“Pergi”, short story by Anton Chekov

Makan siang sudah selesai. Sang perut sudah merasakan kenikmatan alakadarnya, sang mulut menguap-nguap, dan sang mata mulai memincing akibat kantuk yang manis. Sang suami merokok cerutu, menggeliat, lalu menggolekkan badan di balai-balai. Sang istri duduk di dekat bagian atas kepala, bersenandung…Keduanya merasa bahagia.

“Coba kau cerita…,” kata sang suami menguap.

“Cerita apa? Mm… O, ya! Kau sudah dengar belum? Sofie Okurkova kawin dengan si itu….siapa namanya…dengan Von Tramb! Betul-betul skandal!”

“Apanya yang skandal?”

“Tramb itu kan bangsat? Bajingan macam begitu…manusia tak tahu malu macam begitu! Tak kenal prinsip sama sekali! Orang cacat jiwa! Ia tadinya pengawas tanah graaf, tetapi kemudian main sikat; sekarang kerja di kereta api, dan di situ jadi koruptor. Saudara perempuan sendiri dirampoknya….Singkat kata: bajingan dan pencuri. Kawin dengan orang seperti itu?! Hidup dengannya?! Mengherankan! Gadis yang begitu berakhlak dan…nah, itulah! Kalau aku, tak bakalan aku kawin dengan orang macam itu! Biarpun ia seorang miliarder! Biarpun ia tampan entah seperti apa, aku ludahi barangkali dia! Membayangkan punya suami bajingan saja aku tak bisa!”

Sang istri melompat dari balai-balai, lalu berjalan mondar-mandir di dalam kamar itu dengan marah, dengan muka merah. Matanya menyala karena marah…Tampak sekali hatinya tulus dalam hal itu.

“Tramb itu makhluk keparat. Seribu kali bodoh dan keji perempuan yang mau kawin dengan tuan-tuan seperti itu!”

“Begitu…Jadi kau tentu tak bakalan kawin dengan dia…Ya…tetapi bagaimana kalau, misalnya, sekarang kau tahu bahwa aku juga..bajingan?…Apa yang akan kau lakukan?”

“Aku? Aku tinggalkan kamu! Satu detik pun aku tak akan tinggal denganmu! Aku hanya dapat mencintai orang yang jujur! Begitu aku tahu kamu korupsi, biarpun seperseratus dari yang dilakuakn oleh Tramb itu, aku…kontan bilang adieu.”

“Begitu…Hm…Betul-betul engkau ini..Aku sungguh tak tahu..He-he-he..Ah, engkau berbohong, tetapi bisa saja mukamu tak memerah!”

“Belum pernah aku berbohong! Cobalah kamu bikin hal yang keji, nanti akan kamu lihat!”

“Buat apa aku mencoba? Kau tahu sendiri…Aku tidak lebih bersih dari Von Tramb-mu itu..! Tramb itu dapat dibandingkan dengan ujung jariku saja. Engkau melotot? Itu mengherankan. (Diam sebentar). Berapa gajiku?”

“Tiga ribu setahun.”

“Lalu berapa harga kalung yang kubeli untukmu seminggu yang lalu? Dua ribu.. betul, kan? Gaun kemarin lima ratus..Bungalo dua ribu…He-he-he..kemarin papamu merengek minta dariku seribu…”

“Tetapi pemasukan sampingan itu, Pierre….”

“Kuda-kuda itu..Dokter keluarga..Rekening modiste. Tiga hari engkau kalah main seratus..”

Sang suami bangkit sedikit, menyangga kepala dengan kedua tinjunya, lalu membacakan satu surat tuduhan. Kemudian ia mendekati meja tulis dan menujukkan kepada istrinya beberapa bukti bendawi…

“Sekarang engkau lihat sendiri, Von Tramb-mu itu cuma tokoh kecil, sekedar pencopet dibandingkan aku…Adieu! Pergi sana, dan jangan mengritik lagi!”

Saya sampai di sini saja. barangkali pembaca akan bertanya:

“Apakah sang istri meninggalkan suaminya?”

Ya, ia pergi..ke kamar lain.

Advertisements

“Sebuah Karya Seni”, short story by Anton Chekov

Sembari mengepit bungkusan ‘Stock Exchange Gasette’ Nomor 223 dengan hati-hati, Sasha Smirnov (seorang anak tunggal) bersungut-sungut memasuki kamar praktek dokter Koshelkov.

“Wah, kawan muda saya!” dokter itu menyambutnya.

“Apa kabar? Baik-baik saja kan?”

Sasha mengerjap-erjapkan matanya, meletakkan tangannya pada dada dan dengan suara bergetar penuh emosi ia berkata, “Ibu titip salam, Dok, dan saya disuruh menyampaikan rasa terima kasihnya… saya anak tunggal ibu dan dokter telah menyelamatkan nyawa saya –mengobati saya dari penyakit yang berbahaya… dan ibu dan saya sebenarnya tidak tahu bagaimana harus berterima kasih kepada dokter.”

“Sudahlah, Nak,” potong dokter itu, tersenyum gembira. “Siapa pun akan berbuat serupa dalam keadaan demikian.”

“Saya, tentu saja tak mampu membayar ongkos pengobatan dokter… dan kami merasa sangat tidak enak memikirkan hal itu, Dok. Tapi biar bagaimanapun, kami –ibu dan saya, yah, satu-satunya yang dimilikinya di dunia ini—sangat bermohon sudilah kiranya dokter menerima ini sebagai sekedar imbalan bagi budi baik dokter… barang ini, yang… ini sungguh patung perunggu yang amat berharga. Betul-betul sebuah karya seni yang indah.”

“Tidak, sungguh,” kata dokter itu mengernyitkan dahi. “Tak mungkin aku bisa menerimanya.”

“Ya, ya, dokter harus menerimanya,” Sasha bersungut-sungut sementara ia membuka bungkusan itu.

“Kalau dokter menolak, kami akan sangat terhina, ibu dan saya… ini sungguh barang yang indah… Sebuah patung perunggu antik… Barang ini kami miliki sejak ayah meninggal dan kami menyimpannya sebagai barang kenangan yang berharga… Ayah memang biasa membeli barang-barang antik dan menyimpannya sebagai barang koleksi seni. Sekarang inu dan saya sudah punya usaha lain….”

Selesai membuka bungkusan itu Sasha dengan bangga menaruhnya di atas meja. Berbentuk tempat lilin yang indah mungil terbuat dari perunggu. Di atasnya terdapat dua patung perempuan dalam keadaan alami dan dalam sikap yang saya tak berani untuk melukiskannya. Kedua pigur itu tersenyum dengan lirikan mata yang merangsang. Pendek kata rupanya dimaksudkan bukan sekedar untuk menghias tempat lilin itu tetapi lebih lagi kedua patung itu bisa-bisa melompat dari tempatnya kemudian menjadikan kamar itu sebagai sebuah pemandangan yang menggoda pikiran untuk mengkhayalkan yang bukan-bukan. Para pembaca yang budiman mungkin saja akan dibuat merah mukanya oleh patung itu.

Setelah lama memperhatikan kehadiran tempat lilin berpatung dua gadis telanjang itu, dokter itu perlahan-lahan menggaruk-garuk bagian belakang telinganya, menelan air liur dan mendengus dengan kacau.

“Ya, memang betul-betul barang yang indah,” ia bergumam, “tapi, yah, bagaimana pula aku harus menyimpannya…? Bagaimana pun orang tak bisa sepenuhnya menganggapnya ini sebagai barang yang menerbitkan selera. Maksudku sesuatu yang telanjang, namun yang ini sih sudah benar-benar terlalu… hmmmm.”

“Apa maksud Dokter, terlalu?”

“Bicara mengenai barangnya sendiri, semua orang tak dapat menyangkal keindahannya. Tapi jika aku disuruh memajang barang semacam itu di atas meja, maka aku akan merasa seperti telah mengotori seluruh rumah.”

“Alangkah anehnya pandangan seni dokter!” ucap Sasha dengan suara terluka.

“Ini kan hasil inspirasi! Perhatikan seluruhnya begitu indah. Bukankah keindahannya memberikan rasa kagum dan nikmat yang tak terperikan kepada dokter? Dokter pasti akan lupa pada segala yang berharga lainnya begitu dokter menikmati keindahan tempat lilin yang begini mengagumkan… Nah, perhatikanlah sejenak, gaya dan ekspresinya!”

“Aku menghargai kebagusannya, kawanku,” kata dokter itu bertahan, “tapi kau lupa aku ini seorang kepala rumah tangga. Jadi pikirkanlah betapa anak-anakku yang masih kecil itu akan menanggapinya, pikirkanlah pula betapa reaksi para perempuan terhormat itu.”

“Benar, jika dokter memandangnya dari kacamata orang banyak,” kata Sasha. “Tentu saja karya seni yang sedemikian tinggi mutunya ini akan tampak tak ada artinya. Tapi dokter harus mengangkat selera seni dokter jauh di atas selera orang kebanyakan. Khususnya ibu dan saya pasti akan merasa sangat terhina apabila dokter menampiknya. Saya satu-satunya anak ibu –dokter telah menyelamatkan hidup saya. Kami menyerahkan kepada dokter milik kami satu-satunya yang paling berharga… dan satu-satunya penyesalan saya ialah bahwa kami tidak mempunyai sesuatu yang sepadan dengan kebajikan dokter….”

“Terima kasih, anakku sayang, aku sungguh amat berterima kasih… Sampaikanlah kepada ibumu salam terima kasihku, tapi coba tolong kau tempatkan dirimu sebagai aku –pikirkanlah anak-anakku yang bersliweran itu, pikirkanlah para perempuan terhormat itu. Oh, baiklah kalau begitu, taruh saja barang itu di sana! Kupikir aku tak akan bisa meyakinkanmu.”

“Tak perlu saya diyakinkan lagi,” sahut Sasha gembira. “Dokter harus meletakkan tempat lilin itu di sini, di dekat jambangan bunga. Tapi alangkah sayangnya barang ini tidak punya pasangannya! Sungguh sayang sekali! Saya permisi pulang saja, Dok, kalau begitu!”

Sesudah Sasha pulang, lama sekali dokter itu mengamati tempat lilin itu, menggaruk-garuk bagian belakang telinganya dan menimbang-nimbangnya.

“Sebuah karya seni yang luar biasa, tiada duanya,” pikirnya. “Dan memalukan untuk membiarkannya begitu saja… Tapi bagaimana mungkin aku memajangnya di sana… Hmmm, betul-betul sulit! Lalu akan kuberikan atau kutitipkan kepada siapa?”

