususun. Setelah pekerjaan itu selesai, aku merasa puas dengan hasilnya dan semua tampak biasa-biasa saja. Dinding itu tak menunjukkan perbedaaan dari sebelumnya. Kotoran dan sampah yang berserakan di lantai gudang kuambil satu per satu dengan saksama. Aku melihat ke sekeliling dengan rasa bangga dan lega, kukatakan pada diriku sendiri – “Akhirnya, pekerjaanku tak sia-sia.”

Tugasku berikutnya adalah mencari kemana perginya kucing itu; kucing yang telah menyebabkan segala kerepotan ini. Aku telah bertekad bulat untuk membinasakannya. Bila aku melihatnya saat itu juga, maka tamatlah riwayatnya saat itu pula; namun, sepertinya hewan cerdik itu mengerti bahwa aku hendak menghabisi nyawanya, terutama setelah melihat betapa murkanya diriku sebelumnya, sehingga kurasa ia memilih untuk menghindariku dalam suasana hatiku yang sedang buruk ini. Sulit bagiku untuk mendeskripsikan secara rinci, atau untuk membayangkan, betapa dalam dan betapa bahagia serta leganya perasaanku dengan perginya makhluk menjijikkan itu. Bahkan hingga malam hari datang, ia masih tidak menampakkan batang hidungnya – dan untuk pertama kalinya, sejak kehadiran kucing itu di rumahku, aku dapat tidur dengan begitu nyenyak; ya, tidur dengan sangat nyenyak meskipun beban dari rasa bersalah karena telah melakukan pembunuhan masih menggelayuti jiwaku!

Hari kedua dan ketiga berlalu begitu saja, dan tetap, pegancam jiwaku itu masih belum menampakkan dirinya. Sekali lagi, aku sanggup bernapas seperti orang yang merdeka. Monster yang terus menghantuiku itu kini telah pergi entah kemana, untuk selamanya! Aku tak perlu lagi melihatnya! Inilah puncak kebahagiaanku! Rasa bersalah dari perbuatan jahatku memang masih mengganggu, tapi sangat sedikit saja. Beberapa pertanyaan memang telah bermunculan, namun semua telah terjawab. Bahkan pencarian pun telah dilakukan – namun tentu saja, tak ada yang dapat ditemukan. Aku merasa bahwa kebahagiaan masa depanku sudah terjamin dan aman.

Menginjak hari keempat setelah peristiwa pembunuhan itu, sekelompok polisi tanpa terduga, mendatangi rumahku, dan melakukan penyelidikan secara saksama ke seluruh penjuru rumah. Aku merasa aman, tempatku menyembunyikan jasad itu tak mungkin ditemukan, tak sedikitpun rasa bersalah terpancar dari wajahku. Para petugas kepolisian itu memintaku untuk turut menemani mereka melakukan penyelidikan ke sekeliling rumah. Tak ada celah atau satu sudut pun yang luput dari pengamatan mereka. Kemudian, setelah tiga atau empat kali berkeliling rumah, mereka memutuskan untuk turun ke gudang bawah tanah. Aku tak merasa tegang atau bergetar. Detak jantungku masih berdegup dengan tenang, seperti seseorang yang tengah tertidur dengan lelap. Aku berjalan menyusuri setiap sisi gudang itu. Tangan kulipat di depan dadaku, dan bergerak dengan santai kesana-kemari. Para petugas polisi tampaknya telah selesai meneliti ruangan itu dan mereka pun hendak beranjak pergi. Rasa bahagiaku bergelora di dalam dada dan sulit bagiku untuk menahan luapannya. Aku pun berucap kepada mereka, dengan nada yang penuh dengan kemenangan, dan untuk menegaskan kepada mereka bahwa aku tidak bersalah.

“Tuan-tuan,” aku berseru, ketika sekelompok polisi itu menaiki anak tangga, “Saya senang karena telah berhasil menjawab segala kecurigaan Anda semua. Saya harap Anda semua sehat selalu, dan semoga Anda dapat bersikap lebih sopan lain kali. Perlu Anda semua ketahui, tuan-tuan, ini adalah rumah yang dibangun dengan konstruksi terbaik.” (Dengan hasratku yang menggebu untuk mengatakan sesuatu yang sederhana, pada kenyataannya aku sama sekali tak tahu apa yang keluar dari mulutku) – “Saya yakin sekali, ini rumah yang dibangun dengan tepat. Dinding-dinding ini – Anda ikut, tuan-tuan? – dinding-dinding ini disusun dengan sempurna”; dan di sini, dengan keberanian yang tak masuk akal, aku menghantam dengan sekeras mungkin, menggunakan tongkat yang ada di dalam genggamanku, bagian dinding bata tempat aku menyembunyikan jasad istriku.

Namun, atas perlindungan Tuhan dan penyelamatan-Nya atas diriku dari mulut iblis! Tak lama setelah gema pukulan tongkatku pada dinding itu berhenti, aku mendengar suara yang berasal dari balik dinding tersebut! –suara tangisan yang mulanya tertahan namun kemudian pecah, seperti anak kecil yang menangis sesenggukan, lalu berlanjut menjadi suara teriakan panjang, nyaring dan terus-menerus, namun suara itu terdengar tidak biasa dan tidak seperti suara manusia – lebih tepatnya, seperti suara lolongan – memekik dengan lantang, sebagian terdengar seperti sesuatu yang menyeramkan tapi sebagian lagi terdengar seperti suara kemenangan seolah-olah suara itu berasal dari neraka. Seperti perpaduan suara jeritan yang keluar dari mulut mereka yang telah dikutuk, memekik kesakitan dan suara para iblis yang berska-ria menghukum para penghuni neraka tersebut.

Pikiran-pikiran tak keruan terlintas di dalam benakku, dan akan terdengar begitu bodoh jika kujelaskan. Aku gontai dan sempoyongan, hingga bersandar pada dinding di sisi lain. Selama beberapa saat, para petugas kepolisian yang masih berdiri di anak tangga hanya terdiam dan bergerak, mereka merasa heran dan sedikit ketakutan. Kemudian, selusin lengan yang kuat mulai menghantam-hantam dinding. Semua terasa sangat nyata. Jasad itu, dalam kondisi yang sudah membusuk dan bersimbah darah, berdiri dengan tegak di hadapan seluruh orang yang berada di dalam ruangan itu. Sementara di atas kepalanya, ada sesosok makhluk seram dengan mulut merah yang terbuka dan satu mata yang tampak seperti dipenuhi kobaran api, bertenggerlah monster yang telah mendorongku untuk melakukan pembunuhan itu, dan suara nyaringnya yang telah mengantarkanku ke tiang gantungan. Jadi, selama ini aku telah mengubur kucing monster itu di balik dinding!

