“The Spirit Of Laws”

original

Re-read – “The Spirit of the Laws” judul aslinya “De l’esprit des Lois” buku kesohor karya Baron de Montesquieu yang amat kesohor itu. Buku tentang Hukum dan Politik banyak menyinggung institusi Gereja (Catholic), terbit pertama kali tahun 1748, tahun 1751 gereja Catholic memasukkan buku ini dalam “Index Librorum Prohibitorum” (Daftar Buku Terlarang). Banyak poin penting dalam buku besar ini. Ide yang paling penting dalam karya ini adalah gagasan dari suatu pemerintahan yang terbatas yang diatur sedemikian rupa sehingga mencegah pemerintahan itu untuk menyalahgunakan warganya. Ide-ide dari Montesquieu dapat terlihat cukup jelas dalam Konstitusi Amerika Serikat dan hampir semua negara berbentuk republik yang demokratis. “The Spirit of Laws” berbicara tentang perlunya melindungi hak-hak individu. Cara terbaik untuk melakukan ini adalah melalui konstitusi tertulis yang menjamin hak-hak individu ini. Montesquieu juga berpendapat bahwa pemerintah berdasarkan pemisahan kekuasaan diperlukan untuk menjamin hak-hak rakyat tersebut. Salah satu ide sentral “The Spirit of Laws” adalah bahwa pemerintah negara-negara berlaku sesuai dengan prinsip-prinsip mereka. Misalnya, negara-negara demokratis termotivasi oleh Kasih-Kebajikan, menempatkan kebutuhan kepentingan individu di atas kebaikan yang lebih besar.
Orang di bawah pemerintahan Despotik dipandu oleh prinsip Ketakutan, dan mereka yang di bawah sistem pemerintahan Monarki dipandu tidak berdasarkan Kasih-Kebajikan tetapi dengan kehormatan, keinginan untuk mencapai gelar dan hak istimewa dari raja. Oleh karena itu, tiga prinsip yang mendasari dalam berbagai bentuk pemerintahan yang berdasar nilai Kebajikan (dalam demokrasi); Kehormatan (dalam monarki); dan Ketakutan (dalam pemerintahan despotik). Sistem pendidikan di setiap bentuk pemerintahan akan memiliki tujuan yang berbeda – Kebajikan dalam Demokrasi, Takut dalam sistem Despotik, dan Kehormatan dalam Monarki. Sistem yang berbeda juga memiliki berbagai jenis hukum atau aturan dan perlakuan yang berbeda terhadap perempuan (misalnya, dalam Monarki, mas kawin yang besar untuk mendukung istri seseorang menurut peringkatnya, sementara mereka dalam alam Demokrasi tidak ada dalam sistem Despotik lebih buruk lagi dimana istri adalah dianggap sebagai barang milik suami mereka).

Buku ini benar-benar karya besar dan luar biasa dan tidak pernah bosan-bosannya untuk membaca dan mempelajarinya.

Theologi Penggembalaan

TUGAS INTERAKSI BUKU

Mata Kuliah              : Pastoral Theology

Judul                           : “Theology Penggembalaan” oleh Peter Wongso

Penerbit                     : Literatur SAAT

“Apabila motif seseorang untuk menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan adalah sebagai suatu kompensasi, demi memuaskan keinginan menjadi pemimpin yang tidak diperoleh dalam dunia sekuler dan mengimbangi perasaan bersalah dalam hati nurani, akibatnya ialah dirinya dijadikan sebagai pusat dari tujuannya.”

 

Membaca dan merefleksi buku ini sangat menyenangkan, bukan hanya karena buku ini ditulis oleh seorang Peter Wongso, tetapi buku ini sudah menjadi semacam karya “klasik” yang wajib dipunyai dan dibaca oleh segenap orang yang terjun dalam dunia pelayanan, baik yang professional, part timer ataupun dunia akademisi.
Buku ini ditulis dengan bahasa dan gaya yang sederhana, bersahaja, membuatnya mudah dimengerti bahkan ketika kita membacanya sambil jalan-jalan atau sedang mengadakan perjalanan di atas kendaraan yang kita tumpangi. Inilah salah satu keunikan buku ini. Design ukuran buku yang kecil serta tipis juga membuatnya mudah di bawa kemana-mana.
Salah satu hal yang mungkin perlu dicatat sedikit sebelum kita masuk dalam isi buku ini adalah design cover buku ini sangat buruk. Buruk sekali. Design cover terkesan seadanya, sederhana dan sama sekali tidak menunjukkan adanya suatu kreatifitas. Sama sekali tidak cocok dibandingkan dengan isi dan kualitas buku ini yang termasuk karya klasik.
Yang menarik dari buku ini adalah bagian demi bagian memakai kata “Pasal” untuk menggantikan kata “Bab” yang lebih lazim digunakan dalam penulisan suatu buku. Kita tidak tahu apa alasan penulis baik alasan tehnis maupun alasan filosofis mengapa memakai istilah “Pasal” dan bukan dengan kata “Bab”, tetapi apapun itu hendaknya bukanlah menjadi semacam halangan dan gangguan bagi kita untuk mempelajari buku ini, serta itu semua tidak mengurangi kualitas buku ini.
Pada pasal satu, penulis mengisinya dengan sebuah “Pendahuluan”, pada bagian ini penulis menjelaskan dan mengenalkan bahwa Theologi Penggembalaan adalah termasuk Theologia Praktis dimana secara garis besar ruang lingkup pembahasannya adalah seputar bagaimana menggembalakan gereja dan bagaimana mengajar orang Kristen, dan oleh karena inilah maka Theologi Penggembalaan disebut juga Ilmu Kepemimpinan Penggembalaan.
Selain menyebutkan Yesus sendiri sebagai contoh, kemudian Rasul Paulus, dalam Pasal ini, secara menarik penulis memaparkan ringkasan pengajaran ke dua belas rasul untuk gereja-gereja di Syiria yang oleh gereja abad ke dua di jadikan petunjuk, prinsip dan pola penggembalaan. Berkas yang ada disalin tahun 1656 dan ditemukan di Konstantinopel dan diterbitkan tahun 1883.
Selanjutnya pasal ini ditutup dengan sebuah statement yang kuat bahwa penulis berpendapat bahwa pola dan prinsip penggembalaan yang dilakukan berbagai gereja dan berbagai denominasi dari jaman-ke jaman ternyata hampir sama, tetapi pada abad ke 20 ini mempunyai perbedaan yaitu menitikberatkan pada Ilmu Jiwa.
Pasal selanjutnya, yaitu pasal dua, penulis nampak berusaha memaparkan arti penting seorang Gembala mengerti secara persis tugas panggilannya. Mengerti tugas panggilannya dan bukan sekedar ikut-ikutan menjadi hamba Tuhan. Penulis kemudian menuliskan beberapa hal, atau lebih tepatnya ciri-ciri dari seorang Hamba Tuhan yang betul-betul mengerti panggilannya.
Ciri-cirinya antara lain:
1. Tujuan hidupnya luhur dan sesuai kehendak Tuhan. Apakah yang dimaksudkan tujuan hidupnya luhur dan sesuai kehendak Tuhan? Hamba Tuhan itu harus selalu meninggikan Yesus dan selalu rindu menyelamatkan jiwa-jiwa.
2. Selalu hanya bersandar akan anugerah Allah untuk mengatasi segala kesulitan hidup.
3. Menaati semua perintah Tuhan serta jelas memahami kehendak Tuhan.
4. Mengandalkan Doa sebagai dalam segala hal. Hal ini jelas membuthkan latihan yang tekun dalam hal berdoa.
5. Giat belajar firman Tuhan.
6. Menganggap jiwa-jiwa yang tersesat sebagai suatu yang penting sehingga akan gigih memberitakan Injil Kehidupan.
7. Mempunyai “self confidence” yang tinggi serta berharap ada hasilnya.
8. Harus mendapat urapan Roh Kudus. Hal ini sangat penting karena Roh Kudus memberi hikmat.
Pasal ini ditutup dengan pernyataan yang sangat bagus dan saya sangat setuju, penulis mengutip pernyataan dari Oswald Smith yang berkata:
“Kesaksian dari seseorang yang telah diurapi Roh Kudus, mengalahkan naskah khotbah dari seribu orang.”
Hendaknya hidup kita benar-benar menjadi sebuah kesaksian yang benar dan baik.
Pasal tiga, penulis menjelaskan kedudukan Pendeta dari sudut pandang alkitabiah (lengkap dengan ayat-ayatnya) dan dari sudut pandang Ilmu Jiwa. Pada pasal ini, penulis membahas cara mengetahui kedudukan pendeta dari :
1. Panggilannya
Dari panggilannya, kita bisa tahu bahwa mereka itu sebagai Rasul, Nabi, Guru, Imam, Tua-tua, Bishop, Diaken, Orang Saleh/Reverend, Elder.
2. Arti panggilan Pendeta
Arti pendeta antara lain sebagai Penunggu, Mengetahui isi hati, Pemimpin, Penyembuh, Pemelihara/pemberi makan rohani, Hakim, Orang yang berkorban. Seorang pendeta atau hamba Tuhan harus mengerti ketujuh arti ini serta melaksanakan dengan penuh kesungguhan.
3. Analisis kedudukan Pendeta berdasar Ilmu Jiwa
Ini cukup menarik karena benar-benar bersifat praktis dibandingkan konsep teologis.
a. Eksekutif
Pendeta sebagai pemimpin, dia bertanggungjawab atas banyak hal, saya sangat setuju dengan hal ini, saya menganalogikan dengan seorang eksekutif atau seorang manager atau direktur perusahaan yang punya tanggung jawab besar, demikian hendaknya seorang pendeta/gembala di gereja.
b. Planner/Perencana
Pendeta harus punta rencana yang jauh terhadap gerejanya, punya visi jauh ke depan, punya pengetahuan dan kaya pekerjaan, serta senantiasa mengasah otak dan berdoa.
c. Wakil
Pendeta adalah wakil dan jurubicara gereja bagi dunia lauar dan masayarakat.
d. Ahli
Punya pengetahuan yang cukup mengenai seluk beluk gereja.
e. Berjiwa pemimpin
f. Bisa memberi pengarahan dan hukuman
g. Teladan
h. Ayah
i. Penanggung dosa.