Setelah lama menimbang-nimbang sang dokter itu pun teringat kepada seorang kawan kentalnya Uhov, seorang pengacara. Ia merasa berhutang budi atas pelayanannya yang professional.

“Ya, itulah jawabannya,” dokter itu memutuskan. “Sebagai sahabat adalah kurang hormat baginya menerima uang dariku. Tapi jika aku memberinya hadiah barang, itulah baru comme il fault. Ya, aku akan memberikan kepadanya karya seni yang istimewa ini. Bagaimanapun, ia seorang bujangan, hidupnya easy going.”

Tanpa pikir panjang lagi dokter itu kemudian mengenakan topi dan mantelnya, mengambil tempat lilin itu dan bergegas ke rumah Uhov.

“Bagaimana kabarmu, teman!” serunya, begitu ia sampai di rumah itu. “Aku datang untuk menemui Anda… Terima kasih untuk segala pertolongan yang telah kau berikan kepadaku selama ini…. Aku tahu kau tak suka uang sehingga kau harus setidaknya menerima hal ini di sini…. Lihat, sahabatku karya seni ini…. Hal yang luar biasa! “

Tatkala pengacara itu melihat benda kecil itu ia segera menerimanya dengan gembira.

“Oh, benar-benar luar biasa!” ia tertawa. “Bagaimana mereka bisa menciptakan karya seindah ini? Hebat luar biasa! Menggairahkan! Dari mana kau peroleh benda yang semahal permata ini?”

Setelah capai menyatakan kegembiraannya, pengacara itu tampak malu-malu menuju pintu dan berkata: “…….. Hanya saja tolong berbuat baik sedikit kepadaku dan bawalah benda ini kembali, tidak keberatan kan? Aku tak dapat menerimanya….”

“Kenapa?” ucap dokter itu bingung.

“Alasannya jelas banyak… Pikirkanlah ibuku yang sebentar lagi akan masuk ke sini, pikirkan juga klien-klienku… Dan bagaimana pula aku bisa melihat muka-muka merah padam pembantu-pembantuku?”

“Omong kosong Omong kosong! Jangan sekali-kali kau ngotot menolaknya!” kata dokter, itu seraya tangannya menolak ke arahnya. “Itu namanya kau kurang tahu adat! Ini sebuah karya seni hasil sebuah inspirasi. Lihat saja gerak garis-garisnya… ekspresinya… Jangan macam-macam lagi, kecuali kalau kau menghinaku?”

“Jika saja benda ini bisa dilumatkan atau berbentuk daun ara yang bisa dilipat….”

Akan tetapi dokter itu menolak dengan menggerak-gerakkan tangannya dengan cepat, sejurus kemudian dengan gesit menyelinap keluar dari apartemen itu dan terus pulang. Bersyukur sekali ia telah berhasil melepaskan barang itu dari tangannya….

Ketika temannya sudah pergi, sang pengacara mengamat-amati tempat lilin itu, merabanya, dan kemudian, seperti dokter itu, memeras otak tentang apa yang harus dilakukannya dengan batang itu.

“Suatu karya seni yang indah,” pikirnya, “dan menjadi sayang untuk membuangnya begitu saja. Tapi menyimpannya di sini amat tidak senonoh. Hal terbaik adalah menjadikannya barang hadiah untuk seseorang….. Aku tahu apa yang akan kulakukan! Aku akan bawa malam ini untuk Shashkin, si badut panggung. Komedian bajingan ini menyukai hal-hal seperti ini dan ia pasti menyukai barang semacam ini.”

Setelah itu ia pun berangkat melaksanakan maksudnya. Pada malam itu tempat lilin dibungkus dengan hati-hati, dan dihadiahkan kepada aktor badut Shashkin. Sepanjang malam, kamar rias itu dipenuhi hiruk-pikuk puji-pujian penuh antusiasme dan tawa bagaikan kuda meringkik. Ketika salah satu aktris mengetuk pintu dan minta permisi masuk, “Boleh saya masuk?” suara serak badut  itu terdengar sekaligus,”Tidak, tidak, sayangku, saya tidak berpakaian!”

Setelah pertunjukan komedian mengangkat bahu dan kedua tangannya, kebingungan dan berkata, “Mau kuletakkan di mana benda cabul ini? Bagaimanapun aku kan tinggal di apartemen pribadi –pikirkanlah aktris-aktris yang berdatangan mengunjungiku nanti! Ini kan bukan potret yang bisa disimpan di dalam laci!”

“Anda lebih baik menjualnya, Tuan,” saran penata rambut yang yan membantunya melepaskan pakaian. “Ada seorang perempuan tua yang tinggal di sini yang suka membeli patung perunggu antik semacam ini. Hubungi saja Nyonya Smirnov… Semua orang tahu dia.”

Sang aktor mengikuti nasihatnya. . . . Dua hari kemudian dokter Koshelkov sedang duduk di ruang prakteknya, dan dengan jemari menempel di kening dan sedang mempelajari tentang asam empedu. Tiba-tiba pintu terbuka dan Sasha Smirnov tergopoh-gopoh masuk ke dalam ruangan. Dia tersenyum, matanya berbinar-binar, seluruh kehadirannya mengekspresikan kebahagiaan. Tangannya memegang sesuatu yang terbungkus kertas koran

“Dokter!” ia memulai, nafasnya terengah-engah, “Saya sangat gembira! Dokter tak akan percaya betapa dokter beruntung –kami kebetulan menemukan tempat lilin pasangan milik dokter… Ibu gemetar terharu menemukannya. Saya satu-satunya anak ibu, yang nyawanya telah diselamatkan oleh dokter.

Dan Sasha, dengan penuh rasa syukur meletakkan tempat lilin itu di muka sang dokter. Mulut dokter itu tersekat, ia mencoba untuk mengatakan sesuatu, namun tak sepatah kata pun terucap dari mulutnya. Ia tidak bisa bicara apa-apa lagi.

NB :

Cerita Pendek (cerpen) Sebuah Karya Seni, karya Anton Chekhov ini, terjemahan dari A Work of Art (1886). Termaktub dalam antologi cerpen Anton Chekhov: The Early Stories 1883-1888, dengan editor Patrick Miles dan Harvey Pitcher. Diterbitkan oleh Macmillan Publishing, New York, pada 1982.

“Harga Seuntai Kalung”, short story by Guy de Maupasant

Dia adalah salah satu di antara sekian gadis cantik dan menarik yang, terkadang karena kesalahan takdir, terlahir di tengah keluarga juru tulis. Dia tidak memiliki mas kawin, harapan-harapan, sarana untuk terkenal, dipahami, dicintai, atau dinikahi oleh seorang pria kaya dan terhormat. Dan dia pasrah hanya dinikahi oleh seorang juru tulis biasa yang bekerja di Kementerian Penerangan.

Dandanannya sederhana saja karena dia memang tidak bisa berdandan lebih bagus lagi. Tapi dia bersedih seakan-akan dirinya memang sungguh-sungguh terjatuh dari statusnya yang semestinya, karena dia menjadi seperti wanita kebanyakan pada umumnya.

Dia tak pernah berhenti merasa menderita, dia merasa dirinya dilahirkan untuk menikmati segala keempukan dan kemewahan. Dia menderita karena rumahnya yang sangat sederhana, dindingnya yang buruk, kursi-kursi yang sudah usang, dan tirai-tirai yang sudah jelek. Segala hal itu, yang bagi wanita lain yang sederajat dengannya dianggap biasa saja, telah membuatnya sangat kesal.

Dia melamunkan ruang depan yang tenang, di mana dinding-dindingnya dipasangi permadani oriental, serta diterangi dengan kandil perunggu yang panjang. Dan juga adanya dua orang pelayan bertubuh kekar bercelana pendek yang tertidur di kursi-kursi berlengan. Mereka terkantuk oleh kehangatan udara dari perapian.

Dia pun melamunkan ruang tamu panjang yang dihiasi sutera kuno, mebel-mebel yang antik, dan kamar rias yang semerbak dengan aroma wewangian yang menggoda untuk tempat bercengkerama setiap pukul lima sore dengan teman-teman dekat, atau dengan pria-pria terkenal dan digandrungi, di mana wanita-wanita yang lain akan merasa cemburu karena ingin mendapat perhatian seperti itu juga.

Tiga hari yang lalu ketika sedang duduk makan malam di depan meja bundar yang berlapis taplak, di depan suaminya yang  membuka mangkuk sup dan berkata penuh kekaguman, “Ah, daging sup yang lezat! Tak ada yang lebih enak daripada ini”. Wanita itu justru sedang melamunkan makan malam yang mewah, peralatan makan dari perak yang berkilau, permadani yang memenuhi dinding dengan gambar tokoh-tokoh terkemuka dari masa lalu dan burung-burung aneh yang beterbangan di antara rimbunnya hutan yang ada di negeri dongeng. Dia pun melamunkan hidangan-hidangan lezat yang disajikan di piring yang elok, dan mendengarkan bisikan-bisikan menggoda sambil mengulum senyum ketika sedang menyantap daging ikan trout yang berwarna pink atau sayap burung puyuh.

Dia tidak memiliki gaun-gaun, perhiasan-perhiasan, tidak memiliki apa-apa. Dan tak ada yang disukainya kecuali itu, dia merasa dirinya adalah untuk itu. Dia begitu ingin dirinya bahagia, dicemburui, menarik, dan membuat orang lain tergila-gila.

Dulu ketika masih bersekolah di biara dia memiliki seorang teman yang kaya. Tapi dia tidak mau lagi mengunjunginya, karena dia begitu merasa menderita setelah pulang dari rumah temannya itu.

Namun suatu sore suaminya pulang ke rumah dengan perasaan penuh kemenangan dan membawa sebuah amplop besar di tangannya.

“Ini,” katanya. “Ada sesuatu untukmu.”

Wanita itu segera merobeknya dan menarik selembar kartu bertuliskan:

Menteri Penerangan dan Nyonya Georges Ramponneau dengan hormat mengundang Tuan dan Nyonya Loisel di Gedung Kementerian pada hari Senin sore tanggal delapan belas Januari.

Bukannya gembira seperti yang diharapkan oleh suaminya, tapi malah dilemparkannya undangan itu begitu saja di atas meja. Dengan suara lirih dia berkata:

“Apa yang kau inginkan dariku dengan undangan itu?”