“Eleonora”, short story by Edgar Allan Poe

Aku berasal dari kaum yang terkenal dengan semangatnya yang membara dan hasrat yang menggebu. Orang-orang menyebutku gila; namun pertanyaan yang muncul belum kunjung terjawab, apakah kegilaan merupakan kecerdasan yang tertinggi atau bukan – apakah begitu menganggungkan – apakah begitu mendalam – semua tidaklah tumbuh dari pikiran semata, namun berasal dari puncak tertinggi kekuatan intelektual. Mereka yang bermimpi di siang hari memiliki kesadaran lebih tinggi terhadap berbagai hal yang luput dari pandangan mereka yang hanya sanggup bermimpi di malam hari. Dalam pandangan mereka yang kelabu mereka menangkap sekilas keabadian dan getaran-getaran, dan dalam terbangun, mereka sadar telah berada di tepi rahasia besar. Dalam sekejap, mereka mampu memahami kebaikan yang diajarkan oleh kebijaksanaan dan hanya sedikit pengetahuan mengenai keburukan yang mereka resapi. Meskipun demikian, mereka tampaknya mengarungi samudera “cahaya tak terlukiskan” yang begitu luas membentang tanpa penunjuk arah atau tanpa kayuh, persis seperti petualangan ahli geografi Nubian, “agressi sunt mare tenebrarum, quid in eo esset exploraturi.”

Jika memang begitu, maka kita pun dapat menyebutkan bahwa aku memang gila. Walaupun demikian, aku dapat memahami bahwa terdapat dua kondisi yang berbeda dari keadaan mentalku ini – yang pertama, kondisi pemahaman yang jelas, tak perlu diperdebatkan, dan berasal dari peristiwa-peristiwa yang terbentuk dari masa-masa awal kehidupanku. Yang kedua, kondisi yang dipenuhi dengan bayangan dan keraguan, mengacu pada masa kini serta kenangan-kenangan yang telah membentuk masa-masa kehidupanku pada tahap yang kedua. Maka dari itu, ketika aku bercerita mengenai kisah-kisah dari masa-masa terdahulu, percayalah; dan begitu aku mengangkat kisah dari masa kemudian, perhatikan saja sekilas hal yang dianggap penting, atau bahkan abaikan saja sepenuhnya, atau, jika kau masih bingung, maka anggap saja bagaikan teka-teki Oedipus.

Dia yang kucintai di masa mudaku, dan dia yang kini kenangannya masih kusimpan dengan baik, adalah putri dari saudara perempuan ibuku yang telah lama meninggal. Eleonora, begitulah nama sepupuku itu. Kami sering bermain bersama, di bawah naungan matahari tropis, di Lembah Padang Rumput Beraneka-warna. Tak seorangpun yang pernah menapakkan kakinya di lembah tersebut karena letaknya yang jauh di antara jajaran bukit-bukit menjulang yang mengelilinginya, menahan pancaran sinar matahari memasuki celah-celahnya. Tak ada jalan setapak terdekat untuk menjangkaunya, sehingga untuk tiba di rumah bahagia kami tersebut, kami harus mengerahkan tenaga yang cukup besar, melintasi hutan dengan ribuan pepohonan rindang yang menjulang, dan menjejakkan langkah demi langkah yang terpaksa harus menghancurkan kehidupan bunga-bunga indah dan semerbak yang tumbuh di lantai hutan. Di tempat itulah kami hidup menyendiri, tidak mengetahui dunia luar kecuali segala yang ada di sekeliling lembah – aku, sepupuku, dan ibunya.

Dari lokasi terpencil di balik perbukitan itu, tepatnya di sisi atas daerah tempat tinggal kami, mengalir sebuah sungai kecil yang dalam, dengan kilauan melebihi pancaran kedua mata Eleonora. Sungai itu berliku-liku dengan tenang, membentang cukup panjang hingga melintasi lembah gelap di antara jajaran perbukitan. Kami menyebutnya sebagai “Sungai Kesunyian”, karena alirannya yang begitu tenang. Tak ada suara gemuruh yang timbul dari dasar sungai tersebut, ia hanya mengalir mengikuti alirannya dengan tenang, bahkan bebatuan berkilau bagai mutiara yang terletak di dasarnya pun tak bergeming, mereka hanya diam tak bergerak, masing-masing tetap pada posisinya, dan memancarkan kilauan mereka selamanya.

Di sepanjang tepian sungai, dan aliran anak-anak sungai yang mengalir berliku-liku mengikuti alirannya, begitu juga bagian-bagian yang membentang dari tepian sungai hingga jauh ke dalam dasar sungai hingga menyentuh bebatuan yang tersebar di bawah – tempat-tempat ini, dan hampir keseluruhan permukaan lembah, dari sungai hingga menuju jajaran perbukitan yang mengelilinginya, diselimuti oleh rerumputan hijau lembut, tebal, pendek, rata dan beraroma seperti vanili, serta dihiasi pula dengan sekumpulan bunga-bunga buttercup berwarna kuning, bunga daisy putih, bunga violet ungu, dan bunga asphodel yang berwarna merah-delima. Seluruh kecantikan luar biasa tersebut seperti ingin meneriakkan dengan suara lantang kepada hati kami mengenai cinta dan keagungan Tuhan.

Di sana-sini, di sekitar padang rumput itu, seperti alam mimpi yang liar, tumbuh berbagai pepohonan yang luar biasa, dengan batang ramping dan tinggi yang tumbuh tidak secara menjulang ke atas melainkan condong dengan anggunnya mengarah menuju cahaya yang jatuh di tengah-tengah lembah saat siang hari. Pemandangan itu menyajikan perpaduan serasi dan lembut antara warna hitam dan keperakan, melebihi kelembutan kedua pipi Eleonora. Dedaunan lebar berwarna hijau yang bermunculan dari pucuk-pucuk pepohonan membentuk garis panjang bergelombang, mereka seperti tengah bercanda dengan hembusan angin sepoi-sepoi, bagi sebagian orang mereka mungkin tampak bagaikan ular-ular raksasa dari Syria yang sedang menyembah dewa Matahari.