Pada pasal selanjutnya, penulis memaparkan krisis/krisis atau bahaya yang dapat menggagalkan pendeta. Secara menarik, dan menurut saya ini sangat menarik, penulis secara mencolok langsung menganalogikan bahwa kegagalan pendeta hampir sama dengan kegagalan karyawan. Penulis secara mencolok memaparkan laporan Ketua Hubungan Masyarakat Chicago mengenai hal-hal yang menyebabkan kegagalan karyawan. Selain itu penulis juga memaparkan laporan penyebab kegagalan karyawan yang dilakukan oleh Universitas Emony jurusan perdagangan. Dari hasil itu Nampak bahwa penyebab kegagalan seorang pendeta ternyata hampir sama dengan penyebab kegagalan karyawan. Secara umum, penulis menyimpulkan bahwa penyebab terbesar kegagalan pendeta adalah: Kurangnya profesionalisme dalam semua aspek, congkak, dengki, mengasihani diri, masalah uang, kurang bisa menjaga pergaulan dengan lawan jenis,
Pada pasal selanjutnya yang terbilang cukup pendek, penulis memaparkan macam-macam tipe pemimpin gereja. Dengan menarik penulis memaparkan 4 model pembagian:
1. W. H. Cowley
Membagi pemimpin jadi dua: “Leadman” (yang cukup negative) dan tipe “Leader”.
2. F. C. Bartell
Membagi pemimpin jadi tiga: Mendapatkan kedudukan karena diwariskan, Pemimpin yang punya kemampuan mengatur anggota dan mempertahankan kedudukan serta terakhir pemimpin yang dapat mengatasi anggotanya dan mempertahankan kedudukannya.
3. Krech and Crutch Filld
Membagi pemimpin jadi tiga: Pemimpin yang menurut kehendak hatinya, Pemimpin dictator, Pemimpin demokratis,
4. R. Lippet IOWE, hasil riset di bidang anak-anak. Pada akhirnya pemimpin model demokratis lebih baik ditinjau dari kekuatan organisasi, pendidikan, dan etika Kristen.
Pasal ini ditutup dengan kesimpulan bahwa pimpinan demokratis lebih bagus ditinjau dari kekuatan organisasi, pendidikan dan etika Kristen.
Selanjutnya dalam pasal selanjutnya penulis mengemukakan dan menerangkan dengan panjang lebar, pengetahuan yang harus ada bagi seorang pemimpin. Salah satu syarat yang harus ada yaitu: mengenal diri sendiri. Penulis mengemukakan pendapat dari Dewar and Hudson mengenai pentingnya mengenal diri sendiri yang mana menurut mereka dengan mengenal diri sendiri membuat orang:
1. Jadi mengerti kekurangan diri dan segera memperbaikinya.
2. Mudah dapat bersimpati kepada orang lain
3. Dasar dari kerendahan hati dan kebajikan.
Selain mengenal diri sendiri, juga harus mengenal kebutuhan orang lain, dan mengenal kebutuhan pokok manusia. Selanjutnya penulis menerangkan berbagai jenis manusia menurut klasifikasi Hipokrates, Carl Jung dan Karen Honey.
Pada pasal tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, sebelas, penulis menerangkan hal-hal yang bersifat praktikal yang dilakukan oleh seorang gembala pada umumnya, lengkap dengan ayat-ayat yang bisa dipakai sebagai pegangan atau dasar pelayanan. Pertama penulis menerangkan gembala sebgai pemimpin administrasi, hal mana cukup wajar karena gereja pada hakekatnya adalah sebuah organisasi. Pendeta harus bisa dan jika memungkinkan juga harus piawai dalam hal-hal yang bersifat administrasi mengingat administrasi yang baik dan tertib sangat berguna bagi semua organisasi.
Selanjutnya penulis membahas panjang lebar tentang pendeta yang harus memimpin kebaktian, memimpin sakramen, melakukan kunjungan kepada jemaat dan menggembalakan anggotanya.
Cukup menarik bahwa di dalam buku ini penulis menyertakan sedikit berbagai penyakit psikologis dan pengobatannya secara agama. Memang tidak banyak, tetapi itu cukup membantu pembaca mengenali dan mengerti sedikit tentang penyakit jiwa dan hubungannya dengan agama berkenaan dengan tugas=tugas pastoral yang dilakukan oleh pendeta dan gembala.
Pada pasal selanjutnya penulis membahas dengan cukup mendasar tentang betapa seorang pemimpin dalam hal ini adalah seorang gembala atau pendeta akan banyak berkorban. Pengorbanan yang cukup berat karena menyangkut mental spiritual, suatu situasi yang melelahkan dan penuh tekanan, kesepian. Memerlukan kesiapan diri yang penuh untuk menjadi seorang pemimpin dan gembala.
Pada pasal selanjutnya penulis membahas tentang pelayanan kaum muda, meski tidak banyak dan kurang mendalam tetapi cukup bisa memberi gambaran betapa pentingnya pelayanan kaum muda dalam gereja mengingat kaum muda itu adalah masa depan gereja.
Pasal penutup buku ini berisi ayat-ayat yang dapat digunakan dalam perkunjungan. Situasi dan ayat yang diberikan cukup lengkap untuk berbagai situasi, mulai sakit penyakit, duka cita, hari Sabath hingga kemurtadan rohani. Sungguh-sungguh bisa dijadikan referensi atau pegangan.
Buku ini ditutup dengan sesuatu yang tidak jelas. Tidak jelas masuk dalam bab apa, bagian apa, serta terkesan hanya sekedar ditambahkan saja tanpa masuk ke dalam suatu pasal atau tanpa diberi keterangan sama sekali maksudnya. Hal yang tidak jelas itu adalah adanya tiga lembaran tambahan semacam formulir.Mungkin maksud penulis ingin memberi contoh, tetapi alangkah baiknya bila itu dimasukkan dalam salah satu pasal atau setidaknya diberi keterangan bahwa ini adalah lampiran atau contoh. Pertama atau angka romawi satu yaitu tentang Baptisan Jemaat dan Administrasi Atestasi, angka romawi dua adalah formulir keanggotaan jemaat dan romawi tiga adalah pembentukan kelomok tumbuh bersama.
Secara umum, buku ini sangat wajib dibaca bahkan oleh semua orang Kristen, tidak hanya praktisi atau aktivis gereja. Bagi kalangan jemaat umum yang awam dengan membaca buku ini selain akan merangsang minat untuk lebih aktif dalam kegiatan gereja, juga akan membangun suatu situasi yang sehat karena jemaat awam bisa mengerti dan mengkritisi apa dan bagaimana situasi gereja dimana mereka tumbuh. Mereka akan lebih mengerti hal-hal apa saja, kesulitan-kesulitan seperti apa yang dihadapi gembala mereka sehingga diharapkan mereka bisa lebih ikut mensuport, membantu dan menopang gembala mereka dengan lebih bijaksana.