“Tetapi, Sayang, kupikir kau akan senang. Kau kan tidak pernah pergi-pergi, dan ini adalah kesempatan yang bagus. Aku telah bersusah payah mendapatkannya. Setiap orang ingin datang, ini sangat diseleksi, dan mereka tidak memberikan banyak undangan untuk para juru tulis. Semua pejabat akan hadir di sana.”

Dia memandang suaminya dengan tatapan pedih dan berkata dengan gusar:

“Dan menurutmu aku harus memakai apa?”

Suaminya tidak terpikir ke situ, ia berkata dengan gagap:

“Kenapa, gaun yang dulu kau pakai ke teater, bagiku gaun itu cukup bagus.”

Suaminya terdiam, bingung, melihat istrinya menangis. Air matanya jatuh dari kedua ujung matanya dan mengalir perlahan-lahan sampai ke ujung mulutnya. Suaminya berkata gagap:

“Ada apa? Ada apa?”

Tapi dengan usaha yang keras wanita itu segera dapat mengatasi kesedihannya, dan dia menjawab dengan suara yang tenang sambil menyapu kedua belah pipinya yang basah:

“Tak apa-apa. Hanya aku tidak punya gaun dan oleh sebab itu aku tidak bisa berangkat ke pesta. Berikan saja undangan itu kepada salah seorang di antara teman-temanmu yang istrinya lebih baik dandanannya daripada aku.”

Suaminya putus asa. Ia melanjutkan:

“Ayo kita bahas, Mathilde. Berapa harganya sebuah gaun yang pantas, yang nanti bisa kau pakai lagi untuk kesempatan lainnya, gampang kan?”

Istrinya berpikir beberapa detik, membuat kalkulasi harga sambil memperkirakan jumlah yang dapat diajukannya. Jumlah yang dapat diterima serta tidak mengejutkan untuk perekonomian seorang juru tulis.

Akhirnya dia berkata dengan ragu-ragu:

“Aku tidak tahu pasti, tapi kurasa aku bisa mengatasinya dengan empat ratus franc.”

Suaminya agak pucat, karena ia sendiri telah menyisihkan uang sejumlah itu untuk membeli sebuah bedil yang akan digunakannya berburu di musim panas nanti di dataran Nanterre dengan beberapa orang teman yang pada hari Ahad lalu menembak burung-burung lark di sana bersamanya.

Tapi ia berkata:

“Baiklah. Aku akan memberimu empat ratus franc. Dan usahakan untuk mendapat sebuah gaun yang cantik.”

Hari penyelenggaraan pesta itu sudah semakin dekat, tapi Nyonya Loisel tampak murung dan gelisah. Padahal gaunnya sudah siap. Suatu sore suaminya berkata kepadanya:

“Ada apa? Ayolah, kau kelihatan begitu ganjil tiga hari terakhir ini.”

Istrinya menjawab:

“Aku bingung karena tidak memiliki sebuah perhiasan pun, tidak ada sebutir permata, tidak ada yang bisa dipakai. Aku akan kelihatan payah sekali. Lebih baik tidak usah pergi saja.”

Suaminya berkata:

“Kau bisa memakai hiasan dari bunga-bunga alami. Tahun ini hal itu sedang jadi mode. Dengan sepuluh franc kau bisa memperoleh dua atau tiga bunga mawar yang indah.”

Tapi istrinya tidak bisa diyakinkan.

“Tidak, tak ada yang lebih memalukan daripada terlihat miskin di antara wanita-wanita lain yang kaya.”

Tapi suaminya berseru:

“Bodohnya kamu! Pergilah ke rumah temanmu, Nyonya Forestier, dan mintalah kepadanya untuk meminjamimu beberapa perhiasan. Kau cukup akrab dengannya untuk melakukan itu.”

Wanita itu berseru gembira:

“Betul! Aku tak pernah memikirkannya.”

Hari berikutnya dia pergi mengunjungi temannya dan menceritakan kesulitannya.

Nyonya Forestier berjalan ke sebuah lemari pakaian yang berpintu kaca, mengambil sebuah kotak besar berisi perhiasan, membawanya kembali, membukanya, dan berkata kepada Nyonya Loisel:

“Pilihlah, sayangku.”

Pertama kali dipandanginya semua gelang, kemudian seuntai kalung mutiara, lalu salib Venesia, emas dan batu-batu perhiasan hasil karya para seniman yang luar biasa. Dia mencoba perhiasan-perhiasan itu di depan cermin sambil terkagum-kagum. Rasanya dia tak ingin melepasnya lagi, mengembalikannya lagi. Dia selalu bertanya:

“Apakah kau masih punya yang lain?”

“Kenapa, tentu saja. Lihatlah. Aku tak tahu mana yang kausukai.”

Tiba-tiba dia menemukan, di dalam sebuah kotak satin berwarna hitam, seuntai kalung permata yang luar biasa indah, dan jantungnya pun mulai berdebar kencang. Kedua tangannya gemetar saat mengambilnya. Dipasangnya kalung itu ke lehernya, di luar gaunnya yang sampai ke leher. Dan perasaannya terombang-ambing di awang-awang ketika dia menatap dirinya di depan cermin.

Kemudian dia meminta dengan ragu dan memelas:

“Dapatkah kau meminjamkan yang ini, hanya yang ini saja?”

“Kenapa? Ya, tentu saja.”

Dia melompat meraih leher temannya, menciuminya penuh nafsu, lalu berlari dengan perhiasannya.

Hari pesta itu pun tiba. Nyonya Loisel meraih kemenangan besar. Dia adalah satu-satunya wanita tercantik di antara mereka semua. Anggun, sangat ramah, selalu tersenyum dan sangat gembira. Semua pria meliriknya, menanyakan namanya, dan berusaha berkenalan. Semua atase kabinet ingin berdansa dengannya. Bahkan menteri sendiri juga mengajaknya berdansa.

Dia berdansa dengan penuh suka cita. Melupakan semuanya, dalam keunggulan kecantikannya, kesuksesan yang gemilang, serta kegembiraan yang terdiri atas segala pujian, segala kekaguman, segala keinginan yang terbangkitkan, dan atas perasaan kemenangan yang sempurna yang begitu manis dalam hati seorang wanita.

Dia baru selesai sekitar pukul empat pagi. Suaminya telah tertidur sejak tengah malam tadi di sebuah ruang depan yang sepi bersama tiga orang pria lainnya yang istri-istri mereka juga bersenang-senang. Pria itu lalu melampirkan selembar selendang yang telah dibawanya sejak tadi ke bahu istrinya, selendang biasa saja, yang mana saking sederhananya sangat kontras dengan gaun pesta yang dipakainya. Wanita itu merasakannya, dan ingin menghindar sehingga dirinya tidak menjadi bahan pembicaraan wanita-wanita lain yang membungkus tubuh-tubuh mereka dengan mantel bulu yang mahal.

Loisel menahan punggung istrinya.

“Tunggu sebentar. Kau akan kedinginan di luar. Aku akan pergi memanggil sebuah taksi.”

Tapi tak dihiraukannya suaminya, dan dengan cepat dia menuruni tangga. Ketika sudah berada di jalan mereka tidak menemukan kendaraan, dan mereka mulai mencarinya. Mereka berteriak ke arah sopir-sopir taksi yang kendaraannya melaju dari kejauhan.

Mereka berjalan menurun menuju Seine, dalam keputusasaan, menggigil kedinginan. Akhirnya di sebuah dermaga mereka mendapatkan sebuah mobil kuno yang tertutup dan berpintu dua, yang hanya muncul di Paris ketika malam telah turun.

Kendaraan itu mengantar mereka sampai ke depan pintu rumah di Rue des Martyrs, dan sekali lagi, dengan sedih, mereka berjalan pulang ke rumah. Segalanya telah berakhir, bagi wanita itu. Dan bagi sang suami, ia berpikir bahwa ia sudah harus berada di kementerian pada pukul sepuluh.

Wanita itu melepas selendang yang membungkus bahunya di depan cermin, sehingga sekali lagi ingin melihat dirinya dalam segala kejayaannya. Tapi tiba-tiba dia menjerit. Kalungnya tidak lagi berada di lehernya!

Suaminya yang sedang melepas pakaian bertanya:

“Ada apa denganmu?”

Dengan perasaan panik dia berpaling ke arah suaminya.

“Aku … aku … aku telah menghilangkan kalungnya Nyonya Forestier.”

Suaminya bangkit, kalut.

“Apa?! Bagaimana? Mustahil!”

Dan mereka berdua mencari di antara lipatan-lipatan gaunnya, dalam lipatan-lipatan mantelnya, dalam dompet-dompetnya, di mana saja. Tapi mereka tidak menemukannya.

Suaminya bertanya:

“Kau yakin tadi masih memakainya ketika meninggalkan pesta?”

“Ya, aku masih merasakannya di ruang depan gedung.”

“Tapi jika kau menghilangkannya di jalan, kita mestinya mendengar bunyinya ketika jatuh. Jangan-jangan di dalam mobil.”

“Ya, mungkin saja. Apakah kau mencatat nomornya?”

“Tidak. Dan kau, apakah kau memperhatikannya?”

“Tidak.”

Bagai disambar petir, mereka saling memandang. Akhirnya Loisel mengenakan kembali pakaiannya.

“Aku akan kembali menelusuri jalan tadi dengan berjalan kaki,” katanya, “ke seluruh rute yang telah kita lalui untuk memeriksa kalau-kalau dapat menemukannya.”

Lalu ia pun pergi ke luar. Sedangkan istrinya menunggu di kursi dengan gaun pestanya, tanpa ada tenaga untuk pergi ke tempat tidur, tak berdaya, tanpa semangat, tanpa pikiran.

Suaminya kembali lagi sekitar pukul tujuh pagi. Ia tidak menemukan apa-apa.

Kemudian laki-laki itu pergi lagi ke kantor-kantor polisi, kantor-kantor surat kabar, untuk menawarkan imbalan bagi siapa yang menemukannya. Ia pergi ke perusahaan-perusahaan taksi, ke mana saja, sesungguhnya, ke mana dirinya terdorong oleh seberkas harapan.

Istrinya menunggu sepanjang hari, dalam kecemasan yang sama seperti sebelum petaka itu terjadi.

Malamnya Loisel pulang dengan lemah dan pucat. Ia kembali tak menemukan apa-apa.

“Kau harus menulis surat kepada temanmu,” katanya, “bahwa kau telah merusak jepitan kalung itu sehingga kau harus membetulkannya. Dengan demikian kita masih punya kesempatan untuk mengembalikannya.”