Di lembah ini pula, selama lima belas tahun, aku berjalan-jalan menghabiskan waktuku bersama Eleonora sebelum Cinta menghampiri hati kami. Saat itu, di suatu senja mendekati usianya yang ke-limabelas, dan aku sendiri pada waktu itu berusia 20-an, kami duduk berdua sembari berpelukan erat di bawah naungan pepohonan yang tampak seperti ular, dan memandangi refleksi wajah kami di permukaan air Sungai Kesunyian. Kami menghabiskan hari yang begitu manis itu dalam diam, bahkan hingga keesokan harinya kata-kata yang terucap dari bibir kami pun hanya beberapa patah dan terlontar dengan nada yang bergetar pula. Tampaknya pada hari itu, kami telah mengusik Dewa Eros, dan kini di dalam diri kami ia telah membangkitkan amarah jiwa-jiwa para leluhur kami. Hasrat yang selama berabad-abad telah membedakan kaum kami, kini hadir dengan gejolak keinginan yang serupa, dan secara bersama-sama mampu menghembuskan angin kebahagiaan ke seluruh penjuru Lembah Padang Rumput Beraneka-warna. Perubahan pun membawa dampaknya pada berbagai hal. Keanehan pun terjadi, bunga-bunga indah, berbentuk bintang tiba-tiba tumbuh pada batang-batang pohon yang sebelumnya tidak pernah ditumbuhi oleh bunga. Warna hijau pada rerumputan tampak lebih pekat; dan ketika satu demi satu bunga daisy putih mulai layu dan mati, di tempat yang sama tampak bermunculan sepuluh bunga asphodel berwarna merah-delima menggantikan mereka. Kehidupan di sekitar kami pun tampak berjalan dengan baik; karena burung flamingo berkaki jenjang beserta burung-burung memukau lainnya tampak bahagia memamerkan bulu-bulu merah mereka sembari melintasi kami. Ikan-ikan berwarna emas dan perak memenuhi aliran sungai, dan suara gemericik air pelan terdengar dari dasar sungai, semakin lama terdengar bagaikan melodi lagu dari dentingan merdu dawai harpa Aeolus – melebihi merdunya suara manis Eleonora. Terlihat di kejauhan gumpalan awan yang sejak lama telah kami amati menggantung di atas wilayah Hesper, melayang mendekat dengan warnanya yang berpadu merah dan emas, kini memayungi kami, hari demi hari mereka semakin bergerak turun, hingga bagian terendahnya perlahan menyentuh puncak-puncak bukit. Awan-awan itu mampu mengubah kesuraman yang mereka bawa menjadi sesuatu yang luar biasa menakjubkan, dan menahan kami, bagaikan penjara abadi yang dipenuhi dengan keindahan dan kebahagiaan.

Kecantikan Eleonora setara dengan para malaikat, meskipun ia hanya seorang gadis lugu dan sederhana dengan kehidupan singkat yang penuh warna. Perasaan cinta yang menghiasi hatinya begitu nyata dan kuat, dapat kulihat betapa bahagia dirinya ketika kami berjalan-jalan bersama melintasi Lembah Padang Rumput Beraneka-warna sembari berbincang-bincang mengenai perubahan besar yang terjadi di sekitar wilayah lembah itu.

Pada suatu hari, dengan diwarnai derai tangis, perbincangan kami membahas perubahan terakhir yang kini harus menimpa kami para manusia. Sejak saat itu Eleonora pun bergumul dengan kesedihan tersebut. Kondisi ini sangat mempengaruhi hubungan kami, perbincangan kami, dan bagaikan lagu-lagu Schiraz, gambaran-gambaran dari lagu tersebut tampak terjadi, terus dan terus dalam sisa kehidupan kami.

Eleonora menyadari bahwa tangan-tangan Kematian akan merenggut jiwanya tak lama lagi – ibarat kisah satu hari, ia tercipta dengan kecantikan yang memukau hanya untuk berakhir dalam kematian; namun kematian tidaklah menakutkan baginya, demikian yang ia ungkapkan padaku di suatu senja ketika kami duduk berdua di tepian Sungai Kesunyian. Yang membuatnya resah hati adalah apabila setelah ia meninggal dan jasadnya dimakamkan di Lembah Padang Rumput Beraneka-warna, maka aku akan berhenti menghabiskan waktu berjalan-jalan di sekitar lembah itu dan menyerahkan rasa cintaku, yang kini ia miliki sepenuhnya, kepada gadis lain di luar sana. Seketika itu pula aku bersimpuh di kaki Eleonora dan bersumpah atas namanya dan Surga, bahwa aku tak akan pernah menikah dengan gadis lain – aku tak akan pernah mengkhianati kenangan dirinya, ataupun kenangan cinta-kasih yang telah ia berikan padaku. Aku pun menyerukan nama Penguasa Alam Semesta untuk menjadi saksi atas kesungguhan sumpahku. Dan aku bersedia menerima kutukan sebagai balasan dari-Nya dan Eleonora, santa-ku dari Helusion, bila aku terbukti berkhianat atas sumpahku; kutukan itu mengandung hukuman yang begitu menyeramkan hingga tak mungkin kujelaskan di sini. Kata-kata dari sumpahku mampu membuat kedua mata Eleonora berbinar; dan ia menghela napas lega seolah-olah beban mematikan telah diangkat dari dadanya. Ia bergetar dan terisak-isak, namun menerima dan mempercayai sumpahku (tak heran, karena ia pun masih gadis kecil) serta membuatnya lebih tenang dalam menghadapi ajalnya yang tak lama lagi tiba. Beberapa hari setelah itu, dalam kondisi mereggang nyawa, ia berucap padaku bahwa kata-kataku telah membuat jiwanya tenang sehingga setelah ia tiada, jiwanya akan menjagaku, bahkan bila jiwanya diizinkan untuk kembali maka ia ingin menampakkan dirinya di hadapanku begitu malam datang. Namun, jika Surga tak menghendaki hal itu, maka ia akan memberikan tanda padaku ketika ia hadir, menghembuskan udara padaku seiring hembusan angin malam atau memenuhi udara yang kuhirup dengan wewangian asap dupa para malaikat. Dengan kata-kata yang terbata-bata keluar dari kedua bibirnya, ia menutup mata dan mengakhiri kehidupan sederhananya, serta mengakhiri masa-masa awal dari rangkaian kisah hidupku.

Demikianlah dengan begitu jujurnya aku menuturkan kisahku. Namun begitu aku melewati batas waktu, yang terbentuk sejak kepergian kekasihku, lalu berlanjut dengan tahap kedua rangkaian kisah hidupku, semakin kurasakan bayangan gelap menggelayut di benakku dan kewarasanku seperti perlahan memudar. Tapi aku terus berjalan. Tahun demi tahun berlalu dengan begitu berat, dan aku masih bertahan untuk tetap tinggal di Lembah Padang Rumput Beraneka-warna; kali ini perubahan berikutnya pun turut menimpa segala hal. Bunga-bunga berbentuk bintang yang sebelumnya tumbuh di batang pepohonan kini tak lagi tumbuh kembali setelah mereka layu dan mati. Warna hijau rerumputan yang sebelumnya begitu pekat, kini telah memudar. Dan, satu demi satu bunga asphodel berwarna merah-delima perlahan layu dan mati, sebagai gantinya, di tempat yang sama, tumbuh sepuluh bunga violet yang berbentuk seperti mata dan berwarna gelap. Mereka seperti menggeliat dalam kesakitan dan selalu tertutup embun. Kehidupan yang bahagia tampaknya mulai menjauh dari kami; kini para burung flamingo tak lagi memamerkan bulu-bulu merah mereka di hadapan kami, mereka terbang dengan penuh kesedihan dari lembah menuju puncak perbukitan, bersama-sama dengan burung-burung memukau lainnya. Seluruh ikan-ikan berwarna emas dan perak pun memilih untuk berenang menuju lembah gelap dan tak lagi berenang kembali ke sungai kami. Dan nyanyian merdu yang bagaikan dentingan melodi lembut dawai harpa Aeolus, melebihi kelembutan suara Eleonora, kini telah perlahan menghilang hingga aliran sungai itu benar-benar sunyi. Dan kemudian, yang terakhir, gumpalan awan yang memayungi tempat kami semakin melayang tinggi, dan meninggalkan puncak-puncak perbukitan lalu kembali ke wilayah Hesper, tempatnya semula. Awan-awan itu membawa pergi keindahan yang begitu mulia dari Lembah Padang Rumput Beraneka-warna.