Gereja di Tengah Gejolak Kota-Kota

TUGAS INTERAKSI BUKU

Mata Kuliah                : Urban Ministry

Judul                           : “Gereja di Tengah Gejolak Kota-Kota” oleh Herlianto

Penerbit                     : YABINA

Sebelum masuk dalam refleksi dan rangkuman buku ini, penting sekali kita pahami dan sadari bahwa buku ini ditulis oleh penulis sebelum masa Reformasi. Buku ini ditulis dalam masa administrasi Presiden Soeharto, dalam masa Orde Baru, sehingga alam pikiran penulis sangat dipengaruhi oleh alam pemikiran Persatuan dan Kesatuan ala Soeharto. Pandangan-pandangan penulis mengenai berbagai hal termasuk pandangannya mengenai Islam bahkan pandangannya tentang Kekristenan sangat dipengaruhi suasana dan keadaan waktu itu. Setelah hampir 20 tahun setelah Reformasi, telah banyak hal terjadi di dunia ini termasuk di Republik ini. Suasana social politik, ekonomi, dunia berubah, termasuk suasana social politik bahkan keagamaan di Indonesia. Islam berubah, Kristen berubah, berkembang. Semua berubah. Dalam berbagai segi, buku ini masih bagus untuk dibaca karena ada beberapa bagian yang memang masih relevan, tetapi harap dicatat pula banyak sekali pandangan penulis yang sudah tidak sesuai lagi dengan pandangan dan kenyataan yang terjadi saat ini bahkan ketinggalan. Out of date! Bahkan dalam pembahasan selanjutnya, tampak sekali penulis membenci, apriori terhadap suatu model ibadah, gerakan atau denominasi Kristen sendiri bahkan ikut menyalahkan mereka atas berbgai kerusuhan yang langsung atau tidak lagsung menimpa orang-orang Kristen atau gereja-gereja. Sungguh suatu sikap yang kurang terpuji. Dalam pembahasan selanjutnya juga Nampak nyata bahwa penulis adalah Anti-Kharismatik dan hal-hal yang biasanya menyertainya. Menyalahkan hal-hal yang menyertai gerakan Kharismatik sebagai salah satu penyebab huru-hara dan kerusuhan SARA yang membuat orang Kristen dan gereja menderita. Oleh karena itu sangat perlu bagi pembaca untuk mengerti hal ini dan menyikapinya dengan kebijaksanaan. Oleh karena itu tidak heran jika pihak penerbit (YABINA) sudah tidak menerbitkan buku ini lagi dan digantikan dengan buku lain yang sejenis dengan judul “Pelayanan Perkotaan”.

Pada permulaan buku, penulis menceritakan ilustrasi bahwa setelah pasca PD II maka terjadi perpindahan penduduk secara besar-besaran dari desa ke kota. Hal ini disebabkan setelah PD II maka keadaan sudah aman dan situasi sudah tertib teratur, sehingga orang mulai giat menata hidup dan mencari kesejahteraan.

Hal yang sama juga terjadi di Negara berkembang. Kita tahu bahwa Negara berkembang kebanyakan lahir sesudah era PD II.  Negara-negara yang baru merdeka ini sangat giat membangun setelah lepas dari penjajahan dan ingin membangun negaranya sendiri sesuai keinginannya.

Ada perbedaan situasi besar antara Negara berkembang dengan Negara maju. Negara maju perekonomiannya sangat baik serta penduduknya relative sedikit. Sedang di Negara berkembang justru ledakan penduduknya tidak seimbang dengan kualitas dan kuantitas sarana dan prasarananya.

Selanjutnya penulis memberi gambaran kota-kota dalam Era Globalisasi. Era Globalisasi ternyata masalah kependudukan dan ledakan perkotaan tetap merupakan masalah yang besar yang sangat sulit diatasi. Memang masalah perkotaan merupakan topik hangat di akhir abad ini, bahkan dalam Kongres Metropolis Sedunia terakhir, dibahas 6 masalah pokok yang dihadapi kota-kota besar dunia yang cukup memusingkan para penata dan pengelola kota pada umumnya yaitu masalah-masalah berikut:

  1. Masalah Pertumbuhan Penduduk Perkotaan yang tidak terkendali
  2. Masalah Perumahan Rakyat dan Sarana Fisik dan Sosial yang makin tidak memadai
  3. Masalah Lingkungan Hidup dan Kesehatan yang makin merosot
  4. Masalah Lalu lintas dan Transportasi yang makin langka
  5. Masalah Organisasi dan Manajemen Perkotaan yang makin tidak mampu

Dampak positif dari pembangunan terutama di kota-kota besar adalah kota besar itu lambing dan symbol dari kemajuan Negara, tetapi dampak negatifnya juga ada bahkan harga yang dibayar juga mahal.

Selanjutnya penulis buku dalam bab selanjutnya memaparkan tentang kemelut perkotaan. Penulis memulai dengan memaparkan butir permasalahan menurut Louis Wirth dalam bukunya “Urbanism as a Way of Life”. Ada lima butir yang disebutkan penulis tetapi penulis memakai butir ke lima sebagai jembatan untuk masuk ke topic selanjutnya. Butir ke lima itu adalah “Di kota-kota besar akan makin berkurang nilai manusia sebagai pribadi, manusia kota kehilangan identitas, merasa terasing dan terjerat dalam tingkah laku massa yang sering bersifat irasional.

Kemudian penulis memaparkan berbagai dampak dari pertumbuhan dan ledakan penduduk di kota besar, antara lain: Kemerosotan Kualitas Lingkungan, Polusi dan Kemacetan, Masalah Banjir dan Kebakaran.

Masalah Kesenjangan Ekonomi yang berupa kemiskinan dan pengangguran dibahas tersendiri oleh penulis. Selanjutnya penulis membahas berbagai penyebab kejahatan dan kekerasan dalam hubungannya dengaan ledakan penduduk di kota besar.

Pada bab selanjutnya penulis secara panjang lebar menuliskan bahwa pelbagai kendala dan permasalahan yang ada yang telah dituliskannya ternyata bagaikan   “BOM WAKTU” yang setiap saat bisa meledak. Bom waktu yang bisa meledak setiap waktu bila ada pemicunya dapat dirumuskan antara lain:

1. Barisan Sakit Hati

Pertumbuhan yang terjadi di kota besar membuat adanya orang/kelompok yang tergusur, tersingkir ataupun dieksploitasi.Dari Barisan Sakit Hati, kita juga diajak penulis untuk melihat kelompok orang atau kelompok masyarakat yang “menyebabkan’ Barisan Sakit Hati, yaitu:

Orang Kaya, Pengusaha, Pejabat, PNS

2. Primodialisme SARA

Suatu fenomena menarik terjadi dimana di tengah pertumbuhan kota yang metropolitan ternyata justru subur pula tumbuh berkembang kelompok-kelompok masyarakat yang sangat primordialis. Masayarakat kesukuan sangat banyak, bahkan kelompok sepakbola-pun bisa berkembang menjadi kelompok primodialisme.