Dia menulis mengikuti dikte dari suaminya.

Pada akhir dari pekan itu mereka telah kehilangan semua harapan.

Dan Loisel, yang tampak semakin cepat bertambah tua lima tahun, memutuskan:

“Sekarang kita harus memikirkan bagaimana caranya untuk mengganti perhiasan itu.”

Hari berikutnya mereka membawa kotak kalung itu menuju ke toko perhiasan yang namanya tercantum di kotak itu. Pemilik toko tadi kemudian memeriksa catatannya.

“Bukan saya yang menjual kalung itu, Nyonya.”

Kemudian mereka pergi dari satu toko perhiasan menuju ke toko perhiasan yang lain untuk mencari kalung seperti itu. Mereka berdua saling mencocokkan ingatan masing-masing satu sama lain. Keduanya merasa tersiksa dan menderita.

Akhirnya di sebuah toko di Palais Royal mereka menemukan seuntai kalung permata yang benar-benar mirip dengan yang mereka cari. Kalung itu berharga empat puluh ribu franc. Mereka bisa menawarnya sampai tiga puluh enam ribu.

Mereka meminta kepada penjual kalung itu untuk tidak menjualnya kepada orang lain selama tiga hari ini. Dan mereka menawarkan bahwa si penjual tadi bisa membeli kembali kalungnya seharga tiga puluh empat ribu franc seandainya mereka berdua bisa menemukan kalung yang hilang sebelum akhir Februari.

Loisel memiliki delapan belas ribu franc dari peninggalan ayahnya. Ia harus meminjam sisanya.

Ia pun mencari pinjaman. Meminta seribu franc dari seseorang, lima ratus franc dari yang lainnya, lima louis di sini, tiga louis di sana. Ia memberi surat utang, mengambil utang-utang yang berbunga tinggi, membuat persetujuan dengan para rentenir dan semua orang yang biasa meminjamkan uang. Ia mempertaruhkan sisa hidupnya, mempertaruhkan tanda-tangannya tanpa mengetahui apakah ia nanti mampu memenuhi janjinya atau tidak. Tanpa menyadari halangan dan musibah yang akan menimpanya, dan kemungkinan tekanan-tekanan batin yang harus ditanggungnya. Ia pergi untuk memperoleh kalung yang baru, membayar dulu kepada penjualnya tiga puluh enam ribu franc.

Ketika Nyonya Loisel mengembalikan kalung itu, Nyonya Forestier berkata dingin kepadanya:

“Seharusnya kau kembalikan lebih cepat, mungkin aku akan memakainya.”

Dia tidak membuka kotaknya, karena temannya tampak begitu ketakutan. Seandainya dia mengetahui penggantian itu, apa yang akan dipikirnya, apa yang akan dikatakannya? Apakah dia tidak akan menuduh Nyonya Loisel sebagai pencuri?

Kini Nyonya Loisel mengerti betapa mengerikannya kemiskinan. Dia terjun ambil bagian, dengan tiba-tiba, secara heroik. Utang-utang yang mengerikan itu harus dibayar. Dan dia akan membayarnya. Mereka memulangkan pembantu, mengubah tata ruang tempat tinggal mereka dan menyewakan ruangan di loteng.

Kini dia merasakan betapa beratnya pekerjaan rumah tangga dan merawat dapur yang kotor. Dia mencuci peralatan makan, dengan kuku-kukunya yang kemerahan pada panci dan periuk yang berminyak. Dia mencuci kain-kain kotor, baju-baju dan lap-lap, yang kemudian dijemur pada seutas tali. Dia membuang air limbah setiap pagi ke jalanan, lalu mengambil air bersih, kemudian berhenti untuk menarik napas setiap kali sampai. Dan, berdandan seperti wanita kebanyakan pada umumnya. Dia pergi berbelanja ke tukang buah, grosir, tukang daging, membawa keranjang, melakukan tawar-menawar, menahan hinaan, mempertahankan uangnya yang sedikit sou demi sou.

Setiap bulan mereka harus melunasi beberapa utang dan mencari pinjaman yang lain lagi, mengulur waktu.

Suaminya pada petang hari bekerja membuat salinan untuk beberapa catatan dari pedagang, dan pada larut malam ia sering menyalin berkas-berkas dengan upah lima sou per lembar.

Dan kehidupan seperti ini berakhir setelah sepuluh tahun. Dan sesudah sepuluh tahun berlalu, mereka telah membayar semuanya, semua utang dengan bunga-bunganya.

Nyonya Loisel terlihat tua sekarang. Dia telah menjadi seorang ibu rumah tangga dari kalangan biasa. Kuat, keras, dan kasar. Dengan rambut tak teratur rapi, rok miring, dan tangan yang merah. Dia berbicara dengan lantang ketika sedang membersihkan lantai di antara gemericiknya bunyi air. Namun terkadang, ketika suaminya sedang berada di kantor, dia duduk di samping jendela, dan mengenang malam indah yang telah berlalu dulu. Tentang pesta itu, di mana dirinya begitu cantik dan begitu mempesona.

Apa yang terjadi seandainya dia tidak menghilangkan kalung itu? Siapa yang tahu? Siapa yang tahu? Betapa kehidupan ini begitu aneh dan mudah berubah-ubah! Betapa mudahnya kita kehilangan sesuatu atau tetap memilikinya!

Namun, pada suatu hari Ahad, ketika sedang berjalan-jalan di Champs Elysees untuk menyegarkan pikirannya dari pekerjaan rutin selama sepekan, dia tiba-tiba mengenali seorang wanita yang sedang membimbing seorang anak kecil. Wanita itu adalah Nyonya Forestier. Dia terlihat masih muda, cantik, dan tetap memikat.

Nyonya Loisel merasakan kepiluan di hatinya. Akankah dia mengajaknya berbicara? Ya, pasti. Dan sekarang karena dirinya telah melunasi semuanya, dia akan menceritakan kepada wanita itu tentang segala yang telah terjadi. Kenapa tidak?

“Selamat sore, Jeanne.”

Wanita yang disapa terperanjat atas keramahan dari seorang ibu rumah tangga yang sederhana itu, bahkan sama sekali tak dapat mengenalinya. Ia berkata gagap:

“Tapi, Nyonya, saya tidak kenal. Anda pasti keliru?”

“Tidak. Aku adalah Mathilde Loisel.”

Kawannya itu memekik kecil.

“Oh, Mathilde-ku yang malang. Kenapa kau bisa berubah sampai seperti ini?”

“Ya, aku telah melewati hari-hari yang berat, sejak aku mengunjungimu dulu, hari-hari yang sangat buruk. Dan semua itu karena engkau!”

“Karena aku?! Bagaimana mungkin?”

“Apakah kau masih ingat tentang kalung permata yang telah kau pinjamkan kepadaku dulu untuk pergi ke pesta di kementerian?”

“Ya. Lalu?”

“Yeah, aku menghilangkannya.”

“Apa maksudmu? Bukankah kau telah mengembalikannya?”

“Yang kukembalikan kepadamu dulu itu adalah gantinya yang benar-benar persis dengan itu. Dan untuk itu kami harus membayarnya selama sepuluh tahun. Engkau tentu tahu bahwa hal itu tidaklah mudah bagi kami, kami yang tidak punya apa-apa ini. Akhirnya berlalulah sudah, dan aku sangat senang.”

Nyonya Forestier menghentikan langkahnya.

“Kau mengatakan bahwa kalian telah membeli kalung permata untuk mengganti milikku itu?”

“Ya, dan kau tidak pernah memperhatikannya! Kedua kalung itu memang benar-benar serupa.”

Dia pun tersenyum gembira dengan perasaan bangga dan naif sekaligus.

Nyonya Forestier merasa sangat iba, dipegangnya kedua belah tangan temannya itu.

“Oh, Mathilde-ku yang malang! Mengapa? Kalungku itu hanyalah imitasi. Harganya paling mahal cuma lima ratus franc saja!”

Judul asli: “La Parure” karya Guy de Maupasant. Alih bahasa Syafruddin HASANI.
Sumber : http://safrie.wordpress.com/2009/04/22/harga-seuntai-kalung-the-necklace-oleh-guy-de-maupasant/
GUY DE MAUPASANT (1850-1893) adalah anak seorang pialang saham di Paris. Ia menjadi anak baptis dari Gustav Flaubert yang juga menjadi guru sastranya. Sejak usia tiga puluh tahun kepiawaiannya di bidang cerita pendek sudah mendapat pengakuan.

“Si Gemuk dan Si Kurus”, short story by Anton Chekov

Dua orang sahabat lama – yang satu gemuk dan yang satunya lagi kurus – tak sengaja berpapasan di stasiun kereta Nikolaevsky*. Pria berbadan gemuk itu baru saja selesai makan malam di sana – bibirnya tampak berminyak di bawah sorotan lampu neon dan merah mengkilap seperti buah ceri. Tubuhnya menguarkan harum sherry (anggur untuk memasak) dan adonan kue.

Sementara itu, pria yang berbadan kurus baru saja keluar dari gerbong kereta dan tampak sibuk menenteng beberapa koper, buntelan dan kotak bingkisan. Tubuhnya menguarkan bau daging ham dan bubuk kopi. Di belakangnya ada seorang wanita yang juga kurus dan memiliki dagu panjang. Ini adalah istrinya. Selain itu, ada juga seorang bocah jangkung dengan kelopak mata yang agak turun. Ini adalah putranya.

“Porfiry,” teriak Si Gemuk saat melihat pria kurus itu. “Benarkah itu dirimu? Oh, sudah lama sekali aku tak melihatmu!”

“Ya ampun!” teriak Si Kurus dengan takjub. “Misha! Teman kecilku! Senang sekali berjumpa denganmu di sini!”

Kedua sahabat lama itu kemudian saling mencium pipi satu sama lain dengan mata berkaca-kaca. Keduanya sama-sama tak menyangka akan berjumpa lagi.

“Sahabatku!” seru Si Kurus setelah mencium pipi sahabat lamanya. “Sungguh sulit dipercaya! Ini kejutan yang luar biasa! Coba lihat aku! Bukankah aku masih setampan dulu? Sehebat dan seapik dulu? Wah, wah! Nah, apa kabarmu? Sudah kaya? Menikah? Aku sendiri sudah menikah, seperti yang kau lihat …. Ini istriku, Luise, nama gadisnya adalah Vantsenbach … dan agamanya dulu adalah Kristen Lutheran… Ini putraku, Nathaniel, sekarang duduk di kelas tiga. Ini teman Ayah sewaktu kecil, Nat. Kami dulu selalu bermain bersama di sekolah!”

