“The Spirit Of Laws”

original

Re-read – “The Spirit of the Laws” judul aslinya “De l’esprit des Lois” buku kesohor karya Baron de Montesquieu yang amat kesohor itu. Buku tentang Hukum dan Politik banyak menyinggung institusi Gereja (Catholic), terbit pertama kali tahun 1748, tahun 1751 gereja Catholic memasukkan buku ini dalam “Index Librorum Prohibitorum” (Daftar Buku Terlarang). Banyak poin penting dalam buku besar ini. Ide yang paling penting dalam karya ini adalah gagasan dari suatu pemerintahan yang terbatas yang diatur sedemikian rupa sehingga mencegah pemerintahan itu untuk menyalahgunakan warganya. Ide-ide dari Montesquieu dapat terlihat cukup jelas dalam Konstitusi Amerika Serikat dan hampir semua negara berbentuk republik yang demokratis. “The Spirit of Laws” berbicara tentang perlunya melindungi hak-hak individu. Cara terbaik untuk melakukan ini adalah melalui konstitusi tertulis yang menjamin hak-hak individu ini. Montesquieu juga berpendapat bahwa pemerintah berdasarkan pemisahan kekuasaan diperlukan untuk menjamin hak-hak rakyat tersebut. Salah satu ide sentral “The Spirit of Laws” adalah bahwa pemerintah negara-negara berlaku sesuai dengan prinsip-prinsip mereka. Misalnya, negara-negara demokratis termotivasi oleh Kasih-Kebajikan, menempatkan kebutuhan kepentingan individu di atas kebaikan yang lebih besar.
Orang di bawah pemerintahan Despotik dipandu oleh prinsip Ketakutan, dan mereka yang di bawah sistem pemerintahan Monarki dipandu tidak berdasarkan Kasih-Kebajikan tetapi dengan kehormatan, keinginan untuk mencapai gelar dan hak istimewa dari raja. Oleh karena itu, tiga prinsip yang mendasari dalam berbagai bentuk pemerintahan yang berdasar nilai Kebajikan (dalam demokrasi); Kehormatan (dalam monarki); dan Ketakutan (dalam pemerintahan despotik). Sistem pendidikan di setiap bentuk pemerintahan akan memiliki tujuan yang berbeda – Kebajikan dalam Demokrasi, Takut dalam sistem Despotik, dan Kehormatan dalam Monarki. Sistem yang berbeda juga memiliki berbagai jenis hukum atau aturan dan perlakuan yang berbeda terhadap perempuan (misalnya, dalam Monarki, mas kawin yang besar untuk mendukung istri seseorang menurut peringkatnya, sementara mereka dalam alam Demokrasi tidak ada dalam sistem Despotik lebih buruk lagi dimana istri adalah dianggap sebagai barang milik suami mereka).

Buku ini benar-benar karya besar dan luar biasa dan tidak pernah bosan-bosannya untuk membaca dan mempelajarinya.

Advertisements