Selanjutnya dalam bab lima dan enam, penulis memaparkan dengan panjang lebar meski tidak secara detil sekitar 20 contoh kasus huru-hara yang terjadi di Indonesia dari berbagai daerah serta dari berbagai latar belakang penyebabnya. Mulai dari huru-hara dan kerusuhan berlatar belakang karena masalah perburuhan, politik, kesukuan hinga yang berlatar belakang agama.

Selanjutnya justru paling menarik adalah pembahasan bab tujuh, dimana pada bab ini penulis memberi judul “Sebuah Introspeksi”. Dengan sangat bijak, penulis mengajak umat Kristen sebagai orang yang terkena getah dari berbagai kerusuhan dan huru-hara untuk bersikap berpikir dingin serta tidak gegabah menyimpulkan dan harus bijak menilai situasi.

Dalam bab ini penulis mengutip ucapan ketua PGGI yang dalam keprihatinan medalam mengucapkan kata-kata bahwa “umat Kristen merasa terancam”, kemudian penulis memakai logika bahwa seolah-olah umat Islam menghambat umat Kristen dilanjutkan dengan pertanyaan apakah tepat menggeneralisasi umat Islam.

Secara konyol, penulis mengatakan bahwa banyak orang Kristen baik secara pribadi maupun organisasi menyuarakan dan memprotes atas segala kerusuhan yang menimpa gereja-gereja sebagai orang-orang yang menjual kesatuan demi memperoleh simpati. Saya piker pendapat penulis ini tidak benar dan mengecilkan korban dari pihak gereja dan sesame orang Kristen sendiri.

Kemudian, penulis juga menyatakan bahwa adalah tidak bisa menyalahkan Islam sebagai keseluruhan karena umat Islam yang 90% berbuat sejahat itu kepada umat Kristen yang hanya 10% maka umat Kristen tidak akan bertahan dan banyak orang Kristen yang bersahabat dengan orang Islam daripada dengan orang Kristen sendiri. Dalam hal ini, penulis lupa bahwa umat Islam di Indonesia kebanyakan adalah umat Islam yang sudah terdegradasi oleh Pancasila, Sekularisme, Pluralisme, Sinkretisme dan semacamnya. Penulis secara dangkal tidak melihat bahwa Islam di Indonesia sudah bukan Islam murni dan sejati lagi. Memang benar, dari semua masalah yang dipaparkan oleh penulis tidak semua berlatar belakang agama, banyak yang berlatar belakang politik, ekonomi, suku dan sebagainya tetapi adalah benar juga bahwa ada banyak kasus kerusuhan yang benar-benar berlatar belakang kebencian agama.

Hal buruk terjadi ketika penulis menyorot tentang Vertikalisme Ibadat sebagai penyebab ketidakpekaan dan ketidakpedulian umat Kristen terhadap orang di sekelilingnya yang masih tertinggal  di landasan padahal waktu itu sangat dicanangkan era “Tinggal Landas” . Menurut penulis, Vertikalisme Ibadat adalah ibadat yang bersifat vertical dan fundamentalis yang kuat menekankan emosional dan keselamatan jiwa sehingga hal-hal yang bersifat social dan lingkungan kurang diperhatikan. Pertanyaannya darimana penulis mendapatkan definisi ini? Apa ukurannya? Benarkah hal-hal mengenai kehidupan social dan lingkungan kurang diperhatikan? Apa buktinya? Apa kapasitas dan kompetensi penulis menilai masalah theology? Penulis sangat apriori dan tanpa disertai bukti yang konkrit.

Hal sangat buruk juga terjadi ketika penulis juga mengidentikkan Vertikalisme Ibadat sebagai ibadat Karismatik. Jelas ini adalah suatu pencampur adukkan ayng ngawur dan tidak disertai penelitian yang mendalam.

Hal buruk selanjutnya adalah penulis menganggap Theologi Kesuksesan yang mengajarkan kemakmuran dan kesuksesan sebagai factor pemicu juga kerusuhan berbau SARA yang dialami gereja dan umat Kristen. Hal ini jelas tidak bisa diterima dan terlihat lemah. Tanpa dasar yang jelas, penulis menegaskan bahwa ada tiga ciri menonjol gereja penganut Theologi Kemakmuran/Kesuksesan:

  1. Membangun Gereja Mega yang mewah dan mahal
  2. Ibadat Kristen yang meriah
  3. Kehidupan pribadi umat yang mewah.

Sekilas, pandangan penulis tampak benar, tetapi kenyataannya itu tidak selalu seperti itu. Penulis telah menggeneralisir. Kenyataan bahwa membangun gereja kecil saja sangat susah karena terganjal oleh SKB 3 Menteri. Ibadat Kristen yang meriah tidak identik dengan Theologi Kemakmuran. Kehidupan umat yang mewah juga tidak identic dengan Theologi Kemakmuran karena banyak umat gereja-gereja mainstream juga sangat doyan dan suka dengan kemewahan.

Kemudian penulis juga menganggap sikap Iman yang Demonstratif juga sebagai suatu hal penyebab langsung maupun tidak langsung suatu kerusuhan karena bisa menyinggung pihak lain. Bahkan ibadah (lagi-lagi) yang meriah dan hingar binger dianggap sebagai Iman yang demonstrative yang bisa menyinggung pihak lain. Hal ini sekilas Nampak benar tetapi tidak sesuai kenyataan. Iman yang demonstrative sangat berbeda dengan fanatisme sempit yang menyinggung pihak lain. Justru dimanapun, kapanpun kita harus mendemostrasikan iman kita kepada Yesus dengan penuh hikmat.

Selanjutnya penulis juga menyoroti perpecahan gereja dan pembentukan denominasi baru secara langsung ataupun tidak dianggap sebagai factor terjadinya kerusuhan dan pengrusakan gereja. Lagi-lagi penulis mengambil contoh dari gerakan Kharismatik.

Dalam bab terakhir penulis membahas bagaimana menurutnya Injil Sepenuhnya diberitakan dan dipraktekkan. Memulai bab ini penulis kembali sedikit menguraikan dari awal mengenai latar belakang kondisi dan masalah perkotaan. Kemudian penulis memberi contoh teladan Yesus, Para Rasul yang juga melayani terutama mempunyai hati untuk melayani orang-orang miskin papa. Dalam bab terakhir ini, penulis menyinggung beberapa hal yang penting yaitu:

Pelayanan Perkotaan

Pelayanan Perkotaan adalah pelaksanaan perintah Yesus seutuhnya seperti dalam Matius 28:19-20

1. Pelayanan Karitatif

Pelayanan yang sifatnya langsung sesuai kebutuhan saat itu. Contohnya: Yesus memberi makan lima ribu orang dalam Matius 14:13-21

2. Pelayanan Pengembangan

Pelayanan membangun dan memberdayakan orang sehingga orang bisa membangun dirinya sendiri. Contoh: Kis 3:6

3. Pelayanan Pembebasan

Merupakan kelanjutan dari Pelayanan Pengembangan, orang harus dibebaskan dari buta huruf, kemiskinan, ataupun dari perbudakan. Contoh Lukas 4:18-19

Selanjutnya penulis menutup uraian bukunya dengan kesimpulan dan saran. Cukup menarik ketika penulis dalam butir ketiga, penulis mengajak Gereja dan STT untuk mendirikan lembaga studi masalah kemasyarakatan. Hal ini sangat menarik karena sebetulnya tanpa mendirikan lembaga itupun gereja sudah sangat bersinggungan dengan kemasyarakatan secara luas. Lain dengan lembaga STT yang dirasa perlu mendirikan hal itu untuk mendapatkan kajian akademis yang bisa dipertanggungjawabkan dan kemudian utnuk bisa dipraktekkan di masyarakat secara langsung dan luas.