Walaupun begitu, sumpahku bagi Eleonora tetap tak terlupakan karena aku dapat mendengarkan suara-suara dentingan alat pembakar wewangian para malaikat; hembusan udara beraroma semerbak di sekitar wilayah lembah, serta kurasakan pula hembusan lembut meyapu tubuhku ketika aku menyendiri dengan dada yang berdegup kencang; suara desiran tak jelas yang memenuhi udara malam, dan sekali – oh, namun hanya sekali! Aku terbangun dari tidurku, karena merasakan bibir seseorang yang tak terlihat menekan kedua bibirku.

Kekosongan di dalam hatiku tampaknya menolak untuk diisi kembali, aku mendambakan cinta yang sebelumnya telah memenuhi relung hatiku. Namun pada akhirnya aku merasakan bahwa lembah ini telah membuatku semakin sakit dengan kenangan-kenangan Eleonora, hingga aku pun memutuskan untuk meninggalkan tempat itu demi menjemput kesombongan dan keagungan tak menentu yang ditawarkan oleh dunia luar.

Aku mendapati diriku berada di tengah kota yang asing, di mana segala hal yang berputar di tempat ini dapat menodai mimpi-mimpi manis yang aku punya di Lembah Padang Rumput Beraneka-warna. Kemegahan dan pemandangan kota yang menakjubkan, serta suara dentingan senjata logam yang menggila, kecantikan para wanita yang memukau, membingungkan serta meracuni benakku. Namun hatiku memegang teguh sumpah yang telah kuucapkan serta tanda-tanda kehadiran Eleonora yang masih dapat kurasakan mampu memberikan ketenangan di malam hari. Tiba-tiba semua ini berhenti, dan dunia perlahan menjadi semakin gelap di depan kedua mataku, aku berdiri dengan penuh ketakutan karena pikiran-pikiran bergejolak yang menganggu telah mengepungku dengan godaan-godaan mengerikan. Ketika itu, datang dari jauh, dari negeri jauh dan tak diketahui, di tengah-tengah istana raja tempat aku bertugas, hadir seorang gadis dengan kecantikan mengagumkan yang mampu membuat jantungku berhenti – di bangku kaki gadis itulah aku membungkuk tanpa perlawanan, dipenuhi gelora dan tunduk bagai tengah memuja cinta sejati. Namun apakah sesungguhnya hasrat sejatiku bagi gadis lembah itu sebanding dengan kuatnya gairah, buaian pesona dan kekaguman memabukkan yang membuncah di dalam hatiku ketika aku terdiam di kaki malaikat Ermengarde dari surga? – Oh, betapa bersinarnya sang malaikat Ermengarde! hingga tak ada lagi yang sanggup memenuhi pikiranku – Oh, betapa agungnya sang malaikat Ermengarde! dan ketika aku menatap dalam-dalam kedua matanya, tak ada hal lain yang memenuhi benakku – hanya dia seorang.

Aku telah menyatu dengannya; – aku tak lagi takut terhadap kutukan yang akan menimpaku; kegetirannya pun tak lagi menghampiriku. Dan sekali lagi – hanya sekali saja dalam kesunyian malam, hadir melalui celah-celah jendela, hembusan suara berdesir lembut yang telah lama meninggalkanku. Sayup-sayup seperti kudengar dari desiran itu, suara yang amat kukenal berucap dengan manis, mengatakan:

“Tidurlah dengan nyenyak! – karena kekuatan Cinta-lah yang utama dan berkuasa, dan karena hasrat hatimu yang begitu besar bagi sang Ermengarde, maka kau terbebaskan, dengan alasan yang akan Eleonora sampaikan sendiri padamu di Surga.”

“Detak Jantung dan Hati yang Meracau”, short story by Edgar Allan Poe

Memang benar! Aku gelisah, sangat-sangat gelisah pada waktu itu — sekarang pun masih. Namun, mengapa kalian menyebutku gila? Rasa sakit menajamkan inderaku, bukan melemahkannya. Apalagi, membuatnya tumpul. Dibanding indera lainnya, indera pendengaranku paling tajam. Aku mendengar semua hal di langit dan di bumi. Aku mendengar suara di neraka. Bagaimana bisa aku disebut gila? Dengarlah! Kalian akan tahu betapa warasnya aku. Betapa tenangnya aku. Akan kuceritakan kepada kalian seluruh detail kejadiannya.

***

Sulit menceritakan bagaimana mula-mula pikiran itu menyusup dalam benakku. Namun, begitu masuk, pikiran memburuku siang malam. Tak ada niat dan aku tak ada dendam padanya. Aku mencintai orang tua itu. Ia tak pernah berbuat salah kepadaku. Juga tak pernah melukai hatiku. Emasnya pun tak kuinginkan. Kupikir yang menjadi persoalan adalah matanya. Hmm, ya, matanya! Salah satu bola matanya menyerupai mata burung pemangsa – mata yang biru dan berselaput. Setiap kali mata itu menatapku, darahku terasa beku. Dan sedikit demi sedikit — secara berangsur-angsur — aku membulatkan hati untuk membunuhnya. Sehingga, terbebas selamanya dari sergapan mata burung pemangsa itu.

Di sinilah pangkal soalnya. Kau akan menganggapku gila. Semua orang gila pasti tidak tahu apa-apa. Namun kau akan melihat bagaimana aku melakukannya. Kau akan melihat betapa cerdiknya aku menyelesaikan pekerjaanku — begitu rapi, terencana. Kemudian, berpura-pura tidak tahu apa-apa. Aku menjadi lebih manis kepada oang tua itu pada seminggu terakhir sebelum aku membunuhnya. Setiap malam, menjelang tengah malam, aku memutar gagang pintu kamarnya dan membukanya — hmm, begitu hati-hati. Dan kemudian ketika pintu kamar itu terkuak dan cukup bagiku untuk memasukkan kepala, kumasukkan lentera berkatup yang kurapatkan semua lempengan katupnya. Sehingga, tidak ada sinar yang menerobos keluar dari lentera itu. Lalu, kusorongkan kepalaku ke dalam. Oh, kau pasti terkejut melihat betapa cerdiknya aku menyusupkan kepala. Semua kulakukan pelan-pelan, sangat-sangat pelan. Sehingga, tidak mengganggu tidur orang tua itu. Kuperlukan satu jam untuk menempatkan posisi kepala sebaik-baiknya di celah pintu. Sehingga, aku bisa leluasa melihat orang tua itu berbaring di ranjangnya. Nah, bisakah orang gila melakukan pekerjaan secerdik ini? Dan ketika kepalaku sudah leluasa, aku membuka katup penutup lentera dengan hati-hati — begitu hati-hati — jangan sampai engsel katupnya berderit. Aku membuka seperlunya saja, cukup agar seberkas tipis cahaya bisa menerangi mata burung pemangsa itu. Dan pekerjaan seperti ini kulakukan selama tujuh malam berturut-turut, tiap datang tengah malam. Namun, selalu kujumpai mata itu tertutup. Dalam keadaan seperti itu tentu mustahil melanjutkan rencanaku. Karena, bukan orang tua itu yang membangkitkan marahku. Tapi, mata itu! Pagi harinya, di saat fajar, sengaja kudatangi kamarnya. Kuajak ia bercakap-cakap, kusapa namanya penuh semangat. Kutanya pula apa tidurnya nyenyak semalam. Dengan demikian, kau tahu, diperlukan kecerdasan tertentu pada si tua itu untuk menduga bahwa setiap malam, tepat pukul dua belas, aku selalu mengamatinya ketika ia tidur.