Nathaniel berpikir sesaat, lalu melepas topinya.

“Ya, kami dulu satu sekolah!” lanjut Si Kurus. “Kau ingat dulu kami suka menggoda dan mengataimu ‘Herostratos’** gara-gara kau pernah membuat lubang di buku sekolah dengan bara rokok? Sementara aku diberi nama panggilan ‘Ephialtes’*** karena aku sering menguping? Ho-ho! … Hebat sekali kita dulu! Jangan malu-malu, Nat! Sini, lebih dekat… Nah, ini istriku, nama gadisnya adalah Vantsenbach… dan agamanya dulu adalah Kristen Lutheran****.”

Nathaniel berpikir lagi sesaat dan bersembunyi di balik tubuh ayahnya.

“Apa kabarmu sekarang?” tanya Si Gemuk, menatap penuh antusiasme ke arah sahabatnya. “Apakah kau sudah jadi anggota militer? Tingkat apa?”

“Benar sekali, kawan! Sudah dua tahun ini aku menjabat sebagai Kapten – dan aku juga sudah mendapatkan lencanaku. Gajinya kecil, tapi itu tidak penting! Istriku bekerja sebagai guru musik, dan sesekali aku masih sering memahat kotak rokok dari kayu untuk dijual. Ini produk berkelas! Aku menjualnya seharga satu rouble per kotak; dan kalau kau mau membeli sepuluh kotak atau lebih, aku akan memberikan diskon murah. Sejauh ini, keadaan kami lumayan sekali. Kau tahu, pertamanya aku ditempatkan di salah satu departemen Kementrian, tapi sekarang aku sudah dipindah-tugaskan ke kantor militer di kota ini … Jadi aku akan mulai bekerja di sini. Bagaimana denganmu? Kuperkirakan sekarang kau sudah jadi Mayor, ya?”

“Bukan, sahabatku,” ujar Si Gemuk. “Sekarang aku sudah naik jabatan jadi Letnan Jendral… aku punya dua bintang.”

Si Kurus mendadak pucat dan seluruh tubuhnya terasa kaku; namun dengan cepat ekspresinya berubah, menunjukkan seringai lebar dan dahi berkerut. Mata dan wajahnya bersinar. Namun tubuhnya gemetar, mengerut, membungkuk rendah, dan membuatnya terlihat jauh lebih kurus. Sementara semua bawaannya – koper, buntelan dan kotak bingkisan – seakan ikut menciut. Dagu istrinya yang panjang terlihat semakin panjang; dan dalam waktu singkat Nathaniel menegakkan tubuhnya, serta merapikan pakaiannya.

“Yang Mulia, saya… Ini adalah sebuah kehormatan! Betapa bangganya saya mendapati bahwa teman masa kecil saya kini telah menjadi orang terhormat!” – Si Kurus menyeringai lebar.

“Sudahlah, Porfiry!” ujar Si Gemuk dengan santai. “Kenapa tiba-tiba nadamu jadi aneh begitu? Kita sudah saling kenal sejak kecil. Jabatan kita tak ada urusannya dengan persahabatan kita selama ini!”

“Tapi, Pak – bagaimana mungkin…” Si Kurus terkekeh dengan gugup, tubuhnya tampak semakin mengerut. “Perhatian Yang Mulia terhadap kami seperti berkah dari surga. Yang Mulia, ini anak saya, Nathaniel. Dan ini istri saya, Luise, yang beragama Kristen Lutheran.”

Si Gemuk baru saja hendak mengajukan keberatannya terhadap perlakuan Si Kurus terhadapnya yang mendadak berubah; namun wajah sahabatnya tampak begitu bangga dengan rasa hormat yang luar biasa hingga membuat si pria gemuk muak. Akhirnya, dia mengambil langkah mundur, dan mengulurkan tangan ke arah si pria kurus.

Si Kurus menjabat tangan sahabatnya dengan erat, lalu membungkuk dalam-dalam, sambil tertawa konyol. Istrinya juga tampak bangga. Sementara Nathaniel mengetuk-ngetukkan kakinya di atas lantai dan menjatuhkan topinya. Itu adalah kejutan yang luar biasa untuk ketiganya.

“Karya Seni”, short story by Anton Chekov

Diperlukan sebuah tempat lilin yang indah mempesona untuk meyakinkan mereka — dokter, pengacara, dan pelawak — bahwa jauh lebih menyenangkan memberi daripada menerima.

Sambil mengepit di bawah lengannya sebuah benda terbungkus dalam kertas koran, Sasha Smirnov, anak tunggal ibunya berjalan dengan gelisah memasuki ruang praktek dokter Koshelkov.

“Nah, anakku yang baik,” seru dokter dengan hangat, “bagaimana perasaanmu hari ini? Apa kabar baik yang kau bawa?”

Sasha mulai mengejap-ngejapkan matanya, menaruh satu tangan di atas jantungnya, dan berkata terbata-bata penuh kegelisahan.

“Ibu mengirimkan salamnya dan mengucapkan terima kasih…aku anak tunggal ibuku, dan kau telah menyelamatkan jiwaku…dan kami berdua hampir-hampir tidak tahu bagaimana harus menyatakan terima kasih.”

“Sudahlah, sudahlah, sahabat mudaku, jangan kita bicarakan lagi hal itu.” Dokter menyela kata-katanya, tampak sekali sangat senang. ”Aku hanya melakukan apa yang akan dilakukan siapa saja yang menduduki tempatku.”

“Aku anak tunggal ibuku…kami orang miskin dan karenanya kami tidak bisa membayar untuk jerih payahmu…dan itu membuat kami malu sekali, Dokter, walaupun kami berdua, ibu dan aku, anak tunggal ibuku, memohon kepadamu untuk menerima dari kami, sebuah benda yang…sebuah benda yang nilainya langka sekali, sebuah karya agung yang indah dalam bentuk patung perunggu antik.”

Dokter menyeringai.

“Wah sahabatku yang baik,” katanya, “ini sama sekali tidak perlu. Aku sama sekali tidak memerlukan ini.”

“Oh, tidak, tidak,” Sasha terbata-bata. “Aku memohon kepadamu terimalah!”

Dia mulai membuka bungkusan, sambil terus memohon:

“Kalau kau tidak mau menerima ini, kau akan menyinggung perasaan ibu dan aku sendiri — ini sebuah karya seni yang langka sekali…sebuah patung perunggu antik. Ini adalah peninggalan ayahku yang sudah meninggal. Kami menjunjung tinggi benda ini sebagai kenang-kenangan yang sangat disayang…Ayah biasa membeli barang antik dari perunggu, dan menjualnya kepada para pecinta patung kuno…Dan sekarang kami meneruskan dalam usaha yang sama, ibu dan aku sendiri.”

Sasha membuka bungkusan dan dengan antusias meletakkan isinya di atas meja.

Benda itu adalah sebuah tempat lilin rendah berbentuk patung perunggu antik, sebuah karya seni sejati yang menggambarkan satu kelompok: Di atas panggung berdiri dua sosok tubuh wanita memakai busana Ibu Hawa dan dalam sikap yang saya sendiri tidak mempunyai keberanian untuk memerikannya. Kedua wanita ini tersenyum genit dan pada umumnya memberikan kesn kepada orang bahwa aku akan turun dari panggung dan melakukan sesuatu yang … pembaca yang baik, saya bahkan malu memikirkannya saja!

Setelah dokter memperhatikan hadiah ini, perlahan-lahan dia menggaruk-garuk kepalanya, membersihkan kerongkongan dan mendenguskan hidungnya.

“Ya, betul, memang sebuah karya yang sangat indah,” dia mengguman … “Tapi — bagaimana aku harus mengatakannya — ini tidak terlalu … maksudku … agak tidak konvensional … sama sekali tidak harfiah, bukan? … Ketahuilah … setan tahu …”

“Mengapa?”

“Belzebub sendiri tidak akan bisa memikirkan sesuatu yang lebih buruk lagi. Seandainya aku menempatkan benda khayalan ini di atas mejaku maka aku akan mencemarkan seluruh rumahku!”

Wah, Dokter, kau memiliki konsepsi yang aneh sekali terhadap seni!” seru Sasha dengan nada tersinggung, “Ini benar-benar karya agung. Coba lihat saja! Alangkah serasi keindahannya sehingga hanya dengan melihat saja jiwa sudah dipenuhi oleh kepuasan dan membuat kerongkongan kita menahan isakan! Kalau kita melihat keindahan seperti itu akan terlupakan semua keburukan dunia … Coba lihat saja! Alangkah hidup, alangkah indah gerakan dan ekspresinya!”

“Aku paham sekali semua itu, anakku,” sela dokter. ”Tapi aku laki-laki yang sudah menikah. Anak-anak berlarian keluar masuk kamar ini dan kaum wanita terus-menerus berdatangan ke sini.”

“Tentu saja,” kata Sasha, “kalau orang melihatnya dengan mata sampah masyarakat, dia akan melihat karya agung yang mulia dengan pandangan yang sama sekali berbeda. Tetapi kau pasti sudah jauh di atas itu semua, Dokter, dan terutama kalau penolakanmu untuk menerima hadiah ini akan sangat menyinggung perasaan ibuku dan aku sendiri, anak tunggal ibuku … Kau telah menyelamatkan jiwaku … dan sebagai timbal baliknya kami memberimu milik kami yang paling disayangi dan … satu-satunya penyesalanku karena kami tidak bisa memberimu pasangan tempat lilin ini.”

“Terima kasih, sahabatku, banyak terima kasih … Ingatkan aku kepada ibumu dan … Tapi demi Tuhan! Kau bisa melihat sendiri, bukan? Anak-anak kecil berlarian keluar masuk kamar ini dan kaum wanita terus-menerus berdatangan ke sini … Walaupun demikian, tinggalkan saja di sini. Tidak ada gunanya bertengkar denganmu.”

“Jangan ucapkan sepatah kata lagi!” seru Sasha dengan gembira. ”Letakkan tempat lilin di sini, dekat vas bunga. Demi Yehova, tapi sayang sekali aku tidak punya pasangannya untuk diberikan kepadamu. Tapi itu sudah tidak bisa disesali lagi. Nah, selamat berpisah, Dokter!”