 

Tema Kerukunan Umat Beragama Di Dalam Diskusi Pakar Agama

TUGAS INTERAKSI BUKU

Mata Kuliah                : Theologi Agama-Agama

Judul                           : Artikel “Tema Kerukunan Umat Beragama Di Dalam Diskusi Pakar Agama” oleh EG Singgih dari Buku “Agama Dalam Dialog”

 

Begitu selesai membaca seluruh artikel dengan judul “Tema Kerukunan Umat Beragama Di Dalam Diskusi Pakar Agama” oleh Pdt. Prof. Emanuel Gerrit Singgih, Ph.D. yang adalah Guru Besar dalam Ilmu Teologi pada Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), Yogyakarta yang terdapat dalam Buku “Agama Dalam Dialog” langsung mengetahui bahwa artikel ini lebih seperti laporan pandangan mata penulis yang menghadiri dua konferensi besar dan penting (menurut EG Singgih) tentang kerukunan umat beragama. Secara khusus artikel ini lebih banyak menyoroti hubungan antara Islam dan Kristen. Mengenai pendapat pribadi penulis yakni EG Singgih hanya sedikit saja dan terselip diantara tulisan artikel tersebut dan kita harus teliti membacanya untuk bisa menemukan pendapat dan pokok pikiran EG Singgih. Selanjutnya dalam interaksi buku ini hanya akan di bahas dan ditanggapi hal-hal yang penting dan menonjol saja. Mengenai hal-hal yang bersifat laporan pandangan mata tidak akan ditanggapi.

Pada bagian pengantar, EG Singgih memaparkan betapa pada periode tahun1996-1998 yang dianggap sebagai bukan tahun yang baik dalam konteks kerukunan umat beragama di Indonesia justru berhasil dilaksanakan dua konferensi penting untuk menggali akar-akar konflik diantara umat beragama khususnya Islam dan Kristen. Konferensi itu adalah “The International Conference on Muslim-Christian Relations: Past, Present and Future Dialog and Cooperations”, oleh Depag RI, Jakarta 7-9 Agustus 1997 dan “Kerukunan Umat Beragama dan Studi Agama-Agama di Perguruan Tinggi” oleh LPKUB.

Dalam konperensi yang pertama yaitu “The International Conference on Muslim-Christian Relations: Past, Present and Future Dialog and Cooperations”, EG Singgih menceritakan secara garis besar bagaimana konperensi itu berjalan, sesi demi sesi dimana tiap sesi mengusung tema tersendiri.

Sesi I membicarakan theological resources untuk saling memahami antara Islam dan Kristen. Dalam sesi ini ada hal penting dan menonjol yang patut dicatat dan ditanggapi yaitu muncul perdebatan apakah Allah dari agama Islam, Kristen dan Yahudi sama. Seorang pembicara, Ayoub mempunyai pikiran bahwa Allah ketiga agama adalah sama. Hal ini ditentang oleh sebagian besar peserta. EG Singgih sendiri mempunyai pendapat yang sama, yaitu bahwa Allah dari ketiga agama itu adalah pribadi yang sama.

Adalah sangat mengecewakan jika seorang Guru Besar mempunyai pendapat bahwa Allah yang disembah oleh orang-orang Islam dan Kristen adalah pribadi yang sama. Tidak perlu menjadi seorang sarjana teologi untuk bisa melihat bahwa Allah orang-orang Islam dan Kristen itu beda pribadi. Pesan oleh “Allah” orang Islam jelas berbeda dengan Allah orang Kristen melalui Jesus. Jawaban terhadap pertanyaan ini tergantung kepada apa yang dimaksud dengan ”Allah yang sama.”

Tidak dapat disangkal bahwa pandangan Islam dan Kekristenan terhadap Allah memiliki banyak kesamaan. Kedua-duanya memandang Allah sebagai yang Berdaulat, Maha Kuasa, Maha Tahu, Maha Hadir, Maha Suci, Maha Adil, Maha Benar. Baik Islam maupun kekristenan percaya Allah yang Esa; Pencipta segalanya. Dalam definisi ini, ya, benar, orang Kristen dan Islam menyembah Allah yang sama.

Pada saat yang sama, ada perbedaan-perbedaan yang hakiki antara Kristen dan Islam dalam pandangannya terhadap Allah. Walaupun kaum Muslimin memandang Allah sebagai Allah yang memiliki atribut kasih, pemurah dan penuh rahmat, Allah tidak mengungkapkan atribut-atribut ini sebagaimana di kekristenan.

Perbedaan paling menyolok dalam pandangan Islam dan Kristen mengenai Allah adalah mengenai inkarnasi.

Orang Kristen percaya bahwa Allah telah menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus. Orang Islam memandang konsep ini sebagai penghujatan terbesar. Orang Islam tidak pernah bisa menerima konsep pemikiran bahwa Allah pernah menjadi manusia dan mati demi menebus dosa-dosa dunia ini. Iman bahwa Allah Putera telah berinkarnasi dalam Pribadi Yesus Kristus sangat mendasar dalam iman kepercayaan Kristen kepada Allah. Allah Putera telah menjadi manusia sehingga Dia dapat berempati dengan manusia, dan yang lebih penting, Dia bisa menyediakan keselamatan, melalui penebusan dosa manusia di kayu salib. ”Apakah orang-orang Kristen dan Islam sama-sama memiliki pengertian yang benar mengenai siapakah Allah itu?” Jawabannya jelas adalah tidak.

Ada perbedaan-perbedaan yang sangat krusial antara konsep Kristen dan Islam mengenai Allah. Kekristenan percaya bahwa mereka memiliki pandangan yang benar terhadap Allah karena tidak mungkin akan ada keselamatan kecuali kalau dosa manusia sudah dibayar lunas atau ditebus.

Hanya Allah yang dapat membayar harga seperti itu. Hanya dengan menjadi manusia, Allah dapat mati untuk dosa kita dan melunasi hutang dosa kita (Roma 5:8; 2 Korintus 5:21).

Sesi II membicarakan dimensi relio-socio-political hubungan Islam-Kristen pada masa Medieval. Dalam sesi ini EG Singgih kurang setuju dengan pemaparan seorang pembicara yaitu Dr. T. Abdullah. Menurut EG Singgih, pandangan Dr. T Abdullah agak berat sebelah dan memaparkan sejarah hanya dari sudut pandang kepentingan Islam. Dalam konteks sejarah, hanya memaparkan hal-hal yang berasosiasi kepada agresivitas orang-orang Kristen ke wilayah lain pada masa lalu, tetapi tidak memaparkan agresifitas orang-orang Islam pada masa lalu. Menurut EG Singgih kupasan sejarah dari Dr. T. Abdullah mengabaikan segi politik.

Yang cukup menarik adalah istilah “medievalism” yang diangkat oleh Dr. T. Abdullah, yaitu usaha memberikan gambaran yang mengerdilkan terhadap satu sama lain akibat warisan gambaran turun temurun akibat situasi yang terjadi di Eropa pada abad pertengahan. Warisan gambaran ini menimpa orang-orang Islam di Indonesia, dimana menurut Dr. T. Abdullah banyak penulis yang mengaburkan Islam pada orang Jawa dan banyak menganggap orang Jawa sebagai Kejawen dan bukan Islam. EG Singgih tidak sependapat, dalam tulisannya “Contextualization and Interreligious Relationship in Java: Past and Present” berpendapat bahwa yang disangka Islam dan Kristen yang disinkretiskan itu sebenarnya Islam dan Kristen yang sudah dikontekstualisasikan (misalnya Kyai Sadrach).