Pada malam ke delapan aku membuka pintu lebih hati-hati ketimbang malam-malam sebelumnya. Jarum menit jam dinding, bahkan lebih cepat ketimbang gerakan tanganku. Baru pada malam itu aku merasakan begitu besarnya kekuatanku — begitu cerdiknya akalku. Hampir aku tidak bisa menahan luapan perasaan menangku. Membayangkan diriku sendiri sedang menguakkan pintu, sedikit demi sedikit, dan orang tua itu bahkan tidak pernah berkhayal tentang apa yang kulakukan dan apa yang kupikirkan. Aku tergeletak dengan lintasan pikiran ini. Mungkin, ia mendengar suaraku. Karena, tiba-tiba, ia menggerakkan tubuhnya seperti orang terkejut. Sekarang kau pasti berpikir bahwa aku akan mundur. Tidak! Kamarnya gelap pekat, jendelanya tertutup rapat. Karena itu, aku tahu bahwa ia tidak melihat pintu kamarnya terkuak, dan aku terus saja mendorong daun pintu itu sedikit demi sedikit.
Aku menyusupkan kepalaku ke celah pintu dan sedang membuka katup lentera, ketika jempolku tiba-tiba selip dan mengetuk lempengan penutup, dan si tua itu bangkit dari ranjangnya.

“Siapa itu?” teriaknya.

Aku mematung di tempatku dan tak mengeluarkan sepatah kata pun. Dalam satu jam aku sama sekali tak bergerak. Selama itu, pula aku tak mendengar ia merebahkan tubuhnya lagi. Ia tetap duduk di ranjangnya dan mendengarkan. Seperti aku, malam demi malam. Mendengar detak jam kematian di dinding.

Tiba-tiba kudengar erangan kecil, dan aku tahu itulah erangan yang muncul. Karena, teror kematian. Bukan erangan, karena sakit atau dukacita. Sama sekali bukan. Itu suara lemah orang tercekik. Suara yang muncul dari dasar jiwa yang diteror kengerian. Aku kenal sekali dengan suara itu. Beberapa malam, tepat tengah malam, di saat dunia terlelap, suara itu bangkit dari dadaku, menusuk-nusuk. Gaungnya mengerikan. Sebuah teror yang menggelisahkan. Kubilang aku kenal betul suara itu. Aku tahu apa yang dirasakan orang tua itu, dan turut berduka atas kemalangannya, meskipun dalam hati aku ketawa. Aku tahu bahwa matanya tak pernah lagi terpejam, sejak ia dikejutkan oleh suara yang membangunkannya. Rasa takutnya tumbuh semakin besar. Ia coba menenangkan diri, tapi tidak bisa. Ia yakinkan dirinya sendiri, “Tidak ada apapun, hanya angin di cerobong asap – hanya tikus yang merayap,” atau “hanya jangkrik yang mengerik.” Ya, ia mencoba menenangkan diri dengan dugaan-dugaan seperti itu, tapi sia-sia. Sia-sia; sebab maut yang menguntitnya diam-diam kini telah mengepung korbannya dengan bayang-bayang hitam. Dan efek muram bayang-bayang yang tak tampak itulah yang menyebabkan ia merasakan — bukan mendengar atau melihat. Namun merasakan — kehadiran kepalaku di kamarnya.

Setelah cukup lama menunggu, dengan sangat sabar, tanpa mendengar ia membaringkan kembali tubuhnya, maka kubuka sedikit — sedikit sekali — katup lentera untuk membuka celah kecil. Kau takkan bisa membayangkan betapa hati-hatinya aku membuka katup itu. Sehingga, akhirnya seutas cahaya, setipis sulur benang laba-laba, memancar dari celah lentera dan jatuh tepat di mata burung pemangsa itu.

Mata itu terbuka, begitu lebar. Amarahku bangkit ketika melihat mata itu terbuka. Jelas sekali kulihat — mata biru berkabut, dengan selaput yang mengerikan, yang menusukkan hawa dingin di sumsum tulangku. Namun, sama sekali tak kulihat wajah orang tua itu: sebab seolah dibimbing oleh naluriku, cahaya lentera kuarahkan tepat pada bulatan mata keparat itu.

Jadi, bukanlah yang kau sebut gila itu sesungguhnya adalah inderaku yang begitu tajam? Sekarang aku mendengar suara lemah, samar-samar, berdetak dalam tempo cepat seperti detak jam yang terbungkus kain. Aku kenal betul suara itu. Ialah bunyi detak jantung orang tua itu. Kemarahanku memuncak, sebagaimana keberanian seorang serdadu naik, karena pukulan genderang.

Kendati demikian aku masih menahan diri. Kutahan napasku. Kujaga lentera di tanganku. Kujaga agar sinarnya tetap jatuh ke matanya. Sementara detak jantung terkutuk itu temponya semakin meningkat. Makin lama makin cepat, dan makin keras. Ketakutan si tua itu, pastilah luar biasa! Suara itu makin keras, kubilang, bertambah keras setiap saat. Kau catatkah omonganku baik-baik? Telah kukatakan kepadamu bahwa aku gelisah: begitulah yang kurasakan. Dan sekarang pada jam kematian malam itu, di tengah kebisuan yang mencekam di rumah tua itu, dentam aneh itu menyiksaku layaknya sebuah teror yang tak tertanggungkan. Aku masih menahan diri beberapa menit dan tetap tak beraksi. Namun, dentam itu makin memekakkan. Kupikir jantungnya pasti segera meledak. Dan sekarang aku merasakan kecemasan baru — para tetangga pasti akan mendengar bunyi itu! Tiba sudah waktu bagi si tua! Dengan teriakan keras, aku membuka semua katup lentera dan merangsek masuk ke dalam kamar. Sekali ia memekik, hanya sekali. Dalam sekejap aku menyeretnya ke lantai dan membekapnya dengan kasur tebalnya. Setelah itu, senyumku mengembang, semua pekerjaan beres. Bermenit-menit jantung itu masih berdetak samar-samar. Namun, tak lagi membuatku jengkel. Suaranya takkan mampu menembus dinding. Akhirnya bunyi itu berhenti. Si tua mati. Aku mengangkat kasur dan memeriksa mayatnya. Ya, ia sudah mati. Matanya takkan menyusahkan aku lagi.