Setelah Sasha pergi, dokter memandangi tempat lilin lama sekali dan menggaruk-garuk kepalanya.

“Ini indah sekali, memang betul,” pikirnya. “Sayang sekali kalau harus dibuang … Namun aku tidak berani memilikinya … Hmm! … Kepada siapa aku bisa menghadiahkan atau menyumbangkannya?”

Setelah lama sekali memikirkannya dia teringat kepada sahabat karibnya, pengacara Ukhov. Kepada pengacara ini dia berhutang untuk pelayanan hukum.

“Bagus!” kata dokter sambil tertawa kecil. ”Karena aku teman dekatnya, maka aku tidak bisa memberinya uang, jadi lebih aik kuberikan saja kepadanya sekeping kecabulan ini… Dan dia orang yang tepat untuk menerimanya … masih bujangan, dan seorang laki-laki yang senang main-main pula.”

Begitu dipikirkan langsung dilakukan. Setelah berdandan, dokter mengambil tempat lilin dan pergi ke rumah Ukhov.

“Selamat pagi teman lama!” katanya. “Aku datang ke sini untuk mengucapkan terima kasih atas jerih payahmu… Kau tidak mau menerima uang, jadi aku akan membayarmu dengan menghadiahkan karya agung yang indah ini … Nah, sekarang katakan sendiri, bukankah ini seindah impian?”

Segera setelah melihatnya, si pengacara sangat bersukacita karena keindahannya.

“Sungguh karya seni yang hebat sekali!” katanya sambil tertawa tergelak-gelak. ”Ya Tuhan, alangkah luar biasa konsepsi yang masuk ke kepala para seniman! Alangkah menawan pesonanya! Dari mana kau mendapatkan benda kecil yang indah ini?”

Tetapi kini sukacitanya sudah lenyap dan si pengacara menjadi ketakutan. Sambil melihat sembunyi-sembunyi ke pintu dia berkata.

“Tapi aku tidak bisa menerimanya, sahabat lamaku. Kau harus membawanya kembali.”

“Mengapa?” tanya dokter dengan rasa kalut.

“Sebab … sebab … ibuku sering berkunjung ke sini, para klien berdatangan ke sini … dan di samping itu, aku bahkan tidak ingin merosot derajatku di mata para pelayan.”

“Jangan ucapkan sepatah kata lagi!” seru dokter, sambil membuat isyarat menolak dengan tangannya secara kalut. ”Kau harus menerimanya! Sungguh tidak tahu terima kasih kalau kau menolaknya! Karya agung yang begitu indah! Sungguh indah gerakannya, ekspresinya … Kau akan sangat menyinggung perasaanku kalau kau tidak mau menerimanya!”

“Kalau saja ini diberi pakaian atau ditutup dengan daun ara …”

Tetapi dokter tidak mau mendengarkan kata-katanya. Sambil membuat isyarat tangan secara lebih kalut lagi dia keluar dari rumah Ukhov dengan pikiran bahwa dia telah telah berhasil menyingkirkan hadiah itu.

Setelah dokter pergi, dengan seksama pengacara memeriksa tempat lilin. Dan kemudian, tepat seperti yang dilakukan dokter, dia mulai bertanya-tanya dalam hati apa gerangan yang dapat dilakukannya dengan benda itu.

“Oh, benda yang cantik sekali,” pikirnya. ”Sungguh sayang kalau harus membuangnya, walaupun demikian sungguh memalukan untuk memilikinya. Sebaiknya kuhadiahkan saja kepada seseorang … Aku tahu! Sore ini juga aku akan memberikannya kepada pelawak Shoshkin. Bajingan itu menyukai benda-benda seperti ini, dan lagi pula, ini malam pertunjukkan amalnya…”

Sepanjang sore kamar pelawak Shoshkin diserbu oleh kau pria yang ingin melihat hadiahnya. Dan sepanjang waktu kamarnya bergema dengan suara tertawa terbahak-bahak yang lebih mirip ringkikan kuda.

Kalau ada salah satu aktris yang menghampiri pintu dan bertanya, “Boleh aku masuk?” suara parau Shashkin segera terdengar menjawab.

“Oh, tidak, tidak, Sayang, kau tidak boleh masuk. Aku sedang tidak berpakaian!”

Sesudah pertunjukkan usai, si pelawak mengangkat bahu, membuat gerakan dengan tangan dan berkata.

“Sekarang apa yang harus kulakukan dengan benda ini? Aku tinggal dalam apartemen pribadi! Aku sering dikunjungi aktris! Dan ini bukan foto yang bisa disembunyikan dalam laci!”

“Mengapa kau tidak menjualnya saja?” pembuat rambut palsu memberi saran. ”Ada seorang wanita tua yang biasa membeli patung perunggu antik … Namanya Smirnova … Sebaiknya kau segera lari ke sana. Orang akan menunjukkan kepadamu rumahnya, semua orang kenal dengannya …”

Si pelawak mengikuti sarannya.

Dua hari kemudian Khoselkov, dengan kepala ditopang tangannya, sedang duduk meramu obat di tempat prakteknya.

Tiba-tiba pintu terbuka dan ke dalam kamar menghamburlah Sasha. Dia tersenyum berseri-seri dan dadanya naik turun penuh rasa sukacita … Di tangannya dia memegang sesuatu terbungkus dalam kertas koran.

“Dokter!” serunya dengan napas terengah-engah. ”Bayangkan kegembiraanku! Karena kemujuranku, aku berhasil menemukan pasangan untuk tempat lilinmu! Ibu begitu bahagia! Aku anak tunggal ibuku … Kau telah menyelamatkan jiwaku.”

Dan Sasha, gemetar penuh rasa terima kasih dan sukacita, meletakkan sebuah tempat lilin di muka dokter. Dokter membuka mulut seakan-akan ingin mengucapkan sesuatu, tetapi tidak sepatah katapun yang keluar … Kemampuannya bicara telah lenyap.

“Orator Ulung”, short story by Anton P. Chekov

PADA suatu pagi nan indah mereka menguburkan Juru Taksir Pajak, Kiril Ivanovich Babylonov. Ia meninggal oleh dua keluhan yang sering ditemukan di tanah air kita, istri yang cerewet dan alkoholisme. Tatkala iring-iringan upacara penguburan bergerak perlahan ke luar dari gereja menuju pekuburan, salah satu dari kolega almarhum, si Poplavsky, ke luar dari kereta dan menghambur mendatangi rumah temannya, Grigory Petrovich Vodkin. Vodkin masih muda, tapi namanya sudah terkenal. Seperti para pembaca akan ketahui nantinya, ia menyandang bakat yang langka dalam hal menyusun pidato tanpa persiapan lebih dulu untuk pernikahan, hari ulang tahun, dan ritus pemakaman. Ia dapat berpidato dalam segala kondisi, setengah tidur, dalam keadaan perut kosong, mabuk seperti seorang pangeran, atau dalam keadaan demam tinggi. Kata-kata meluncur dari mulutnya laksana air keluar dari pipa, berbuncah-buncah, kumbang-kumbang hitam didalam rumah minum tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan kata-katanya yang memabukkan dalam aliran perbendaharaan kata-katanya. Ia bicara begitu pintar begitu panjang bertele-tele, sehingga kadang, terutama pada upacara pernikahan seorang keluarga saudagar, satu-satunya jalan untuk menyetopnya ialah dengan mengundang polisi.

“Aku datang untuk minta bantuanmu, Sobat,” Poplavsky mengawali, begitu ia bertemu di rumah. “Pakailah mantelmu cepat dan mari kita langsung pergi. Salah seorang warga kami meninggal, kami baru saja mengetahuinya bahwa ia telah pergi ke dunia lain, dan seseorang harus memberikan pidato perpisahan terakhir yang mendayu-dayu… Kami mempercayakannya kepadamu, sobat karib. Kami selama ini tidak pernah merepotkanmu jika yang meninggal itu anak-anak, tapi kali ini adalah sekretaris kami –soko guru departemen, begitulah kau mungkin akan mengatakannya. Kami tidak bisa mengubur orang penting ini tanpa pidato.”

“Sekretarismu?” Vodkin menguap. “Orang yang selalu mabuk itu?”

“Ya, dia. Di sana akan disediakan hidangan kue dan santapan istimewa… Ongkos kereta untuk kita. Ayolah, sobat! Beri kami sekedar kata-kata yang menghibur ala Cicero pada upacara pemakaman itu, dan kami sangat berterima kasih sekali atas itu!”

Vodkin dengan senang hati menyetujuinya. Ia pun mengusutkan rambutnya, memasang muka melankolik dan berangkat bersama Poplavsky.

“Aku ingat sekretarismu itu,” ujarnya, begitu ia duduk di dalam kereta. “Kau memang seharusnya menemukan seorang tukang tipu dan tukang kecoh yang lebih besar, semoga Tuhan memberi tempat istirahat yang layak bagi arwahnya.”

“Jangan begitu dong, sobat, kan orang tidak boleh bicara jelek tentang orang yang sudah meninggal.”

“Tentu saja tidak –aut mortuis nihil bene*)—tapi orang itu memang bajingan.”

Dua orang bersahabat itu pun bergegas pergi dan menggabungkan diri dengan iring-iringan penguburan itu kembali. Orang yang mati itu dibawa dalam satu iringan karnaval yang berjalan lambat sehingga sebelum mencapai lokasi pemakaman mereka punya cukup waktu untuk menyelinap memasuki beberapa kedai minum dan sebentar membicarakan aib orang di belakang mereka sekedar untuk memuaskan hati Babylonov.

Dipemakaman diselenggarakan upacara pendek untuk panitia. Ibu mertua, istri, dan ipar perempuan, mengikuti adapt kebiasaan yang berlaku, menangis sambil meratap. Tatkala jenazah diturunkan ke liang lahat, sang istri malahan menjerit! “Minggir –biarkan aku ikut mati bersamanya—tetapi tak jadi, mungkin karena masih ingat pensiunnya. Vodkin menunggu sampai semuanya menjadi tenang, ia lalu maju ke depan, mencari tempat yang mudah dilihat para pelayat. Dan mulai.