Dalam meningkatkan relasi hubungan Islam-Kristen, senada dengan Dr. T. Abdullah harus menyingkirkan warisan “medievalism” EG Singgih juga menambahkan harus fokus pada Islam-Kristen yang kontekstual. Selain itu, semua orang sebaiknya mengikuti resep apa yang baik bagi manusia, yakin akan kebaikan yang dapat dan telah kita lakukan, tetapi tetap mau belajar dari satu sama lain mengenai apa yang baik dan bersama-sama menuju cita-cita universal mengenai apa yang baik bagi manusia. Selanjutnya, harus ada perubahan konsep “the other” serta reinterpretasi dakwah dan misi harus berkaitan langsung dgn pertanyaan siapakah sesamaku manusia.

Sesi III membicarakan economic, political, and cultural impacts of colonial period on Muslim-Christian relations serta human rights in Muslim-Christian perspectives. Selanjutnya, EG Singgih berpendapat bahwa meski akar permasalahan hubungan Islam-Kristen bisa digali dari masa lalu tetapi sebenarnya jenuh melarikan diri dari kesulitan bersama yang dihadapi pada masa kini dengan melemparkan kesalahan pada masa lalu padahal harus menyelesaikan masalah dengan analisa masa kini.

Selanjutnya EG Singgih sependapat dengan pendapat Dr. Bambang Sudibyo yang menjadi salah satu pemapar bahwa pemerataan kekayaan harus dipacu, pendidikan harus ditingkatkan serta demokrasi harus digalakkan di Indonesia. Ketiga hal ini membantu meredakan konflik, tetapi mengenai obat untuk agresifitas kedua agama EG Singgih mempunyai pendapat sendiri. Dr. B Sudibyo yang mengandaikan hubungan Islam-Kristen Indonesia seperti Malaysia tidak tepat. Faktor penduduk jelas berbeda. Selain itu Indonesia adalah Negara Pancasila yang tidak mengenal agama Negara sedangkan Malaysia mengenal agama Negara. Menyusun UU yang melindungi jemaat agama Negara meski EG Singgih tidak setuju tetapi dapat mengertinya, tetapi dalam Negara Pancasila yang menjamin kebebasan beragama dan telah meratifikasi Piagam Ham PBB adalah aneh. Obat agresifitas religious bukanlah UU tetapi perubahan pemahaman tentang siapakah “the others”.

Sesi IV membicarakan tentang hak asasi manusia. EG Singgih setuju dengan Ayoub yang berkeberatan dengan kebebasan individu yang terlalu besar dari dunia barat yang menekankan hak. EG Singgih berpendapat nada individualistik dalam Deklarasi HAM harus direvisi dan ditekankan dari konteks masing-masing dan perlindungan bagi yang terkena dampak, tetapi revisi tidak mengecilkan makna universal dari  deklarasi HAM.

Hasil dari pertemuan konferensi yang pertama, EG Singgih berpendapat bahwa pertama tetap yakin bahwa sikap paling baik yang dapat ditampilkan orang Kristen adalah sikap dialogis serta sikap ini tidak dimodifikasi oleh kerusuhan-kerusuhan anti Kristen. Kedua meski bertekad mempertahankan dialog dalam suasana kerukuna beragama, tapi bersikap realistis dan tidak memutlakkan idealismenya.

Sikap yang realistis dan menghentikan dan atau menunda sikap dialogis karena terpengaruh suasana menyeluruh, lalu membuat generalisasi yang menyeluruh ataupun sikap membuta tidak menyadari kerusuhan-kerusuhan anti Kristen dan bahkan menyalahkan gereja yang mengalami musibah adalah dua sikap yang tidak menolong keluar dari kebuntuan relasi Islam-Kristen. Jadi mempertahankan sikap dialogis dan sikap realistis dalam ketegangan yang kreatif adalah sikap yang tepat.

Dalam konperensi yang kedua “Kerukunan Umat Beragama dan Studi Agama-Agama di Perguruan Tinggi” oleh LPKUB, ketua LPKUB yaitu Dr. B. Daja memberikan makalah yang dikembangkan oleh Menteri Agama yang kagum bahwa di Perguruan Tinggi di barat banyak mendirikan pusat studi Agama dengan asumsi bahwa studi agama akan membawa saling pengertian dan dengan demikian akan membawa kerukunan beragama. Selanjutnya dalam konperensi ini banyak membahas mengenai metodologi perbandingan agama, bagaimana tepatnya. Banyak pembicara yang memberikan usulan dan pendapat. Ada yang berpendapat sebaiknya memakai istilah “Ilmu Pengenalan Agama” daripada “Perbandingan Agama” karena kesannya seperti membanding-bandingkan agama. Duta Wacana tidak menggunakan istilah perbandingan agama tetapi “Fenomologi Agama”.

Selanjutnya EG Singgih sepakat dengan Amin Abdulah yang memakai istilah “Ilmu Perbandingan Agama” jika berbicara system dan metode, tetapi jika yang dimaksud adalah hegemoni kultural era imperialism, yang jika dibandingkan dengan agama lain, agama Kristen lebih unggul, maka dia tidak setuju.

Secara umum, EG Singgih berpendapat tujuan seminar belum tercapai sebab yang diinginkan dalam studi agama bukanlah situasi satu agama yang jadi criterion, melainkan ilmu agama yang menjadi criterion.

Kita juga harus mengakui warisan pemahaman supersesionisme seperti yang dipaparkan pembicara Dr. Komarudin Hidayat, ataupun kultural-hegemonis-imperialis yang dipaparkan Amin Abdulah juga kuat di kalangan Kristen terutama jaman sekarang ketika orang Kristen sering jadi sasaran kerusuhan.

EG Singgih berharap dari kedua pertemuan itu, para pakar dan teolog kedua agama akan sering berdialog, tukar pikiran, tidak hanya dalam konteks akademis tetapi warga masjid dan gereja dengan asumsi, warga religious berwawasan pluralis, tinggal bagaimana potensi ini diaktualisasikan.

 

 

 

Penginjilan Dalam Konteks Asia

TUGAS INTERAKSI BUKU

Mata Kuliah                 : Misi Kontekstual

Judul                            : Artikel “Penginjilan Dalam Konteks Asia” oleh W. Stanley Heath, Ph. D, D.D.

 

Dalam artikel ini, W. Stanley Heath, Ph.D, memaparkan masalah besar dalam penginjilan pada umumnya, secara khusus dalam konteks Asia dan lebih khusus lagi Indonesia. Ada pernyataannya yang sangat menarik yaitu pemberitaan Injil akan mandul jika mereka yang mendengar berita Injil tidak dapat meyakini kebenaran Alkitab sebagai Sabda-Allah. Keyakinan akan kebenaran Alkitab inipun harus bersifat tuntas dalam segala sektor kehidupan. Seharusnya, untuk dapat memahami Alkitab sebagai kebenaran Firman Tuhan harus lewat sudut pandang Alkitab sendiri. Tetapi hal ini tidak mungkin bisa, bahkan hamper mustahil, begitu pendapat Stanley Heath. Hal ini terjadi karena pengertian yang jelas tidak dapat disimpulkan berdasar penelitian terhadap dunia yang sudah kehilangan normalitasnya.

Ada dua masalah besar yang harus diperhatikan dalam penginjilan, yaitu masalah Kosmologi dan masalah Epistemologi.

Tentang masalah Kosmologi, atau sudut pandang, menurut Stanley Kosmologi ini topic yang maha penting yang sering terabaikan dalam penginjilan.

Masalah Kosmologi, Stanley melihatnya dari dua sudut yang harus disimak yaitu Sudut Kepercayaan dan Pengkomunikasian.

Pertama yaitu Sudut Kepercayaan:

Stanley Heath mengamati bahwa hampir semua orang yang terlibat dalam penginjilan memanfaatkan pola penginjilan yang dirintis di dunia Barat. Meski memberi hasil, Stanley berpendapat bahwa hal ini mungkin terjadi karena secara umum pendidikan orang Asia sudah beralin ke pola pendidikan Barat. Stanley mengajak untuk merenungkan lagi apakah hal ini akan selalu memberi hasil yang baik dan maksimal terutama jika diterapkan pada tempat yang berbeda. Bahkan selanjutnya Stanley mengingatkan agar kegembiraan akan hasil yang telah dicapai tidak mengaburkan penglihatan kita akan golongan-golongan lain yang mungkin saja memerlukan pendekatan dengan cara lain. Stanley kemudian memberi contoh pola penginjilan di Barat dan di Asia memiliki Kosmologi yang sangat berbeda.