Kalau masih kau anggap gila aku, anggapan itu tak akan berlaku lagi bila kulukiskan apa yang kulakukan untuk menyembunyikan mayatnya. Malam melarut, dan aku mengebut pekerjaanku, tanpa suara. Pertama-tama kumutilasi mayat itu. Kupenggal kepalanya, kedua lengannya, dan kedua kakinya.

Kemudian, kubongkar tiga bilah papan lantai kamar itu dan kumasukkan potongan-potongan tubuhnya ke dalam rongga di bawah lantai kamar. Setelah itu kukembalikan lagi papan lantai seperti semula, begitu sepele, begitu rapi. Sehingga, tak satupun mata — termasuk mata si tua itu — yang menemukan adanya kejanggalan. Tak ada yang perlu dicuci. Karena, tak ada ceceran noda apa pun. Tak ada bercak darah sekecil apa pun. Aku sangat waspada terhadap semua itu. Bak mandi sudah menampung semuanya. Ha! Ha!

Jam empat pagi semua pekerjaanku selesai sudah. Hari masih gelap seperti tengah malam. Bersamaan dengan dentang lonceng jam, terdengar ketukan di pintu depan. Aku turun dengan perasaan ringan. Apalagi, yang perlu ditakutkan kini? Kubuka pintu, tiga orang lelaki masuk. Mereka memperkenalkan diri dengan sangat sopan sebagai petugas-petugas kepolisian. Seorang tetangga mendengar pekik si tua itu semalam. Menduga ada tindak kejahatan, ia melapor kantor polisi. Dan mereka (para polisi itu) ditugasi untuk melakukan penyidikan atas kecurigaan si tetangga.

Aku tersenyum. Apalagi, yang perlu ditakutkan? Dengan ramah kupersilakan mereka masuk. Pekik itu, kataku, keluar dari mulutku di saat mimpi. Kujelaskan kepada mereka bahwa si orang tua sedang tidak di rumah. Lalu, kubawa mereka melihat-lihat seisi rumah. Kupersilakan mereka memeriksa — memeriksa dengan teliti. Akhirnya, kubawa ketiga orang itu ke kamar si tua. Kuperlihatkan kepada mereka barang-barang berharga miliknya. Semua aman, tak tercolek. Dengan kepercayaan diri yang melambung, aku mengusung kursi-kursi ke dalam kamar itu. Dan meminta mereka untuk melepas lelah di tempat itu. Sementara aku sendiri, dalam gelegak keberanian, karena kemenangan yang sempurna, meletakkan kursiku tepat di atas tempat aku menyimpan mayat si tua.

Para petugas merasa puas. Perlakuanku meyakinkan mereka. Aku sendiri merasa tenang. Mereka duduk. Sementara aku menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan keseharian yang normal. Tapi, sebentar kemudian aku merasa parasku memucat dan berharap agar mereka segera pergi. Kepalaku pening, dan aku merasakan penging di telingaku. Namun, mereka tetap duduk dan bercakap-cakap. Suara penging itu makin jelas: terus-menerus dan makin jelas. Aku bicara lebih keras untuk mengusir perasaan itu. Namun, suara penging itu terus saja dan makin pasti. Sampai akhirnya aku sadar bahwa suara penging itu bukan di dalam telingaku.

Parasku, aku yakin makin memucat. Namun, bicaraku lebih fasih dan lebih lantang. Suara penging itu “bangkit”. Aduh, apa yang bisa kulakukan? Kudengar suara lemah, samar-samar, yang berdetak dalam tempo cepat. Seperti, detak jam yang terbungkus kain. Napasku tersengal. Namun, para petugas itu tidak mendengarnya. Bicaraku lebih cepat, lebih meyakinkan. “Bebunyian” keparat itu makin kuat. Aku bangkit dan mendebat segala topik pembicaraan yang sepele, dalam nada tinggi dan gerak tubuh yang kasar. Dan bunyi itu terus menguat.

Mengapa mereka tidak mau pergi? Aku mondar-mandir dengan langkah panjang dan menghentak. Seolah-olah merasa terganggu oleh pemeriksaan yang mereka lakukan. Tapi, bunyi keparat itu terus menguat. Ya, Tuhan! Apa yang bisa kulakukan? Aku meradang. Aku meracau. Aku mengutuk! Kuangkat kursi yang kududuki dan kuhempaskan benda itu ke lantai papan. Namun, kegaduhan yang ditimbulkanya tertelan oleh bunyi detak keparat yang terus menguat itu. Suara itu makin kencang, makin kencang, makin kencang! Para petugas, tetap melanjutkan percakapan seperti tak terjadi apa-apa. Mereka cuma tersenyum. Bagaimana mungkin mereka tidak mendengar suara itu? Demi Tuhan! Tidak! Tidak! Mereka juga mendengar. Mereka curiga. Mereka tahu! Mereka pasti sedang menemoohkan ketakutanku. Kupikir begitu. Cara lain kurasa jauh lebih baik dari siksaan seperti ini! Cara lain apa pun lebih bisa ditanggungkan daripada pelecehan ini! Aku tidak kuat lagi melihat senyum pura-pura mereka. Aku merasa bahwa aku harus berteriak. Atau aku mampus! Dan sekarang, bunyi itu lagi. Dengar! Makin kencang. Makin kencang. Makin kencang!

“Jahanam!” aku memekik, “tak usah berpura-pura lagi! Aku yang melakukan semuanya! Bongkar saja papan ini di sini, di sini! Di sinilah dentam jantung keparat itu!”

“Pembunuhan di Rue Morgue”, short story by Edgar Allan Poe

Senin, 19 November 2012 Label: 1841 Ketika sedang menghabiskan musim panas di Paris, di sanalah saya bertemu dengan Auguste Dupin. Dia seorang anak muda yang cerdas dan juga pencinta buku. Pertemuan kami yang pertama berlangsung di perpustakaan. Kami selalu bertemu dan akhirnya berkawan. Dupin banyak memperlihatkan kepada saya pemandangan-pemandangan indah kota Paris, di saat kami menghabiskan waktu sepanjang sore.

Sore yang cerah, di sebuah kafe, pandangan kami tertuju pada berita di sebuah surat kabar:

“PEMBUNUHAN MISTERIUS: Sepanjang malam penduduk Rue Morgue tak dapat tidur tenang karena tangisan yang menakutkan. Tangisan itu konon berasal sebuah rumah besar yang angker-di mana di situ pernah tinggal Madame L’Espanaye dan putrinya, Camille. Para penduduk kemudian mendobrak rumah itu dan tangisan itu terhenti. Tapi, tiba-tiba terdengar suara orang menghardik. Suara-suara itu pun dengan cepat terhenti. Penduduk kemudian lari ke arah tangga dan melihat ruangan yang terdiri dari tiga lantai yang kosong. Lalu mereka menuju ke sebuah ruangan besar di belakang rumah. Ada pintu di situ. Ketika pintu itu didobrak terlihat sebentuk cahaya yang menyilaukan.

Ruangan itu penuh rongsokan. Mebel-mebelnya banyak yang sudah hancur. Sebilah pisau yang masih bersimbah darah, tergeletak di atas kursi. Seorang wanita dengan rambut panjang keabu-abuan, terbaring di atas ranjang. Di lantai, ada perhiasan, sendok-sendok perak, dan tiga tas berisi koin-koin emas.