“Yakinlah kita semua bahwa mata dan telinga kita tidak memperdayakan kita? Pemakaman ini, wajah-wajah yang bersimbah air mata ini, duka nestapa dan ratap tangis ini, adakah ini bukan merupakan mimpi yang mengerikan? Wahai, ini bukan mimpi, penglihatan kita pun tidak memperdayakan kita! Ia yang baru saja kemarin begitu ceria, begitu segar, muda remaja dan begitu murni, yang baru kemarin, seperti seekor lebah yang tidak kenal capai terus mendengung, di depan mata kita mempersembahkan madunya kepada tanah airnya bagi kebahagiaan bersama, ia yang –sekarang telah kembali ke debu, menjadi sebuah ketiadaan. Maut tak kenal damai telah meletakkan tangannya yang meremukkan atas dirinya pada suatu ketika, dan pada seluruh tahun-tahun pengabdiannya yang subur, ia tetap pada puncak kekuatan dan penuh harapan yang cemerlang. Oh, kehilangan yang tak bisa ditemukan lagi! Siapa gerangan yang dapat menggantikan dia? Kita tak memiliki seorang pengabdi masyarakat yang jarang tolok bandingannya ini dalam hal kebaikannya, selain Prokofy Osipych seorang. Ia telah mengabdikan jiwa raganya untuk menjalankan tugasnya yang mulia, tanpa sedikit pun pernah menyisakan bagi dirinya sendiri. Demikian banyak malam-malam tanpa tidur telah ia manfaatkan untuk bekerja, Ia memanglah seorang seorang yang tidak egois atau Cuma memikirkan dirinya sendiri, dan bukan pula seorang yang betrmental korup… betapa ia telah memandang rendah kepada mereka yang menggodanya dengan suap supaya merusak kebaikan umum, yang tega mengumpannya dengan sekedar keenakan hidup supaya mau mengkhianati tugas yang dipikul kepadanya! Wahai, dengan mata kepala kita sendiri telah menyaksikan betapa Profoky Osipych membagikan penghasilannya yang tak seberapa itu kepada kaum fakir miskin sesamanya, dan kalian sendiri baru saja mendengar betapa tangis duka para janda dan para yatim piatu yang hidupnya tergantung pada kemurahan hatinya. Demi pengabdiannya yang tuntas kepada tugasnya maupun pekerjaan baiknya, ia telah menjadi asing terhadap kehidupan yang senang gembira dan bahkan memalingkan dirinya sendiri dan fasilitas pribadi. Seperti anda sekalian ketahui, ia tetap tinggal membujang sampai dengan hari hayatnya yang terakhir! Dan siapa akan menggantikan tempatnya sebagai seorang rekan? Betapa jelas kini saya melihat didepanku wajah yang lembut tercukur bersih, meninggalkan kita pergi dengan senyuman manis, betapa jelas saya mendengar suaranya yang lembut penuh cinta dan persahabatan itu! Istirahatlah dengan damai, Profoky Osipych! Tidurlah dengan tenang – kau pengabdi yang jujur dan setia!”

Sementara Vodkin meneruskan pidatonya, para pelayat saling berbisik-bisik sau sama lain. Setiap orang menyukai pidato itu, apalagi dibumbui dengan linangan air mata, akan tetapi didalamnya terdapat keganjilan. Pertama, tak seorang pun mengerti mengapa sang orator itu menyebut nama almarhum itu Profoky Osipych, bukannya Kiril Ivanovich. Kedua, setiap orang tahu bahwa almarhum telah menggunakan waktu hidupnya untuk hidup penuh cekcok dengan istri yang dinikahinya, maka tidak bisa dibilang seorang bujangan. Ketiga, muka almarhum justru dilebati bulu-bulu liar, cambang, janggut, kumis segala dan sama sekali tidak pernah kenal pisau cukur, maka sesungguhnya misterius, mengapa sang orator tega melukiskannya sebagai bermuka bersih bercukur. Karena bingung dan malu, para hadirin pun saling bertukar pandangan dan mengangkat bahu.

“Profoky Osipych!” lanjut sang orator, seraya memandang ke arah gundukan tanah kuburan itu dengan penuh perhatian. “Wajahmu begitu bersih –jadi kenapa musti saya katakana buruk?—kau begitu keras dan tegar, namun kita semua tahu bahwa dibalik penampilan lahiriyah itu berdetaklah jantung hati semurni emas!”

Perlahan-lahan para hadirin mulai mengetahui adanya sesuatu yang aneh pada diri sang orator itu. Matanya terpaku pada satu titik, ia bergoyang-goyangh gugup dan mulai mengangkat bahunya pula. Sekonyong-konyong ia menjadi pucat pasi, mulutnya menganga keheranan, dan ia menoleh kea rah Poplavsky.

“Tapi ia masih hidup!” desisnya, seraya memandang penuh ketakutan.

“Siapa?”

“Profoky Osipych! Ia berdiri di sana didekat nisan!”

“Bukan dia yang mati, tapi Kiril Ivanovich!”

“Tapi kau sendiri yang bilang sekretarismu yang mati!”

“Kiril Ivanovich pernah menjadi sekretaris kami –kau mencampur adukkannya, badut konyol kau! Profoky Osipych memang sekretaris kami sebelumnya, itu betul, tapi ia telah dialihtugaskan dua tahun yang lalu ke seksi kedua sebagai juru tulis kepala.”

“Ah, astaga!”

“Kenapa kau tidak meneruskan? Ini mulai membingungkan!”

Vodkin kembali ke gundukan makam itu dan menyingkat piadtonya dengan segala kelihaian bicaranya. Profoky Osipych, seorang pegawai sipil yan lebih tua dengan muka bersih bercukur, memang benar-benar sedang berdiri di dekat batu nisan, seraya memandang marah kepada sang orator dan mukanya cemberut.

“Terpaku terperangahlah kau di sana!” para pegawai sipil itu tertawa sekembalinya mereka dari pemakaman bersama Vodkin. “Bayangkan mengubur seseorang, padahal ia masih hidup.”

“Satu pertunjukan yang menyedihkan, anak muda!” Profoky Osipych menggeram. “Pidato macam begitu mungkin saja dibenarkan kalau saja seseorang memang meninggal, tapi kalau orangnya masih hidup –itu cuma membangkitkan kelucuan, Tuan! Demi Tuhan, kenapa kau sampai berbuat hal sekonyol itu? Tidak egois, tidak korup, tidak makan suap! Untuk mengatakan semacam itu atas diri orang yang masih hidup, kau tentunya bergurau, Tuan. Dan siapa yang meminta kepadamu, orang muda, mempercakapkan mukaku? Licin, bersih, buruk, memang mungkin saja, tetapi kenapa kau menarik perhatian orang dengan omongan yang bukan-bukan semacam itu? Tidak Tuan, saya adalah seorang pendosa!”