Kedua yaitu Pengkomunikasian Injil:

Stanley dengan tepat menyatakan bahwa tidak ada jalan pengkomunikasian Injil kecuali melalui sarana bahasa. Tetapi dalam hal inipun akan timbul masalah juga karena bahasa yang kita pergunakan belum tentu sama dengan bahasa mereka, bahasa disini meliputi semua aspek bahkan termasuk bahasa isyarat non-lisan.

Selanjutnya Stanley dalam menunjukkan arti penting bahasa dalam mengatasi kendala perbedaan bahasa mengajukan beberapa contoh kata kunci. Kata kunci yang dipaparkannya yaitu: Selamat, Dosa, dan Yesus. Stanley kemudia menguraikan secara singkat betapa makna ketiga kata itu bisa berbeda-beda tergantung dari kebangsaan dan wilayah area dimana kata itu diterapkan.

Stanley menekankan bahwa tidak cukup jika bahasa hanya jelas bagi kita sendiri, dalam penginjilan harus ada kesamaan makna diantara kedua pihak, pemberita Injil dan pihak penerima berita Injil. Stanley sangat meragukan efektifitas dan keberhasilan pemberita Injil pada masyarakat nir-Kristen jika si pemberita Injil tidak memahami pengkomunikasian Injil terhadap kosmologi masyarakat setempat dimana Injil akan diberitakan.

Selanjutnya tentang masalah Epistemologi, yaitu ilmu pembenaran; pembenaran Injil dan pembenaran sumber Injil. Dengan menarik, Stanley memaparkan bahwa banyak orang pandai, cerdik cendekia mengalami kebutaan rohani, kebal terhadap berita Injil, hal ini terjadi bukan karena tidak tahu tetapi terhambat oleh suatu system berpikir yang dibiasakan selama bertahun-tahun. Secara umum, orang-orang ini sudah biasa menerima kosmologi “ilmiah” yang berbeda dengan Kosmologi Alkitab yang sangat berbeda sifatnya bahkan mungkin bertentangan, akibatnya Alkitab ditolak dan dicurigai kebenarannya.

Beberapa pakar misiologi membagi tiga jalur peyakinan secara khas, yaitu Barat dengan ciri pengajatran yang masuk akal, yang kedua India dengan ciri terpesona dengan pengalaman gaib dan ketiga China dengan ciri melihat kebahagian sebagai bukti kebenaran. Ketiga hal itu bisa membawa orang pada Yesus tetapi menurut Stanley hanya corak Barat saja yang harus dipakai karena metode yang lain menurut Stanley kurang komunikatif, serta corak yang lain banyak kelemahan dan mudah dipatahkan.

Sebagai penutup, Stanley mengusulkan agar seluruh lembaga penginjilan menambahkan satu bab atau bagian yang penting dalam laporan mereka yaitu mengenai kemajuan dalam tugas mengIndonesiakan pola pelayanan yang dilakukan. Hal ini penting mengingat menurut pengamatan Stanley lembaga-lembaga cenderung melestarikan penatalaksanaan masa lampau tanpa mempertimbangkan konteks bahwa dunia selalu berubah.

 

 

 

Apologetika Bagi Kemuliaan Allah

TUGAS LAPORAN BACA APOLOGETIKA

Mata Kuliah                : Apologetika

Buku                           : Apologetika Bagi Kemuliaan Allah, John M. Frame

Penerbit                       : Momentum

 

Dalam Bab I yang berjudul Apologetika: Dasar-dasar, John M. Frame mengawali dengan memberikan definisi dan dasar bagi pengantarnya terhadap disiplin apologetika.  Menurut Frame apologetika adalah “ilmu yang mengajarkan orang Kristen bagaimana memberi pertanggungan jawab bagi pengharapannya.”  Ia membagi apologetika menjadi pembelaan, pembuktian, dan penyerangan, di mana masing-masing merupakan satu kesatuan yang dipandang menurut perspektif yang berbeda.  Pembagian ini juga menjadi subtema besar dalam pengulasannya kemudian. Frame berargumen bahwa prasuposisi yang netral merupakan sebuah kemustahilan; karena itu seorang apologis Kristen wajib memegang prasuposisi Kristen baik dalam stan yang diambilnya ataupun argumentasi yang diberikan.  Proposisi ini bukanlah sesuatu yang tidak adil ataupun memutus dialog antara orang percaya dan tidak percaya, demikian klaimnya. Yang menarik, menurut Frame, apologetika juga merupakan bagian dari penginjilan, hanya saja penekanan yang diberikan berbeda.  Prinsip sola scriptura yang menjadi prasuposisinya tidak meniadakan kepentingan wahyu umum dalam argumentasi, malahan menggunakan bukti-bukti merupakan “pelaksanaan” dari prinsip tersebut.  Terakhir, ia memberikan beberapa “bahaya” dari melakukan apologetika, yakni kecenderungan untuk melenceng dari ortodoksi ataupun menjadi sombong.

Dalam Bab II yang berjudul Berita yang Dibawa oleh Apologis, Frame memajukan kekristenan sebagai suatu filsafat dan kabar baik.  Maksudnya sebagai filsafat adalah bahwa kekristenan memiliki cara pandang terhadap dunia secara menyeluruh.  Dengan kata lain, kekristenan juga berbicara mengenai metafisika, epistemologi, dan nilai-nilai seperti yang ditawarkan oleh pandangan-pandangan dunia lainnya.  Metafisika Kristen menganut bahwa Allah adalah pribadi yang absolut, perbedaan antara Pencipta dan ciptaan, kedaulatan Allah, dan tritunggal.  Uraian berikutnya adalah pemaparan dari Alkitab dan penyerangan terhadap wawasan dunia lain yang bertentangan dengan kekristenan.  Yang menarik, Ia ingin menyatakan bahwa semua bidat dan agama-agama dunia sebenarnya sedikit banyak merupakan penyimpangan dari asumsi wawasan dunia Kristen yang benar ini.  Kritiknya adalah, apabila wawasan dunia lain tidak meninggalkan “otonomi” pemikiran mereka dan kembali pulang kepada wawasan dunia Kristen, maka mereka tidak akan sanggup membangun sebuah wawasan dunia yang konsisten dan koheren. Frame mengusung bahwa kekristenan bukan sekadar filsafat yang harus dipertahankan dan diajukan kebenarannya, namun sebuah solusi bagi permasalahan dunia ini.  Kekristenan menawarkan keselamatan.  Seorang apologis Kristen, menurut Frame, tidak boleh melupakan aspek penting dari kekristenan ini sehingga lupa menyampaikannya dalam bentangan argumen pembuktian, pembelaan, dan penyerangan yang sedang diupayakannya.  Kekristenan tidak hanya unik dan masuk akal, tetapi juga menyelamatkan.

Selanjutnya dalam Bab III yaitu Apologetika Sebagai Pembuktian: Beberapa Pertimbangan Metodologis, berbicara mengenai bukti-bukti yang ada bagi kekristenan dan metodologi penggunaannya.  Frame percaya bahwa kekristenan memiliki bukti yang kuat dan kokoh, namun tidak selalu persuasif bagi mereka yang mendengarkannya.  Karena itulah ia mengusung bahwa setiap apologis harus mempertimbangkan “variabel pribadi” dari orang yang ingin mereka berikan pertanggungan jawab.  Berikutnya Frame mengupas argumentasi transendental dari Van Til untuk meletakkannya sejajar dengan argumentasi bagi kekristenan tradisional.  Bagian penting ini adalah upaya Frame untuk menjembatani perdebatan tajam mengenai metodologi apologetika kontemporer. Frame menyimpulkan bahwa prasuposisionalisme merupakan masalah sikap hati, apabila didefinisikan seperti yang dilakukannya dalam buku ini.  Perbedaan apologetika tradisional dan prasuposisional tidaklah harus setajam yang nampak.