Mayat gadis itu, anak perempuan Madame L’ Espanaye, Camilla, ditemukan terbaring dalam corong cerobong asap. Sepertinya dia terdorong dengan keras hingga menurun ke bawah. Untuk mengeluarkannya dibutuhkan tenaga enam pria kekar dari corong cerobong asap. Di sekitar leher wanita itu terdapat tanda bekas cekikan yang berasal dari genggaman tangan yang sangat besar dan kuat.

Ketika penduduk meninggalkan rumah itu dan pergi ke jalan yang sunyi di belakang rumah, di sana terbaring mayat wanita tua yang tak lain adalah Madame L’ Espanaye. Lehernya seperti habis terpenggal. Dan ketika penduduk memindahkan mayat itu, kepalanya terjatuh dari pangkal lehernya…”

Koran tersebut menjelaskan pembunuhan yang mengerikan itu dengan detail. “Wanita tua itu dan putrinya,” berita itu berlanjut, “mereka tinggal berdua dan sepertinya bahagia. Beberapa orang yang pernah bertamu dan mengunjungi mereka menyatakan bahwa mereka begitu bahagia sehingga kelihatannya tidak punya musuh.

Tiga hari sebelum kematiannya Madame L’ Espanaye pergi ke bank. Seorang anak muda, Adolphe Le Bon, hendak membayar kepadanya senilai 300 francs dalam bentuk koin emas. Dia pergi ke rumah tua itu dengan Madame L’ Espanaye sambil membawa tas besar berisi koin-koin emas…Pembunuhnya semula diduga mengincar koin-koin itu- tapi setelah diselidiki dia ternyata tak mengambilnya sepeser pun.

Dua suara hardikan yang terdengar di rumah tua itu sampai sekarang masih menjadi misteri. Penduduk sekitar mengira suara tersebut yang satunya mirip logat orang Perancis. Mereka mendengar suara seorang pria berseru: “Mon Dieu!” (Demi Tuhan!) Tapi mereka tak bisa menjelaskan seperti apa suara orang yang kedua. Tak ada yang bisa dijelaskan kecuali suara itu begitu nyaring dan bernada penuh amarah.

Hanya satu yang bisa dijadikan petunjuk: pembunuhnya adalah seorang yang sangat besar dan kuat.”

Kemudian, surat kabar itu melaporkan Adolphe Le Bon-anak muda dari bank itu-masuk penjara. “Tapi, polisi tak berhasil menemukan bukti-bukti kuat yang menunjukkan anak muda itu sebagai pembunuhnya. Kasus ini masih menyisakan misteri.”

***

Dupin tertarik pada kasus ini. “Katakan pendapatmu tentang pembunuhan ini!” sahut Dupin kepada saya. “Mereka tidak pernah menemukan pembunuhnya. Tidak mungkin,” jawab saya. “Saya tidak setuju,” balas Dupin. “Polisi kota Paris biasanya pandai-pandai, meski mereka tak selalu melakukan sesuatu dengan benar. Coba kita bersama-sama mempelajari kasus ini. Besok kita bersama-sama meninjau rumah itu.”

Keesokan harinya kami pergi ke Rue Morgue. Dupin mempelajari dengan teliti bagian belakang rumah tua itu. Kemudian kami memasuki rumah itu. Seorang polisi mengantarkan kami naik ke bagian atas rumah, tempat dimana wanita itu ditemukan terbunuh. Dupin mengamati benda-benda dalam ruangan itu dengan cermat. Kami kemudian meninggalkan rumah itu menjelang petang. Dalam perjalanan pulang, Dupin membeli koran. Nampaknya koran hari ini tak lagi menurunkan berita tentang pembunuhan misterius itu. Pulang dari sama kami ke rumah Dupin. Kami lalu duduk-duduk di beranda rumah Dupin. Sekonyong-konyong Dupin berkata, “Akhirnya saya menemukan jawabannya.”

“Jawaban apa?” tanyaku.

“Ya, saya sedang dalam kondisi menunggu lelaki pembunuh itu,” Dupin melanjutkan, seraya berjalan ke arah pintu. “Dia sesungguhnya tahu banyak tentang kasus ini, tapi kemungkinan jelas bukan dia pembunuhnya. Dia datang ke ruangan itu dalam beberapa menit. Sementara itu pintu depan dalam keadaan tak terkunci. Dia, si pembunuh itu dapat masuk dengan mudah tanpa mengeluarkan suara sedikitpun…”

Dupin mengambil dua pistol dari lacinya. Dia memberikan satu untuk saya.

“Satu hal yang pasti,” ujar Dupin. “Wanita tua itu tak mungkin membunuh putrinya sendiri lalu dia bunuh diri. Dia tak terlalu kuat untuk mendorong anak gadisnya ke dalam corong cerobong asap. Tak mungkin hal itu dilakukan seorang wanita. Pelakunya pasti seorang laki-laki. Wanita itu terbunuh oleh orang lain. Barangkali suara-suara aneh dari atas loteng itulah suara sang pembunuh. Ini pasti menakutkan dan belum jelas apakah suara itu suara laki-laki atau perempuan…”

“Pembunuhnya pasti masih ada di dalam ruangan itu ketika orang-orang mendobrak pintunya. Tapi ketika mereka berhasil membuka ruangan itu, dia sudah pergi. Pintu dan jendela-jendela terkunci dari dalam. Jadi, bagaimana si pembunuh itu bisa kabur? Kubilang kepadamu-pasti dia kabur lewat jendela! Si pembunuh memanjat keluar dengan cepat dari ruangan ini dan jendela segera ditutup rapat-rapat. Daun jendela tertutup secara otomatis. Si pembunuh lalu memanjat turun ke bawah sampai ke dalam pipa di bawah jalan-dan kabur.”

“Tapi bagaimana pembunuh itu bisa masuk ke dalam?” tanya saya.

“Bagaimana dia bisa masuk tentu saja dengan cara yang sama,” jawab Dupin sambil tersenyum. “Di sana ada daun penutup jendela, dekat pipa,” jelasnya.

“Si pembunuh masuk dengan cara memanjat pipa. Lalu dia membuka perlahan daun jendela dan melompat masuk ke dalam ruangan. Tapi kelakuan si pembunuh sangat aneh-bahkan tidak mungkin juga dilakukan oleh seorang pria. Sedangkan suara yang aneh dari dalam rumah itu saya rasa bukan suara manusia,” lanjut Dupin.

Saya bergidik.

“Maksud kamu?”

Dupin menunjukkan kepada saya beberapa helai rambut. “Kuambil ini – barangkali dari tangan mayat Madame L’Espanaye. Aku menduga dia pasti memegangnya di antara jari-jarinya,” kata Dupin. “Nah, katakan, apa pendapatmu?”

“Dupin! Itu rambut binatang!” saya berseru.
credit photot: wikipedia.