“Penderitaan”, short story by Anton Chekov

“Kepada siapa seharusnya ku ceritakan dukaku?”
Senja hari. Serpihan salju basah beterbangan perlahan disekitar lampu jalan, yang baru saja dinyalakan, dan berjatuhan di lapisan atap yang tipis, punggung kuda, bahu, dan topi-topi. Iona Potapov, seorang pengemudi kereta, putih bagaikan hantu. Dia duduk tenang di kereta, ia membungkukkan badannya dua kali bungkukan. Jika tumpukan salju jatuh mengenainya seolah-olah ia tidak berpikir untuk menghilangkannya. Kuda betina kecilnya putih dan juga tidak bergerak. Kesendiriannya, kekakuan tali kekang, dan tongkat lurus di kakinya membuatnya kelihatan seperti kuda dalam gambar uang setengah sen. Mungkin dia bingung. Siapapun yang terlepas dari kekangan,dari pemandangan kelabu yang dikenal dan terlempar ke rawa yang berkilauan cahaya, yang terus-menerus gempar dan orang-orang yang tergesa-gesa terikat untuk berpikir.
Itu sudah berlangsung lama sejak Iona dan kuda tuanya pindah. Mereka keluar sebelum makan malam dan belum ada satu penumpangpun. Tetapi sekarang kegelapan malam mulai menyelimuti kota. Cahaya pucat lampu jalan berubah menjadi terang dan keriuhan jalananpun semakin bertambah gaduh.
“Kereta ke Vyborgskaya!” Iona mendengar. “Kereta!”
Iona memulai, dan melalui bulu matanya yang seputih salju ia melihat seorang petugas dengan jas kemiliteran dan kupluk.
“Ke Vyborgskaya,” ulang si petugas. “Apakah kau mengantuk? Ke Vyborgskaya!”
Sebagai tanda setuju, iona menyentakkan tali pengebat yang membuat salju di punggung kuda dan bahu turun. Si petugas naik ke kereta, si pengemudi kereta mendekati kudanya, ia mengulurkan lehernya seperti angsa, dan melonjak-lonjak di tempat duduknya. Itu semua ia pandang lebih baik daripada mengacungkan cambuknya. Kudanya juga mengulurkan lehernya, melekukkan kakinya yang seperti tongkat dan dengan ragu-ragu berangkat.
“Kemana kau mendorong keretanya bodoh?” Iona mendengar teriakan dari kegelapan. “Kau mau kemana bodoh? Tetap ke kanan!”
“Kau tak tahu bagaimana mengemudi ha! Tetap ke kanan,” si petugas marah-marah.
Seorang pengemudi kereta kuda menyumpahinya ; seorang pejalan kaki melintasi jalan itu dan menyenggol hidung kuda dengan bahunya lalu menatap marah pada Iona lalu menyeka salju di lengan bajunya. Iona gelisah, ia merasa sedang duduk di atas duri, ia menyentakkan sikunya, dan matanya seperti orang yang kemasukan setan, ia bahkan tidak tahu dimana dan kenapa ia disana.
“Betapa bangsat mereka semua!” kata si petugas mengejek. “Mereka dengan mudah menghadangmu atau jatuh di kaki kudamu. Mereka pasti melakukan itu dengan maksud tertentu.
Iona melihat pada penumpangnya, ia menggerakkan bibirnya…pada kenyataannya ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi tak ada yang keluar dari mulutnya kecuali bau.
“Apa?” selidik si petugas.
Iona tersenyum masam, ia memaksakan tenggorokannya sehingga menimbulkan serak: “Anakku…, anakku meninggal minggu ini pak.”
“Hm! Kenapa dia meninggal?”
Iona membalikkan seluruh badannya kepada penumpangnya dan berkata :
“Tak ada yang tahu! Itu semua berawal dari demam…dia terbaring tiga hari di rumah sakit dan kemudian meninggal…Takdir Tuhan.
“Terbalik bodoh! Ayo keluar dari sini. “Apa kau sudah gila anjing tua? Lihat kemana kau pergi!”
“Ayo jalan! Ayo jalan!” kata si petugas. “Kita tidak akan sampai ke tujuan sampai besok jika kau mengendarainya seperti itu. Cepat!”
Si pengemudi kereta mengulurkan lehernya lagi, melonjak-lonjak di tempat duduknya dan dengan lemah mengayunkan cambuknya. Beberapa kali ia melihat ke si petugas tapi belakangan si petugas menutup matanya, rupanya ia malas untuk mendengarkan Iona. Sampai di Vyborgskaya, Iona berhnti di dekat sebuah restoran dan lagi-lagi ia duduk berdempet di kereta…Lagi-lagi juga salju basah membuat dirinya dan kudanya menjadi putih. Satu jam berlalu…dan seterusnya…
Tiga orang pria muda, dua orang tinggi dan kurus, satu orang pendek dan bungkuk muncul , mereka saling mencemooh dan menyentakkan kaki ke trotoar dengan sepatu karet mereka.
“Pak supir, ke Police Bridge!” kata si bungkuk dengan suara serak. “Kami bertiga…20 kopek!”
Iona menyentakkan tali kuda dan mencekik kudanya. 20 kopek sebenarnya bukan harga yang pas, tapi ia nampaknya tidak begitu mempedulikannya. Apakah itu mata uang rusia atau bahkan 5 kopekpun ia tak begitu peduli sepanjang ia punya penumpang. Tiga orang pria muda itu saling mendorong satu sama lain dan menggunakan bahasa yang buruk, mereka naik ke kereta dan mencoba duduk bersamaan. Pertanyaannya adalah bagaimana menenangkan mereka : siapa yang duduk dan siapa yang harus berdiri. Setelah berselisih cukup lama, mereka berkesimpulan bahwa si bungkuk harus berdiri karena ia yang paling pendek.
“Baik, ayo jalan,” kata si bungkuk dengan suara serak, tiupan nafasnya mengenai leher Iona. “Tarik saja! Apa yang kau dapat teman! Kau takkan menemukan yang lebih buruk dari ini di seluruh Petersburg.
“He-he! He-he!” iona tertawa. “Tak perlu membual!”
“Baik, kami takkan membual, ayo jalan! Apa kau akan terus mengemudi seperti ini sepanjang jalan? Eh? Haruskah aku memberimu sesuatu di leher?”
“Oh kepalaku sakit,”kata yang tinggi. “Di Dukmasovs’ kemaren Vaska dan aku minum 4 botol brandy bersama.
“Aku tidak mengerti kenapa kau berolok-olok,” kata seorang lagi yang juga tinggi dengan marah. “ Kamu boohng seperti seorang brutal.”
“Itu sama benarnya dengan kutu yang batuk-batuk.”
“He-he!” Iona tersenyum. “Beginilah tuan-tuan!”
“Bodoh kau!” si bungkuk marah-marah. “Kapan kita akan sampai Pak Tua, begitukah cara mengemudi? Beri dia cambukan. Buat ia lebih baik.”
Iona merasakan punggungnya berguncang karena getaran suara si bungkuk. Dia mendengar bahwa ada kesalahan alamat, dia melihat orang-orang,dan perasaan sepi sedikit demi sedikit mulai berkurang di hatinya. Si bungkuk memaki-makinya sampai Iona merasa tercekik karena batuknya. Temannya yang tinggi mulai berbicara tentang Nadyezhda Petrovna. Iona melihat kepada mereka. Menunggu sampai mereka berhenti bicara, ia lalu kembali melihat mereka sekali lagi dan berkata:
“Minggu ini anakku meninggal!”
“Kita semua pasti akan mati,..” kata si bungkuk mengeluh, ia menyapu bibirnya setelah batuk. “Ayo jalan! Ayo jalan! Teman-teman, aku tak bias merangkak seperti ini terus! Kapan kita akan sampai?”
“Baik, aku akan memberimu satu pukulan di leher!”
“Apakah kau dengar Pak Tua? Aku akan membuatmu pintar. Jika seseorang dalanm upacara mempunyai teman sepertimu mereka mungkin akan meninggalkanmu. Apakah kau dengar naga tua? Atau kau tidk menangkap maksud kami?”
Dan Iona meresakan satu tamparan pada bagian belakang lehernya.
“He-he!…” Ia tertawa. “ Beginilah Tuan-tuan…Tuhan memberimu kesehatan!”
“Pak supir, apa kau sudah menikah?” Tanya salah seorang yang tinggi.
“ Aku? He-he! Beginilah Tuan-tuan. Istriku satu-satunya sekarang hanyalah kelembapan bumi…He-ho-ho!… disitu kuburannya!… disini anakku mati dan aku hidup…. Itulah yang aneh, kematian datang di pintu yang salah…harusnya aku tapi malah anakku yang kena….”
Dan iona kembali menceritakan bagaimana anaknya mati, tapi pada saat itu si bungkuk mengeluh dan berkata , terima kasih Tuhan! Kami sampai di tujuan. Setelah mengambil 20 kopek, Iona menatap lama pada orang-orang yang bersenang-senang yang hilang dalam kegelapan. Lagi-lagi ia sendirian dan kesunyian yang selalu pantas untuknya. Kesengsaraan yang dating kembali dan merobek-robek hatinya lebih kejam dari sebelumnya. Dengan tatapan gelisah dan menderita, Iona mengemudi serampangan di kedua sisi jalan : bisakah ia menemukan satu orang dari beribu orang disana yang mau mendengarkannya? Tetapi kerumunan itu silih berganti dengan tidak memperhatikannya dan kesengsaraannya. Kesengsaraannya amat besar, melampaui semua batas. Jika hati Iona penuh dengan kesengsaraan dan semua itu meluap, maka akan memebanjiri seluruh dunia, walaupun kelihatannya tidak begitu. Ia telah menemukan tempat persembunyian seperti sebuah karang yang tak berarti yang tidak akan ditemukan di siang hari walau dengan lilin sekalipun.
Iona melihat seorang penjaga rumah dengan parcel dan ia berpikir untuk menyapanya.
“Jam berapa sekarang teman?” dia bertanya.
“Mendekati jam sepuluh…. Kenapa kau berhenti disini?, ayo jalan!”
Iona mengemudi lagi, membungkukkan badannya dua kali dan ia menyerah terhadap kesengsaraannya. Dia merasa tidak ingin meneyerukannya kepada orang lain. Tapi sebelum lima menit berlalu,, ia menggambarkan kerumitannya sendiri, ia menggelengkan kepala seperti orang yang merasa tertusuk, dan ia menyentakkan tali kuda… Ia tidak mamapu menhannya lebih lama.
“Kembali ke halaman!’ pikirnya “Ke halaman!”
Dan kuda betina kecilnya, sepertinya mengetahui apa yang dia pikirkan. Setengah jam kemudian Iona sedang duduk didekat sebuah kompor besar yang kotor. Di dekat kompor, di lantai, di bangku-bangku orang-orang berdengkur. Udara penuh dengan bau busuk dan sesak. Iona melihat mereka yang tertidur itu, menggaruk-garuk kepalanya, dan ia menyesal pulang cepat.
“Aku bahkan tidak memperoleh uang yang cukup untuk membayar gandum,” pikirnya. “ itulah sebabnya aku sengsara.seorang laki-laki yang tahu bagaimana bekerja… yang sudah cukup makan, dan yang kudanya cukup makan adalah kesenangan yang abadi.
Di suatu sudut seorang kusir bangun, membersihkan tenggorokannya sambil ngantuk dan ingin mengambil timba air.
“Ingin minum ya?” iona bertanya padanya.
“Kelihatannya begitu.”
“Itu mungkin bagus, tapi anakku mati kawan…apakah kau tahu? Minggu ini di rumah sakit….itu adalah kesibukan yang
Iona melihat efek dari kata-kata yang dikeluarkannya, tapi kelihatannya ia tidak melihat apapun. Orang muda itu sudah menutupi wajahnya dan langsung tidur. Pak Tua itu mengeluh dan menggaruk dirinya. Sesaat orang muda itu haus akan air, tapi ia haus untuk berbicara. Putranya sudah genap satu minggu mati, tapi ia belum berbicara pada siapapun. Ia ingin membicarakannya dengan penuh pertimbangan. Dia ingin mengatakan bagaimana putranya sakit, bagaimana ia menderita, apa yang ia katakan sebelum ia mati, bagaimana ia mati… ia ingin menceritakan pemakamannya, dan bagaimana ia pergi ke rumah sakit untuk mengantar pakaian anaknya. Dia masih punya anak perempuan bernama Anisya di desa…. Dan dia juga ingin berbicara tentang itu. Ya, dia punya banyak hal untuk diceritakan, seharusnya pendengarnya mengeluh, berseru dan mengeluh. Bahkan tidak juga lebih baik berbicara dengan wanita, mungkin mereka makhluk yang lucu, mereka menangis pada awal pembicaraan.
“Mari keluar dan lihat kuda ,” pikirnya. “Selalu ada waktu utnuk tidur….kau akan cukup tidur, jangan takut….”
Ia meletakkan jasnya dan pergi ke kandang dimana kudanya berada. Dia berpiir tentang gandum, tentang jerami, dan tentang cuaca. Dia tak dapat memikirkan anaknya saat ia sedang sendiri. Berbicara tentang itu kepada seseorang adalah sesuatu mungkin. Tetapi berpikir tentangnya dan gambarannya adalah kesedihan yang tak tertahankan.
“Apakah kau mengunyah?” iona bertanya pada kudanya., melihat pada matanya yang bersinar. “Mengunyahlah, mengunyahlah…karena kita tidak punya cukup gandum, kita akan makan jerami…ya…aku sudah terlalu tua untuk mengemudi…anakku seharusnya mengemudi, tapi aku…dia adalah kusir yang sesungguhnya…dia seharusnya hidup.
Iona diam beberapa saat dan kemudian ia melanjutkan :
“Itulah dia..perempuan tua… Kuzma Ionitch telah pergi…dia berkata selamat tinggal padaku. Dia pergi dan meninggal tanpa alasan. Tapi, sekarang andaikan kau punya anak kuda jantan, dan kau adalah satu-satunya ibu baginya…dan selanjutnya ia pergi dan mati… kau akan menyesal, kan?”
Kuda betina itu mengunyah, mendengarkan, dan bernafas di tangan majikannya. Iona terbawa suasana dan menceritakan padanya tentang semua itu.

Terjemahan “Misery: by Anton Chekov, translated by Rendy Afriadi
Sumber : http://goresanamelinajunidar.blogspot.com/2013/02/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html