Dalam Bab IV yang berjudul Apologetika Sebagai Pembuktian: Eksistensi Allah, bagian ini merupakan demonstrasi Frame dari argumen-argumen tradisional mengenai keberadaan Allah dari perspektif prasuposisionalisme.  Ia menyatakan bahwa tidak ada satu argumentasi tradisional yang dapat berdiri sendiri untuk membuktikan keberadaan Allah.  Ia lebih condong untuk menumpuk argumentasi yang ada dengan sebuah prasuposisi Kristen, sehingga argumen-argumen tersebut terkumpul menjadi susunan balok rancang bangun wawasan dunia Kristen.  Frame memulai dengan mendefinisikan secara tepat mengenai agnostisisme, sehingga jalannya argumen yang ia sampaikan dapat mendarat dengan aman di kawasan pemikiran ateisme.  Segera setelah itu ia memaparkan argumen-argumen tradisional tersebut sambil memperlihatkan keterkaitan satu argumen dengan argumen yang lainnya.  Akhirnya, ia menyimpulkan bahwa argumen-argumen yang ada bermanfaat sejauh mereka dikaitkan dengan argumen-argumen lainnya dan prasuposisi Kristen.

Selanjutnya dalam Bab V yang berjudul Apologetika Sebagai Pembuktian: Membuktikan Injil, Frame melanjutkan dengan memberikan pembuktian bagi Injil, atau lebih tepatnya keseluruhan Alkitab.  Frame berangkat dari doktrin Alkitab adalah firman Allah yang mengimplikasikan setiap pernyataan Alkitab adalah ucapan Allah yang jelas dan berotoritas.  Titik tolak Frame adalah Allah berpribadi absolut tersebut menyatakan kehendak-Nya secara jelas kepada umat-Nya, supaya umat-Nya mampu untuk memahami dan melakukan kehendak-Nya.  Tempat penyataan Allah tersebut juga tidak diharapkan “kabur atau diperdebatkan di antara umat Allah.”  Tempat tersebut adalah Alkitab yang adalah firman Allah.  Frame menekankan bahwa bukan hanya kita harus percaya kepada Kristus, namun juga percaya kepada Alkitab.  Berikutnya ia menguraikan pandangan-pandangan yang bertentangan dengan klaim yang dibuatnya.  Ia membahas kritikisme Alkitab yang bersumber dari prasuposisi yang tidak Alkitabiah, lalu merangkai argumentasi positifnya mengenai nubuat dan mukjizat Alkitab.  Kesimpulannya sama dengan asumsinya, hanya saja lingkaran prasuposisi tersebut telah diperluas dengan argumen-argumen lainnya.  Bukti yang ada sudah jelas dari firman Allah, namun mereka yang sanggup mempercayainya hanyalah yang hati dan pikirannya dicelikkan oleh Roh Kudus.

Dalam Bab VI & VII yang berjudul Apologetika Sebagai Pembelaan: Problem Kejahatan, I & II, Frame dengan menegaskan bahwa problem kejahatan tidak akan memiliki jawaban yang sempurna pada masa sekarang ini.  Memang jawaban terhadap permasalahan ini tetap penting, yakni untuk memastikan bahwa kita tidak sedang menyembah Allah yang salah, namun Allah yang benar yang sesuai dengan ajaran Alkitab.  Tetapi, menurut Frame, banyak jawaban yang diberikan orang Kristen untuk permasalahan ini tidak cukup menjawab, malahan dapat menimbulkan anggapan yang salah.  Frame mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan jawaban yang ada selama ini, beserta dengan kritik pribadinya untuk setiap pandangan pada bab VI.  Dari bunga rampai jawaban yang ada ia menemukan bahwa argumen ad hominem merupakan jawaban yang Alkitabiah, meskipun belum memenuhi kriteria sebuah jawaban yang cukup.

Dalam Bab VII Frame menekankan berulang-ulang bahwa Allah tidak pernah berhutang kepada kita sebuah penjelasan komplit untuk tindakan-tindakan-Nya, termasuk masalah kejahatan.  Keraguan dan kebingungan mengenai masalah kejahatan bukanlah dosa, namun ketika seseorang mulai berbalik dan menuduh Allah, maka itu bisa dikatakan sebagai dosa pemberontakan.  Penjelasan yang dapat diberikan Frame dari Alkitab adalah bahwa Allah berkuasa atas sejarah dan kejahatan bukanlah finalitas dari sejarah dunia ini.  Memang jawaban ini tidak menyelesaikan permasalahan seperti genosida dan kelaparan, namun Alkitab menawarkan sebuah kisah bahwa semua kejahatan yang sulit diterima tersebut akan diselesaikan oleh Allah dengan hikmat-Nya yang luar biasa.  Tawaran pastoral Allah kepada mereka yang menderita adalah untuk taat dan percaya kepada kedaulatan Allah.  Frame melanjutkan dengan menyatakan bahwa kejahatan selalu memiliki tujuan kebaikan yang lebih besar, yakni tujuan Allah itu sendiri.  Jawaban-jawaban yang ditawarkan selama ini terlalu humanistis dan tidak Alkitabiah, menurut Frame, sebab mereka tidak mengasumsikan bahwa tujuan dunia ini diciptakan dan berlangsung adalah untuk menunjukkan kemuliaan Allah.  Akhirnya, Frame menggariskan perubahan hati sebagai langkah yang Tuhan berikan untuk menuju sebuah teodise.

Dalam Bab VIII yang Apologetika Sebagai Serangan: Kritik Terhadap Ketidakpercayaan, Apakah yang akan diusung oleh orang yang tidak percaya apabila mereka tidak memegang kekristenan?  Bagi Frame mereka hanya memiliki dua opsi, yakni ateisme dan pemberhalaan.  Kedua-duanya adalah bentuk dari otonomi dan penolakan wahyu Allah dan Frame berupaya membantah kedua alternatif.  Dua alternatif ini dijabarkan menjadi tiga model yakni relativisme ateis, rasionalisme pemberhalaan, dan pemberhalaan ateistis.  Setelah selesai menjabarkan ketiganya, Frame menutup dengan pertanyaan-pertanyaan kritis yang perlu diajukan ketika menemukan orang-orang yang menganut ketiga macam ketidakpercayaan ini.

Dalam Bab IX—Berbicara Dengan Orang Yang Tidak Dikenal; Lampiran A & B

Bagian ini lebih merupakan pengaplikasian apa yang sudah dibahas di sepanjang buku ini.  Secara umum tidak ada yang perlu dirangkum dari bab ini.

Apendiks yang diberikan berupaya untuk menjawab kritik terhadap prasuposisionalisme, secara khusus melalui buku Classical Apologetics dari John Gerstner, R.C. Sproul, dan Arthur Lindsley.  Selain evaluasi buku ini ada respons dari Jay Adams, namun tidak terlalu signifikan secara keseluruhan.  Secara umum problem yang diusung oleh apologetika Ligonier (begitu Frame menyebut mereka) sudah dijawab pada bab III, tetapi bagian ini lebih komprehensif dalam pembahasan sumber-sumber dari Van Til.  Frame akhirnya menemukan bahwa apologetika Ligonier dan Van Tillian memiliki kedekatan yang sangat.  Sayangnya, menurut Frame, Ligonier harus bersikap tidak konsisten dalam menggunakan metode mereka, sementara Van Til tidak.  Perbedaan ini didasari oleh bagaimana seseorang mengaplikasikan konsep otonomi dalam membangun argumentasi apologetika.  Masalah lainnya adalah mengenai kekonsistenan metode yang satu dengan yang lainnya dengan asumsi-asumsi Calvinistik yang dibawa oleh kedua metode yang mengaku berdasar dari iman reformed ini.