“Ya, dan bekas-bekas jari di lehernya pasti berasal dari cengkeraman seekor hewan. Dan akhirnya saya tahu wanita tua itu terbunuh dengan tangan kuat dari seekor kera yang besar,”

“Seekor kera! Saya tidak mengerti. Darimana datangnya binatang itu?” tanya saya.

“Mungkin milik orang Perancis itu. Ingat, tetangga sekeliling rumah itu mendengar jeritan suara laki-laki: Mon Dieu! Ada dua petunjuk bahwa orang Perancis itu tahu persis tentang pembunuhan itu. Kera besar itu mungkin kabur darinya. Dan lelaki itu mengikuti binatang itu sampai ke dalam rumah tapi ia tak berhasil menangkapnya.
Dan, sekarang kera itu bebas. Apabila orang Perancis itu menginginkan kera besar itu, dia pasti kembali lagi ke rumah Madame L’Espanaye. Menduga kera itu masih bersembunyi di situ. Dan dalam perjalanan pulang dari rumah itu kemarin, saya melihat pengumuman ini di koran,” Dupin menunjukkan pada saya.

Di situ terbaca:

Tertangkap di The Bois de Boulogne, seekor kera berbulu lebat dan besar. Pemiliknya seorang pelaut dari kapal Maltese dan ia membawanya dari India Timur. Dia akan mengambilnya pada panggilan jam tiga tepat.

“Tapi, bagaimana kau tahu lelaki itu adalah seorang pelaut dari kapal Maltese?” tanya saya.

“Saya baru menduganya – tapi saya yakin lelaki itu pasti dia. Saya kebetulan menemukan label dari mantel pelaut yang robek dan tertinggal di pipa. Label itu menunjukkan nama kapal Maltese. Kapal Maltese datang dari India Timur dan binatang itu adalah adalah kera dari India Timur.”

“Lelaki itu-si pelaut mungkin takut kepada polisi,” lanjut Dupin. “Dan dia tak berani datang ke rumah itu. Polisi tak bakal menduga pembunuhnya adalah seekor binatang,” kata Dupin. “Tapi, pelaut itu pasti datang ke rumah. Kera itu sangat berharga baginya.”

***

Kami pergi ke rumah itu. Di dalam kami mendengar suara langkah kaki menaiki tangga. “Bersiap-siaplah dengan senjatamu,” bisik Dupin. “Tapi jangan sekali-sekali menggunakannya sampai kuberi tanda.”

Orang itu berjalan dengan perlahan menaiki tangga. Tak lama kemudian dia turun kembali. Dupin dengan cepat membuka pintu. “Kemari!” panggilnya. Pelaut itu masuk. Sosoknya tinggi dan besar. “Selamat malam,” dia berkata dengan logat Perancisnya yang kental.

“Duduklah,” kata Dupin. “Saya menduga pasti Anda datang untuk kera itu, bukan begitu? Ya, ini adalah binatang yang sangat berharga.”

“Bagaimana kamu mendapatkannya?” tanya pelaut itu.

“Kami tidak berhasil mengurungnya di rumah ini,” jawab Dupin. “Barangkali dia masih di sekitar sini. Anda dapat mengambilnya besok,” lelaki itu menawarkan uang kepada Dupin agar ia menemukan kera itu.

“Saya tidak membutuhkan uang, kawan. Jelaskan saja bagaimana pembunuhan di Rue Morgue bisa terjadi,” kata Dupin.

Wajah lelaki pelaut itu pucat.

“Jangan takut, kawan,” kata Dupin. “Saya tahu bukan kamu pembunuhnya. Tapi, pasti kamu mengetahui peristiwa pembunuhan itu. Ceritakan saja. Seorang laki-laki tak bersalah sekarang ada di penjara. Anda masih punya kesempatan untuk menyelamatkannya. Sekarang anda tinggal jelaskan saja siapa pembunuh yang sebenarnya.”

Lelaki pelaut itu terdiam dan berpikir sejenak. “Oh, Tuhan, tolonglah!” katanya. “Tapi…baiklah, aku akan cerita. Tapi aku tak yakin kau akan mempercayainya… Beberapa hari yang lalu kapal kami pergi menuju India Timur. Sebelumnya kami berlabuh di Borneo. Pelaut yang lain menangkap seekor kera. Tapi beberapa saat kemudian pelaut kawanku itu tewas. Binatang itu akhirnya menjadi milikku. Kera itu sangat buas dan berbahaya. Tapi saya tetap akan membawanya pulang ke rumah dalam kapal. Aku masukkan hewan itu ke dalam sebuah kamar penginapan. Kusembunyikan dia di dalam ruangan yang terkunci. Aku ingin menjual kera itu. Pada suatu malam ketika aku pulang dari pertemuan para pelaut, paginya aku melihat kera itu di atas ranjang. Dia sedang bermain-main dengan pisau belati. Aku menjerit dan melemparkan tongkat ke arahnya. Dan ketika dia melihat tongkat itu melayang ke arahnya, dia berlari ke arah tangga dan melompat dari jendela turun ke jalan. Kuikuti dia dan aku berusaha keras menangkapnya. Kera itu kabur sambil menggenggam pisau di tangannya. Masih kuingat dia sempat menatap ke arahku lalu berlari secepat-cepatnya. Waktu itu aku masih ingat, menunjukkan jam tiga pagi. Hewan itu berlari kencang di atas jalan raya yang sepi, di belakang sebuah rumah di Rue Morgue. Aku melihat ada secercah cahaya dari jendela yang terbuka dari kamar Madame L’ Espanaye. Kera itu berlari ke arah gedung dan memanjat pipa. Dia melompat masuk ke rumah melalui pintu jendela yang terbuka. Dengan cepat kuikuti binatang itu. Aku ingin memanjat pipa itu tapi aku tidak melompat ke dalam ruangan. Aku hanya melihat apa yang terjadi di balik jendela meski hampir jatuh membentur tanah! Ada dua wanita di atas ranjang. Kera itu melompat ke arah mereka dan mengeluarkan suara-suara gaduh. Rambut Madame L’ Espanaye terjambak oleh kera itu. Wanita itu berteriak dan bergumullah dia dengan kera itu. Kera itu nyaris memotong lehernya dengan pisau, sampai akhirnya kepala wanita itu benar-benar terpotong. Kera itu turun dan melihatku dari jendela. Dia semakin panik. Aku sendiri panik setelah melihat peristiwa pembunuhan itu di depan mataku. Aku dorong mayat putrinya ke dalam cerobong asap. Lalu kudorong tubuh wanita tua itu keluar jendela…setelah itu aku memanjat turun ke bawah melalui pipa dan pulang ke rumah.”

***

Dan, misteri itu pun akhirnya terjawab. Suara-suara tangisan yang terdengar dari rumah itu adalah suara pelaut Perancis dan suara gaduh itu berasal dari kera. Kami kemudian menceritakannya kepada polisi.

Mereka lalu membebaskan Le Bon dari penjara. Untunglah pelaut Perancis itu tidak ditangkap. Berhari-hari kemudian akhirnya ia berhasil menangkap kera itu dan menjualnya.